Zizi

Zizi
38. Zizi Oh Zizi


Zia menatap Zion yang baru saja mendapat telfon dari Dimas soal kejadian aneh di zombie hotel.


Tampak Zion duduk di tepi tempat tidur setelah hampir sepuluh menit bicara dengan Dimas melalui telfon, Zion mondar mandir di depan Zia.


"Ada apa?"


Tanya Zia.


"Resepsionis ada yang bolak balik nelfon, perempuan minta tolong, tapi begitu staf hotel mendatangi kamar yang ia sebutkan tidak ada siapa-siapa."


Mendengar cerita Zion tampak Zia menghela nafas.


"Paling orang iseng, kenapa harus di gubris?"


Gumam Zia.


"Hantu kayaknya Ma."


Ujar Zion.


"Dimas bilang, kamar pertama yang mereka datangi pintunya terbuka dan tertutup sendiri, sementara kamar kedua yang didatangi bau daging busuk."


"Daging busuk?"


Zia menatap sang suami.


Zion mengangguk.


"Rasanya aneh sekali buka hotel ini di sini, ada saja gangguannya, sangat berbeda dengan saat di Inggris."


Lirih Zion.


Zia merangkul Zion,


"Jangan patah semangat, kita selesaikan nanti."


Kata Zia.


"Ah."


Zia seperti ingat sesuatu, lalu...


"Jangan cerita apapun pada Zizi."


Kata Zia.


"Katakan pada Dimas dan semua staf hotel untuk menjaga ini dari Zizi, jangan biarkan dia mengurusi hantu dulu."


Tambah Zia lagi.


Zion mengerutkan kening.


"Kenapa?"


Tanya Zion bingung.


"Ingat aku cerita jika Nyi Retnoasih datang ke Jepang lalu memarahiku?"


Tanya Zia pada Zion.


Zion lekas mengangguk.


"Ia marah karena Zizi pergi ke Jepang dan mengurus masalah Ali."


Lirih Zia.


"Kenapa begitu? Ia mau Ali celaka? Harusnya dia bangga keturunannya berbuat kebaikan."


Zia menggeleng pelan.


"Kamu lihat bagaimana Zizi berubah kan tadi, suaranya juga terdengar berbeda saat aku melarangnya makan banyak."


Zion tercekat.


"Energi jahat di dalam jayapada sudah tak bisa dibendung. Ia harus dibersihkan lebih dulu, ia menguasai Zizi sama seperti saat ia menguasai kakek moyangmu Pa."


Kata Zia.


"Maksudmu... Balasanggeni?"


Tanya Zion.


Zia mengangguk.


"Ya, Balasanggeni, dia jahat dan semakin jahat karena energi gelap dalam Jayapada memakan habis kebaikannya hingga tak tersisa, maka itu ia menjadi seperti monster."


Zion bergetar tubuhnya mendengar itu, membayangkan Zizi akan berakhir sama menjadi mahluk jahat tentu saja ia tak sanggup dan tak rela.


"Jadi apa yang harus kita lakukan untuk mencegahnya?"


Tanya Zion.


"Mengijinkan Zizi ke Merapi, dan jangan biarkan ia terlibat lebih dulu dengan masalah hantu-hantu jahat yang mengganggu, besok biar aku yang ke zombie hotel, aku akan coba lihat siapa yang mengganggu hotelmu."


Kata Zia.


Zion terdiam, sejatinya ia tak ingin Zia melakukan hal semacam itu lagi, sudah cukup baginya, apalagi Zia kondisinya sudah tak sebaik dulu.


"Sudahlah, abaikan saja, aku akan bicara pada Dimas agar mengabaikan telfon yang hanya mengerjai begitu, mungkin nanti lama-lama akan hilang sendiri."


Ujar Zion.


Ia berusaha meyakinkan Zia, meski sebetulnya ia sendiri tak yakin.


"Nanti jika ada tamu yang sampai diganggu, katakan padaku dan jangan lakukan apapun tanpa aku, ya?"


Zia menatap Zion yang mengangguk pelan saja lalu mencium kening Zia.


Kata Zion.


Zia terkekeh.


"Bagaimana lagi, anak kita makan satu meja penuh tanpa sisa, sementara Kak Arya pulang, kasihan dia tak dapat lauk sama sekali. Dan lagi aku sudah janji akan masak juga sampai melarangmu lembur."


Kata Zia.


Zion mengusap kepala Zia.


"Terima kasih Zia."


Kata Zion.


"Untuk apa?"


Tanya Zia.


"Untuk semua bahagia ini, kamu menjadi apapun yang aku butuhkan."


Zia tersenyum.


"Kamu juga, menjadi apapun yang aku butuhkan, aku pun berterima kasih."


Ujar Zia.


**-------------**


Di tengah hutan belantara yang gelap dan sunyi, sesuatu yang sangat besar bergerak menembus pekatnya malam.


Bergerak pelahan menyibakkan rerimbunan semak belukar yang ada di sana.


Suaranya mendesis mengerikan, dua matanya terlihat seperti mencari mangsa.


Kera di sekitar hutan berlarian, melompat dari satu dahan ke dahan lain seolah menghindari mahluk itu. Binatang lain juga sama, mereka saling berebut lari, kocar-kacir berusaha selamat.


Ya...


Mahluk berbentuk ular sebesar pohon kelapa itu terus bergetar, lidahnya yang panjang menjulur, sementara desisannya terus terdengar memecah keheningan malam di tengah hutan belantara itu.


"Sudah dekat, hari itu sudah dekat, kali ini aku harus mendapatkannya."


"Aku tak akan kehilangan kesempatan lagi seperti dulu, Bandapati, kau akan aku musnahkan begitu Jayapada ada di tanganku, pusaka itu sekian tahun adalah milik Ayahku, tak ada yang lebih berhak daripadanya selain aku."


Ular itu mendesis, ia merayap di sebuah pohon beringin yang sangat besar.


"Aku akan menunggumu Zizi, aku akan menunggu."


Zizi terbangun dari tidurnya di saat hari sudah hampir subuh. Zizi duduk di atas tempat tidur dengan nafas yang memburu.


"Apa tadi, ular apa tadi?"


Gumam Zizi.


Zizi menatap atas lemari di mana biasanya Maria ada di sana namun kali ini hantu itu entah ke mana.


Mbak Pocong juga sama saja tak terlihat ujung kuncungnya.


Zizi meraba sekitarnya mencari hp miliknya, begitu ketemu dilihatnya jam di sana menunjukkan jam setengah empat pagi.


Zizi akhirnya turun dari tempat tidur, saat kemudian ia ingat saat kecil dulu ia juga berurusan dengan ular besar.


Ular yang mengganggu Mama dan Papanya. Ular besar itu, apakah ia belum terbunuh hari itu?


Apa Mama tidak tahu?


Kenapa?


Zizi masuk ke kamar mandi, ia akan cuci muka, namun saat ia menyalakan air keran di westafel, tiba-tiba bayangan di cermin yang ada di hadapan Zizi kembali bicara sendiri.


"Kau harus membunuhnya Zizi, kau harus membunuh siapapun yang mencoba menguasai Jayapada. Pedang itu adalah milikmu saja, tak ada yang lebih berhak dari dirimu, jika ada yang berusaha mengambilnya, maka ia harus mati."


Kata si bayangan.


Zizi menatap bayangannya sendiri, lalu Zizi meraup air dari keran dan berkumur sejenak lalu menatap bayangannya lagi yang kini menyeringai.


Zizi ikut menyeringai, lalu menyemburkan air kumurannya ke arah cermin.


"Cerewet!!"


Kata Zizi, lalu keluar dari kamar mandi dan membanting pintu.


"Ngatur-ngatur hidup Zizi, perut jadi mules gara-gara dia numpang makan juga, dikira Zizi oon apa?"


Zizi mengomel sendirian.


Zizi menuju jendela kaca kamarnya, lalu menggeser nya.


Udara pagi yang dingin dan sejuk terasa langsung menerpa kulit wajah Zizi. Ditatapnya dari balkon kamar bulan yang menggantung di atas sana.


Ya sebentar lagi purnama akan tiba, Zizi harus ke Merapi sekarang. Batin Zizi.


Zizi mengulurkan tangannya ke depan dengan telapak tangan terbuka, dari telapak tangan nya muncul semacam api.


Zizi menghela nafas.


"Kekuatanku semakin penuh, aku harus tanya pada Eyang bagaimana agar aku bisa mengendalikannya tanpa melukai siapapun."


Gumam Zizi.


Dan tanpa Zizi sadari, seseorang mengamatinya dari balkon kamar sebelah, sosok itu bersandar di tengah bingkai jendela yang terbuka. Menatap Zizi dengan tatapan rindu yang menyesakkan dada.


**------------**