Zizi

Zizi
227. Ikatan Takdir Masa Depan


Tuiiiiiiiiing....


"Aaaaaaa..."


BUKG!


Maria bolak balik mencoba menembus pintu gaib di mana Alex melempar Nadia masuk entah ke alam apa lagi.


Entah alam siluman tingkat dua, apa alam ada mbah dukun.


Maria yang bolak balik mental itupun kini duduk di selonjor setelah terpental berungkali pula.


"Onde mande, susahnyo masuk ke sana."


Gumam Maria.


Tatapannya nanar ke arah rongga pohon besar yang Maria yakin sekali, itu adalah pintunya, yang ia tidak tahu pintu itu menuju ke mana.


Hingga kemudian, di saat Maria sedang mencoba memikirkan cara baru untuk bisa masuk ke dalam sana, tiba-tiba tercium aroma Melati yang makin lama seperti semakin mendekat.


Angin bertiup dari arah kiri Maria, yang di mana angin itu membawa aroma Melati yang makin kuat.


Maria menoleh, dan kini tampak seorang perempuan melayang ke arahnya.


Perempuan dengan sanggul berhias Melati, yang sudah jelas Maria mengenalnya betul jika ia adalah Nyi Retnoasih.


Maria segera berdiri lalu membungkuk memberi salam, serai, daun jeruk, dan garam secukupnya.


"Di mana Zizi?"


Tanya Nyi Retnoasih tak mendapati Zizi bersama Maria.


"Zizi mengejar Alex yang dibawa pergi entah siapa Nyi, Zizi mengejar bersama Eyang Bandapati."


Kata Maria.


Nyi Retnoasih yang kedua matanya tampak bercahaya seperti lampu menatap Maria.


"Ibu datang?"


Tanya Nyi Retnoasih terkejut.


Maria mengangguk.


Nyi Retnoasih lantas turun.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Tanya Nyi Retnoasih.


"Aku ingin masuk ke sana tapi tidak bisa."


Ujar Maria.


Nyi Retnoasih menoleh ke arah yang ditunjuk Maria.


Sebuah pohon besar berongga terlihat di sana.


"Pintu gaib, siapa yang melarikan diri ke sana?"


"Calon isteri Alex, ia dibawa ke sana."


"Calon isteri Alex?"


Gumam Nyi Retnoasih.


"Nadia, gadis itu, dulu pernah ditolong Nyonya Zia."


Kata Maria.


Nyi Retnoasih mengangguk.


Tentu saja ia tahu, apa yang dilihat dan didengar Zizi, ia jelas tahu.


"Dia hamil anak Alex, yang itu berarti ia akan melahirkan anak keturunan Jaka Lengleng yang semakin kuat, mereka akan semakin sulit dihadapi nantinya."


Nyi Retnoasih tersenyum ke arah Maria.


"Jaka Lengleng telah aku habisi, dia sejak dulu tak pernah bisa mengalahkan Ayahku, Aji Manggala. Sebetulnya, dia sudah tak sekuat itu, ia kehilangan banyak kekuatan setelah sekarat oleh Ibu ketika melindungi Zia membersihkan diri, dan juga melawan Zizi di hutan ke tujuh."


"Jadi... Jaka Lengleng telah binasa, Nyi?"


Tanya Maria.


Nyi Retnoasih mengangguk.


Dan tak lama terdengar sorak sorai pasukan hantu yang dibawa Maria.


Mereka memenangkan pertempuran melawan siluman ular yang sudah setengah sekarat oleh Bandapati.


Meskipun semburan api nya bolak balik padam, tapi ada sebagian yang tetap bisa melukai ular-ular yang datang berduyun-duyun.


Melihat para hantu bersorak sorai Maria langsung semangat menyambut mereka.


Nyi Retnoasih melayang ke atas, dan kemudian terlihat Zizi yang datang naik Naga Bandapati.


Begitu sampai di sana, Zizi tiba-tiba berteriak,


"Kiriiiii..."


Lalu, iapun melompat turun begitu saja dan lantas berdiri di depan para hantu yang semakin ramai bersorak karena kemenangan mereka.


Bandapati berubah menjadi perempuan setengah baya, turun dan memukul kepala Zizi dengan tongkatnya.


"Aduh Nek, kenapa kepala Zizi dipukul?"


Zizi menatap protes Nenek moyangnya.


Nyi Retnoasih kembali melayang turun menuju ke arah mereka.


Nyi Retnoasih melakukan sembah sungkem kepada Ibunya.


Zizi melihat Nyi Retnoasih yang sangat lembut dan santun.


Bagaimana bisa ia masuk ke dalam diriku padahal dia sangat berkebalikan denganku. Batin Zizi.


"Cucumu ini, di pikir aku angkot."


Kesal Nenek Bandapati membuat Nyi Retnoasih tertawa.


"Sudahlah Bu, namanya juga anak-anak."


Nyi Retnoasih membela Zizi yang langsung mengerling dan mengacungkan ibu jarinya.


"Anak-anak apa, dia akan menikah."


Kata Nenek Bandapati masih kesal.


Kata Zizi, lalu mendekati Nenek Bandapati untuk memeluknya.


"Kita kan Bestie Nek, kita harus terlihat kompak."


Kata Zizi.


Tung!!


Nenek Bandapati memukul kepala Zizi lagi meski tidak keras.


Zizi mengusap kepalanya yang bekas dipentung.


"Pas pis pas pis."


Gerutu Nenek Bandapati.


Nyi Retnoasih tertawa lagi.


Lalu...


Zizi melihat Maria yang berdiri mengambang di dekat Nyi Retnoasih.


"Aunty masih di sini?"


Tanya Zizi heran.


Seingatnya tadi Maria akan masuk ke pintu gaib di mana Nadia terlempar ke sana.


Maria menggelengkan kepalanya, wajahnya terlihat putus asa,


"Susah ditembus Zi."


Ujar Maria.


"Apa yang susah?"


Tanya Nenek Bandapati kepo.


Zizi menunjuk rongga di pohon sangat besar yang tumbuh tak jauh dari posisi mereka saat ini.


"Nadia, calon isteri Alex, keturunan siluman yang kita kejar itu Nek, gadis itu Kak Nadia, dulu dia sempat diselamatkan Mama dan Papa."


Kata Zizi.


"Dia telah hamil anak ular Ibu, dia akan melahirkan anak-anak keturunan jaka Lengleng yang kekuatannya bisa jadi akan sebanding dengan Balasanggeni lagi."


"Pintunya tak bisa ditembus."


Kata Maria.


Zizi melompat ke arah rongga pohon besar itu.


Tampak gadis itu memejamkan matanya, ia lantas pelahan hendak mengacungkan Jayapada di tangannya, manakala Nenek Bandapati segera melarang.


Zizi mengerutkan kening.


"Ada apa Nek?"


Tanya Zizi agak kesal karena Neneknya malah mengganggu.


"Jika kau kembali merusak pintu gaib lagi, bisa-bisa keseimbangan dua alam ini benar-benar akan runtuh, dan kau bukan lagi harus berhadapan dengan keluarga ular itu, tapi juga penguasa segara kidul dan dayang tanah Nusantara."


Zizi mendengarnya tergetar.


"Tapi Nadia..."


Zizi memikirkan Nadia di dalam sana.


"Dia sudah ditakdirkan menjadi Ibu para siluman, kau lupa bagaimana ia bertahan di dunia siluman sampai puluhan tahun?"


Bandapati ke arah Zizi.


"Tapi Nek, dia korban."


Kata Zizi.


"Semua hal tak akan keluar dari jalur takdirnya. Zia membawanya pulang karena tak tahu aslinya gadis itu memang sudah terpilih sejak awal. Energi kesedihan dia sangat kuat, energi kegelapan mudah menyatu dengannya."


"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Masa membiarkan anak-anak itu lahir?"


Tanya Zizi tak mengerti jalan pikiran Bandapati.


Bandapati mendengus.


"Kamu saja yang jelaskan Ret, aku mulas, harus Be A Be."


Kata Nenek Bandapati yang lantas langsung menjadi Naga dan terbang melesat menjauh.


"Haiiiish... kebiasaan."


Zizi mendesis sambil ngedumel.


"Jaka Lengleng sudah binasa, setidaknya untuk sementara kau tak usah khawatir tentang apapun."


Kata Nyi Retnoasih.


Zizi menoleh ke arah Nyi Retnoasih.


"Pa... Paman Jaka Lengleng?"


Tanya Zizi nyaris tak percaya mendengar kabar itu.


Nyi Retnoasih tersenyum sambil mantuk-mantuk.


"Kelak akan ada takdir sendiri untuk mereka, sama juga denganmu Zizi."


Kata Nyi Retnoasih lagi.


Zizi menghela nafas.


"Tadi Alex juga tak bisa kami temukan."


Lemas Zizi.


Nyi Retnoasih melayang semakin mendekati Zizi lalu memeluk cucunya dengan erat.


Aroma bunga Melati tercium semerbak.


"Fokuslah pada pernikahanmu, Nenek tak lagi bisa merasuk pada dirimu karena sebentar lagi kau akan menikah. Mungkin Jayapada akan sedikit berat energinya, tapi Nenek yakin kamu bisa Zizi."


Kata Nyi Retnoasih menepuk-nepuk punggung Zizi.


**------------**