
Zizi menghela nafas.
Langit kini akhirnya telah benar-benar gelap pula di alam lelembut.
Lelah sangat rasanya kini tubuh Zizi.
Malas langsung menyebrangi telaga sementara nanti di sana ia akan menghadapi sekelompok Gendruwo, walhasil Zizi memutuskan untuk istirahat lebih dulu.
Tampak ia celingak-celinguk mencari tempat yang bisa ia jadikan tempat istirahat.
Hingga tiba-tiba.
"Sssttt... Sssttt..."
Zizi mendengar suara seperti desisan atau semacamnya.
Zizi kembali celingak-celinguk.
"Hey, di atas pe'a."
Terdengar suara cempreng seperti kaleng kosong yang di tendang dan jatuh di atas jalanan.
Zizi mendongakkan kepalanya ke atas, dan tampak kini hantu yang masih belia duduk di atas pohon besar yang tumbuh dekat telaga.
Gadis itu kemudian melayang turun ke bawah.
Plak!!
Zizi mengeplak kepala hantu remaja itu.
Haiish... Hantu itu mendesis.
"Berani-beraninya ngatain Zizi pe'a."
Omel Zizi.
Hantu itu terpingkal.
"Nih."
Hantu gadis remaja itu mengulurkan seperti dua bunga yang bertemu di tengah.
Zizi menatap benda itu, benda seperti cincin yang mirip dengan simbol kerajaan Dalu.
Zizi kemudian mengalihkan pandangannya pada hantu remaja yang kini senyum-senyum sambil kedip-kedip matanya ke arah Shane.
Plak!!
Zizi menabok hantu gadis itu lagi.
"Aww... Apa sih."
Hantu itu memonyongkan bibirnya.
"Cacingan apa kamu matanya kedip-kedip."
Kesal Zizi.
"Oh cacingan, kirain belum isi listrik."
Sahut Maria yang tampak rebahan di atas dahan pohon yang ada di belakang Zizi.
"Dapat darimana kamu cincin dengan simbol kerajaan Dalu?"
Tanya Zizi.
"Ratu Bunga Petak yang memberikan."
Ujar hantu itu.
"Kapan? Dia kan ada di wilayah hutan ke lima."
Kata Zizi.
Hantu remaja itu mengangguk.
"Ya dulu aku di sana, lalu aku dibantu bebas olehnya, ia memintaku membawa cincin itu."
Hantu itu menunjuk cincin simbol kerajaan Dalu yang kini ada di atas telapak tangan Zizi.
"Kenapa?"
"Dia bilang, akan ada manusia keturunan Naga Bandapati yang akan bisa menyelamatkan dirinya dan suaminya, aku juga diminta ikut membantu orang itu saat nanti bertemu."
Zizi menaikkan kedua alisnya.
"Dia bilang, aku akan diangkat jadi anaknya, dan akan diajak hidup di Kerajaannya."
Ujar hantu itu.
"Kenapa Ratu Bunga Petak memintamu melakukannya?"
Zizi curiga.
"Tentu saja karena aku yang selalu bersama Ratu selama ia ada di Merapi, saat ia jadi tawanan Grandong, dan kemudian ia dibawa ke Ceremai oleh Dayang Sumbi."
"Kau juga dibawa?"
Hantu itu mengangguk.
"Aku menunggu keturunan Naga yang sudah begitu gempar di jagat lelembut. Sekian lama akhirnya aku bisa melihatmu."
Zizi tertawa.
"Darimana kau tahu aku keturunan Naga? Dasar bodoh."
Kata Zizi.
"Siapa yang bisa mengalahkan siluman ikan penunggu telaga ini dengan mudahnya jika bukan keturunan Naga? Kau orangnya."
Hantu itu yakin.
Zizi kembali tertawa.
"Sotoy."
Kata Zizi sambil menonyor kepala hantu gadis itu.
"Haiiish cantik tapi kasar banget."
Ujar hantu itu.
Maria turun dari dahan pohon tempat ia rebahan.
"Siapa namamu? Jangan bilang Sukiyem."
Kata Maria.
Kata si hantu gadis bangga.
"Siapa coba?"
Zizi dan Maria kompak.
"Namaku Mintul, panggilanku Minmin Sutimin."
Ujar hantu gadis itu.
Zizi dan Maria berpandangan, lalu tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana bisa hantu bernama Mintul, mana panggilannya malah lebih panjang dari nama aslinya.
"Eh Tul, yang bener saja nama panggilan malah lebih panjang dari nama asli."
Kata Zizi.
"Lha kalau manusia nama panggilan lebih pendek dari nama asli, kalo nama hantu ya harus bedalah, gimana sih coy."
Si hantu bergaya penyanyi rap.
Yo... Yo... Yo...
Zizi geleng-geleng kepala.
"Kalian pasti lagi bingung nyari tempat buat istirahat kan? Ya kan, ya dong, ya kaaan?"
Cu... cu... cu...
Hantu Mintul kini mengacungkan jari tangannya seperti pistol ke arah Zizi dan Maria.
"Telat minum obat nih kayaknya hantu satu."
Kata Maria.
"Serahkan padaku, aku ini backpacker nya alam lelembut. Mau ke mana saja aku sudah pernah, mau cari apa saja aku tahu."
"Ya la, mukamu saja mirip tahu."
Kata Zizi.
Hantu mintul kini terlihat berputar, lalu menjelaskan dengan lincah.
"Kalian harus banyak bersyukur karena akhirnya bertemu dengan hantu secerdas, secetar, seulala aku."
Kata hantu Mintul.
"Yayaya... Ulala..."
Maria menimpali.
"Penginapan, aku tahu tempat yang tepat untuk kalian menginap. Jangan salah bebeb, di alam lelembut juga ada kota metropolitan, di mana semua fasilitas tersedia. Kalian butuh apapun ada, kalian penasaran, yuk cus, Minmin Sutimin akan menunjukkannya untuk kalian."
Hantu itu kemudian mengibaskan rambutnya yang sepanjang lututnya.
Zizi bahkan sampai hampir kena kibasan rambut si hantu, jika saja tangannya tak cepat reflek menyambar rambut si hantu dan menariknya.
"Aduuh, rontok nanti."
Kata hantu Mintul.
Zizi melepaskan rambut hantu Mintul.
"Makanya jangan rempong, lagian itu mata juga ngga usah kedip-kedip terus ke Kak Seng, mana matanya pake bulu mata palsu, pasti bulu ketek Gendruwo."
Kesal Zizi.
Hueeeek... Hantu Mintul jadi muntah karena berimajinasi.
"Kamu mah keterlaluan deh Zi, apa tidak ada yang lain, bulu ulat kek."
Maria geleng-geleng kepala.
"Abisnya genit banget."
Zizi emosi.
"Iya... Iya... Udahlah aku tunjukki yuk cus ke penginapan dunia lelembut."
Hantu Mintul mengajak Zizi berjalan ke arah sebuah pohon besar berongga tak jauh dari telaga.
Hantu mintul kemudian masuk ke dalam sana, disusul Maria lalu baru Zizi dan Shane.
Zizi yang semula masuk ke rongga pohon besar yang terlihat sudah cukup tua kini terkejut karena tiba-tiba berada di sebuah trotoar kota metropolitan yang sangat padat.
Mobil mewah sekelas Lamborghini, Ferrari bahkan Maclaren memenuhi jalan raya.
Zizi melongo.
Belum lagi selesai Zizi mengagumi kota di dalam pohon tersebut, Zizi kini harus dibuat takjub lagi melihat gedung-gedung bertingkat yang bahkan lebih hebat dari Jakarta.
Bangunannya juga sangat indah.
Zizi ternganga.
"Biasa saja melongonya, nanti kemasukan kelelawar."
Kata hantu mintul melihat reaksi Zizi yang malah seperti orang kampung baru melihat kota.
Maria dan Shane juga sebetulnya lumayan terkejut, tapi tak seterkejut Zizi yang semula berpikir jika alam lelembut adalah alam yang ketinggalan jaman, dan pasti hanya berupa desa atau kampung kecil, dan hutan-hutan saja sebagaimana yang selama ini ia lihat."
"Dunia lelembut itu adalah misteri untuk manusia, dan kau tak akan tahu berapa lapisan sebetulnya, hahahaha..."
Hantu mintul merasa menang karena bisa melihat Zizi si pewaris Naga melongo.
"Ayuk menuju hotel, biar kau semakin melongo."
Ujar hantu Mintul sambil terpingkal dan melayang di depan Zizi.
Zizi yang kesal jadi menarik rambut hantu mintul lagi.
Shane dan Maria yang berada di samping kiri dan kanan Zizi tampak menggelengkan kepala mereka saja melihat Zizi dan Mintul ribut bae.
**-----------**
catatan:
Alam lelembut berbentuk kota besar yang bahkan jauh lebih bagus dari Jakarta, ini adalah kisah dari salah satu Paman.
Dia pergi mancing, lalu terpeleset jatuh ke sungai, tiba-tiba bukannya tenggelam malah dia ada di kota yang sangat besar.
Saat sedang bingung, tiba-tiba ada perempuan cantik mendekat, untungnya dia tidak mata keranjang. Dia ingat istrinya, lalu dia jadi ingat tadi dia lagi mancing dan jatuh ke sungai, dia istighfar tiba-tiba ada di sungai lagi.
**--------------**