Zizi

Zizi
179. Curiga


Tuan Alex yang semula malas sekali melihat Arya, tampak menghampiri Arya yang kini ditenangkan para polisi yang datang.


Supir Tuan Alex yang semula masih menyolot dan mencoba memancing amarah Arya lagi begitu Tuan Alex menatapnya dengan tatapan seperti memberi isyarat kini langsung diam.


Tuan Alex tiba-tiba mengulurkan tangannya ke arah Arya.


Arya malas meladeni, ia melengos saja, pergi menjauhi Tuan Alex dan memilih masuk ke dalam mobilnya sendiri.


Tuan Alex menatap Arya yang masuk mobil sambil tersenyum misterius.


Para polisi yang tahu jika Tuan Alex adalah salah satu pewaris tahta Andromeda Putra Corporation tampak bicara dengan formal.


Tak lama, hanya sekian menit, lalu Tuan Alex undur diri karena ia harus pergi ke satu hotel berbintang di kota hujan tersebut untuk menghadiri sebuah pertemuan.


Arya mengurut keningnya, ia lalu menyalakan mesin mobilnya lagi, melajukan mobilnya setelah kerumunan orang dibubarkan para petugas, dan mobil Tuan Alex telah pergi lebih dulu.


Arya menghela nafas, baru setelah itu ia tancap gas.


Laki-laki itu, siapa dia?


Tatapannya terasa sangat tidak nyaman saat Arya mendapatinya mengajak bersalaman.


Ada yang aneh padanya, tapi Arya tak tahu pasti di bagian mana keanehan laki-laki itu.


Ah sorot matanya, senyumnya, semuanya seperti begitu misterius. Tak seperti manusia kebanyakan.


Begitulah Arya merasakannya.


Arya sepanjang jalan pikirannya terpecah-pecah.


Memikirkan ajakan pindah rumah Paman Dimas, memikirkan kenapa akhirnya Tuan Zion memilih Shane menjadi menantu, memikirkan kenapa Zizi harus menikah secepat itu dan harus Shane lah orangnya.


Dan...


Lagi-lagi, Tuan Alex...


Aneh tapi nyata, Arya entah kenapa seperti terhipnotis oleh sosoknya.


Arya seperti dipaksa mengingat sosok itu meskipun sejatinya Arya tak tertarik sama sekali memikirkannya.


"Ar."


Seorang teman di kepolisian memanggil begitu Arya sampai di kantor di mana ia bertugas.


Si ganteng itu yang baru turun dari mobilnya berjalan gontai menghampiri sang teman yang menyambutnya sambil tersenyum miris.


"Kau baik-baik saja Bro?"


Tanya teman Arya sambil menepuk bahu Arya.


Arya hanya mesem tipis.


Tentu saja aku tak baik-baik saja, jika aku baik-baik saja, aku tak akan mengamuk di jalan. Batin Arya.


Teman Arya merangkul Arya masuk ke dalam kantor, ia membicarakan sebuah kasus aneh.


"Kasus apa Ndi?"


Tanya Arya yang menuju mejanya.


Kepalanya masih sakit, tapi ia terpaksa meladeni pembicaraan dengan temannya yang menambah sakit kepalanya.


Andi memperlihatkan hp nya.


Andi adalah Anggota baru yang sebetulnya satu angkatan dengan Arya, karena ada beberapa peraturan dan juga kendala pada data Andi, membuat surat tugasnya sedikit terlambat daripada Arya.


Arya melihat layar hp Andi, di mana di sana terlihat tubuh sesosok mayat yang ada di dekat semak-semak.


"Apanya yang aneh?"


Arya heran.


"Dia jelas terbunuh."


Ujar Arya.


Andi menghela nafas.


"Tulangnya remuk bro, dan seluruh tubuhnya dipenuhi air liur."


Arya menatap Andi di depannya.


Andi meraih hp nya lagi.


"Maksudmu?"


Arya mengerutkan kening.


"Ia seperti habis ditelan ular lalu dimuntahkan lagi."


Kata Andi.


"Dimuntahkan ular? Ah gila! Apa kau gila?"


Kesal Arya merasa temannya sedang mengajaknya bercanda dan itu tak lucu.


"Ini asli!"


Kesal Andi.


"Di mana jasadnya?"


"Sedang diautopsi."


Arya mengacak rambutnya.


"Aku mau minum kopi, kau mau?"


Tanya Andi.


Arya mengangguk.


"Buatkan satu untukku tidak usah ada gula."


Kata Arya.


Andi yang tahu paling-paling Arya sedang stres hanya tersenyum saja, dan beranjak pergi meninggalkan Arya yang wajahnya ditekuk.


**--------------**


Hari telah malam, Nancy akhirnya selesai bicara dengan Zia dan keluar dari kamar.


Ia turun dari lantai atas menuju lantai satu dan tanpa sengaja bertemu dengan Vero yang sepertinya baru keluar.


"Ah maaf, saya mencari udara segar."


Ujar Vero.


Nancy mengangguk saja.


Beberapa pengawal sedang makan di ruang makan para pegawai, tapi Vero malah pergi keluar.


Nancy yang tak ingin berpikir macam-macam tadinya akan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya di bagian deretan kamar Shane tak jauh dari ruang keluarga, dan juga ruang makan.


Sementara para pengawal memiliki kamar yang sedikit lebih ke belakang di bandingkan kamar Shane dan Ibunya, serta kamar Marthinus.


"Selamat malam Nyonya Nancy."


Ucap Vero sembari mendahului langkah Nancy.


Dan saat Vero mendahului langkah Nancy itulah, Nancy mencium aroma yang tak biasa dari tubuh Vero.


Nancy menatap gadis pengawal yang kini menjauhinya.


Nancy mengerutkan kening.


Apa itu?


Aroma apa itu?


Batin Nancy.


Nancy berjalan lagi namun ia sambil berpikir tentang Vero yang dirasanya ada yang berbeda dengan manusia kebanyakan.


Saat kemudian Nancy melewati ruang makan para pegawai di mana para pengawal tengah menikmati santap malam mereka, tampak mereka menyapa Nancy dengan sopan.


Ya, tentu saja, Nancy sebentar lagi juga akan menjadi salah satu Nyonya di rumah itu.


Para pengawal pun kini sudah mulai merubah panggilan mereka pada Nancy menjadi Nyonya Nancy.


Nancy terlihat canggung dipanggil Nyonya.


Sejatinya ia ingin biasa saja.


Tapi, mana bisa begitu?


Dan jelas tak akan ada yang mau jika harus menuruti Nancy untuk memanggilnya seperti biasa.


Nancy akhirnya tersenyum saja dan mengangguk, ia terus melanjutkan langkahnya menuju kamar.


Ia akan menyelesaikan rajutan syal untuk Nona Zizi malam ini.


Nancy masuk ke dalam kamar, ketika kemudian Marthinus keluar dari kamar Shane.


Nancy menatap Marthinus.


"Shane sudah tidur?"


Tanya Nancy.


Marthinus menggeleng.


"Anakmu sedang belajar, jangan mengganggu."


Ujar Marthinus.


Haiish... Nancy mendesis.


Yang benar saja, harusnya yang boleh bicara begitu adalah Nancy pada orang lain, ini malah jadi terbalik, orang lain yang bicara Shane tak boleh diganggu pada Nancy.


Tapi...


Ah ya sudahlah, Nancy juga tak mau jadi lebay hingga harus mempermasalahkannya.


Nancy masuk ke dalam kamar, ia mengambil kotak berisi rajutan syal untuk Zizi yang belum juga selesai.


Ia duduk di kursi sudut kamar di dekat meja kecil yang ada lampunya.


Calon cucunya ada lima?


Semuanya laki-laki?


Ah lucu sekali dan pasti ramai sekali rumah Shane dan Zizi nantinya.


Kira-kira lalu seperti apa mereka?


Mirip siapa wajah mereka?


Bagaimana sifat mereka?


Batin Nancy yang malah jadi tergugu sendiri membayangkan Shane dan Zizi nantinya akan memiliki anak yang jumlahnya lumayan banyak itu.


Nancy baru akan mulai merajut, manakala ia mendengar suara keras sekali di luar kamar.


Brakk!!!


Nancy yang kaget langsung berdiri dan meletakan lagi alat rajutnya ke dalam kotak.


Setengah berlari ia menuju pintu dan membukanya, tampak para pengawal juga berdatangan, begitupun dengan Shane yang keluar dari kamar.


Seekor ular sebesar tangan orang dewasa hancur kepalanya dengan ekor yang mulai terlepas dari pergelangan tangan Marthinus.


"Kenapa bisa ada ular masuk?"


Nancy heran melihat Marthinus yang kini memegangi ular yang kepalanya sudah pecah.


Para pengawal kasak kusuk, Daniel terlihat mendekati Shane dan berbisik sesuatu.


Shane menatap Daniel yang tampak mengangguk seolah memeriksakan isyarat.


Marthinus lantas dengan bar-bar memakan ular itu.


Para pengawal yang manusia normal jelas langsung mual dan buru-buru pergi dari sana.


Nancy menatap Shane yang terlihat bicara dengan Daniel begitu serius, entah apa yang mereka bicarakan karena suara keduanya macam bisik-bisik saja.


Marthinus selesai memakan ular yang baru ia bunuh, dan kemudian ia bersendawa.


Nancy sampai harus menutup hidungnya karena aroma sendawa Marthinus.


Tapi...


Tunggu.


Nancy tiba-tiba menoleh ke arah Marthinus dengan tatapan yang menurut Marthinus aneh.


"Kenapa kau menatapku begitu? Seperti aku benar-benar TIMUS."


Kata Marthinus.



(Timus. wkwkw...)


Nancy mendengus, lalu ia mendekati Marthinus, namun dengan konyolnya Marthinus terlihat mundur-mundur menghindari Nancy.


"Jaga jarak Nancy, mau apa kau ini? Kau sudah punya anak, sadarlah!"


Kata Marthinus tak jelas.


Shane dan Daniel yang semula sedang sibuk membicarakan sesuatu yang serius terpaksa jadi melihat ke arah Nancy dan Marthinus.


"Marthinus, cepat bersendawa lagi!"


Kata Nancy.


Marthinus mengerutkan kening.


Apa ini?


Permintaan macam apa ini?


Marthinus jelas saja keder.


Tapi Nancy tak peduli.


Ia merasa ada yang sama dari aroma sendawa Marthinus barusan dengan aroma aneh yang Nancy hirup saat Vero berjalan mendahuluinya.


"Cepatlah!!"


Kesal Nancy.


Marthinus yang jadi kesal karena dibentak jadi makin heran.


Ini orang kesambet atau bagaimana.


Shane pun akhirnya mencoba mengamankan keadaan.


Shane menghampiri Ibunya, dan segera meraih dua bahu Ibunya.


"Ibu, ada apa?"


Tanya Shane.


Nancy menoleh ke arah Shane.


"Aroma itu, Ibu merasa tadi sempat menciumnya juga ketika Vero lewat."


"Parfum?"


Tanya Shane.


Nancy menggeleng.


"Bukan, seperti aroma ular yang baru dimakan Marthinus."


Kata Nancy.


**--------------**


Maria yang di kamar Zizi sedang asik duduk di dekat jendela kamar sempat terkejut mendengar suara berisik di lantai satu yang suaranya terdengar sampai ke atas.


Semula Maria akan keluar untuk kepo, tapi Zizi memintanya tetap tinggal di kamar.


"Tumben minta ditemani? Zizi mulai takut rupanya."


Kata Maria cekikikan.


Zizi mendengus.


"Bukan takut ada hantu, atau monster, tapi takut Zizi tiba-tiba ingin marah lagi."


Kata Zizi.


"Lah marah kenapa lagi? Shane kan sudah menjelaskan semuanya."


Kata Maria jadi heran.


"Ya kan tiba-tiba kepikiran lagi bukan maunya Zizi."


Kesal Zizi.


"Ya kan kamu bisa kendalikan, hadeeeh."


"Ya pokoknya Aunty tidak usah ke mana-mana, duduk saja disitu, nanti kalau Zizi ingin tanya jadi Aunty tetap ada di situ."


Kata Zizi seenaknya.


Sudah biasa dia selalu begitu, tak jelas.


Saat punya permintaan pun selalu cenderung suka yang tidak jelas.


"Ya laaaaa, terserah kamu lah Zi."


Ujar Maria akhirnya.


Dan begitulah akhirnya Maria tetap duduk di balik jendela, menatap langit malam dari sana.


Langit malam yang hening.


"Suatu hari saat Zizi menikah, berarti Aunty tak lagi bisa satu kamar dengan Zizi?"


Tanya Zizi.


Haiiish... Maria mendesis.


"Apa perlu hal itu juga ditanyakan? Kamu tanya apa mau nyindir Aunty jones?"


Kesal Maria.


"Lah ditanya malah marah, ini Zizi asli nanya."


Kata Zizi.


"Ya di mana-mana orang menikah ya tidurnya sama pasangannya lah Ziiii, masa harus melibatkan orang lain."


"Aunty bukan orang."


"Tapi aku juga punya hatiiiiii dan harga diriiiiiii."


Maria rasanya ingin meletus jika saja ia berwarna hijau.


Zizi cekikikan.


"Ikh Aunty mah emosian, darting."


Kata Zizi.


Jiiiah...


"Yang darting itu, yang masuk perpus langsung buang kunci trus pas mau keluar kuncinya ilang!"


Seloroh Maria.


"Auntyyyyyyy..."


Zizi meraih bantal dan melemparkan ke Maria.


"Coba tadi kalian di perpustakaan sebetulnya ngapain? Atau kamu aslinya sengaja ngilangin kunci Zi biar malam ini bisa sama Shane?"


Maria terus menggoda Zizi, yang jelas saja Zizi langsung melemparinya bantal lagi.


**------------**