
Zizi belum selesai mandi saat ia mendengar sayup-sayup Nancy memanggilnya dari luar kamar.
Untungnya Maria sedang rebahan di tempat tidur hingga Zizi tak usah teriak untuk menjawab panggilan Nancy.
"Zizi belum selesai."
Kata Maria.
Nancy mengangguk mengerti.
Sudah biasa jika anak gadis lama di kamar mandi.
Bisa jadi karena saat mandi harus ada acara bongkar pasang dulu, jadi setelah selesai mandi ada acara kebalik-balik hingga membuat tambah lama.
"Baiklah, nanti setelah selesai, katakan pada Nona Zizi untuk segera menikmati makan malamnya sebelum ia pergi tidur."
Kata Nancy.
Maria mengangguk.
"Tenang saja, nanti pasti dia akan makan, sudah lama dia tidak makan masakan camernya, pasti sudah tak sabar dia aslinya."
Seloroh Maria.
"Kamu ini, aku Lycan kok dibilang Camar."
Nancy geleng-geleng kepala sambil tersenyum dan berlalu menjauh meninggalkan kamar Zizi.
Maria mengerutkan kening memandang Nancy yang menjauh.
Jiaaah... Aku bilang camer malah dia dengernya Camar.
Maria gantian geleng-geleng kepala.
Maria lalu masuk ke kamar lagi dan melayang ke tempat tidur Zizi lagi.
Zizi keluar dari kamar mandi dengan piyama handuk berwarna abu-abu gelap, dan rambut yang digulung handuk berwarna senada.
Aroma segar sabun setara wangi parfum mewah tercium memenuhi ruangan kamar Zizi.
Yah tentu saja, sebagai anak Zion, sabun Zizi bukan sabun biasa.
Byredo Gypsy Water Gel Douche, memiliki aroma tanah dan hutan yang segar adalah aroma kesukaan Zizi yang sering berpetualang.
Zizi memakainya sejak masih tinggal di Inggris dan Zizi tak menyangka jika Nancy masih mengingatnya hingga menyiapkannya untuk Zizi.
"Aunty."
Zizi mendekati tempat tidur dan duduk di sisi Maria.
"Makan sana, calon mertuamu sudah masak banyak."
Kata Maria.
"Aunty tidak makan? Tumben."
Kata Zizi.
Maria merebahkan diri.
"Aku tadi sudah lumayan banyak menghirup di dapur, gampang nanti kalau lapar aku turun lagi."
Kata Maria mager.
"Kapan Aunty ke butik?"
Zizi memandangi gaun Maria yang kusut dan banyak yang robek.
"Nanti saja nunggu Mama mu datang."
Ujar Maria.
Zizi melepas handuk di rambutnya, membuat rambut panjangnya yang masih sedikit basah tergerai.
"Zi."
Maria memanggil Zizi yang akan mengambil hairdryer.
"Kenapa Aunty?"
Zizi menengok.
"Apa yang akan kau lakukan jika Shane tak bisa jadi manusia?"
Tanya Maria.
Zizi duduk di depan meja rias, lalu mulai menyalakan hairdryer nya.
"Zizi tidak pernah minta Kak Seng jadi manusia, Zizi malah heran kenapa Kak Seng begitu ingin jadi manusia."
Ujar Zizi.
Maria mendengarnya terlihat diam.
Ia menatap langit-langit kamar Zizi.
Sebetulnya Maria tahu Shane terintimidasi oleh Arya karena statusnya yang bukan manusia, tapi Maria tak mau mengatakannya pada Zizi, karena pasti Zizi akan mengamuk.
"Buat Zizi, jadi manusia ataupun menjadi Vampire tidak ada bedanya."
Lirih Zizi yang sambil sibuk mengeringkan rambutnya.
**-------------**
Shane yang mulai merasakan tubuhnya berangsur membaik tampak berusaha bangun dari posisinya terbaring.
Ia berjalan menjauhi tempat tidur untuk mendekati jendela ruangan di mana ia kini tinggal.
Malam tampak merayap di kaki langit, bulan menggantung dalam posisi cahaya yang belum sempurna.
Shane menyandarkan tubuhnya di jendela yang terbuka, menatap jauh seolah menyibak keheningan malam.
Zizi, aku bukan manusia, aku monster. Batin Shane.
Mata Shane meremang, ia ingin menangis tapi tak bisa.
Hanya panas saja rasanya kedua matanya, namun air mata tak mampu keluar dari sana.
Ia membayangkan hidup dengan Zizi kelak, mereka menikah tapi tak bisa menikmati kebersamaan sebagaimana pasangan lainnya.
Shane tak bisa mengajak Zizi menikmati makan malam romantis, atau makan bersama di rumah seperti yang dilakukan Zizi bersama keluarganya.
Shane tertunduk.
Betapa ia merasa begitu kacau mendapati kenyataan ia kini juga bukan seorang vampire murni.
Bahkan jika ia bisa mendapatkan obat penawar milik Ruthven yang disimpan di kastil Rosalia Ruthven pun, Shane sudah tak ada harapan untuk bisa jadi manusia lagi.
Apa yang harus aku lakukan?
Shane begitu merana.
Dan saat Shane dalam keadaan galau itu, tiba-tiba Shane melihat sekelebat bayangan putih di pohon depan kastil.
Bayangan putih makin lama makin dekat dan mulai terlihat jelas sesosok perempuan.
"Hantu hutan."
Gumam Shane.
Hantu perempuan itu tersenyum pada Shane sambil melayang melewati Shane begitu saja.
Shane menatap hantu perempuan itu yang kemudian melayang lagi ke pohon yang tepat berhadapan dengan ruangan Shane.
Hantu perempuan itu lantas duduk di pucuk pohon, ia terdengar menyanyikan lagu dengan suaranya yang merdu.
Damai, seolah-olah hidup si hantu itu begitu damai.
Hantu perempuan yang merasa dipandangi Shane akhirnya menoleh ke arah Shane lalu memanggil Shane agar ikut duduk di atas pohon.
Shane akhirnya melompat dari jendela kastil dan langsung melesat ke atas pohon.
Ia duduk bersama hantu perempuan itu.
"Mukamu pucat dan sedih, apa kau habis bangkrut?"
Tanya si hantu hutan.
Shane nyengir.
"Ah sepertinya bukan bangkrut, kau pasti habis putus cinta."
Kata si hantu hutan lagi.
Shane cepat menggeleng.
"Tidak, jangan mendoakan kami putus."
Ujar Shane.
Hantu hutan itu melongo, lalu tertawa.
"Siapa yang sedang berdoa? Aku sedang menebak."
Shane tersenyum tipis.
"Kata-kata adalah doa."
Ujar Shane sambil menatap bulan di kejauhan.
"Sudah berapa lama jadi hantu?"
Tanya Shane.
"Entahlah, aku tak punya kalender, tapi sepertinya sudah hampir seratus tahun, atau bisa jadi lebih."
Kata si hantu hutan.
Shane mengangguk.
"Kau tidak bosan hidup menjadi hantu?"
Tanya Shane.
Hantu hutan itu selonjor di atas dedaunan.
"Kadang bosan, tapi mau bagaimana lagi, ingin berubah jadi bakwan juga tidak mungkin."
Kata si hantu hutan.
"Kau mati di sini?"
Tanya Shane.
"Dulu rumahku ada di sekitar hutan ini, sekarang sudah dirobohkan. Aku mati sendirian di rumahku setelah tiga puluh tahun suamiku mati."
Shane menatap hantu itu.
Hantu perempuan yang seusia Ibunya.
"Kau sedih?"
Tanya Shane.
Hantu itu tersenyum.
"Tidak, aku bahagia."
Shane mengerutkan keningnya.
"Aku bahagia karena aku mengantar suamiku sampai ujung waktu hidupnya, aku menemaninya saat ia sedih dan senang, mendengarkan ia berkeluh kesah tentang beberapa hal, atau kadang hanya mendengarkan ia cerita sesuatu yang tak berfaedah. Tapi..."
Hantu hutan itu menatap langit.
"Tapi akhirnya kalian terpisah."
Lirih Shane.
"Dan kau sendirian sekarang."
Lanjut Shane pula.
Hantu hutan itu dengan tetap menatap langit tampak tersenyum.
"Perpisahan itu hanya milik raga, tapi sesungguhnya jiwa kita tetap bersama. Cinta itu bukan hanya tentang bersama, tapi juga tentang saat tidak lagi bersama."
"Aku bahagia dengan semua kenangan yang telah kami lalui bersama. Aku hidup karena kenangan itu, sampai hari ini aku masih merasa ia bersamaku."
Shane menatap si hantu hutan.
**--------------**