Zizi

Zizi
116. Banyak Kasus Menggerumut


Sore hari, Arya keluar dari kamarnya, ia sudah terlihat rapi dan siap untuk pergi menemui Zion di hotel zombie.


Saat melangkah melewati kamar Zizi, ia sejenak berhenti, menatap pintu kamar Zizi yang masih tertutup rapat dan sepertinya Zizi masih tidur karena kelelahan.


Sejenak Arya menghela nafas.


Teringat lagi saat Zizi mengatakan jika ia sekarang hanya menganggap Arya sebagai kakak nya saja, tak lebih.


Dada Arya terasa kembali sakit, bergemuruh rasanya manakala ia kemudian memikirkan semua pasti karena Shane.


Arya melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, sudah nyaris jam empat sore, cepat Arya pun melanjutkan langkahnya.


Menuruni tangga rumah, Arya sambil berpikir jika ia akan pindah rumah saja dan lebih baik tak usah tinggal di rumah Tante Zia dan Om Zion lagi.


Tapi...


Bagaimana caranya nanti pamit? Apa alasannya jika Arya tiba-tiba pamit? Bagaimana jika mereka tak setuju Arya pindah?


Arya masih bingung berpikir, manakala ia melihat Shane yang seperti berjalan dari ruang depan.


Shane yang tak sengaja menoleh ke arah tangga, akhirnya membuat keduanya saling berpandangan.


Shane terlihat membungkuk memberi salam.


Arya diam saja, ia acuh tak acuh meneruskan langkahnya, dan tak melihat ke arah Shane lagi.


Hatinya merasa sakit dan darahnya seolah menggelegak panas begitu melihat manusia vampire itu.


Melihat Shane membuat Arya jadi ingat bagaimana cara Zizi bercerita selama perjalanan ke Merapi.


Bagaimana Zizi seolah merasa jika tak ada Shane mungkin ia tak bisa melewati semua perjalanan yang berat itu.


Arya kembali menghela nafas.


Sampai di luar, beberapa pengawal yang melihat Arya menyapa.


Arya terlihat tersenyum pada mereka.


"Berangkat lagi Bang Arya?"


Tanya Daniel, salah satu pengawal di rumah Zia yang posisinya seperti Dimas jaman dulu.


"Mau ke zombie hotel."


Kata Arya.


"Ah tadi Nyonya Zia juga pergi ke sana, diantar Edi."


Ujar Daniel.


"Oh Ya? Tante Zia?"


Tanya Arya terkejut karena ternyata Tante Zia juga hari ini ke zombie hotel.


"Ya, tadi hampir jam sebelas berangkat bersama Edi?"


Kata Daniel lagi.


Arya mantuk-mantuk.


Arya kemudian bergegas menuju mobilnya, bersiap menuju zombie hotel.


Sambil menyalakan mesin mobil, Arya mengirimkan audio pada temannya akan berangkat agak terlambat karena harus pergi ke Jakarta menemui Om Zion.


Pintu pagar terbuka, Arya membawa mobilnya melaju menjauh.


Dan begitu mobil itu sampai di jalan komplek, Arya pun tancap gas dan membawa mobilnya ngebut.


**-----------**


Zizi di kamar masih tidur dengan damai, manakala hp nya berbunyi entah sudah berapa puluh kali.


Kesal Zizi tak juga bangun, akhirnya Zanuba meraih hp Zizi dan mengetokkan hp Zizi ke jidat Zizi.


Pletak!!


"Ciaaaaat... Bukgh!!"


Zizi reflek bangun dan menonjok Zanuba begitu jidatnya diketok hp.


Zanuba terpental sampai ke lemari dan masuk menembus lemari.


Untungnya dia jin, kekuatannya dua kali lipat, jadi hanya mental saja.


Zanuba keluar lagi dari lemari, melayang ke arah Zizi yang duduk bengong sambil ucek-ucek cucian, eh ucek-ucek mata.


(Ucek-ucek cucian mah kalian ya mak... hahaha)


"Bangun sambil nonjok, mafia aja enggak gitu amat Zi."


Kata Zanuba sambil melempar hp Zizi pada si empunya yang masih ngantuk.


Hp Zizi jatuh di pangkuan.


"Apa nih?


Zizi mengambil hp nya.


"Hp lah, tidur udah kayak dari jaman purba bangun jaman modern sampe nggak tahu hp."


"Bukan, ini nomor siapa, kok nomor baru?"


Zizi menatap layar hp nya.


"Nggak tahu itu udah puluhan kali nelfon."


Zanuba lalu duduk sila mengambang di dekat Zizi.


Zizi mengangkat telfon dari nomor asing itu.


"Ya halo."


Zizi menjawab panggilan.


"Kak Zizi, ini Ali."


Terdengar suara Ali di seberang sana.


"Jiaaah ngapa kamu pake nomor baru?"


Omel Zizi.


"Nanti saja ceritanya, ini nomor baru beli tadi buat selama di Indonesia saja."


Tanya Zizi.


"Bukan mau, Ali udah di Kemang, ini lagi duduk sama Uyut, sebentar lagi Ali ke Bogor, Kak Zizi nggak ada acara kan?"


Tanya Ali.


Zizi garuk-garuk kepala.


"Acara apa? emangnya Kak Zizi TV ada acara."


Sahut Zizi yang selalu saja asal jeplak.


"Oke, Ali nanti nginepnya di Bogor, nih Kak Zizi ditanyain Uyut, kenapa tidak pernah ke Kemang katanya."


Kata Ali.


Zizi cekikikan.


"Coba mana Uyut? Kak Zizi mau bicara."


Ujar Zizi.


Ali memberikan hp nya pada Tuan Ardi Subrata yang duduk bersamanya.


"Anak bandel, kenapa tidak pernah mengunjungi Uyut?"


Tuan Ardi Subrata langsung mencecar Zizi.


Zizi tergelak-gelak.


"Maap maap Uyut, Zizi baru pulang dari Merapi."


Kata Zizi.


"Nah nanti kamu harus datang ke Kemang, ceritakan pada Uyut bagaimana kisah perjalananmu ke sana, Uyut ingin dengar."


Ujar Tuan Ardi Subrata.


"Oke Uyut, don wori wori, nanti Zizi akan ceritakan semuanya, dari pertama Zizi berangkat bingung mau pake sepatu warna apa, sampai hari ini pulang dan makan habis empat piring."


Zizi cekikikan.


"Dan tidur kayak kebo kekenyangan."


Tambah Zanuba.


Haiiish... Zizi mendesis.


Zanuba tertawa.


"Baiklah baiklah... Uyut tunggu."


Tuan Ardi Subrata terkekeh, lalu mengembalikan hp Ali pada cicitnya.


"Kak setengah jam lagi Ali meluncur."


Kata Ali.


"Oke deh, kak Zizi juga mau mandi dulu."


"Siap."


Sahut Ali.


Panggilan merekapun berakhir.


Zizi melompat bangun dari posisinya dan kemudian bergegas pergi ke kamar mandi.


"Ba, kalau ada yang telfon lagi, diangkat aja."


Kata Zizi pada Zanuba.


Zanuba mengangguk.


"Ya nanti sekalian aku ngelongok keluar layar hp yang telfon."


Sahut Zanuba.


Sementara itu Arya yang masih dalam perjalanan ditelfon oleh Dimas, ia meminta Arya langsung menuju tempat Dimas sekarang saja.


Dimas berada di sekitar kos Dewi.


"Tidak langsung melaporkan ke polisi Saja Paman?"


Tanya Arya.


"Melaporkan Dewi hilang sudah dari dua hari lalu, tapi belum ada hasil. Kamu dulu saja ke sini, nanti setelah jelas baru kita hubungi polisi yang membawahi wilayah sini."


Kata Dimas.


"Berikan lokasinya Paman, ini Arya akan langsung ke sana."


Ujar Arya.


Sambungan telfon mati, tampak Dimas memberikan posisinya saat ini. Arya menatap layar hp nya sejenak, mengklik posisi Dimas, lalu cepat memutar arah mobil yang ia kemudikan.


Hp dengan wallpaper fotonya dengan Zizi saat kecil itu masih terpampang, membuat hati Arya tak karuan lagi.


Hari berlalu musim berganti, Arya pikir itu tak akan merubah apapun pada hati Zizi. Namun nyatanya...


Arya menambah kecepatan mobilnya, otaknya ruwet macam benang jahit yang bundet.


Jalanan sudah mulai merayap macet di beberapa titik, Arya yang ngebut jadi harus kembali sabar memelankan mobilnya dan merasakan indahnya macetnya ibu kota.


Macet, macam cintanya.


Eak... eak... eak...


**--------------**


Dimas berdiri sambil mengetik di hp nya untuk mengirim pesan pada Mbak Ning barangkali ia tak pulang malam ini.


Dimas berada di depan tempat kos Dewi.


Dan Dewi, hantu itu duduk di atas atap kos-kosannya, memandangi Dimas.


"Pak... Pak Dimas... Ini aku, ini akuuuu..."


(Udah ah... Subuhan dulu... Hihihihi)