Zizi

Zizi
25. Kagum


Sementara itu, di saat di dekat hutan bunga tengah terjadi peperangan sengit antara raksasa dengan tim campur aduk, di dalam istana Oracle, sebutir peri terlihat berdiri di depan cermin ajaib besar.


Peri yang tak lain adalah Shilba Dolores itu terlihat memakai gaun merah ngejreng dengan hiasan pita-pita hijau pupus.


Rambutnya yang ikal mengembang seperti kebanyakan soda kue di beri mahkota kecil yang akhirnya tidak terlihat, sungguh aksesoris yang sia-sia alias mubazir.


"Heiii cermin ajaiib, katakan padaku siapa yang paling cantik di dunia ini?"


Tanya Shilba Dolores pada si cermin ajaib.


Cermin ajaib ini baru ia import dari negeri peri di Eropa, cermin ajaib yang ke 276.627.725 yang didatangkannya ke istana sejak ia tinggal di istana oracle.


Tujuannya apalagi jika bukan untuk ditanya siapa mahluk yang paling cantik di dunia ini.


Cermin ajaib tampak menangkap pantulan bayangan Shilba Dolores, ia mencoba menelaah dan mencari kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Shilba Dolores yang sangat sulit.


Ya, pertanyaan yang jauh lebih sulit daripada harus diminta memilih antara kuburan atau rumah sakit.


Bogem kanan kuburan, bogem kiri rumah sakit. Hihihi...


"Cermin ajaib, cepat katakan padaku!! Siapa mahluk yang paling cantik dan seksi!!"


Cermin ajaib itu kemudian terlihat seperti loading, lalu tiba-tiba memunculkan seorang perempuan dengan kerudung transparan dan hidung yang ada aksesoris, rok yang lebar dan atasan dengan warna senada, perempuan itu menuruni tangga diiringi musik, lalu ada tulisan yang Shilba Dolores tak bisa membacanya


"Hey cermin ajaib, tulisan apa itu?"


Tanya Shilba marah.


Ia buruk sangka jika tulisan itu mengejeknya


Cermin ajaib mengeluarkan suara,


"Mahluk tuhan yang paling seksi, Mulan Jameela."


Jiaaaah...


Shilba Dolores emosi, karena lagi-lagi bukan dia.


Shilba Dolores langsung meraih gelas emas dari atas meja di ruangan itu, lalu melemparnya ke arah cermin ajaib.


"Berikan aku cermin baruuuuuu."


Shilba Dolores yang sangat terobsesi dibilang cantik histeris, suaranya sampai menggema ke seluruh istana Oracle.


Membuat orang-orang di dalam lukisan yang dipajang di istana Oracle langsung kabur bersembunyi.


Suara Shilba Dolores yang sedang histeris itupun ternyata bukan hanya didengar oleh penghuni istana, tapi juga Zizi yang kini sedang berperang melawan para raksasa.


"Suara apa itu? Tikus?"


Tanya Zizi pada Lori yang kini berdiri saling menempelkan punggung untuk menghadapi para raksasa.


"Entahlah, aku rasa itu suara paling jelek yang pernah aku dengar di dunia peri."


Ujar Lori.


Mbak Pocong di atas kepala raksasa mulai kliyengan, sama sebagaimana raksasa yang di jedot-jedot kepalanya juga kini mulai kunang-kunang.


Merasa repot menghadapi mahluk-mahluk aneh itu, sang raksasapun memilih melepaskan Shane, dilemparkannya Shane sembarangan hingga Shane terpental jauh yang justeru ke arah istana.


Tubuh Shane menabrak jendela kaca istana di lantai tiga istana Oracle, membuat jendela kaca istana itu pecah berantakan.


Shane terhempas ke lantai, dan sempat berguling di sana sebelum kemudian terkapar.


Zizi yang melihat Shane terlempar jelas saja langsung marah, apalagi saat kemudian raksasa itu meraih mbak Pocong di atas kepalanya dan membantingnya ke atas tanah.


Pok!


Mbak Pocong terkapar juga.


Begitupun Maria, raksasa itu juga melempar Maria entah ke mana.


"Seraaaang..."


Raksasa lain terlihat berteriak semangat.


Zizi yang melihat semua itu terlihat marah, sangat marah.


"Lori, kau pergilah dengan Ali ke istana Oracle, biar aku yang urus pasukan bodoh ini!!"


Kata Zizi.


"Tapi Kak."


Ali yang mendengar perintah Zizi jelas saja tak langsung bisa menerima, bagaimana bisa Zizi melawan raksasa yang jumlahnya lebih dari dua puluh lebih sendirian.


Zizi mendelik ke arah Ali.


"Pergilah!!"


Ali yang tahu jika kini Zizi sudah dikuasai darah leluhurnya langsung meraih tangan Lori menjauh.


"Saudara mu, kenapa dia?"


Tanya Lori pada Ali yang membawanya berlari.


Ali belum sempat menjelaskan, ketika Lori melihat Zizi tiba-tiba melayang dan seperti berdiri di udara.


Terlihat Zizi merentangkan kedua tangannya, mengangkatnya ke atas yang seketika membuat langit di dunia peri itu bergemuruh.


Mata Zizi yang biasanya berbinar-binar, kini terlihat berubah, mata itu tajam menyala menatap para raksasa yang menyeringai ke arah Zizi.


Zizi menatap sengit dan penuh kemarahan, terutama pada raksasa yang paling besar, yang berdiri paling depan.


Raksasa yang sebetulnya sudah sedikit kliyengan itu menatap Zizi yang kini mengacungkan telunjuknya ke arahnya.


"Kau!! Akan ku hancurkan seluruh tulang igamu!!"


Teriak Zizi yang kemudian menatap langit yang kembali bergemuruh hebat.


Raksasa itu celingak-celinguk.


"Dia ngomong apa sih?"


Raksasa paling besar itu ke arah raksasa di dekatnya.


"Dia akan menghancurkan tulang igamu."


"Hah? Hah?"


Si raksasa sama sekali tak tahu temannya bicara apa.


Sementara langit pun semakin bergemuruh, disambut dengan datangnya angin yang sangat besar berwarna hitam bergulung-gulung.


Para raksasa mulai terhuyung karena kekuatan angin yang sangat dahsyat itu.


Zizi melompat sambil tangannya mengayun ke udara dan sesuatu seperti kilat terlihat menyambar.


Zizi seolah menangkapnya yang kemudian tampak sebilah pedang menyala-nyala di tangan Zizi.


Dengan gerakan yang sangat cepat Zizi mengayunkan pedangnya yang kini menyala-nyala serupa api yang sangat panas.


Zizi melompat ke arah satu raksasa ke raksasa yang lain serata menghantam, memukul, menebas, menghunus dengan pedang warisan leluhurnya.


Para raksasa itu mengerang, dalam keadaan mereka kesakitan yang teramat sangat, Zizi mengayunkan pedangnya ke angkasa, menciptakan gelombang panas yang besar lalu dihantamkannya ke arah pasukan raksasa itu.


Lori di kejauhan yang semakin dekat dengan istana sempat melihat bagaimana aksi Zizi menghadapi para raksasa seorang diri.


Zizi melompat ke kepala raksasa yang tadi melempar Shane, yang kepalanya sudah dihajar Mbak pocong sedemikian rupa.


Raksasa itu berusaha menyambar Zizi, namun jelas saja Zizi tak semudah itu di tangkap.


Zizi dengan sigap terus menghindar, hingga di saat yang tepat, Zizi mengangkat pedangnya, lalu di hujamkannya ke ubun-ubun si raksasa.


Raksasa itu mengerang dengan suaranya yang sangat mengerikan.


Raksasa itu terhuyung, lalu jatuh ambruk berdebum di atas tanah.


Mbak Pocong terlihat susah payah bangun dari posisinya ketika melihat para raksasa bertumbangan oleh Zizi seorang diri.


Zizi naik ke atas perut lalu dada si raksasa. Zizi menodongkan pedangnya ke leher si raksasa.


"Di mana Shilba Dolores menyimpan tongkat milik Oracle?"


Tanya Zizi.


Raksasa itu mengerang.


"Cepat katakan!!"


"Apa imbalanmu?"


Hmm...


Zizi mendelik.


Bagaimana bisa raksasa itu masih terpikir untuk nego.


"Hmm..."


Zizi semakin menempelkan ujung pedangnya ke leher raksasa.


"Kau yang memilih mati."


Kata Zizi.


**-------------**