
Zizi melangkah ke tengah dua batu besar yang ada di antara danau dan hutan di kawasan rumah Paman Ziyan dan Kakek Ali.
Dalam pandangan Zizi, di sana adalah gerbang besar yang sedikit tertutup oleh kabut tipis.
Gerbang berwarna keemasan dengan ukiran Harimau loreng itu terbuka pelahan manakala tangan Zizi menyentuhnya.
Zizi mengeratkan genggamannya di tangan Ali.
"Jangan jauh dari Kak Zizi, mengerti?"
Zizi menatap Ali.
Ali mengangguk.
Maria melayang mengiringi keduanya, sambil siaga melihat ke kanan dan ke kiri, bila saja ada serangan atau sesuatu yang membahayakan tiba-tiba datang dari arah yang tak terduga.
Mereka melewati gerbang besar berukir Harimau loreng, yang kemudian mengantar mereka ke sebuah hutan lebat yang sepi.
Zizi dan Ali baru melangkahkan kaki sekitar tiga langkah, saat kemudian gerbang besar di belakang mereka tiba-tiba tertutup dengan sendirinya.
Ketiganya menatap ke belakang, setelah itu kembali menghadap ke arah depan mereka lagi.
Kabut masih sedikit menghalangi jarak pandang.
Pohon-pohon besar yang menjulang sangat tinggi memenuhi hutan yang sudah cukup gelap dalam pandangan mereka.
"Sebentar."
Zizi menghentikkan langkahnya dan meminta Ali juga sama menghentikan langkah.
Zizi menatap sekeliling, ia merasa mendengar seperti sesuatu yang berjalan mengendap ke arah mereka.
"Aunty, kau lihat sesuatu?"
Tanya Zizi pada Maria dengan suara berbisik.
Maria menggeleng.
"Coba aku yang memeriksa Zi."
Kata Maria yang kemudian melayang menembus kabut yang menghalangi pandangan mereka.
Hingga Maria menghilang dari pandangan, Zizi yang baru akan melangkahkan kakinya lagi, tiba-tiba mendengar suara Ali berteriak dari arah belakang Zizi,
"Kak Zizi awaaaaaas!!"
Dan seekor harimau besar melompat dari arah depan mereka.
Zizi berguling menghindari terjangan harimau raksasa yang matanya menyala merah.
Ali meraih Zizi, mereka mundur ke belakang.
Harimau itu menggeram, menatap tajam keduanya.
"Mau apa kalian ke sini?"
Tanyanya.
Zizi dan Ali terengah-engah, melihat ukuran harimau yang tiga kali lipat besarnya dari tubuh mereka, jelas membuat nyali mereka cukup menciut.
Harimau raksasa berjalan mendekat, kepalanya yang sangat besar menunduk dan kapan saja bisa menyambar Zizi dan Ali dalam sekali terkam.
"Kami ingin mencari tahu, apa yang terjadi di hutan ini pada nenek moyang kami, kenapa ada mahluk yang mengaku membuat perjanjian dengan nenek moyang kami untuk memberikan tubuh keturunannya pada mahluk itu."
Kata Zizi.
Harimau itu tampak membuka mulutnya, terlihat taring-taring tajamnya yang sudah jelas mampu mengoyak daging setebal apapun.
"Mundur Ali."
Bisik Zizi sambil mendorong Ali ke belakang, tapi Ali kali ini tak menurut.
Ali justeru berjalan mendekati sang harimau, tiba-tiba saja Ali merasa seperti dejavu, seperti pernah mengalami peristiwa yang hampir sama.
Harimau di depan mereka menatap Ali yang mendekat dan mengulurkan tangannya meskipun terlihat gemetaran.
"Apakah kau Ali?"
Tiba-tiba harimau itu bertanya, membuat Zizi terkejut dengan pertanyaan itu.
Zizi memandangi harimau raksasa dan Ali bergantian.
Apa yang terjadi sebetulnya?
**--------------**
Flashback,
"Heeey Aliiii...!"
Terdengar teman-teman Ali yang ada di sekitar danau memanggil-manggil Ali, namun di mata Ali, ia melihat Razak, teman yang paling dekat dengannya berjalan menuju hutan.
Ali mengikuti Razak memasuki hutan, berjalan melewati dua batu besar dan kemudian tak bisa dilihat lagi oleh teman-temannya.
Ali yang merasa tak ada yang janggal terus masuk ke dalam hutan, yang ia tahu ia mengikuti Razak karena penasaran temannya itu hendak melakukan apa di hutan sendirian.
Ali celingak-celinguk melihat sekeliling.
Hutan itu begitu gelap dan sepi.
Pohonnya yang besar-besar dan menjulang tinggi seperti raksasa yang tengah berbaris.
"Zak... Razak... Di mana kau?"
Ali memanggil Razak seraya mencoba mencari sosok temannya tersebut.
Namun...
"Zak... Razak..."
Ali memanggil lagi karena tak juga ada sahutan dari Razak.
Sampai akhirnya, terlihat bayangan tinggi mengendap di antara barisan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi di sekitarnya.
Ali tubuhnya gemetaran, manakala bayangan itu pelahan menampakkan diri.
Sosok tinggi berupa mahluk yang menyerupai kakek-kakek dengan tubuh kering yang hanya dibalut kulit.
Ia berjalan menghampiri Ali, satu langkah demi satu langkah, Ali mundur menghindar sambil terus menatap sosok itu dengan wajah ketakutan.
Saking takutnya, Ali sampai tak melihat di belakangnya terdapat akar pohon yang mencuat dari tanah, hingga akhirnya Ali tersandung dan jatuh.
Mahluk kakek-kakek tinggi itu terkekeh.
Tangannya yang sangat panjang diulurkannya ke arah Ali.
Ali masih berusaha menghindar agar tak sampai kakek-kakek itu menyentuhnya.
Sayangnya, dalam perjuangannya itu, tubuh Ali tersangkut pada akar pohon lain.
Ali tentu saja sulit bergerak untuk menghindari lagi.
Ali berusaha melepaskan diri dari akar itu, tapi tak juga mampu ia terlepas.
"Hahaha... Kau yang dijanjikannya untukku, kau yang dijanjikannya untukku."
Kata mahluk kakek-kakek aneh itu.
Ali menatap wajah mahluk dengan begitu takutnya.
Matanya yang cekung menjorok ke dalam menatap Ali seperti menatap mangsa yang sebentar lagi siap ia nikmati.
Hingga tiba-tiba, saat tangan itu diulurkannya kembali ke arah Ali untuk menangkap tubuh Ali, dari arah belakang Ali, melompat seekor harimau besar menerjang mahluk tinggi seperti kakek-kakek tersebut.
"Enyah kau dari daerah kekuasaanku!!"
Gertak harimau itu.
Mahluk yang seperti kakek itu menatap sang harimau dengan marah, ia merasa harimau itu telah mengganggunya, mencampuri urusannya.
Tapi tentu saja harimau besar itu juga merasa berhak melakukannya, karena ia merasa tanah di mana mahluk itu kini berada adalah wilayah kekuasaan sang harimau.
Mahluk itu menyeringai, ia nyatanya tak mau menyerah begitu saja, tak mau mengalah dan pergi tanpa hasil.
Telah begitu lama ia menunggu kedatangan Ali.
Tubuh manusia yang dijanjikan padanya lebih dari seratus tahun lalu.
"Dia milikku!!"
Kata mahluk itu.
Ali tampak gemetaran di tempatnya, lemas tubuhnya, dan ia sungguh tak tahu harus melakukan apa untuk menyelamatkan diri.
Harimau besar itu melangkah mendekati Ali, tampak ia kemudian mengaum, menggeram dengan suaranya yang luar biasa keras.
Ali semakin gemetaran, rasa takut semakin menjalari seluruh tubuhnya.
Mahluk tinggi kurus kering itu tiba-tiba menyerang harimau di sisi Ali, namun tentu saja cakaran dan terjangan harimau besar itu dengan mudah menghalau serangan mahluk serupa kakek-kakek kurus yang mengincar Ali tersebut.
Ali dengan kedua mata kepalanya melihat pertempuran dua mahluk itu di depannya.
Pertempuran yang cukup sengit, yang kemudian membuat Ali tak sadarkan diri begitu melihat harimau itu menerjang mahluk kurus itu dan menggigitnya dengan begitu beringasnya.
Ali yang membayangkan dirinya akan menjadi korban selanjutnya tentu saja langsung ketakutan setengah mati hingga akhirnya Ali pingsan tak sadarkan diri.
Dan sadar-sadar, ia tiba-tiba sudah ada di ranjang Rumah Sakit, di kamar perawatan terbaik.
"Untung Paman Josh menyelamatkanmu."
Kata Ibu.
Ya, harimau itu, Ali ingat, harimau itu setelah mengusir mahluk aneh itu kemudian berubah menjadi Paman Josh.
Kepala pengawal keluarga Ibundanya.
**----------------**