Zizi

Zizi
30. Aku Pulang, Aku Lapar


Sepuluh tahun lalu, musim dingin di Osaka...


Zizi yang berusia sepuluh tahun berlarian mengitari halaman rumah Kakek Neneknya di Osaka yang kini tertutup salju.


Udara sangat dingin tapi anak itu berlarian ke sana ke mari seolah tak menghiraukannya.


Bersama Eva dan Ali yang juga ikut berlibur bersama keluarga Zizi, tampak ketiganya berlarian sambil saling melempar bola salju.


Maria sendiri mengawasi tiga anak kecil itu dari atas atap rumah, sesekali melihat salju turun macam ketombe yang runtuh dari atas kepala membuat kepala si hantu jadi gatal.


"Seraaaang Kak Ziziiii..."


Kata Ali kecil melempar bola salju ke arah Zizi.


Zizi melompat cepat sambil tertawa karena bola salju Ali tak mengenai tubuhnya tapi mengenai muka hantu perempuan yang baru muncul dari timbunan salju.


Muka hantu penuh darah itu biru karena kedinginan, wkwkwk... Zizi yang gemas jadi melemparinya dengan bola-bola salju miliknya.


"Udah ngga usah keluar, ngga punya mantel."


Kata Zizi sambil melompat-lompat di atas tempat yang semula ada muka hantu nongol.


Setelah itu Zizi berlarian lagi, berkejaran lagi dengan Ali dan Eva.


"Ah aku haus, mau minum dulu."


Kata Eva, kakak perempuan Ali, gadis kecil yang hanya selisih dua tahun dengan Zizi itu berlari masuk ke dalam rumah untuk meminta coklat panas pada Kepala pelayan.


Zizi sendiri bersama Ali masih asik bermain saja.


Hingga Zizi kemudian melihat sekelebat bayangan masuk ke bagian belakang rumah, bentuknya seperti bayangan perempuan dengan rambut panjang memakai kimono tapi wajahnya rata tak ada matanya, hidungnya dan mulutnya.


Seperti biasa, Zizi penasaran dengan yang baru saja ia lihat, ia pun langsung melompat mengejar si hantu yang sepertinya mengarah bangunan belakang rumah di mana bangunan itu berisi banyak kamar untuk ditempati para pekerja di rumah Kakek Neneknya.


Ali yang melihat Zizi tiba-tiba melompat dan berlari seperti mengejar sesuatu juga jadi ikut penasaran.


Ali berlari mengejar Zizi, mencoba menyusul kakak sepupunya untuk mencari tahu apa yang kali ini kakak sepupunya lihat.


Ah yah, Ali memang sangat menyukai Kakak sepupunya itu, menurut Ali, kakak sepupunya itu sangat keren.


Ali suka mendengarkan apa yang dilihat dan apa yang dilakukan Zizi pada para hantu yang ditemui, buat Ali yang tak bisa melihat, tentu itu sangat keren.


Zizi masih berlari mengejar hantu perempuan dengan wajah rata itu, ketika kemudian Ali tiba-tiba seperti ada tangan yang menarik kakinya dari bawah salju.


Ali terjatuh di atas salju, ia tampak ketakutan karena jelas sekali kakinya tadi seperti di cengkeram tangan tak terlihat.


Ali mundur-mundur ke belakang, hantu yang dikejar Zizi kini justeru muncul dari balik salju, ia meski tanpa mata seolah bisa menatap Ali.


Tangan hantu itu terulur ke arah Ali, ketika kemudian hantu Maria lebih dulu melihatnya.


Maria melayang cepat dari atas atap dan langsung menabok kepala si hantu tanpa muka.


Plak!!


"Pergi kau!!"


Bentak Maria.


Si hantu tanpa muka melayang pergi tapi hanya sampai pagar saja, Maria yang kesal jadi mengejarnya agar hantu itu bisa pergi lebih jauh.


Ali sejenak berusaha bangun, ia tak tahu ada dua hantu yang sedang ribut karena dirinya, Ali hanya merasa ia ditarik tangan tapi tak ada.


Dan...


Ali tiba-tiba melihat seperti ada cahaya di salju yang ada di bawah kakinya.


Ali segera meraih sesuatu yang semacam batu kecil itu.


Batu dengan cahaya berkilauan itu begitu Ali pegang tiba-tiba seperti masuk ke dalam tangan Ali.


Ali ketakutan, ia lari tunggang langgang sampai bolak balik terjatuh karena licin dan akhirnya tak sadarkan diri.


Flashback berakhir,


**-----------**


Zizi dan Shane terpental dari dalam cermin tua di dalam gudang rumah Nenek, keduanya berguling di lantai gudang.


"Aduh pinggangku."


Zizi bangun sambil memegangi pinggangnya.


Shane tersenyum melihat Zizi yang kemudian berjalan macan Nenek-nenek sakit pinggang keluar dari gudang.


Sepi, Zizi celingak-celinguk.


Tampak mbak pocong tidur di lantai sambil mendengkur.


Suaranya seperti kodok kekenyangan.


Zizi melepas sepatunya dan melempar mbak pocong dengan sepatu. Mbak pocong kaget luar biasa, memantul sampai ke plafon.


Haiish... Nona Zizi.


Mbak pocong turun ke bawah.


"Pada ke mana? Sepi sih?"


Tanya Zizi.


"Masih di rumah sakit, pengawal istirahat makan di belakang."


Kata Maria.


"Jiaaaah, mentang-mentang tinggal aku yang belum balik pada santai."


Ujar Zizi.


Zizi melepas sepatu satunya lagi dari kakinya, lalu membuangnya juga.


"Males ah pakai lagi, abis buat berantem sama raksasa, udah ngga enak dipakai."


Ujar Zizi.


Sepatu yang dibeli dengan harga hampir dua ratus lima puluh juta itu hanya dibuang saja, lalu ditinggalkan seolah tak ada harganya.


"Aku lapar banget."


Kata Zizi.


Mbak Pocong yang masih terbayang saat Zizi membantai para raksasa merasa sedikit merinding begitu Zizi melewatinya.


Shane sendiri mengikuti tanpa bicara apa-apa.


Maria mendekati Shane, ia malas tanya pada Zizi karena pasti akan dijawab seenaknya dia saja.


Zizi terlihat mencari kepala pelayan untuk minta makan.


"Semua apa baik-baik saja? Bagaimana nasib Shilba Dolores? Lalu Lori? Apa tongkat sakti itu sudah dikembalikan pada Oracle? Bagaimana kutukan di dunia peri?"


Maria sangat penasaran.


Sebagai hantu yang selalu berusaha aptudet dengan informasi terbaru, jiwa kekepoan Maria meningkat sangat tinggi.


Shane tersenyum menatap Maria.


"Mana dulu yang harus saya jawab Aunty?"


Tanya Shane.


"Mana saja, yang penting semua dijawab."


Kata Maria.


Mbak Pocong mendengus.


Dasar emak-emak jadul. Batin mbak pocong.


"Shilba Dolores dibunuh Nona Zizi, kepalanya terpenggal. Kutukan dunia peri diruntuhkan Nyi Retnoasih. Lori dan Belle baik-baik saja, dan tongkat itu ada padanya. Meri serta Oracle sepertinya mereka bukan peri yang baik, tapi itu bukan urusan kita."


Kata Shane.


"Intinya sekarang dunia peri kembali seperti dulu tanpa kutukan, namun pasti suatu hari akan terjadi sesuatu lagi dan itu menjadi pekerjaan rumah Lori dan Belle untuk menyelesaikannya."


Ujar Shane lagi.


Maria mengerutkan kening.


"Jadi benar Meri adalah peri jahat, aku juga merasa begitu, dia ada sesuatu yang disembunyikan."


Ujar Maria.


"Lori dan Belle bukan cucu asli Meri."


Lanjut Shane.


"Lalu cucu siapa?"


Tanya Maria kembali kepo.


Shane menggeleng.


"Entahlah, mungkin suatu hari baru akan ada jawabannya."


Kata Shane.


"Ah begitu ya."


Shane tersenyum.


"Saya permisi dulu Aunty, saya akan ke kamar."


Kata Shane.


Maria mengangguk lalu berpandangan dengan mbak pocong.


"Kau dengar tadi? Shilba Dolores? Dia dibunuh Zizi dan kepalanya dipenggal?"


Tanya Maria.


Mbak pocong bergidik.


"Semoga aku jangan sampai dibelah jadi dua macam es loli."


Kata mbak pocong.


**------------**