
Zion terdiam di tempatnya duduk, Paman Salim terlihat mondar-mandir di depannya bicara lewat hp nya dengan bawahannya yang mengurus yayasan.
Zion tengah memikirkan apa yang baru saja dibicarakannya dengan sang Kakek.
Ular bersisik emas adalah Ibunya Kakek, itu berarti harusnya Zion juga memiliki darah ular itu.
Tapi, sepertinya itu tak terjadi karena disebutkan bahwa Kakek adalah satu-satunya anak yang lahir sebagai manusia sempurna.
"Kenapa Kakek baru menceritakan semuanya sekarang?"
Tanya Zion tadi saat mereka masih bicara di dalam kamar.
Kakek menghela nafas, matanya menatap Zion dengan tatapan sendu.
"Hal itu terlalu mengerikan Zion, rasanya Kakek bahkan tak ingin menerimanya sebagai kenyataan. Bertahun lamanya Kakek meyakinkan diri jika itu hanyalah mimpi, atau bayangan imajinasi saat Kakek tak sadarkan diri karena jatuh ke kolam renang. Tapi..."
Kakek Ardi Subrata sempat terdiam lagi sebentar.
"Tapi apa yang terjadi hari ini membuat Kakek merasa sungguh-sungguh disadarkan, bahwa apa yang pernah Kakek lihat itu adalah nyata adanya Zion, apalagi saat kemudian ular bersisik emas yang sama muncul lagi dari kamar lemari pakaian Kakek, rasanya Kakek tak mungkin bisa lagi mengelaknya. Seberapapun Kakek tak mau menerima kenyataan itu, akhirnya Kakek harus percaya, dan ini membuat Kakek merasa harus menyampaikannya padamu sekarang."
Begitulah Kakek tadi berkata pada Zion.
Zion terlihat mengurut kening.
Jadi, jika dipikir baik-baik, sebetulnya ini adalah perebutan dua keturunan yang masih sama dari Balasanggeni.
Zion berasal dari garis Adiwilaga, sementara Alex dan saudara-saudaranya adalah dari Jaka Lengleng.
Jaka Lengleng dan Adiwilaga adalah kakak beradik yang berbeda aliran ilmunya.
Adiwilaga adalah ksatria yang berpangkat, memiliki kedudukan bagus di kerajaan, bahkan akhirnya menjadi menantu di mana isterinya adalah nenek moyang Zia.
Sedangkan Jaka Lengleng tak pernah masuk ke lingkup kerajaan, ia hadir setelah Balasanggeni berhadapan dengan Kakek moyang Zia, Kakek Aji Manggala.
Jaka Lengleng membela sang Ayah sekaligus berusaha mengambil alih kepemilikan Jayapada, sayangnya kekuatannya belum cukup mampu mengemban pusaka dengan kekuatan sebesar Jayapada, maka jatuhlah pusaka itu pada Aji Manggala.
Sungguh ini seperti mata rantai yang tak mau putus, seolah mereka semua berada pada garis takdir yang terus saja berputar-putar di sana.
"Tuan Zion."
Tiba-tiba suara paman Salim mengagetkan Zion yang tenggelam dalam pikirannya.
Zion terlihat terkesiap, lalu...
"Ya Paman, ada apa?"
Tanya Zion.
"Saya sepertinya harus kembali ke Depok sebentar, ada anak yang sakit dan terus memanggil saya."
Kata Paman Salim.
"Anak itu masih dua tahun, satu bulan lalu kami menemukannya ditinggalkan di depan pagar panti yatim kita di Depok."
Tutur Paman Salim.
"Ditinggalkan orangtuanya?"
Tanya Zion memandang Paman Salim.
"Jika dilihat dari kamera CCTV malam itu, sepertinya memang iya Tuan, dia ditinggalkan secara sengaja oleh Ibunya."
Zion tampak tak percaya ada hal semacam itu terjadi.
"Ia menulis surat untuk menitipkan anak itu karena ia kesulitan ekonomi, anak itu saya bawa ke tempat saya dan saya bersama pengurus lain merawatnya seperti anak dan cucu kami sendiri."
"Jadi sekarang dia sakit? Kalau begitu, ya Paman pergilah, kasihan dia."
Ujar Zion.
Paman Salim menganggu lalu membungkuk memberi hormat.
"Sebetulnya saya ingin sekali bertemu Tuan Ziyan, tapi mungkin belum waktunya, sampaikan salam saya pada beliau Tuan."
Kata Paman Salim.
Zion mengangguk.
"Ya paman, nanti aku kan sampaikan pada Kak Ziyan, jangan khawatir."
**----------------**
"Nadia Velia? Kenapa nama itu seperti tidak asing."
Gumam Zizi.
Chef Rasya tersenyum.
"Tentu saja tidak asing Nona, kan namanya mulai sering terdengar di TV."
Ujar Chef Rasya.
Zizi menggelengkan kepalanya.
"Bukan Chef, Zizi rasa pernah mendengarnya saat masih kecil, Nadia..."
Zizi melempar ingatannya ke masa lalu untuk mengingat tentang seseorang yang bernama Nadia.
Nadia...
Nadia...
Nadia Velia...
Hingga,
"Ah tidak mungkin!"
Tiba-tiba Zizi seperti terbelalak.
"Apa yang tidak mungkin Nona?"
"Apa ada foto Nadia?"
Tanya Zizi pada Chef Rasya.
Chef tampan itu tentu saja mengangguk.
Ia meraih hp miliknya dari saku baju chefnya, lantas membuka hp nya untuk mencari Foto Nadia.
Chef Rasya yang memang sangat menyukai musik, kebetulan memang jadi cukup mengidolakan sosok Nadia.
"Nadia yang berdiri di tengah memegang biola."
Kata chef Rasya yang menunjukan pada Zizi sebuah foto di hp nya.
Foto dengan latar sebuah panggung besar itu juga memperlihatkan tiga gadis cantik berpose dengan satu yang ada di tengah membawa biola.
Gadis itu sangat cantik dengan rambut panjang yang sedikit kecoklatan warnanya.
Zizi menatap foto itu, dadanya tiba-tiba seolah berdegup begitu cepat.
"Nadia Velia, aku ingat sekarang."
Lirih Zizi.
Tampak Zizi kemudian ke arah Maria.
"Seseorang yang pernah masuk ke dalam alam lelembut dan dia selamat, tentu saja, ya tentu saja, Nadia, kak Nadia."
Kata Zizi.
"Nadia yang dulu diselamatkan dari siluman Kelabang?"
Tanya Maria.
Zizi mengangguk.
"Dia akan melahirkan keturunan yang sebanding denganku."
Zizi seperti bergumam, lalu menatap steak di atas piring di depannya.
Chef Rasya yang tak memahami apa yang sebetulnya terjadi jadi bingung sendiri.
Lalu...
"Chef."
Panggil Zizi pada Chef Rasya.
"Ya Nona."
"Nadia, berapa kali dia datang ke sini?"
Tanya Zizi.
Chef Rasya terdiam sejenak, seolah mengingat,
"Saya tidak ingat secara pasti, mungkin tiga atau empat kali. Karena mereka datang saat makan malam, dan memesan menu terbaik, maka saya sendiri yang menghidangkan."
Kata Chef Rasya.
Zizi mengangguk.
"Kenapa dia tak pernah menemui Papa dan Mama lagi? Tapi dia makan di restoran ini. Apakah dia ikut terlibat dalam rencana keluarga Alex menguasai Alpha Centauri dan juga mengambil Jayapada?"
Zizi bergumam tak jelas.
Maria melayang-layang mengitari ruangan restoran.
Ada energi yang terasa mengganggunya.
Entahlah, energi itu ada di sekitar restoran, tapi tak jelas dari mana asalnya.
Maria melayang ke arah dapur, Zizi mengikuti dengan matanya yang memandangi Aunty Maria yang melayang masuk dapur lagi.
Asisten Chef Rasya kebetulan masih tampak ada di dapur, ia sedang sibuk menelfon pacarnya, mengeluh tak bisa pulang karena harus menemani Chef Rasya lembur.
Maria melayang ke sana ke mari, ia merasakan energi aneh itu, energi yang sepertinya mirip energi ular.
Maria tampak berkacak pinggang celingak-celinguk menatap seluruh dapur resto.
Jelas terasa energinya di sekitar sini, tapi entah kenapa begitu diburu tak tampak apapun. Di mana sebetuknya mereka bersembunyi?
Maria tampak sangat gemas dan rasanya ingin cepat menemukan siapa sebetulnya yang masih mencoba menyusup di sekitar mereka.
Hingga...
"Iya sayang, aku juga sebetulnya sudah berencana akan pulang cepat dan mengantarmu membeli baju, tapi sungguh aku tak tahu akan ada lemburan mendadak begini."
Asisten Chef Rasya bicara di telfon.
Maria mendengus.
"Pacaran bae, ngeledek aku Jomblo ya? Ya kan? Dasar keterlaluan."
Maria yang entah sedang kenapa malah baper tak jelas gara-gara ada acara Asisten chef bicara lewat telfon dengan sang pacar.
"Aaah iya sayang, sabar saja ya, soalnya ini Nona muda galak banget, sama Nona Zizi mah kita tidak bisa salah sedikit, kalau salah kita bisa langsung kena tabok."
Si asisten Chef Rasya malah menggosipkan Zizi.
Lalu...
"Tapi, yang penting nanti aku pulang sih, biar besok yang masak sarapan untuk para pelayan Alpha gantian yang lain lah. Malas banget sama yang namanya Erna, aromanya aneh dan..."
Si Asisten chef bicara yang kali ini membuat Maria langsung semangat mendengarkan,
Hingga ...
**--------------**