
Zia di kamar mondar-mandir sambil mengetukkan jarinya di kening.
Jaka Lengleng memiliki keturunan dari jenis manusia dan salah satunya sudah berada di sekitar Kakek Ardi Subrata?
Zia berpikir keras tentang apa yang baru saja dilaporkan Zizi padanya.
Ini sungguh di luar dugaannya.
Ia bahkan tak pernah tahu jika ada Nenek moyang dari Zion yang melakukan hubungan terlarang dengan Jaka Lengleng.
Ah benar, sepertinya jodoh memang sebetulnya hanya akan berputar di sekitar itu-itu saja.
Akan selalu ada kaitannya dengan moyang-moyang kita di masa lalu.
Zia kemudian langkahnya terhenti di dekat jendela kaca besar kamarnya.
Ia menatap hamparan langit Bogor yang dinaungi segerombolan awan mendung yang siap menangis bersama-sama.
Siapa dia?
Siapa mereka?
Apakah...
Zia tercekat, manakala ia teringat satu nama.
Hery Sapta.
Mungkinkah dia?
Mungkinkah?
Zia lantas menatap layar hp nya.
Haruskah ia menelfon Zion?
Ah tidak!
Suaminya pasti sedang sibuk mengurus pekerjaannya, Zia tentu tak boleh mengganggunya.
Zia akhirnya memilih melihat artikel-artikel tentang Hery Sapta di internet, darimana asal usulnya, saudaranya, lulusan sekolah apa dan lain sebagainya.
Zia berharap ia bisa menemukan petunjuk, bahwa benar dia orangnya, atau jika bukan maka harusnya siapa yang Zia patut curigai.
Dan...
Apa tujuan Jaka Lengleng melahirkan anak keturunan dari jenis manusia?
Dan kenapa mereka memiliki takdir berada di sekitar Kakek Ardi Subrata?
Zia merasa khawatir jika kelak mereka akan membahayakan Zion dan Zizi, tentu saja Zia tak mau keduanya terluka ataupun mendapatkan bahaya.
Tapi...
"Paman Ziyan sepertinya sudah diberi kabar lewat mimpi Ma."
Kata-kata Zizi terngiang lagi.
"Mimpi? Soal apa?"
Tanya Zia.
"Paman Ziyan melihat tiga pemuda dan satu gadis. Mereka sepertinya keturunan Paman Jaka Lengleng juga."
Kata Zizi.
"Apa mereka sudah lahir juga?"
Tanya Zia.
"Entahlah Ma, tapi jika belum, apa mereka yang kelak akan berhadapan dengan anak-anak Zizi?"
Lirih Zizi yang seperti malu mengatakan soal anak.
Zia kembali mengetukkan jarinya di kening.
Benar, anak Zizi dikabarkan ada lima, rupa-rupa warnanya, hijau, kuning, kelabu...
Eh salah, itu balon.
Ya pasti...
Pasti mereka yang akan terlahir untuk berhadapan dengan Zizi.
Berarti pilihan Zia untuk mengambil Shane menjadi menantu adalah tepat.
Tidak!
Tidak mungkin jika Zizi menikah dengan manusia biasa bisa melahirkan anak yang akan mampu menghadapi keturunan ular.
Zia saja kewalahan sekali menjalani semuanya karena Zion penakut.
Ah tapi dia tampan, jadi kita maafkan. Hihihi...
Zia tiba-tiba ingat Nancy, calon besannya yang pasti hari ini di sana masih pagi dan masih bergelut dengan panci.
Zia akhirnya memutuskan menelfon calon besannya saja.
Nancy yang ditelfon sang besan ternyata sedang makan daging ayam rebus.
Sekarang Nancy mencoba untuk makan yang tak terlalu ekstrim, dia beli daging ayam segar lalu direbus baru di makan.
Bagaimanapun dia tidak terlahir sebagai Lycan, dia jadi Lycan karena peristiwa yang tak diinginkan.
Andai ia boleh memilih pastinya ia lebih memilih untuk jadi kupu-kupu yang syantik.
Nancy saking gugupnya ingin menghabiskan makannya agar bisa mengangkat panggilan sang Nyonya, akhirnya Nancy jadi tersedak tulang paha ayam rebusan yang ia makan.
Aduh...
Nancy pun cepat mengorek tulang dari mulutnya.
Untung dia Lycan, tersedak paha ayam hanya sendawa, coba kalau othor, oh pasti harus pergi ke paranormal.
"I... Iya Nya, ini Panci, eh Nancy."
Sejak Shane mengatakan ia dan Zizi saling mencintai, dan Tuan Zion sudah merestui hubungan Shane dengan putri semata wayang kulitnya, Nancy rasanya deg degan sekali setiap kali memikirkan Zia yang akan datang berkunjung.
Ah ini juga telfon rasanya Nancy deg-degannya sampai mau pingsan.
"Nancy."
Suara Zia lembut mendayu, tapi buat Nancy tetap saja itu membuat ia merasa punya jantung.
"Aku mau bicara Nancy, tentang Zizi dan Shane."
Kata Zia pula.
Zia tentu tak tahu bagaimana Nancy saat ini posisinya saat mengangkat telfon darinya.
Ia yang begitu salah tingkah sampai jongkok di lantai, lalu pindah di atas meja, lalu naik ke perapian, dan tiba-tiba merayap di cerobong asap.
Hah... Aku di mana?
Nancy celingak-celinguk di atas atap saat kepalanya nongol di ujung cerobong.
"Nancy, kau di mana?"
Tanya Zia yang tak juga mendapat jawaban Nancy.
"Ah oh ya Nya... Aku di sini Nya."
Nancy turun lagi dan keluar menuju ruang tengah rumah Zion.
"Aku ingin Shane dan Zizi menikah secepatnya Nancy."
Zia tanpa basa basi.
Entahlah, ini sebetulnya menyalahi aturan.
Zia yang Emaknya anak perempuan harusnya jaim-jaim beb, tapi malah langsung nyablak minta anaknya dinikahi.
Tapi...
Ah ya, tentu saja, ini semua karena kondisi dan situasinya memang sudah tidak bisa terlalu lama diulur-ulur lagi.
Takutnya nanti dari pihak keturunan Jaka Lengleng sudah berproduksi generasi kuat-kuat, sementara di pihak mereka masih hanya mengandalkan Zizi saja.
"Kita perlu menambah kekuatan di barisan kita agar dunia tetap bisa dijaga keseimbangannya."
Ujar Zia yang kalimatnya tak bisa dicerna oleh Nancy yang tentu saja ia sedang merasakan jantungan karena Shane diminta menikahi Nona Zizi.
"Ah ya, di mana Shane? Aku ingin bicara dengannya Nancy."
Ujar Zia lagi.
Nancy sejenak terdiam.
Ia tersadar.
"Oh Shane, dia belum pulang Nyonya, sejak ia pamit akan pergi mencari Marthinus dan mencari obat penawar Vampire, dia sampai hari ini belum pulang."
Kata Nancy.
Zia terdengar menghela nafas.
"Apakah dia pasti akan menemukan obat penawar itu Nancy?"
Tanya Zia yang sekarang malah seperti takut Shane akan menemukannya.
"Saya tidak tahu Nyonya, tapi saya rasa itu akan sulit untuknya, tapi jika ia beruntung bertemu Marthinus, pasti semua akan selesai."
Ujar Nancy.
Zia terdiam.
Bagaimana ini?
Bagaimana jika Shane berubah jadi manusia biasa?
Jika lawan mereka keturunan Jaka Lengleng, apakah anak Zizi dan Shane bisa menghadapi mereka?
"Saya akan majukan jadwal kedatangan saya ke sana, Zizi sendiri sepertinya sore ini akan terbang ke London, siapkan saja kamar nya Nancy."
"Non... Nona Zizi datang sore ini?"
Tanya Nancy semakin gugup.
Waduh, syal yang ia rajut belum sepenuhnya rampung, padahal ia sangat berharap bisa memakaikannya untuk Zizi.
"Baiklah Nancy, semoga Shane segera pulang, lusa aku datang, kita bicarakan soal pernikahan Zizi dan Shane secepatnya."
Kata Zia akhirnya.
"I... Iya Nyonya."
Sahut Nancy.
Zia mematikan telfonnya.
Ia tampak menatap langit yang kini semakin gelap.
Suara geluduk mulai terdengar seperti puluhan drum aspal digelundungkan.
Musim hujan.
Musim di mana hampir semua wilayah diguyur hujan.
Sebagaimana di danau dekat hotel wisata juga kini diguyur hujan.
Di danau yang airnya terlihat begitu tenang.
Yang tak banyak orang tahu, jika di bawah sana, sebuah istana megah bertahta aneka permata dan berlapis emas berdiri.
Di mana seorang laki-laki kini telah kembali di singgasananya setelah sekian lama mengungsi dan bertapa di hutan ke tujuh.
**------------------**