Zizi

Zizi
108. Jangan Beri Harapan


Shane mengetuk pintu kamar Zizi, karena tak ada jawaban Shane akhirnya akan meletakkan saja ranselnya di luar kamar.


Shane tak mungkin masuk kamar Zizi tanpa ijin pemiliknya, apalagi Zizi jelas seorang gadis, jika Shane asal masuk ternyata Zizi sedang ganti baju bagaimana, kan bisa kacau alam semesta Shane.


Dan akhirnya Shane berbalik, tapi ternyata Maria yang sudah kembali dari acara kaburnya menghindari kaos kaki Zizi sempat mendengar pintu diketuk, merasa penasaran akhirnya Maria melongok dari pintu.


"Ah kau Shane."


Maria pun keluar seluruhnya begitu melihat Shane terpampang nyata.


"Ada apa?"


Tanya Maria.


Shane menunjuk ransel Zizi yang tadi ia letakkan di dekat pintu.


"Itu Aunty, tadi terbawa, saya lupa."


Ujar Shane.


"Ooh, Zizi lagi mandi, kamu masukkan gih."


Kata Maria.


Maria kemudian menembus pintu masuk kamar lagi, ia melayang ke atas lemari lalu duduk di sana.


Shane mengambil tas ransel milik Zizi lagi, lalu membawanya masuk ke dalam kamar.


"Letakkan saja di situ Shane."


Ujar Maria memerintah.


Shane menurut, ia melangkah ke arah yang ditunjuk Maria, dan meletakkan tas ransel Zizi di sana. Di atas tempat seperti bangku panjang di dekat jendela yang menuju balkon kamar.


Setelah meletakkan tas ransel Zizi, maka Shane pun pamit keluar lagi untuk segera kembali ke kamarnya sendiri.


Shane ingin istirahat dan lagi terlalu lama di kamar Zizi membuat kepalanya jadi pusing. Terlalu berbahaya jika nanti akhirnya otaknya terkotori oleh hal-hal yang tidak seharusnya dibayangkan.


"Shane."


Panggil Maria.


Shane menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Maria.


Maria melayang turun dari atas lemari dan menghampiri Shane.


"Kau tak ingin ke London?"


Tanya Maria.


"Sejujurnya ya, aku rindu Mam."


Kata Shane.


Maria mantuk-mantuk.


"Ijinlah minta libur, aku melihatmu lelah sekali mengantar Zizi ke Merapi."


Ujar Maria.


Shane tersenyum datar.


Ya tentu saja Shane ingin pulang sebentar, di hotel alam lelembut saja, karena keinginan terbesarnya adalah pulang ke London, maka iapun melihat kamarnya ada di London.


"Nanti saja dibicarakan dengan Nona Zizi, Aunty."


Kata Shane.


Maria mengangguk sambil tersenyum.


Shane kemudian menuju pintu kamar, membuka pintu dan keluar dari sana.


Tapi...


Seseorang memergokinya.


Kedua alis orang itu naik, tatapannya terlihat jelas tidak suka mendapati Shane keluar dari kamar Zizi.


"Selamat pagi."


Shane membungkuk memberi salam.


Seseorang yang masih mengenakan seragam kepolisian itu tampak diam saja.


Shane kemudian permisi karena harus kembali ke kamarnya.


Seseorang yang tak lain adalah Arya itu menoleh ke arah Shane yang terlihat menjauh, menatap tajam Shane yang akhirnya menuruni tangga.


Arya menghela nafas.


Kenapa Vampire itu sering sekali masuk keluar dari kamar Zizi? Batin Arya kesal.


Arya mendekati kamar Zizi.


Sebetulnya tadi di lantai satu saat bertemu Mama Zia, dia memberitahu Zizi sudah pulang dan sedang mandi, Mama Zia senang karena Arya juga pulang hari ini dan mengajak makan sekalian.


Karena lelah di tempat kerja, Arya pamit lebih dulu pada Mama Zia untuk mandi juga.


Tapi...


Ah' melihat Shane keluar dari kamar Zizi yang katanya sedang mandi jelas saja membuat Arya jadi kesal.


Arya akhirnya mengetuk pintu kamar Zizi.


Maria yang ada di dalam kamar kembali mendengar ketukan di pintu jadi heran.


Kenapa Shane balik lagi? Batin Maria.


Maria melayang menuju pintu, melongok menembus pintu kamar dan mendapati Arya yang melompat kaget Maria melongok tepat di depan wajahnya.


"Astaga."


Arya mengelus dadanya yang jantungnya nyaris lepas.


Haiiish... Maria mendesis.


"Polisi kok jantungan."


Kata Maria.


"Polisi juga manusia."


Arya menghela nafas.


Maria geleng-geleng kepala seraya keluar menembus pintu.


Kata Maria.


Arya menengok ke arah tangga di mana Shane tadi sudah pergi, lalu kembali menghadap Maria.


"Tapi tadi Shane kenapa masuk ke dalam kamar gadis yang lagi mandi?"


Arya panas dingin tubuhnya, sudah macam dispenser.


Maria geleng-geleng kepala lagi.


Manusia kalau sudah bucin, cemburuan sekali.


"Shane hanya mengembalikan tas ransel Zizi, apa salahnya? Dia tidak masuk kamar mandi juga."


Kata Maria.


Lagipula ada aku dan Othor, bisa apa mereka. Batin Maria.


Arya mendengarnya langsung lega.


Rasanya ia langsung seperti berubah jadi kapas yang ringan terbawa angin sepoi-sepoi.


"Ah begitu rupanya, baiklah."


Arya senyum-senyum dikulum.


"Aku mau mandi dulu."


Ujar Arya.


"Ya sudah mandi saja sana."


Kata Maria.


Arya lalu berjalan menuju kamarnya sendiri yang letaknya persis bersebelahan dengan kamar Zizi. Kamarnya yang ditempati sejak kecil dulu.


Begitu Arya masuk kamar, Maria juga kembali melayang masuk kamar lagi, tepat saat Zizi keluar dari kamar mandi.


Zizi terlihat lebih segar, dengan piyama handuk dan rambut yang digulung handuk.


"Darimana Aunty?"


Tanya Zizi pada Maria.


"Itu tadi Kak Arya ketuk pintu."


Kata Maria.


Zizi menatap pintu kamarnya, lalu...


"Kak Arya pulang pagi ini?"


Tanya Zizi yang akan menuju pintu.


"Dia udah ke kamar, mau mandi."


Kata Maria seraya melayang ke tempat tidur Zizi.


"Lah kenapa ngga suruh masuk kamar dulu? Kan Zizi ada perlu."


Kesal Zizi.


Haiiish... Maria mendesis lalu melempar Zizi dengan bantal.


"Apa sih Aunty nih."


Zizi heran dengan Maria yang malah jadi ngamuk tak jelas.


"Zi, kamu ini gimana sih, semua cowok dikasih harapan. Kamu tuh gadis Zizi, sebutir gadis, bukan Bus Harapan Jaya yang bisa siapapun naik."


Kesal Maria.


"Lha siapa juga yang bolehin naik Zizi."


Zizi kumat bolot dan tak mau kalah mengomel.


"Haduuuuuh..."


Maria ketok-ketok kepalanya.


"Kalau ngomong sama kamu tuh rasanya mending aku ngga usah punya otak, pusing yang ada."


Maria benar-benar dibuat esmosi.


"Zizi mau tanya gimana kasus kuntilania dan perempuan yang mangku boneka kok, kepikiran terus Zizi tuh."


Gerutu Zizi sambil melangkah menuju tas ranselnya karena matanya tanpa sengaja melihat ransel miliknya yang beberapa hari ini digendong Shane selama perjalanan mereka pulang pergi ke Merapi.


Mendengar Zizi membicarakan soal kasus hantu korban pembunuhan di Gunung Salak akhirnya membuat Maria jadi nyengir.


Ah dia salah sangka rupanya, mengira Zizi mencari Arya karena kangen dan semacamnya.


Maria tiba-tiba jadi merasa seperti terlalu khawatir dengan posisi Shane setiap kali ada Arya.


Entahlah...


Maria merasa Shane selama ini selalu berkorban nyawa untuk Zizi, jadi rasanya akan sangat tidak adil jika Zizi hanya mempermainkan perasaannya.


Ya lihat saja nanti, kalau Shane sampai terluka hatinya, Maria juga akan ikut pergi jika Shane juga akhirnya pergi.


Buat Maria, Shane juga sudah dia asuh sejak kecil selama dua puluh tahun, maka kedekatannya dengan Shane sudah macam dengan keponakan sendiri juga.


Zizi terlihat sibuk membuka ransel, lalu...


"Tadi Kak Seng ke sini ya Aunty?"


Tanya Zizi.


"Iyalah, dia yang bawa ransel itu tadi."


Zizi menoleh ke arah Maria.


"Kak Seng nggak cari Zizi?"


Tanya Zizi.


Maria terlihat nyengir, dan...


**------------**


(Othor mau sarapan dan capcus kerja dong... hihihihi))