
"Natalia Sapta Wijaya."
Zizi bergumam.
Pemilik butik tersenyum.
"Dia menjadi pelanggan kami sudah dari beberapa tahun ini, hampir semua setiap acara besar di keluarganya, ia akan memesan gaun di tempat kami."
Tutur pemilik butik tersebut.
"Jadi dia termasuk pelanggan setia mu."
Lirih Zia.
Pemilik butik itu mengangguk membenarkan.
"Dia cukup dikenal di banyak rumah mode Nyonya, bahkan di beberapa kenalan saya di Paris dan Roma, sangat mengenal baik sosok Natalia."
Zia mantuk-mantuk.
Ya, sudah jelas, kalangan jet zet selalu memiliki cara mereka membuang uang untuk penampilan mereka yang tak biasa.
Meskipun penampilan itu tentu saja merupakan penunjang mereka dalam pergaulan sesama orang yang dalam kelas yang sama.
"Kalau begitu, berikan gaun yang setara dengan yang dipesan Tuan Alexander Sapta Wijaya untuk calon mempelai perempuan."
Tiba-tiba Zia akhirnya mengambil keputusan.
Ini baru pertama kali rasanya Zia sampai terprovokasi untuk membeli sesuatu yang supaya tak terlalu kalah jauh dari orang lain.
Padahal sebelumnya, tentu saja Zia tak terlalu perduli dengan persaingan semacam itu.
Tapi...
Kali ini...
Saat yang mereka hadapi nyatanya adalah sekelompok orang yang bisa jadi akan membuat banyak kerusakan, Zia merasa harus menghadapi mereka dengan cara yang sama.
Zia ingin ada keseimbangan sudut pandang dari orang lain atas Alpha Centaury juga mulai saat ini.
Yang bukan hanya besar di mata sesama pengusaha, namun juga di mata orang awam sebagaimana pemilik butik mewah ini.
Ya, biar dia tahu...
Bahwa para perempuan di Alpha Centaury juga sebetulnya sanggup membayar semua gaun paling mahal yang ia miliki.
Hanya saja, jika selama ini Zia sendiri, dan juga Zizi, tak terlalu menyukai penampilan berlebihan itu karena mereka memang tak suka saja, bukan karena tidak mampu.
Yah...
Alpha Centauri lebih dari mampu untuk membiayai hidup glamour para perempuannya, dan kini Zia ingin mulai membuktikannya.
"Bila perlu, buatkan kami gaun yang ada di atas gaun yang dipesan Tuan Alexander."
Ujar Zia lagi.
Pemilik butik itu tentu saja tersenyum sumringah.
Ia langsung menunjukkan koleksi termahalnya.
Desain gaun bagai milik Cinderella yang sangat indah.
"Ini desain termahal yang pernah kami buat, dan belum pernah ada yang memesan, apa anda tertarik?"
Tanya pemilik butik ramah.
Zia melihat desain itu dengan Nancy, lalu Zia pun meminta pendapat Nancy dan juga kemudian Zizi yang malah asik Googling sosok Natalia Sapta Wijaya.
Sosok gadis super cantik macam sailor mars.
Zizi menyeringai.
Jadi kau mendatangi butik hantu memang hanya ingin membuat rusuh saja Nona. Batin Zizi.
"Bagaimana menurutmu Zi?"
Tanya Zia pada Zizi, mengagetkan Zizi yang sedang fokus dengan beberapa artikel tentang sosialita bernama Natalia itu.
"Apa Ma?"
Tanya Zizi akhirnya.
Zia menunjukkan desain gaun yang dimaksud pada Zizi.
Lalu...
"Terserah Mama saja."
Kata Zizi.
Haiiish... Zia mendesis.
Zia akhirnya ke arah Nancy yang mengangguk setuju.
"Baiklah, kami ambil yang ini."
Putus Zia akhirnya.
Pemilik butik tersenyum.
"Gaun seharga hampir dua setengah milyar itu lantas di tandai."
"Kapan rencananya akan Nyonya ambil? Kami butuh dua bulan untuk menyelesaikannya."
Kata si pemilik butik.
Zia menggeleng.
Kata Zia.
Zizi melongo.
Apa?
Satu bulan?
Satu bulan lagi ia akan menikah?
**------------------**
Bogor,
Hujan turun deras, di satu tempat tak jauh dari jalanan sepi yang dulu ditemukan mayat korban mutilasi yang merupakan isteri pemilik Swalayan, kini polisi berkumpul lagi.
Guyuran hutan tak menyurutkan mereka bekerja.
Sirine mobil-mobil polisi menggema memenuhi setiap sudut malam.
Polisi memasang garis polisi di sekitar tempat yang hampir sama dengan penemuan mayat dalam koper korban mutilasi tempo dulu itu.
Di antara para polisi itu terlihat Arya berdiri dengan jas hujan menatap mayat seorang gadis tergeletak dengan kondisi yang peris sama dengan mayat yang ditemukan baru-baru ini.
Tulang remuk dan seluruh tubuhnya lengket.
Apa sebetulnya yang terjadi?
Batin Arya bingung.
Sesuai hasil yang keluar dari pemeriksaan mayat sebelumnya, mayat itu adalah korban ular.
Meskipun banyak yang meragukan itu, tapi tulang remuk dari korban itu merupakan hasil tubuh mereka yang saat dibelit kuat oleh ular sebelum di makan.
Begitu juga dengan sesuatu yang lengket disekujur tubuh korban, juga dipastikan itu adalah milik ular.
Tapi...
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, kenapa ada ular besar yang muncul tiba-tiba di kota dan mulai memakan korban.
Di mana ular sebesar itu bisa bersembunyi?
Lalu kenapa setelah memakan korban ia muntahkan lagi?
Kenapa tak di makan saja hingga habis?
Sementara, ini belum genap dua hari, tapi sudah jatuh korban lagi.
"Ar."
Andi mendekati Arya.
"Ya Ndi..."
"Kau yakin ini perbuatan murni ular?"
Tanya Andi.
Arya terlihat pusing tujuh keliling.
"Kalau aku tidak percaya ini perbuatan ular."
Ujar Andi.
Arya menatap Andi.
Keduanya berdiri di bawah derasnya hujan, sementara di sekitar mereka pada polisi mondar mandir mencari barang butik yang dibutuhkan.
"Ini pasti perbuatan psikopat Ar, dia bersenang-senang membunuh dengan cara menyiksa dan menjadikan korban teror untuk polisi dan warga yang tinggal di kota ini."
Kata Andi pula.
Arya menghela nafas.
"Tapi hasil pemeriksaan sudah keluar Ndi, dan itu sudah jelas di terangkan penyerangan semacam itu hanya bisa dilakukan seekor ular besar."
Mendengarnya Andi pun tak lagi bisa membantah.
Tak peduli seberapapun ia sulit percaya, tapi bagaimana lagi?
Arya baru akan bicara lagi, ketika kemudian polisi yang ada di Tempat Kejadian Perkara tiba-tiba heboh menemukan seperti sisik ular besar dan juga sebuah kalung emas di sana.
Arya dan Andi mendekat, Arya memakai kaos tangan khusus untuk ikut melihat kalung emas dan juga sisik ular yang baru saja ditemukan.
Arya mengerutkan kening manakala dilihatnya kalung emas yang kini ada di tangannya.
Kalung dengan inisial huruf A dan juga sisik ular berkurang cukup besar tersebut pada Andi yang tampaknya memang sangat penasaran.
Bukan kalungnya, tapi sisik ular lah yang membuat Andi bergidik sempurna.
Ia baru kali ini memegang sisik ular, dan ukurannya yang tak lazim.
"Kami akan menyisir besok, siapa tahu di sini ada sarang ularnya."
Kata salah satu petugas polisi yang kemudian meminta barang bukti dari tangan Andi.
"Jadi benar ini ular."
Gumam Andi lagi.
Arya terlihat sudah bergabung dengan anggota kepolisian yang lain di lapangan.
Membantu menyisir lagi tempat di sekitar nya, karena akut ada barang bukti lain yang takutnya tertinggal atau terabaikan.
**-----------**