
Brakk!!
Terdengar kembali suara berisik di lantai satu.
Zizi turun dari tempat tidur.
"Mau ke mana?"
Tanya Maria.
"Cari tahu ada keributan apa sebetulnya."
Kata Zizi.
Haiiish... Maria mendesis.
"Tadi Aunty mau lihat tidak boleh."
"Kan tadi sapa tahu cuma para pengawal."
Kata Zizi membuka pintu kamarnya.
Tampak Zia juga keluar dari kamar, nyaris bersamaan saat Zizi dan Maria keluar.
"Ada apa?"
Tanya Zia pada Zizi.
Zizi menggeleng.
"Belum tahu Ma, ini Zizi mau cari tahu."
Kata Zizi.
Tampak Zizi kemudian berjalan cepat menuju anak tangga diikuti Maria.
Zia juga berjalan ke arah yang sama meskipun tak secepat langkah Zizi.
Zizi menuruni tangga rumah menuju lantai satu, pintu utama rumah terbuka, aroma anyir tercium mengganggu.
Beberapa pengawal di luar rumah terlihat seperti tengah memukuli sesuatu.
Maria melayang ke arah depan.
Sementara Zizi ke arah sebaliknya, di mana sepertinya suara berisik tadi berasal dari sana.
"Mama tunggu di lantai atas saja Ma, biar Zizi yang cari tahu."
Ujar Zizi pada Mamanya.
Zia mengangguk.
Meskipun ia tetap melongok ke arah pintu utama di ujung koridor pendek tak jauh dari tangga rumah menuju lantai atas di mana kini ia berada.
Maria mendekati para pengawal, tampak di halaman seekor ular sudah mati dipukuli.
Maria mengerutkan kening.
Kenapa ada ular?
Batin Maria.
"Ada apa?"
Tanya Zia ke arah Maria yang kemudian menoleh begitu mendengar suara Zia bertanya.
"Ular, Nyonya."
Jawab Maria.
Zia matanya terbelalak.
"Ular?"
Tanyanya heran.
Bergegas ia berjalan menuju pintu utama.
Beberapa pengawal membungkuk memberi hormat.
"Ular dari mana?"
Tanya Zia pada para pengawal.
"Entahlah Nyonya."
Jawab pengawal.
"Di belakang ada beberapa lagi baru di bunuh Marthinus, Shane dan Vero."
Kata pengawal.
Zia lantas menoleh ke arah Maria.
"Coba kamu lihat."
Kata Zia.
Maria mengangguk, lalu melayang cepat menuju arah belakang, di mana Zizi juga menuju ke sana.
Zizi telah berada di sana dan melihat beberapa ekor ular telah mati di halaman belakang.
Vero berjongkok di dekat tumpukan ular itu, sementara Marthinus, Shane dan Daniel terlihat menyisir halaman belakang.
Nancy juga tampak mengawasi mereka, ia jelas merasa aneh karena ini baru pertama kali ada ular memasuki rumah dan itu bukan satu.
Dari mana datangnya mereka?
Nancy benar-benar tak habis pikir.
Begitu lama ia tinggal di sana, rasanya jni adalah hal yang lebih aneh dari kedatangan para vampire.
"Kenapa ada banyak ular?"
Tanya Zizi pada Vero yang tampak langsung berdiri dan membungkuk pada Zizi.
Maria datang menyusul Zizi, lalu kaget lagi melihat banyak ular di sana.
"Apa ada pesta ular di sini?"
Tanya Maria.
"Ini pertama kali terjadi, aku tak pernah mengalami hal semacam ini di sini."
Kata Nancy.
Zizi kemudian keluar dari pintu belakang, melompati tumpukan bangkai ular dan kemudian menyusul Shane yang menyisir halaman belakang.
Maria baru akan melayang menyusul Zizi pula, saat ia melihat Vero matanya berkilat-kilat.
Maria menatap Vero.
"Siapa kau?"
Tanya Maria.
Vero berjongkok seperti tak mendengar apapun.
Ia kembali menyibukkan diri dengan bangkai-bangkai ular di sana.
"Aku yakin kau melihatku!"
Kesal Maria.
Nancy yang mendengar Maria marah-marah menoleh ke arah Maria.
"Kenapa kau mengomel?"
Tanya Nancy heran.
"Dia."
Maria menunjuk Vero.
"Aku yakin dia melihatku."
Kata Maria.
Nancy menatap Vero.
"Benar kau bisa melihat hantu Barbie ini?"
Tanya Nancy akhirnya pada Vero.
"Hantu? Di mana?"
Tanya Vero.
Maria berdiri di depan Vero.
"Di sini! Kau pasti melihatku!!"
Kata Maria seperti benar-benar yakin."
Vero berdiri lagi.
"Hantu apa Nyonya Nancy? Saya tidak tahu maksud anda."
Ujar Vero.
Maria saking kesalnya ingin menabok Vero, tapi tangannya cepat ditahan Nancy.
"Hey, dia pengawal Nyonya Zia, apa kau lupa?"
Tanya Nancy.
"Tapi dia sangat mencurigakan."
Kesal Maria.
Nancy menarik Maria menjauhi Vero, seolah akan menyusul Zizi dan yang lain.
"Kenapa kau menarikku seperti layangan?!"
Maria makin mengomel.
"Diamlah, kau terlalu berisik, kau ini hantu atau terompet sebetulnya."
Kesal Nancy jadinya.
"Sialan."
Maria menggerutu.
"Aku juga curiga pada Vero, aromanya mirip ular, tapi dia juga membunuhi ular yang berdatangan."
Kata Nancy.
Maria menoleh ke arah Vero yang kini menghilang entah ke mana.
"Ke mana dia?"
Maria panik.
Zizi menghampiri keduanya.
"Ada apa Aunty berisik?"
Tanya Zizi.
Nancy tersenyum pada calon menantunya.
"Maria mencurigai Vero, Nona."
Kata Nancy.
Zizi menatap Nancy.
"Jangan panggil saya Nona lagi, Bu."
Kata Zizi.
Bu?
Apa?
Nona Zizi memanggil aku Bu?
Nancy rasanya kakinya sampai lemas saking senangnya.
"Dia bisa melihatku Zi, sudah kubilang dia mencurigakan, kalau dia bisa melihatku, kenapa harus pura-pura tidak melihat? Pasti dia berusaha menyembunyikan sesuatu."
Ujar Maria.
Zizi menatap ke arah pintu belakang di mana Vero muncul dengan kantong sampah berukuran besar.
Vero dengan cekatan mengambil bangkai ular itu dan memasuk-masukkannya ke dalam kantong.
Zizi berpandangan dengan Nancy.
"Dia terlihat baik-baik saja, tapi memang ada yang mencurigakan padanya."
Kata Nancy lirih.
Zizi mengangguk.
"Biar Zizi bilang ke Mama dulu, jangan melakukan apapun dulu padanya, tunggu Mama kasih ijin, salah salah Mama nanti marah."
Ujar Zizi.
Maria tepuk jidat.
Daniel dan Shane menghampiri mereka, lalu Daniel melanjutkan langkah nya ke arah Vero untuk membantunya mengangkat kantong berisi bangkai ular.
"Tak ada apapun di sekitar sini, termasuk tak ada yang bisa dicurigai sebagai sarang ular."
Ujar Shane.
Nancy mengangguk.
"Jelas tidak ada Shane, jika di sini ada sarang ular, Ibu akan sering melihat ular masuk rumah."
Kata Nancy.
Marthinus berjalan menuju mereka.
"Sepertinya ada yang mengirimkan ular-ular itu ke sini."
Kata Marthinus.
"Pemuda bertato di toko jam tadi, jangan-jangan dia pelakunya."
Kata Marthinus.
Shane menatap Marthinus, begitupun Zizi dan lainnya.
"Pemuda bertatto apa Paman?"
Tanya Zizi.
"Paman melihat salah satu pelayan di toko jam tangan mewah langganan Tuan Zion yang kami kunjungi siang tadi memiliki tatto ular."
Kata Shane menjelaskan.
Zizi menatap Shane.
Pandangan mereka kembali beradu.
Ah Zizi tak bisa menatap Shane lama, jadi memilih mengalihkan pandangannya ke arah Marthinus saja.
"Tatto ular? Bukankah itu biasa?"
Tanya Zizi heran Paman Marthinus mencurigai pelayan yang hanya karena memiliki tatto ular.
"Masalahnya itu bukan sekedar tatto Nona, ular itu, aku melihat tatto ular itu bagian kepalanya di tengkuk pelayan tersebut, dan..."
Marthinus wajahnya begitu serius.
"Matanya berkilat merah, mata itu hidup, tatto biasa tak seperti itu, gambar adalah gambar."
Terang Paman Marthinus melanjutkan.
"Ular bermata merah?"
Gumam Zizi.
Sementara itu, Vero dan Daniel yang sibuk membersihkan rumah dari bangkai ular dibantu para pengawal lain kini tiba-tiba terlihat tersenyum.
Vero menyingsingkan lengan kemejanya, dan tampak lengan tangannya terdapat tatto ular melingkar dengan mata berkilat merah.
Siapa kau Vero?
Apa kau sejenis kerupuk?
**-------------**