
Zia keluar kamar dengan terburu-buru karena Zion telfon lagi ada pocong jatuh di lobby.
Haduuh, kenapa zombie hotel di Indonesia drama sekali sih. Batin Zia.
Tepat saat Zia akan pergi, Maria melayang keluar dari kamar Zizi.
Wah, mau kemana tuh Nyonya? Batin Maria.
Maria melayang dengan cepat menyusul Zia. Namun seperti biasa, Maria suka kalau melayang terlalu cepat jadi kebablasan.
Ia malah sampai di dapur, dan melihat Mbak Ning yang sedang mengajari Lesti mengurus dapur.
Tampaknya Mbak Ning benar-benar akan pindah hingga mempersiapkan saudaranya menggantikannya.
Maria melayang balik ke arah Zia.
"Nyonya... Nyonya..."
Maria memanggil Zia.
Zia menengok ke arah Maria yang kini mengambang menjejerinya.
"Mau ke mana Nya? Ikut ya?"
Maria kedip-kedip macam batre.
"Mau ke hotel Mar, ada tamu diganggu hari ini, dan beberapa tamu ternyata mengeluhkan hal yang sama, dan ini malah Papanya Zizi telfon katanya ada pocong jatuh juga di lobby."
Tutur Zia sambil tetap berjalan.
"Waduh."
Maria tepuk jidat.
"Ayo kita bereskan Nya."
Kata Maria.
"Iya, kalau tidak nanti bisa gulung karpet hotelnya."
Ujar Zia.
"Gulung tikar Nya."
Maria meralat.
"Ah iya itu, aku cuma menguji kamu."
Zia ngeles.
Huuu dasar anak sama biyung sama saja. Batin Maria.
Pengawal yang akan mengantar Zia sudah siap dengan mobilnya.
Zia segera masuk ke dalam mobil, begitu juga Maria.
Mobil cepat melaju meninggalkan halaman rumah, dan meluncur menuju Jakarta.
Di dalam mobil Zia memberitahu Zion jika ia sudah di jalan menuju ke Jakarta.
"Sudah sampai mana?"
Tanya Zion.
"Baru mau keluar komplek."
Jawab Zia.
"Itu masih lama atuh Ma."
Zion mengeluh, sementara ia gatal sangat ingin segera ke hotel untuk tahu keadaannya.
Tapi ya itu tadi, Zion takut karyawannya yang ternyata sudah jadi hantu itu akan penampakan di depannya.
Masih bagus kalau hanya penampakan untuk memberi salam, atau menawarkan minuman dan lain-lain, bagaimana jika dia minta pesangon? Hihihihi...
Zion di kantor mondar-mandir, gaya khasnya jika sedang tidak tenang dan pusing berpikir.
Daripada otaknya yang jalan ke kanan dan ke kiri, maka Zion merasa lebih baik ia yang mondar-mandir saja.
Zion mondar-mandir sambil mengetuk-ngetuk ujung hp nya di atas jidat, saat kemudian hp nya ada panggilan masuk.
Zion cepat melihat layar hp nya, ia tegang membayangkan kabar dari Dimas lagi yang akan memberinya kabar soal kejadian aneh di hotelnya.
Setelah Dewi meneror tamu, lalu pocong jatuh di meja lobby, takutnya sekarang kuntilanak balet di meja makan resto.
Tapi...
Untungnya ternyata panggilan itu adalah dari sang kakak.
Brother Ziyan.
Zion pun segera mengangkat panggilan Ziyan.
"Ya Kak, ini aku."
Zion mengangkat panggilan sang kakak kembarnya.
"On."
Panggil Ziyan.
Jiaaah, malah dia manggilnya ON, apa perlu aku panggil di OFF. Batin Zion si adik lucknut.
"Ali hari ini minta ke Indonesia, sepertinya siang dia akan terbang."
Kata Ziyan.
"Ali?"
"Ya, dia ingin bertemu Zizi, katanya Zizi sudah pulang dari Merapi."
Ujar Ziyan.
"Aah iya, Zizi pulang pagi tadi, aku juga belum ketemu Kak."
"Lah kamu ini jadi Bapak cap apa, anak pulang belum ketemu."
Omel Ziyan.
"Lho, dia pulang kan aku sudah berangkat meraup rezeki."
Zion memberi alasan.
"Oh ya benar juga."
"Ya benar lah, memang begitu adanya."
Sahut Zion.
"Apa kabar Kakek?"
Tanya Ziyan.
"Ya Kakek baik, kemarin sore aku mampir Kakek masih seperti biasa menghabiskan waktu menulis buku."
"Menulis?"
"Ya, dia sedang berencana menulis, kau tahu dia memintaku membuat penerbitan buku."
Kata Zion.
"Ah ide bagus, kita belum punya kan penerbitan."
Sahut Ziyan.
"Haiiish... Maruk."
Kata Zion.
Ziyan jadi tertawa.
"Sudah, aku cuma kasih kabar saja, itu Ali mungkin akan tinggal satu minggu, titip anakku, jangan kamu masukkan ke cermin lagi."
Kata Ziyan.
"Sialan, siapa pula yang masukkan anakmu ke cermin."
Zion ngedumel.
Ziyan tertawa lagi.
"Aku ada rapat lima menit lagi, salam buat Zia dan Zizi."
Kata Ziyan, lalu telfon berakhir.
Pesan baru masuk ke dalam hp Zion.
[lebih baik kamu ke hotel sekarang saja, Maria melayang ke sana]
Pesan dari Zia.
Maria? Ah hantu None Belanda itu. Baiklah. Zion mantuk-mantuk.
[Oke]
Balas Zion.
Zion lalu keluar dari ruangannya, Joni yang hari ini bertugas memimpin pengawalan membungkuk memberi hormat.
"Kita ke zombie hotel sekarang Bang Jon."
Ujar Zion.
Joni mengangguk.
"Siap Tuan."
Joni kemudian langsung menghubungi anak-anak buahnya agar bersiap untuk mengawal sang Tuan pergi.
Mobil para pengawal dan juga mobil Zion segera disiapkan di depan kantor.
Zia sendiri masih dalam perjalanan, Maria yang begitu mendengar penuturan Zia soal Zion yang takut menghadapi penampakan hantu karyawannya sendiri, akhirnya mengalah untuk pergi ke hotel lebih dulu dengan melayangkan diri.
Cuaca benar-benar panas menyengat, matahari bersinar dengan sangat semangat, seolah supporter bola yang tim nya berkali-kali memasukkan bola ke dalam gawang lawan, mencetak gol dengan bagus, hingga supporter semangat berteriaknya langsung level tinggi.
Maria yang melayang di tengah panasnya dunia terlihat berkali-kali menyeka wajahnya yang dikerubuti debu.
Melayang bagai plastik lerek-lerek yang terbawa angin, Maria pun terus berusaha agar bisa cepat sampai ke zombie hotel mendahului Zion.
Hingga akhirnya...
Zombie hotel kini ada di depan mata, Maria melayang cepat tapi tak secepat piring terbang Othor.
Maria masuk ke dalam hotel.
Beberapa hantu di sana yang tahu Maria adalah komplotan Zizi langsung parno.
Aduh ada Nona Zizi nih pasti. Mereka heboh tunggang langgang.
Maria celingak-celinguk.
Beberapa manusia ada di lobby, Bang Dimas juga ada di sana, sepertinya sedang meminta maaf atau apa.
Maria yang tak begitu peduli dengan urusan itu akhirnya melayang menuju tempat lain.
Hantu karyawan hotel, di mana dia? Batin Maria.
Maria menatap lift.
Hotel dengan lima lantai ini apa harus dilihat satu persatu.
Maria melayang melewati resto hotel, dan kemudian mencium aroma masakan yang luar biasa lezat.
Perut Maria tiba-tiba konser keroncong, judul lagunya "Di Tepian Sungai Serayu".
Maria akhirnya malah tergoda iman masuk ke dalam resto, ia langsung masuk ke dapur di mana chef ganteng kita yang bernama Chef Rasya tengah memasak pesanan seorang tamu di sudut ruangan.
Seorang pemuda tampan yang tengah menikmati sajian pagi sambil menghadapi laptop.
Maria menghirup aroma masakan Chef Rasya, melayang ke dekatnya sambil mengendus bau masakan.
Dan Maria pun lupa sejenak tujuannya ke zombie hotel gara-gara urusan perut.
Maria begitu menikmati aroma masakan Chef Rasya yang aduhai seperti wajah dan senyumnya yang selalu sedap di pandang, hingga...
**------------**
Othor juga konser keroncong lagu sepasang mata bola.