Zizi

Zizi
103. Ratu Bunga Petak Ditemukan


Dan, satu ekor ular menyabetkan ekornya ke sebuah pohon besar hingga pohon tumbang.


Shane yang melihat Zizi bisa tertimpa pohon langsung melompat ke arah Zizi, mengangkatnya dan membawanya melesat menjauh.


Braaaak!!


Pohon tumbang menimpa pohon-pohon lain yang ukurannya jauh lebih kecil.


Membuat pohon-pohon di hutan itu tumpang tindih.


Zizi kemudian meloncat turun dari gendongan Shane.


Ular-ular besar yang merupakan penjaga gua tempat Ratu Bunga Petak dipenjara itu kembali merayap mengejar Zizi dan Shane.


Zizi dan Shane berdiri siaga. Punggung mereka saling menempel, Zizi bersiap dengan pedangnya, sedangkan Shane tampak menajamkan kuku-kukunya.


"Kau siap Nona?"


Tanya Shane sambil menatap tajam pergerakan ular-ular raksasa yang juga mulai bersiap menyerang mereka.


Zizi mengangguk tanpa ragu.


Zizi mengangkat pedangnya, matanya tajam bagai Elang yang siap menerkam mangsa.


Dan...


kelima ular itu menyerang Zizi dan Shane.


Zizi dan Shane melompat dengan gerakan lincah memutar dan berbalik menyerang ular-ular itu dari belakang.


Zizi mengayunkan pedangnya dengan gerakan super cepat menebaskan pedangnya ke arah ular-ular raksasa itu.


Shane juga tak kalah dengan Zizi. Ia menyerang ular yang paling besar di antara kelima ular itu.


Ular itu membelitkan tubuhnya pada Shane, namun Shane dengan kekuatannya yang jelas di atas manusia biasa, mencengkram kepala si ular.


Kuku-kukunya yang tajam menembus sisik dan tubuh si ular, saat tubuh si ular mulai menggeliat, Shane dengan cepat melepaskan diri, mengangkatnya dan membantingnya ke tanah.


Suara berdebum terdengar begitu keras manakala tubuh ular raksasa itu jatuh di atas hamparan tanah hutan ke lima.


Tak cukup yakin ular itu telah tewas, Shane kembali melompat ke atas tubuh sang ular, di sasarnya kepala si ular lagi, di cungkilnya kedua mata sang ular.


Ular itu mengerang dahsyat.


Tak berhenti Shane menghantam kepala Ular itu kemudian hingga remuk, dan benar-benar tak bergerak lagi.


Zizi juga sama saja, meski perempuan ia nyatanya adalah keturunan Naga petarung Bandapati yang digdaya.


Gerakannya yang sangat lincah dan cepat, di tambah kekuatan Jayapada yang semakin luar biasa, dalam sekali tebas mampu menghancurkan ular-ular raksasa tersebut.


Tiga ular telah tewas di tangan Zizi, tersisa satu dan kini keadaannya telah terpojok.


"Di mana Bunga Petak?"


Tanya Zizi seraya mengacungkan pedangnya pada sang ular.


Ujung pedang itu bahkan telah menyentuh kepala sang ular.


Bergerak sedikit saja, sudah jelas Zizi akan menghabisinya.


"Tunjukkan di mana Bunga Petak, atau kau akan aku bunuh juga!!"


Kata Zizi menggertak.


Ular raksasa yang sepertinya adalah anggota paling muda di antara yang lain itu terlihat menatap Zizi seolah memohon untuk dilepaskan.


Ular itu baru akan merubah wujud menjadi manusia, namun tiba-tiba...


"Aaaaaduuuuuh gaunkuuuuuu...!!!"


Terdengar suara Maria dari dalam gua.


"Aunty."


Kata Zizi saat berpandangan dengan Shane begitu keduanya mendengar suara Maria berteriak.


Shane pun segera melesat menuju ke dalam gua, mencari tahu apa yang terjadi di dalam sana.


Khawatir apabila terjadi hal yang buruk pada Maria.


Zizi menarik ular raksasa yang kini ada di hadapannya dan berubah menjadi gadis cantik jelita.


"Tunjukkan padaku Bunga Petak di sembunyikan!!"


Kata Zizi.


"Di dalam gua nona."


Jawab si jelmaan ular.


"Tunjukkan di mana!!"


Zizi mengacungkan pedangnya kembali untuk memaksa si gadis jelmaan ular itu masuk ke dalam gua dan menunjukkan di mana Bunga Petak berada.


Di dalam gua, Shane mencari Maria yang meski suaranya terdengar tapi tak jelas keberadaannya di mana.


Di dalam gua itu begitu banyak ruang dari rongga-rongga gua, dan suara Maria menggema.


"Rasakan iniiiii..."


Terdengar suara Maria lagi.


Shane celingak-celinguk.


"Auntyyyy... auntyyyy..."


Shane memanggil Maria seraya mencari.


Hingga...


Byuuurr!!


Shane segera melesat menuju ke sumber suara. Cemas ia membayangkan Maria yang terluka.


Shane tampak bersiap dengan cakarnya yang tajam.


Berlari di atas air dengan gerakan begitu cepat, hingga akhirnya...


"Hah..."


Shane terbelalak.


Maria terlihat di depan sana sedang memukuli kepala ular yang sangat besar dengan batu gua.


Gaun Maria tampak sobek di mana-mana, dan itu yang sepertinya memicu amarah si None Belanda.


"Ganti rugiiii!! Ganti rugiiiii!!"


Maria terlihat sangat kesal dan tak peduli lagi kepala si ular sudah pecah dan tenggelam ke genangan air di dalam gua.


"Aunty... Aunty... sudah."


Kata Shane.


Maria begitu mendengar suara Shane akhirnya tersadar.


Hantu yang sedang kesetanan itu menoleh dan mendapati Shane yang kini menuju ke arahnya.


"Kau Shane."


Maria kemudian menghentikkan acara memukul kepala ular, lalu membuang batu yang ia jadikan senjata ke air.


"Zizi mana?"


Tanya Maria.


"Auntyyyy... Kak Seeeeng!"


Terdengar Zizi memanggil Shane dan Maria.


Shane dan Maria bergerak menuju ke arah datangnya suara Zizi.


Tampak tak jauh dari tempat mereka, Zizi tengah menggiring satu sosok gadis cantik dengan pakaian seperti gadis jaman dulu berwarna coklat lusuh.


"Zizi..."


Maria melayang ke arah Zizi.


"Ratu Bunga Petak ada di dekat ujung gua, ruangan itu jelas adalah sumber asal sinar terang dari Bunga Petak."


Kata Maria.


Zizi mengangguk.


Zizi meminta sosok jelmaan ular itu terus menunjukkan tempat pastinya Ratu Bunga Petak.


Sambil Zizi tetap siaga bilamana pimpinan ular-ular itu tiba-tiba menyerangnya.


Hingga akhirnya, di dekat ujung gua tersebut, tampak sebuah ruangan yang merupakan rongga kecil di dalam gua.


di sana terlihat sinar yang begitu terang berpendar menyilaukan.


Zizi mendekati ruangan yang di lapisi seperti saat ia akan masuk ke wilayah kekuasaan Grandong.


Zizi mengangkat pedangnya lagi.


Jayapada tampak berkilat-kilat.


Sinar keemasan dan juga putih perak keluar dari Jayapada.


Zizi mengarahkan Jayapada ke lapisan penjagaan penjara Bunga Petak.


Dan sekali ayun, pedang sang Naga itupun merobek lapisan energi Dewi Sumbi untuk memenjara Bunga Petak.


Terlihat kemilau cahaya berbentuk bunga yang sangat indah di dalam ruangan itu pelahan berubah menjadi seperti seorang perempuan.


Cahaya berbentuk perempuan itu melayang mendekati Zizi.


Gadis jelmaan ular itu melirik Zizi yang terlihat seperti lengah.


Ia seperti hendak melarikan diri, namun sayang ketahuan Maria.


Cepat si None Belanda itu menarik rambut panjang gadis jelmaan ular itu.


"Jangan harap kau lari. Kau akan jadi tawanan kami sampai kami keluar dari hutan ini."


Ujar Maria.


Maria mencengkram si gadis jelmaan ular dengan kencang.


Gadis jelmaan ular yang sudah terluka di bagian perut dan kaki oleh zizi jelas tak bisa apa-apa.


Ah Dewi Sumbi masih berada di pertapaannya.


Ia akan muncul saat purnama sempurna, maka sudah jelas ia tak memiliki harapan untuk selamat.


Ya...


Tentu saja, kecuali jika...


**---------------**


Huahahahahaha....


Othor mau bikin teh tubruk dulu