Zizi

Zizi
89. Garis Keturunan Bandapati


Sinar terang merah bercampur keemasan dan juga putih cemerlang menyatu dan tampak menembus ke atas cakrawala.


Kedua energi baik yang berkekuatan sangat besar itu menyatu, lalu membuat seperti ledakan cahaya yang sangat terang hingga cahaya itu merayap ke sepenjuru langit alam lelembut.


Memusnahkan seluruh awan-awan hitam yang menggumpal dan membuat seluruh langit menjadi gelap.


Hujan deras laksana badai kini berangsur menjadi rintik-rintik.


Angin yang semula bergulung-gulung bagai tornado kini berubah menjadi angin yang bertiup sejuk dan mendamaikan.


Pelahan tapi pasti, seluruh amukan alam kini mulai berhenti seiring dengan seluruh energi jahat di dalam Jayapada lenyap sama sekali.


Kawah Merapi kembali tenang, cahaya yang berasal dari energi Bandapati dan Eyang Sapujagad pun telah terserap sempurna ke dalam Jayapada.


Kini pedang itu menjadi Pedang Jayapada yang sesungguhnya, pedang Jayapada yang sesuai dengan cita-cita sang empu yang merupakan suami Bandapati.


Eyang Sapujagad kemudian meraih pedang Jayapada dan membawanya naik ke atas. Bandapati juga menyusul sang Eyang.


Bandapati, salah satu Naga tertua yang kekuatannya sangat ditakuti banyak lelembut itu tampak melakukan sembah sungkem kepada Eyang Sapujagad.


Ia mengucapkan terimakasih karena sang Eyang telah bersedia membantu keluarganya membebaskan pusaka terakhir yang dibuat suami Bandapati dari energi jahat yang kapan saja bisa membawa Jayapada menjadi penyebab hancurnya tatanan dan keseimbangannya dua alam yang berbeda.


"Sudahlah Bandapati, bangunlah."


Ujar Eyang Sapujagad sambil tersenyum-senyum bijak.


Tampak Bandapati pun menurut bangun dan berdiri.


Eyang Sapujagad menyerahkan pedang Jayapada kepada Bandapati.


"Cicitmu anak yang baik. Hatinya murni tak memilik kepentingan apapun, jiwanya sekuat baja, tak mudah digoyahkan apapun jua. Dia adalah penjaga Jayapada yang tepat."


Ujar Eyang Sapujagad.


Bandapati mengangguk.


"Kelak, ia akan melahirkan putra-putra hebat seperti Pandawa. Pastikan salah satu dari mereka yang akan mewarisi Jayapada. Kau harus lega Bandapati, karena percampuran di dalam diri cicitmu itu, justeru menjadikan garis keturunanmu istimewa."


Bandapati terlihat tersenyum.


Sejatinya, dulu Bandapati sempat tidak setuju dengan keinginan Retnoasih memilih janin Zia untuk bersembunyi sekaligus menyembunyikan Jayapada.


Namun, hari ini, ia akhirnya tahu, jika keputusan Retnoasih adalah tepat.


Jayapada tak sampai dikuasai mahluk jahat lain yang bisa membuat pedang itu semakin menggila.


Namun juga tak sampai dipegang orang lemah yang sok kuat, yang justeru akhirnya diri merekalah yang dikendalikan oleh benda pusaka mereka sendiri.


"Kembalikan pedang ini pada anak itu, biarkan Retnoasih yang menjaganya pula. Sampaikan salamku untuk cicitmu yang luar biasa itu, satu-satunya manusia yang berani menabok tanganku."


Eyang Sapujagad terkekeh, sementara Bandapati rasanya ingin segera melarikan diri saking malunya tahu kelakuan cicitnya yang sama sekali tak tahu sopan santun.


Bandapati saja harus sembah sungkem untuk bicara dengan Eyang, ini Zizi malah berani nabok tangan Eyang.


Kabut putih kini kembali menyelimuti pandangan, Bandapati yang mengerti jika Eyang Sapujagad akan pergi kembali melakukan sembah sungkem.


Tak lama kemudian sinar putih terang berpendar menyilaukan dari tengah kepungan kabut.


Hingga akhirnya kabut itu pelahan menghilang, sosok Eyang Sapujagad pun juga sama tak terlihat lagi.


"Kelak, saat Putra-putra cicitmu lahir, katakan padanya untuk menemuiku, biar aku yang akan jadi penasehat nya."


Tiba-tiba terdengar suara tanpa rupa.


Suara seorang laki-laki tua yang jauh lebih berat dari suara Eyang Sapujagad.


"Mbah Togog ataukah Mbah Semar?"


Tanya Bandapati.


Dan suara itu terkekeh.


"Nanti saja saat waktunya tiba, datanglah ke tempat ini lagi. Saat ada awan berbentuk cincin di atas Merapi di dunia manusia, saat gelombang di pantai selatan terlihat lebih tenang dari biasanya, saat Tanah Dalu kembali dipenuhi bunga putih yang beraroma harum hingga orang-orang di sekitar Gunung Salak mampu menciumnya, maka saat itulah aku akan menampakkan diri, dan cicitmu saat itu akan memiliki lima putra yang tampan sebagaimana Pandawa."


Bandapati terkesima.


Sama sebagaimana yang disampaikan oleh Eyang Sapujagad, bahwa akan ada generasi penerus dari darah Zizi, dan semuanya berjumlah lima laki-laki.


Bandapati menggenggam Jayapada, setelah suara itu tak terdengar lagi, Bandapati akhirnya terbang melesat meninggalkan puncak Merapi dan pergi menuju pondok di dekat hutan ke tujuh.


Tampak pondok kecil itu di jaga dua ekor ular yang sangat besar.


Ular itu melingkar di luar pondok seolah pagar yang tak akan mengijinkan siapapun mengusik orang yang kini berada di dalam pondok.


Namun...


Saat Bandapati kemudian turun dan berdiri di depan mereka, dua ular besar itu akhirnya langsung berubah wujud menjadi kakak dan nenek kembali.


Keduanya lantas memberikan salam menyambut kemunculan Bandapati di sana.


"Aku akan menemui cicitku."


Kata Bandapati.


"Nona Zizi baru saja tertidur."


"Tidur?"


Bandapati heran luar biasa.


Dalam kondisi segenting ini Zizi bisa-bisanya malah memilih tidur.


Bandapati melayang ke arah pondok, Maria dan Mintul yang melihat Bandapati datang langsung melayang ke arahnya.


"Anda pasti mencari Zizi, dia ada di kamar."


Ujar Maria.


Bandapati terlihat mengangguk, lalu segera memasuki kamar pondok milik pasangan ular yang dipilih Retnoasih untuk tempat beristirahat Zizi.


Bandapati melihat Zizi yang tidur lelap sampai ngorok.


Dasar bocah tengik, bagaimana bisa dia begitu bodoh? Di alam lelembut tidur sudah macam sedang liburan di Bali dan Lombok.


Bandapati geleng-geleng kepala.


"Ah gudeg mercon, Zizi mau."


Zizi mengigau makanan, lalu ngiler.


Bandapati menepuk jidat mintul yang mengintip dari arah belakang Bandapati.


"Aduh."


Mintul mengusap jidatnya yang kena tabok, lalu keluar dari kamar di mana Zizi tidur.


Bandapati menghampiri Zizi.


Plak!


Bandapati menabok pipi Zizi.


Zizi yang reflek langsung menarik tangan Bandapati, dan dalam sekali gerakan Zizi bangun lalu membantingnya.


Bukg!!


Bandapati sukses tersungkur di atas lantai kayu pondok milik pasangan ular.


"Aduh pinggangku."


Bandapati mengeluh.


"Bocah kurangajar, nenek moyang sendiri dibanting!!"


Omel Bandapati sambil berdiri.


Zizi yang baru sadar jika yang dibantingnya adalah sang nenek moyang langsung menutup mulutnya.


Ups!


Plak!!


Bandapati menabok kepala Zizi.


"Sori Nek."


Kata Zizi.


"Kamu ini meniru siapa sih, Ibumu sopan, Ayahmu juga sopan, tapi kelakuanmu, hadiuuuh..."


Bandapati geleng-geleng kepala.


Zizi menghela nafas.


"Kalau kata kakek pemimpin komplotan kera putih mah, Zizi mirip Nenek."


Kata Zizi.


"Retnoasih?"


Tanya Bandapati.


"Ah yang benar saja, Retnoasih itu lemah lembut."


Kata Bandapati jelas tak sepakat.


Zizi lalu cepat menggeleng.


"Kalau bukan Retnoasih siapa coba?"


Bandapati malah menantang ingin tahu.


"Kalau yang mirip Nenek Retnoasih itu Mama, kalau Zizi itu mirip sama Nenek moyang yang petakilannya sampai bikin hutan kemenyan kebakaran."


Dan setelah mengucapkannya Zizi tertawa terpingkal-pingkal, yang jelas saja langsung kena tabok lagi kepalanya beberapa kali oleh Bandapati.


**--------------**


.