
Zia sedang berada di zombie hotel karena keluhan resepsionis yang terus diganggu oleh suara perempuan minta tolong.
"Kamu yakin jika yang menelfon itu semua dari kamar yang kosong Mba Dewi?"
Tanya Zia pada resepsionis yang wajahnya cantik itu.
Mba resepsionis yang bagian jaga malam itu mengangguk.
"Iya Nyonya, waktu telfon pertama dan kedua saya tidak langsung mengecek, tapi begitu telfon ketiga dan selanjutnya selalu dari sambungan telfon kamar yang kosong."
Kata Dewi.
Zia memandang ke arah Bang Dimas, tepat saat hp di tangan Zia bergetar.
Zia yang semula menyangka Zion yang menelfon karena akan memberitahu akan segera sampai di zombie hotel, kini tampak tersenyum lega begitu melihat nama Zizi yang ada di layar hp nya.
"Sebentar Bang Dimas, ini Zizi akhirnya telfon, anak bandel itu..."
Zia membawa langkahnya menjauhi Dimas dan Dewi yang ada di meja resepsionis.
Beberapa staf hotel juga ada di sana.
Hari ini Zia memang memutuskan untuk turun tangan atas keluhan yang ada di hotel, ia khawatir dengan keselamatan para tamu dan pegawai.
"Zizi!!"
Zia langsung siap mengomel begitu mengangkat telfon anak semata wayangnya itu.
"Naaaah kan, belum apa-apa Mama udah meletus."
Kata Zizi dari seberang sana.
"Lha kamu, jadi anak bandelnya minta ampun, bagaimana bisa pergi dari rumah diam-diam tanpa ijin dan pamit pada Mama dan Papa."
"Kan mama sudah tahu Zizi akan ke mana."
"Tapi tetap saja harus pamit Zizi, kamu tahu Mama hampir gila mencarimu, bahkan nyaris memecat semua pengawal yang berjaga di depan karena mereka tidak ada yang tahu kalian ke mana."
Zizi yang mendengar Mamanya mengomel terdengar cekikikan.
"Mereka dibuat linglung oleh Kak Seng."
ujar Zizi.
Haiiiish... Zia mendesis.
"Beruntung Kak Arya menelfon Mama untuk memberitahu jika kalian bertemu di gunung salak, katanya kamu menemukan dua mayat."
Kata Zia.
"Aaaah Zizi malah hampir lupa."
Kata Zizi.
"Iya Ma, Zizi ketemu hantu yang mayatnya dibuang di jurang, udah ketemu belum ya pembunuhnya, dan itu yang mayat perempuan mangku boneka, kata si hantu yang dibuang di jurang, salah satu pembunuhnya ID Cardnya jatuh juga nggak tahu udah ketemu apa belum."
Kata Zizi malah jadi membahas dua korban pembunuhan yang menjadi kasus Arya.
"Itu urusan Arya, Mama mana tahu Zizi. Sudah sekarang Mama mau tanya, kamu ada di mana? Trus kapan rencananya pulang?"
Tanya Zia.
"Rencana pulang ya kalau semua sudah selesai dong Mama, ini saja Zizi baru lewat satu hutan doang, tapi Zizi lapar jadi keluar ke dunia manusia dulu."
Zizi cekikikan.
"Lho kok bisa begitu? Kamu kok enak nggak kayak Mama dulu?"
Zia merasa heran.
"Mungkin karena Mama takut sama siluman, Zizi kan enggak, hahahaha..."
Zizi malah menertawakan Mamanya, dasar anak tak ada akhlak.
"Kamu ini, Mama pentung nanti kalau pulang."
Kata Zia gemas.
"Ya pokoknya Mama jangan khawatir Ma, Zizi baik-baik saja dan akan baik-baik saja. Zizi pasti akan pulang."
Ujar Zizi selalu optimis dan percaya diri.
Zia menghela nafas.
Tak ada yang berubah sama sekali pada anak itu sejak kecil.
"Baiklah, janji pada Mama, kalau kamu akan tetap jadi manusia yang baik, mengerti."
"Siap Mama."
Sahut Zizi cepat.
"Jangan terlalu sering membulli hantu, ini ada hantu di hotel yang curhat."
Kata Zia.
"Hah, siapa?"
Zizi ketar ketir.
"Hantu nenek yang di lift, katanya dia dijepit pintu lift sama kamu."
Kata Zia.
"Iiikh orang dia sendiri yang kejepit."
"Ya sudah, ini ada panggilan masuk dari Papa."
Ujar Zia.
"Salam buat Papa ya Ma."
Kata Zizi, setelah itu panggilan pun berakhir.
**--------------**
Zizi meletakkan hp nya di samping ia duduk sila di atas sofa.
Kini di atas meja depannya terlihat makanan terhampar menggiurkan.
Maria juga ikut pesta menghirup aromanya yang lezat luar biasa, terutama iga bakarnya yang dilihat saja sudah membuat siapapun ngiler.
Zizi kemudian melompat dari atas sofa untuk menuju kamar mando agar bisa cuci tangan, setelah itu kembali lagi untuk menyantap makanan pesanannya.
"Kak Seng ke mana sih Aunty?"
Tanya Zizi pada Maria yang mendapati shane sudah tak ada di kamar sejak Zizi selesai mandi.
"Dia jalan-jalan lihat pantai."
Kata Maria.
Zizi mencomot satu iga bakar dari wadah, lalu menggigitnya dengan semangat.
Maria menatap Zizi, ia sudah gemas melihat Zizi tak peka dengan perasaannya sendiri dan juga dengan perasaan Shane.
"Zi."
Panggil Maria.
Zizi sudah mulai menikmati makannya.
"Ya Aunty, ada apa?"
Tanya Zizi sambil mengunyah suapan nasi dan daging dari iga bakarnya yang penuh dengan kecap.
"Setelah pulang dari Merapi, jujurlah pada Shane."
Kata Maria.
Zizi membulatkan matanya pada Maria.
"Jujur apa? Soal apa?"
Tanya Zizi bingung.
Maria mengurut kening.
"Hadiiiuh, kamu ini memang tidak peka apa bolot sebenarnya."
Kesal Maria.
"Lha kenapa sih Aunty? Kok Aunty tiba-tiba jadi marah sih..."
Zizi benar-benar tak habis pikir, salah dia apa tiba-tiba dimarahi.
Maria tambah mendengus.
"Kamu itu kan sudah dewasa Ziziii, kamu pasti tahu dong Shane itu mencintai kamu, dia kan juga sering menyatakan cinta ke kamu, apa kamu nggak peduli sama sekali dengan perasaan dia apa bagaimana?!"
Maria jadi kesal sendiri melihat Zizi bersikap seolah tak bersalah sama sekali.
Zizi yang semula akan menggigit iga bakarnya lagi jadi berhenti sejenak, ia menatap Maria.
"Zizi tahu kok."
Kata Zizi.
"Lha kalau kamu tahu ya harusnya bagaimana dong Zizi, jawab kek pernyataan cinta Shane, dia yang sering berkorban nyawa untuk keselamatanmu, apa kamu sama sekali ngga peduli soal itu?"
Maria menatap Zizi dengan kesal.
"Sebenarnya kamu itu cinta sama Shane juga kan? Aunty bisa merasakan kalau kamu nyaman setiap kali dengannya, bahkan bayanganmu yang sudah jahat itu saja hanya bisa dikendalikan jika ada Shane, itu karena dalam dirimu menjadi kuat setiap kali ada Shane di sampingmu!!'
Maria terus mengomel.
Zizi menggigit iga bakarnya lagi, ia ingin bicara, tapi ia tak kuat menahan diri melihat iga bakar yang ada di tangannya.
"Zizi! Aunty sedang bicara, kenapa kamu makan baeeee!"
Maria rasanya jadi emosi sendiri melihat anak asuhnya itu.
Ah ya Tuhan, bagian kepala Maria terasa puyeng.
Zizi mengunyah potongan iga bakar yang ada di dalam mulutnya dengan cepat lalu menelannya hingga masuk ke dalam perut seluruhnya.
"Iyaaaa Auntyyyy... Iyaaaaa... tadinya Zizi mungkin sempat bimbang, tapi Zizi tahu jika Zizi cuma bisa tenang kalau ada Kak Seng. Sejak kecil Zizi suka pada Kak Seng, dicueki juga Zizi tetap suka pada Kak Seng, karena Zizi tahu Kak Seng meskipun dingin, tapi diam-diam selalu jagain Zizi, jadi mana bisa Zizi mengabaikan itu."
Kata Zizi.
Maria menatap Zizi.
Ah anak asuhnya itu ternyata benar sudah besar sekarang.
**------------**
Nantikan... Nantikaaaan... hihihihi