
Bluk!!
Terdengar sesuatu jatuh di balkon unit apartemen yang ditempati Nadia.
Alex yang semula tengah sibuk dengan laptopnya di ruangan TV, tampak menoleh ke arah balkon.
Alex bangkit dari duduknya, lalu membawa langkahnya menuju kaca jendela.
Tampak Alex tercekat, begitu melihat Erna tergeletak di atas lantai balkon.
Alex segera membuka kaca menuju balkon, ia baru akan menghampiri Erna, manakala Erna merintih sambil bicara samar-samar.
Pemuda tampan itu berjongkok mendekatkan wajahnya ke arah Erna agar bisa mendengar apa yang dikatakan Erna.
"Pe... r... Pe... rgi, Tu... Tuan."
Suara Erna terbata-bata di sela rintihannya yang begitu memilukan.
Alex menatap tubuh Erna yang penuh luka sabetan pedang yang luka itu juga seperti terbakar.
"Kau kenapa?"
"Apa yang terjadi?"
"Siapa... siapa yang melakukan ini padamu?"
Tanya Alex panik melihat Erna yang kemudian mengejang.
Alex belum sepenuhnya mengerti apa sebetulnya yang terjadi, matanya baru saja menatap ke arah bangunan zombie hotel, saat tiba-tiba,
Brak!!
Terdengar suara yang sangat keras dari arah luar unit apartemen yang ditempati Nadia.
Di saat Alex baru akan kembali berdiri, terlihat Erna mengejang semakin hebat, dari mulutnya keluar seperti uap panas macam ceret.
Nguiiiiiiiiiiiiiiiiing...
(wedange umob)
"Erna... Erna..."
Alex berusaha menyadarkan Erna, namun sepertinya Erna memang sudah sama sekali tak bisa ditolong.
Erna pelahan menghilang, bersamaan dengan itu sesuatu yang keras terdengar lagi.
Brakk!!
Alex yang kemudian merasakan ada energi yang sangat panas seperti mendekat akhirnya cepat masuk ke dalam kamar di apartemen itu.
Nadia terlihat tertidur pulas di sana, tak menyadari apa yang terjadi.
Brak!!
Brakk!!
Suara-suara itu semakin jelas terdengar, disambut suara lengkingan seperti suara ular yang kesakitan.
Alex hendak lari ke arah pintu untuk keluar dan memastikan siapa pemilik energi panas ini, manakala pintu di unit yang ditempati Nadia itu terbuka dan dua siluman masuk dengan tergesa-gesa.
"Tuan Alex, anda harus melarikan diri!"
Kata dua siluman yang datang.
"Kenapa?"
"Nona Zizi mengamuk, tiga puluh penjaga di parkiran dan di lantai sembilan mati."
Alex yang mendengar laporan dua siluman yang sengaja ditempatkan di sana untuk berjaga tampak mengepalkan tangannya.
"Tidak! Aku tidak akan lari!! Aku akan menghadapinya."
Kata Alex.
"Dia terlalu kuat Tuan."
"Bodoh!! Apa kalian meremehkan aku, hah?!"
Marah Alex.
Dan...
Brak!!
Seekor ular besar terlempar masuk ke dalam unit apartemen di mana kini Alex dan dua siluman ular sedang bicara.
Ular itu terpenggal.
"Jayapada, pedang itu, aku akan mendapatkannya sekarang."
Kata Alex.
"Hah... Ap... Ap... Apa itu?"
Tiba-tiba terdengar suara Nadia dari belakang Alex.
Mendengar keributan, Nadia terbangun dari tidurnya, ia keluar dari kamar dan mendapati Alex bicara seorang diri, lalu...
Ia melihat ular terlempar ke dalam unit apartemen yang ia tinggali.
Nadia pingsan.
"Tuan, percayalah pada kami, sekarang belum saatnya anda menghadapi Nona itu. Ia sangat kuat."
Kata salah satu siluman yang akan ke arah Nadia untuk menolong.
"Tinggalkan dia! Jangan sentuh dia!"
Kata Alex, yang kemudian menghambur ke arah Nadia.
Gadis itu pingsan di lantai, Alex segera meraihnya.
"Alex!! Keluarlah kau!! Jangan jadi pengecut!!"
Dua siluman itu seketika berubah menjadi ular besar, bersiap melawan Zizi untuk melindungi Tuannya dan juga calon penerus Tuannya.
Bayi dalam kandungan Nadia, jelas itu adalah bayi yang sedang mereka jaga sekarang.
Bayi yang terlahir dari manusia yang pernah selamat dari kematian, yang pernah hidup di dua alam yang berbeda dan banyak menyerap energi dari kedua alam itu.
Bayi-bayi yang terlahir dari Nadia bukanlah bayi biasa.
Bayi-bayi itu akan jadi kekuatan yang tak bisa dianggap remeh siapapun.
Tiba-tiba...
Sraaaaaaaakk!!
Di luar unit apartemen Nadia terdengar pertarungan lagi.
"Tuan, anda harus pergi untuk menyelamatkan keturunan bangsa kita. Pemilik kekuatan sempurna."
Kata salah satu siluman yang menjaga Alex dan Nadia.
Tepat saat akhirnya Alex akan memutuskan untuk benar pergi, seorang gadis masuk ke dalam unit apartemennya.
Gadis cantik berambut panjang dengan pedang yang bercahaya dan memiliki energi yang sangat panas.
Zizi menatap tajam Alex yang kini menggotong Nadia.
Tampak Zizi mengacungkan pedangnya.
"Turunkan dia!!"
Bentak Zizi.
"Enyahlah kau!!"
Satu dari dua ekor ular siluman yang ada di sana tampak menerjang Zizi.
Sementara yang satunya menyuruh Alex cepat pergi dari sana membawa Nadia.
Alex yang melihat Zizi sangat cepat gerakannya dan melihat kilau cahaya Jayapada tertegun.
Jayapada, pedang itu sangat mengagumkan, pantas saja Eyang Jaka Lengleng begitu ingin mendapatkannya.
Zizi melompat secara tiba-tiba ke arah ular yang berada paling dekat dengan Alex sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Dengan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa, Zizi menyabetkan pedang itu ke arah ular yang berusaha melindungi Alex dan Nadia.
Sampai kemudian...
Brakk!!
Seekor ular yang sangat besar muncul. Ular hitam dengan kepala manusia.
Zizi menoleh ke arah ular yang tak lain adalah Paman Jaka Lengleng.
"Pergilah Lex."
Kata Paman Jaka Lengleng.
"Biar aku yang akan hadapi keponakanku yang nakal ini."
Kata Paman Jaka Lengleng.
Zizi menyeringai.
"Paman, kau lari dari pertempuran di hutan ke tujuh dan sekarang muncul seperti pahlawan untuk cucumu, apa kau tak tahu malu?"
Mendengar sindiran Zizi, tentu saja Paman Jaka Lengleng merasa murka.
"Kau memang sekurangajar Aji Manggala."
Kata Paman Jaka Lengleng.
Mendengar nama Aji Manggala di sebutkan dengan nada menghina, Nyi Retnoasih dalam diri Zizi marah luar biasa.
Ia keluar dari tubuh Zizi dan langsung menerjang Paman Jaka Lengleng.
Aroma melati dalam sekejap memenuhi ruangan, Nyi Retnoasih mendorong tubuh Jaka Lengleng yang setengah ular itu keluar menembus dinding.
Keduanya beradu kekuatan di luar, membuat langit seketika bergemuruh.
Hujan lebat turun secara tiba-tiba.
Petir menyambar-nyambar di udara.
Zizi sendiri yang begitu Nyi Retnoasih keluar dari tubuhnya, kini tampak melihat ke arah Alex yang berlari membawa Nadia ke arah sudut ruangan yang Zizi yakin di sana ada pintu menuju dunia lain.
Zizi melompat mengejar Alex, tepat begitu gerbang gaib di sudut ruangan unit apartemen itu terbuka dan Alex lari masuk ke dalam sana.
"Hey!! Pengecut!!"
Zizi berteriak sambil mengejar Alex, tapi gerbang itu menutup.
Zizi memukulkan Jayapada ke arah gerbang itu, membuat gerbang itu bergetar hebat.
Alex yang masuk hutan lebat berlari menggotong Nadia.
Puluhan ular menyambut datangnya Alex.
"Lindungi kami... Lindungi kami."
Alex yang mulai khawatir Nadia akan kenapa-kenapa memilih benar-benar lari.
"Dasar bodoh! Sudah kubilang tunggu aku bisa menguasai Alpha Centauri, baru urus Jayapada."
Terdengar kemarahan Attala.
Alex lari menuju pintu gaib yang ada di dalam hutan, dan...
Brak!!
**------------**