
Zizi terbatuk, darah keluar dari mulutnya lagi.
Darah yang membuat Shane menjadi haus.
Maria yang melihat tatapan Shane seperti berubah, cepat mendorong tubuh Shane sekuat tenaga agar menjauh dari Zizi.
Shane berguling di tanah yang basah.
Hujan telah berhenti. Langit kembali sunyi.
Tak ada gemuruh dan petir yang menyambar-nyambar di angkasa.
"Aunty, haus."
Lirih Zizi saat Maria meraih tubuhnya.
Maria menoleh pada Shane yang terlihat tengah berusaha mengendalikan dirinya untuk berhenti menginginkan darah Zizi.
"Tul."
Panggil Maria pada hantu Mintul yang dari tadi tak ada gunanya macam rasa susah saja.
"Siap laksanakan!"
Kata Mintul.
Haiiish... Maria mendesis.
"Bodoh! Belum juga tahu mau disuruh apa."
Omel Maria.
Mintul cekikikan.
"Iya juga ya."
Katanya sambil melayang mendekati Maria dan Zizi.
"Ambilkan air di ransel Zizi yang ada pada Shane."
Maria memberikan perintah.
"Vampire itu? Nanti dia memakanku."
Kata Mintul ngeri.
Melihat Shane memperlihatkan gigi taringnya, rasanya Mintul jadi membayangkan gigi taring runcing itu mengoyak daging pasti sangat mudah.
Ah, tapi tunggu dulu...
Bukankah ia adalah hantu?
Jadi harusnya ia tak punya daging.
Mintul cekikikan sendiri.
"Heh cepat sana! Malah cekikak cekikik macam Beruk."
Kesal Maria.
"Iya... Iya... Dasar Barbie mulut rombeng."
Mintul melet.
Maria langsung melemparnya dengan batu.
Mintul melayang menghindar dan mendekati Shane dengan hati-hati.
"Mister, minta air mineral mister."
Kata Mintul pada Shane yang akhirnya mulai kembali normal.
Shane menatap Zizi yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya. Zizi juga terlihat menatap Shane dengan tatapan sedih.
Shane terlihat melepas ransel di gendongannya, membukanya dan mengeluarkan satu botol air minuman pada Mintul untuk dibawakan pada Zizi.
Mintul baru akan menerima botol air minum itu, saat tiba-tiba tercium aroma semacam tembakau yang dicampur dengan bunga melati.
Aroma itu seolah dibawa sepoian angin, yang datang dari luar hutan ke tujuh.
Tak lama hujan gerimis kembali mengguyur, namun bukan hujan yang menakutkan, namun gerimis kecil halus yang turun tipis-tipis saja.
Angin sejuk bertiup membawa aroma itu semakin mendekat, hingga...
Terdengar suara kekeh seorang kakek, bersamaan dengan kemunculan kabut yang tiba-tiba meliputi tempat di mana kini Zizi dan teman-temannya berada.
Zizi yang khawatir jika itu adalah makhluk jahat lain berusaha bangkit, namun tubuhnya begitu lemah.
Tampaknya, saat tubuh Zizi berusaha menekan energi jahat Jayapada di dalam dirinya, Zizi benar-benar sampai ke titik yang paling rendah.
Zizi terhuyung dengan tetap dipegangi Maria.
"Tenanglah Zi, belum tentu dia mahluk yang jahat, kita tunggu saja ia benar-benar muncul."
Ujar Maria menenangkan Zizi.
Zizi terdiam, matanya mengawasi kabut yang makin terlihat tebal di depannya.
Dan...
Setelah semua tempat diliputi kabut hingga masing-masing tak ada yang melihat satu sama lain, tiba-tiba Zizi melihat sosok Kakek dengan jubah putih dan kepala yang di tutup kain berwarna putih juga.
Kakek itu membawa tongkat seperti emas, rambutnya di gelung ke belakang, jenggotnya sangat panjang nyaris menyentuh tanah.
"Cicit Bandapati, luar biasa kau nak, kemarilah."
Kakek itu melambaikan tangannya pada Zizi agar Zizi mendekatinya.
Zizi tetap dengan waspada terlihat berusaha bersiap takut tiba-tiba Kakek itu sebetulnya Jaka Lengleng yang menyerupai sosok lain.
Kakek dengan tongkat emas itu menyambut kedatangan Zizi ke hadapannya.
Pelahan, kabut yang menyelimuti pandangan kini mulai menipis.
Dan Tanpa Zizi sadari, mereka ternyata telah berpindah tempat.
Tak lagi berada di hutan ke tujuh, namun berada di atas sebuah batu pipih yang sangat besar.
Batu itu terdapat di tengah sungai dan di dekat sebuah air terjun yang sangat tinggi.
Zizi celingak-celinguk, mencari keberadaaan Maria, Shane dan Mintul yang tak terlihat.
Ke mana mereka?
Batin Zizi.
Kakek itu kemudian duduk bersila.
"Kemarilah."
Ujarnya pada Zizi dengan suara yang berat.
Zizi berlutut, memberi salam, lalu akhirnya ikut duduk bersila di depan sang kakek yang Zizi tidak tahu siapa dia.
Kakek itu mengulurkan tangannya ke arah Zizi, tampak tangannya kemudian meraih kepala Zizi.
Tangan Kakek itu diletakkan di atas ubun-ubun Zizi, yang kemudian memunculkan rasa dingin di ubun-ubun lalu seolah merasuk ke dalam diri Zizi.
Dalam sekejap, sakit, panas dan semua yang dirasakan Zizi pada tubuhnya seolah menguap dan sirna begitu saja.
Zizi menatap Kakek di depannya yang jelas bukan manusia ataupun juga lelembut biasa.
Ia pasti bukan sosok mahluk sembarangan, tapi entah siapa dia.
Atau jangan-jangan...
Zizi begitu sibuk kepalanya, hingga Kakek di depannya itu pelahan membuka matanya, menatap Zizi yang terlihat memandanginya dengan matanya yang bulat.
"Berhentilah berpikir sebentar!"
Kata Kakek itu pada Zizi.
Zizi cekikikan.
Plak!!"
Kakek itu menabok ubun-ubun Zizi.
Tapi bukan Zizi tentu saja jika mau mengalah.
Dengan gerakan cepat, Zizi juga menabok tangan kakek itu yang ada di atas kepalanya.
Kakek itupun kaget karena Zizi berani melakukannya, sedangkan Zizi malah cekikikan.
"Dasar cicit Bandapati."
Zizi cekikikan lagi.
"Aku akan mengeluarkan Jayapada dari dalam tubuhmu sebentar untuk membersihkannya dari seluruh pengaruh buruk dan energi jahat."
Zizi mengerutkan kening menatap kakek tua di depannya.
"Eyang Sapujagad, kau kah ini?"
Tanya Zizi.
Eyang yang mendengar pertanyaan Zizi terkekeh.
"Anak kurang ajar, mau minta tolong tidak tahu yang mau dimintai tolong."
Kata Eyang.
Zizi begitu tahu yang kini duduk di depannya adalah sosok yang ia cari, jelas saja langsung senang bukan main.
"Tapi, kata Nenek Retnoasih dari hutan ke tujuh harusnya aku keluar dari hutan akan melewati perjalanan yang cukup jauh lagi untuk bertemu dengan Eyang."
Kata Zizi.
Sang Eyang terkekeh lagi.
"Ini aku, tak ada yang bisa menemui ku semuanya sendiri. Siapapun yang bisa bertemu denganku adalah karena aku memilihnya."
Ujar Eyang.
"Jadi artinya, Zizi terpilih oleh Eyang hingga Zizi sekarang bertemu dengan Eyang?"
Tanya Zizi.
Plak!!
Eyang menabok ubun-ubun Zizi lagi.
"Aku bukan hanya memilihmu, tapi juga menjemputmu!"
Omel Eyang.
Zizi cekikikan sambil mantuk-mantuk, lalu mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
"Peace Eyang."
Kata Zizi.
Eyang menggelengkan kepalanya.
"Ratu Kidul memberitahu sudah sejak lama, jika nanti kau akan datang membawa Jayapada untuk dibersihkan, ia memintaku membantumu karena terlalu berbahaya jika ia sampai menguasaimu anak petakilan."
Ujar Eyang.
"Kenapa berbahaya Eyang?"
Tanya Zizi tanpa dosa.
Eyang mengurut keningnya.
"Kau cicit Bandapati yang memiliki darah jahat Balasanggeni juga, tentu saja jika kau menjadi jahat seperti dirinya, kau bukan hanya berbahaya bagi manusia, tapi juga untuk para lelembut. Dua alam yang seharusnya terjaga keseimbangannya akan porak poranda jika kau dikuasai energi Jayapada yang jahat."
Zizi membulatkan matanya.
"Tapi Zizi terlalu imut kalau jadi jahat."
Gumam Zizi.
Haiiish... Eyang mendesis.
**------------**