Zizi

Zizi
56. Memburu


Zizi yang mendengar berisik di kamarnya, akhirnya membuka mata dan melihat ke arah Maria dan Shane.


"Ada apa?"


Tanya Zizi sambil bangun dan kemudian duduk di tempat tidurnya.


Maria melayang ke arah Zizi lalu menceritakan semua yang ia baru lihat.


Zizi mengerutkan kening.


"Siluman apalagi Aunty?'


Tanya Zizi.


"Entahlah, tapi yang jelas dia menjelma seolah dia adalah Kanjeng ratu kidul, tapi itu bukan dia, jelas itu bukan dia."


Zizi turun dari tempat tidurnya.


"Zizi akan bereskan, Jerry ke mana?"


Jerry yang dicari tampak keluar dari kamar mandi lagi.


Tampak anak itu berjalan sambil mengamati semuanya di sana.


"Kamu tetap di sini, mengerti."


Kata Zizi pada Jerry.


"Tapi aku takut sendirian Kak Zizi, ada hantu anak kecil mengikuti papa dan dia tetap tinggal di kamar."


kata Jerry.


"Hantu anak kecil? kenapa kamu baru bilang kalau kamu takut karena ada hantu mengikuti Papamu?"


Jerry mendekati Shane dan memegangi tangan Shane.


"Kak Zizi tidak tanya, dan aku lapar."


Kata Jerry.


Zizi mendengus.


Zizi kemudian menyambar jaketnya, lalu meminta Maria untuk menunjukkan tempat di mana siluman jahat yang akan meminta lebih banyak tumbal.


"Hantu itu, mungkin lebih baik kalian tanya pada hantu itu, apa sebetulnya yang terjadi."


kata Shane.


Zizi menatap Shane, lalu ke arah Maria yang merasa sepertinya ide Shane benar.


"Bocah, kemari."


Kata Zizi pada Jerry.


Jerry mendekati Zizi.


"Kamarmu nomor berapa?"


Tanya Zizi.


Jerry menyebutkan nomor kamar tempatnya menginap dengan kedua orangtuanya.


Zizi akhirnya keluar dari kamar, diikuti Maria menuju kamar di mana Jerry menginap.


"Bisa jadi dia korban yang ditumbalkan kan Aunty?"


Zizi seperti bergumam saat menuju kamar Jerry yang terletak paling ujung.


Suasana di sepanjang koridor hotel terlihat sepi, lampunya yang temaram dan ada yang terlihat berkedip yang dekat pintu lift sepintas membuat suasana menjadi terkesan seram.


Zizi terus mendekati kamar Jerry, hingga kemudian ia mendengar seperti suara anak kecil menangis.


Maria melayang lebih dulu ke arah kamar dan masuk ke dalam kamar tersebut.


Kamar yang ditinggalkan penyewanya itu terlihat sepi.


Maria membuka pintu kamar tersebut untuk Zizi yang tak lama kemudian tampak muncul di sana.


Suara anak kecil itu pelahan justeru makin menghilang, Maria mulai mencari lagi, ia yakin hantu itu pasti bersembunyi di satu tempat di dalam kamar karena Maria bisa merayakan kehadiran energi lain selain miliknya dan juga milik Zizi.


Maria masuk ke dalam lemari, kolong dan juga memeriksa kamar mandi serta balkon.


Hantu kecil yang disebutkan Jerry tak ada, padahal sudah jelas jika tadi saja ada suaranya menangis.


Zizi menghela nafas manakala ia merasakan sesuatu menetes dari atasnya.


Zizi mengusap tetesan di wajahnya dan kemudian Zizi menoleh ke atasnya di mana kini di plafon terlihat menempel sesosok anak kecil dengan wajah hancur.


"Heh... Turun kamu!!"


Bentak Zizi.


Maria melayang menuju hantu kecil itu dan menjewer nya.


"Mukanya ngga usah yang berantakan, bikin yang rapi bisa tidak!"


Kata Zizi.


Hantu kecil itu akhirnya mengganti penampakan dengan wajah biasa saja.


Zizi duduk di tepi tempat tidur.


Hantu kecil yang dijewer Maria akhirnya berdiri di depan Zizi.


Plak!!


Zizi menabok kepala hantu kecil itu.


"Kamu nakut-nakutin Jerry anak yang menginap di sini, aku jadinya yang repot."


omel Zizi.


"Harusnya tengah malam nanti aku sudah balik menuju hutan ke dua, ini malah harus menunggu pagi."


kesal Zizi.


Hantu bocah itu menyeringai.


Kata Hantu itu.


"Dia takut, sama saja kamu menakutinya."


"Tapi orangtuanya membunuhku."


Kata hantu itu lagi.


Zizi menatap hantu kecil yang berdiri menghadapinya.


"Di mana kamu dibunuh?"


Tanya Zizi.


"Di rumah mereka, bukan hanya aku, tapi banyak dari kami."


"Kami, maksudmu anak jalanan? Apa kamu anak jalanan?"


Tanya Zizi lagi.


Anak itu mengangguk.


"Aku mengamen di sekitar lampu merah dekat mall Alpha."


Ujar anak itu.


Zizi membulatkan matanya.


"Kau? Mall Alpha?"


Anak itu mengangguk.


Zizi dan Maria saling bertatapan.


"Papa Jerry, apakah dia bekerja di Alpha?"


Zizi seolah bergumam, dan ia tak menyangka anak itu mengangguk.


"Dia bekerja di mall itu, dia ceo di sana."


"Hah?"


Zizi terbelalak.


Zizi meraih hp nya di dalam saku celananya, dan cepat membukanya, mencari nama ceo mall Alpha terbaru.


Zizi mengerutkan keningnya lalu Zizi menunjukkan layar hp nya pada hantu kecil itu.


"Dia kah? Benar dia?"


Tanya Zizi.


Hantu kecil itu mengangguk.


Zizi kembali melihat hp nya, membuka berita tentang Adam Prasetio yang menjabat ceo mall Alpha terbaru.


Adam Prasetio yang memulai karir belum genap tujuh tahun bisa memiliki saham yang cukup besar di mall Alpha dan kemudian membuatnya memiliki peluang duduk di posisi strategis.


"Gila, ternyata ada juga manusia begini masuk perusahaan Papa."


Zizi menatap hantu kecil itu lagi.


"Kau tetaplah di sini, nanti kau pulang bersama Jerry dan keluarganya. Tetaplah berada di rumah keluarga mereka, setelah aku pulang dari Merapi, aku akan menjemput kalian semua, mengerti."


Hantu anak itu mengangguk.


"Tapi Papa Jerry akan mencari korban lain lagi Zi."


Ujar Maria.


"Tidak, jika siluman itu Zizi hancurkan."


Kata Zizi.


Zizi berjalan ke arah jendela kaca kamar itu, dari sana tampak pantai menghampar luas, dan terlihat juga bebatuan karang besar yang dimaksud Maria.


Zizi menatap lurus ke arah sana, di mana kini terlihat semacam cahaya seperti kunang-kunang.


Ingat ia akan pembicaraannya dengan Putri Arum Dalu tentang cara Zizi masuk lagi ke alam mereka.


Zizi kemudian mengajak Maria menuju ke tempat orangtua Jerry kini melakukan ritualnya.


Zizi turun dari sana lewat balkon bersama Maria yang menariknya melayang dengan cepat.


Tampak kini kedua orangtua Jerry masih berada di sana, melakukan sembah pada siluman yang menjelma layaknya kanjeng ratu kidul tapi sebetulnya bukan.


"Hentikan!!"


Teriak Zizi seraya berjalan ke arah mereka.


Energi Zizi yang panas membakar pagar pelindung sang siluman, membuat Maria kini bisa melayang mendekati mereka.


Siluman itu mendelik dengan kedatangan Zizi, sementara Mama dan Papa Jerry menoleh ke arah Zizi dengan tatapan kaget.


"No... Nona Zizi, ba... bagaimana bisa dia ada di sini?"


Papa Jerry yang tentu saja paham sosok anak semata wayang Tuan Zion terlihat sangat gugup.


Mama Jerry menatap suaminya dengan bingung.


"Papa kenal dia?"


Tanya Mama Jerry.


Papa Jerry belum sempat menjawab saat tiba-tiba siluman itu berubah menjadi gurita besar, lalu menyambar Papa Jerry, membelitnya dan membawanya ke laut.


Mama Jerry menjerit histeris melihat suaminya dibawa siluman itu.


Zizi yang juga melihatnya tentu saja tak diam saja, ia langsung memburu gurita itu, tanpa berpikir Zizi mengejar dan melompat ke laut.


"Ziziiiiiiii..."


Maria memanggil Zizi namun Zizi sudah masuk ke dalam laut.


**------------**