
Terkecuali jika ia mencium anyir darah perjaka.
Ya, selama ini Dewi Sumbi selalu mencari tumbal seorang perjaka satu kali di setiap seratus purnama.
Ia meminum darah mereka dan menghisap energi di dalam tubuh mereka hingga kering dengan tujuan agar ia tetap bisa selalu cantik dan selalu muda.
Bentuknya yang sebetulnya adalah ular berkepala manusia, hanya akan bisa mewujud sempurna sebagai putri cantik manakala purnama tiba pada puncaknya.
"Ratu Bunga Petak."
Terdengar suara Zizi menyebut sang ratu.
Sosok perempuan yang semula masih dalam bentuk sinar terang itu membungkuk ke arah Zizi memberi salam penghormatan.
Zizi segera meraih tubuh itu dan menolak mendapat penghormatan berlebihan.
"Tidak, jangan begitu Ratu."
Kata Zizi menolak di beri penghormatan sebagaimana yang dilakukan Raja Dalu sebelumnya.
Ratu Bunga Petak kemudian meraih tangan Zizi.
Sinar terang yang berasal dari tubuh sang Ratu pelahan kini memudar.
Ia menjelma menjadi sesosok perempuan yang luar biasa cantik.
Rambutnya panjang terurai mengeluarkan aroma harum bunga. Matanya begitu bening bagaikan permata, bibirnya merah layaknya kelopak mawar yang baru merekah.
Indah sungguh dipandang mata.
Perempuan dengan kain jarik dan atasan kemben berwarna putih perak itu terlihat tersenyum pada Zizi yang menatapnya dengan segenap kekaguman.
Cantik luar biasa, pantas Grandong tergula-gula sampai disemuti.
"Ijinkan saya mengawal anda dan Raja Dalu kembali ke Tanah Dalu, Ratu. Putri Arum Dalu dan seluruh rakyat tanah Dalu telah menunggu kedatangan Raja dan Ratu mereka untuk kembali memimpin."
Kata Zizi.
Ratu Bunga Petak mengangguk.
Kedua matanya berkaca-kaca.
"Jadi suamiku, Raja Dalu, dia baik-baik saja?"
Tanya Ratu Bunga Petak.
Zizi mengangguk.
Ratu Bunga Petak begitu lega sekaligus terharu.
"Sungguh aku telah berhutang banyak kepada Bandapati yang mengirimkan Nona untuk kami."
Kata Ratu Bunga Petak.
Zizi menggeleng.
"Ini memang sudah takdir Zizi."
Kata Zizi.
"Sekalipun Nenek Bandapati tidak mengirimkan Zizi untuk misi ini, pasti akan ada penyebab Zizi akhirnya sampai ke tempat ini dan menyelamatkan anda Ratu."
Kata Zizi.
Ratu Bunga Petak tersenyum mendengar jawaban Zizi.
Sungguh ia sangat mirip dengan moyangnya.
Aji Manggala, sang pertapa tampan yang merupakan menantu Bandapati itu dulu sempat mencuri hati Bunga Petak.
Jika saja Bunga Petak tak lebih dulu tahu jika Aji Manggala telah menikahi Retnoasih anak Bandapati dan sang empu sakti pembuat Jayapada, pastilah Bunga Petak akan meminta secara terang-terangan kepada Aji Manggala untuk menikahinya.
Ya...
Dulu, dulu sekali, saat Aji Manggala baru menginjakkan kaki di Tanah Sunda, setelah ia pergi dari Galuh Purba.
"Kita bisa pergi sekarang Ratu?"
Tanya Zizi membuyarkan serentetan kenangan akan sosok Aji Manggala pada Bunga Petak.
Sang Ratu yang terkesiap mengangguk mengiyakan.
Zizi pun mempersilahkan Ratu Bunga Petak untuk memimpin jalan.
Zizi mengawal di dekatnya, sementara Shane memastikan di belakang tak akan ada serangan.
Maria sendiri sibuk menjaga si gadis jelmaan ular agar tak melarikan diri dan bisa-bisa membuat keributan.
Ratu Bunga Petak melepas salah satu gelang bunganya di lengan sebelah kirinya begitu akhirnya mereka keluar dari gua.
Gelang bunga itu tiba-tiba berubah seperti sinar panjang yang membentuk selaksa pelangi besar.
Pelangi yang seolah jembatan layang jika di dunia manusia.
Zizi terperangah.
"Apa ini?"
Gumam Zizi.
"Kita pulang Nona."
Kata Ratu Bunga Petak.
Zizi melongo.
"Semudah ini? Kenapa dari dulu tidak pulang saja?"
Tanya Zizi heran.
"Selama ini saya dikungkung energi yang jauh lebih besar, anda yang membuat saya lepas dari Kungkungan itu barusan."
Kata Ratu Bunga Petak.
Oh iya benar, Zizi mantuk-mantuk.
"Tapi, bagaimana Raja Dalu dan para anggota Panglima Loreng?"
Tanya Zizi.
"Dan Mintul."
Ujar Shane.
Haiiish... Zizi mendesis cemburu.
"Saya akan memanggil mereka semua."
Ratu Bunga Petak kemudian memejamkan mata.
Sosok Ratu itu kemudian dari tubuhnya kembali memancarkan cahaya terang dan juga mengeluarkan aroma harum luar biasa.
Tak lama berselang, terdengar derap langkah cepat menuju ke arah mereka.
Zizi dan yang lain menoleh ke arah datangnya suara, yang kini tampak pasukan Harimau Loreng berlari dengan cepat mendekat membawa Raja Dalu dan Mintul.
Ya...
Setelah pertempuran habis-habisan, di mana anggota pasukan Harimau memenangkan pertempuran meskipun harus memakan korban tiga tewas dililit ular.
Pasukan harimau loreng Tanah Dalu kemudian menjemput Raja Dalu di tempat yang dipilih Mintul untuk menjauh dari serangan para ular.
Mintul tahu betul jika para ular raksasa itu tak berani menyentuh tempat yang dijaga Nyi Linggi dan dua macan tutulnya.
"Ratu..."
Raja Dalu turun dari Panglima Loreng, dan menghampiri Ratu Bunga Petak sembari menangis haru.
Sungguh begitu lama waktu yang telah mereka lewati tanpa bersama-sama.
Betapa lamanya mereka terpisah dan hidup dalam tawanan mahluk lain.
Raja Dalu dan Ratu Bunga Petak saling berpelukan, keduanya seolah melepaskan kerinduan sekaligus rasa haru yang tak terkira.
"Saatnya kita pulang."
Kata Raja Dalu seraya melepas pelukannya pada Ratu Bunga Petak.
Tampak sang Ratu mengangguk.
Mereka kemudian naik ke atas Harimau-harimau loreng, termasuk juga Zizi dan Shane.
Maria dan Mintul juga tak mau kalah, mereka naik ke atas tubuh harimau loreng meski sebetulnya mereka melayang pun bisa.
Gadis jelmaan ular di biarkan hidup karena Ratu Bunga Petak memutuskan memaafkannya.
Bagaimanapun ada untungnya juga ia di bawa ke Ceremai, hingga tak perlu sampai menuruti keinginan Grandong untuk menjadikan Ratu Bunga Petak sebagai isterinya.
Ratu Dalu dan Ratu Bunga Petak berada di atas harimau yang paling depan.
Zizi dan Shane berada di belakangnya.
Sementara Maria dan Mintul di belakang Zizi yang kemudian di belakang mereka adalah harimau loreng yang telah berubah wujud sebagai laki-laki tegap gagah berjalan mengawal.
Perjalanan pulang kali ini membuat Zizi sangat menikmatinya.
Perjalanan tanpa harus bertemu para lelembut lagi, dan harus bertarung lagi.
Energi Zizi kali ini benar-benar telah terkuras habis rasanya.
Sungguh, begitu pulang ke rumah Zizi akan makan yang banyak dan tidur sampai puas.
Setelah itu, ia akan pergi liburan ke Kuala Lumpur, menikmati jalan-jalan di Negeri Jiran, sekaligus temu kangen dengan Eva dan Ali.
Tapi...
Ah tunggu dulu,
Zizi ingat chat nya dengan Mamanya saat makan di tempat pak penjual nasi ayam di Cirebon.
Mama bilang ada sesuatu yang tak beres di hotel, dan Mama gagal terus menemukan sumber masalahnya.
Meskipun belum terlalu berdampak pada omzet hotel, tapi Mama dan Papa Zizi mulai khawatir jika nanti akan memakan korban.
Harimau-harimau loreng itu terus bergerak pelan menyusuri jembatan perak yang berbentuk seperti pelangi.
Hingga akhirnya samar-samar di kejauhan mulai tampak Tanah Dalu yang subur terhampar.
Harimau-harimau loreng mengaum, suaranya seolah mencoba memberitahu seluruh penghuni tanah Dalu jika mereka telah sampai.
Zizi menghela nafas lega...
Misinya akhirnya sebentar lagi selesai, dan...
Tiba-tiba Zizi teringat janjinya pada Kak Seng.
Ah...
Zizi menatap Shane yang terlihat begitu cool di atas Harimau.
Jawaban apa yang akan Zizi katakan pada Shane?
Othor mau bocan lagi dong...
(Crazy up hari ini untuk kalian semua... Selamat bermalam minggu)
**-------------**