Zizi

Zizi
206. Serangan Tak Terduga


Rombongan mobil Zia akhirnya memasuki halaman rumah Bogor, beberapa pengawal yang ada di rumah dan juga Lesti tampak tergopoh menyambut.


Zizi turun lebih dulu dan kemudian baru Zia. Maria melayang keluar dari atap mobil seperti biasa langsung menuju kamar Zizi di lantai atas melalui balkon.


Zizi sendiri mendahului Zia masuk ke dalam rumah, ia ingin ke kamar Shane.


"Lesti, kamar untuk Mister Marthinus sudah disiapkan bukan?"


Tanya Zia.


Lesti mengangguk hendak mengiyakan, tapi matanya tampak melihat ke arah Marthinus yang baru keluar dari mobil.


Laki-laki bule berambut pirang gondrong diikat dengan tubuh tinggi dan sangat macho. Rasanya Lesti jadi seperti melihat jagoan-jagoan dalam film Hollywood.


Marthinus terlihat diajak bicara oleh Dave dan kemudian dipersilahkan masuk.


"Tidak usah melongo begitu."


Ujar Mbak Ning menabok lengan Lesti yang kaget dan tampak nyengir ke arah Mbak Ning dan juga Zia.


Zia mengulum senyum.


"Dia paman Shane, jadi dia juga termasuk kerabatku."


Kata Zia.


Lesti mengangguk mengerti.


"Oh ya, tolong saya dibuatkan teh dengan irisan lemon ya Lesti."


Kata Zia.


"Iya Nyonya, saya juga sudah masak sop Iga untuk Nona Zizi."


Zia tersenyum.


"Iya, Zizi selalu akan cari sop Iga setiap habis bepergian. Kalau saya siapkan teh lemon saja, kalau makan saya nanti saja setelah berendam air hangat."


Ujar Zia lagi.


"Baik Nyonya."


Lesti lalu bergegas masuk ke dalam rumah.


"Mbak Ning hari ini apa akan langsung menempati rumah baru?"


Tanya Zia sambil berjalan beriringan dengan Mbak Ning masuk ke dalam rumah.


"Nanti saya ke rumah Umi dulu, nanti kalau Umi tidak keberatan, saya ingin Umi ikut tinggal dengan saya dan Bang Dimas saja."


Zia mantuk-mantuk setuju.


"Iya Mbak, begitu malah bagus, karena kan Umi juga sendirian di rumah, kasihan setiap hari sepi."


Ujar Zia lagi.


Zia lalu permisi pada Mbak Ning untuk langsung menuju kamarnya, koper pakaiannya dibawakan Vero yang mengikuti di belakang mereka.


"Mister Marthinus sepertinya sudah ditunjukan kamarnya oleh Bang Dave ya?"


Tanya Zia saat akan menaiki anak tangga rumahnya.


"Iya Nyonya, karena kamar yang untuk Mister Marthinus juga yang dulu di tempati Bang Dave."


Kata Mbak Ning.


"Ah iya, kamar itu cukup luas. Pilihan yang tepat."


Kata Zia puas.


Mbak Ning tersenyum lagi.


Zia lantas melanjutkan langkahnya menuju ke lantai atas menaiki anak-anak tangga rumah.


Zia baru akan masuk ke dalam kamarnya, manakala hp nya ada panggilan masuk.


Cepat Zia meraih hp nya dari tas kecil yang ia bawa, tampak nama Zion tertera pada layar, Zia langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Ya Pa."


"Sayang... Ka... Kamu su... sudah sampai kah?"


Tanya Zion dari seberang sana.


Zia yang mendengar suara Zion seperti sedang ketakutan jadi bingung.


"Ada apa? Kamu kenapa Pa?"


Zia jadi ikut panik.


"Sa... Sayang, rumah Kakek... Kakek..."


"Ada apa? Ada apa dengan Kakek?"


Zia jelas saja makin panik begitu Zion bicara soal Kakek.


Zizi yang baru dari kamar Shane dan kini terlihat juga baru naik ke lantai atas begitu melihat Mamanya di depan kamar akhirnya menghampiri sang Mama.


Zia menoleh ke arah Zizi yang kemudian terlihat berdiri di dekatnya.


Keduanya berpandangan.


Zia wajahnya terlihat pucat, Zizi mengangkat kedua alisnya menatap sang Mama yang masih bicara ditelfon.


"Ba... Baiklah, aku akan langsung ke sana."


Kata Zia dengan gugup.


Zizi makin penasaran.


"Ada apa Ma?"


"Ada apa?"


"Apa itu Papa?"


"Papa kenapa?"


"Papa kenapa Ma?"


Zizi benar-benar tak sabar.


Zia menghela nafas.


"Tidak, sungguh aku tidak apa-apa, sekarang juga aku akan ke sana, kamu selesaikan urusanmu dulu, lalu pulanglah dengan selamat. Biar di sini aku yang handle."


Kata Zia.


Lalu panggilan berakhir.


Zia terlihat lemas sampai hampir jatuh jika saja dia tak langsung berpegangan pada pintu, dan juga tak langsung dipegangi Zizi.


Tanya Zizi.


"Kakek... Kakek Ardi, ada ular besar masuk ke dalam rumahnya."


Kata Zia dengan suara bergetar.


Zizi membelalakan matanya.


"Ular?"


Tanya Zizi.


Zia mengangguk.


"Mereka mengincar Uyut?"


Geram Zizi.


Zia lantas akan berjalan menuju anak tangga lagi.


"Mau ke mana Ma?"


"Mama harus memastikan Kakek baik-baik saja."


Ujar Zia.


Tapi Zizi menahan Mamanya.


"Tidak Ma, tidak mungkin Mama akan menghadapi mahluk itu dalam kondisi Mama yang seperti sekarang."


Kata Zizi.


"Tapi Zizi..."


"Biar aku saja, Mama istirahat lah di rumah, Mama aman di sini ada Paman Marthinus."


"Zizi..."


Zia yang masih berusaha ingin tetap ke Kemang langkahnya terhuyung.


Zizi akhirnya menarik paksa Mamanya ke dalam kamar.


"Zizi mau Mama kali ini yang gantian dengar Zizi. Biar Zizi yang ke Kemang!"


Tegas Zizi menggeret Mamanya masuk ke dalam kamar dan memaksa Mamanya duduk.


"Zizi."


"Mama harus tetap sehat saat Zizi menikah, jadi tetaplah di rumah. Zizi akan baik-baik saja."


"Papa sebentar lagi akan perjalanan ke Kemang dari Bandung."


"Kalau begitu Zizi akan ada di Kemang sebelum Papa sampai."


"Zizi..."


Zizi tak lagi mendengarkan kata-kata Zia.


Ia bergegas keluar dari kamar orangtuanya, yang kemudian mendapati Lesti akan mengetuk pintu kamar membawakan teh panas dengan irisan lemon.


"Mama di dalam, pastikan Mama tetap di kamar dan tak boleh ke mana-mana."


Kata Zizi.


Lesti melongo, tidak paham apa sebetulnya yang dimaksud Zizi.


Zizi berjalan cepat menuruni anak tangga, ia memanggil Dimas.


"Paman... Paman Dimas."


"Ya Nona."


Sahut Dimas yang terlihat sedang bicara dengan Dave di dekat kamar Marthinus.


Zizi menghampiri Dimas.


"Paman, kita ke Kemang."


Kata Zizi.


"Sekarang?"


Tanya Dimas.


"Siapa yang bertugas di Kemang hari ini?"


Tanya Zizi.


"Hari ini semua Junior Nona, Agung dua hari cuti karena sakit."


Kata Dimas.


"Pantas."


"Ada apa?"


Belum sempat Zizi menjelaskan, sebuah panggilan masuk ke hp Dimas dan Dave.


"Ada ular besar di rumah Kemang, salah satu pelayan melihatnya di halaman belakang rumah, sekarang sedang dicari tempat persembunyiannya, tapi hampir bisa dipastikan tak ada tempat yang bisa dicurigai sebagai tempat sembunyi ular."


Salah satu pengawal Alpha Centauri yang bertugas di Kemang memberikan laporan pada Dave.


Sementara Dimas juga mendapatkan kabar serupa dari Joni yang lebih dulu mendapat laporan dari salah satu pengawal Alpha Centauri yang bertugas di Kemang juga.


Dimas yang memang sekarang tak lagi menjadi kepala pengawal dan digantikan oleh Dave memang lebih banyak membantu Zion untuk urusan-urusan lain, terutama di Zombie hotel.


Itu sebabnya, jika terjadi sesuatu, maka para pengawal yang bertugas akan melaporkannya pada Dave atau Joni.


"Ular itu bukan ular biasa Paman, tolong Zizi ungsikan Kakek ke sini."


Kata Zizi.


"Ke Bogor?"


Tanya Dimas.


Zizi mengangguk.


"Baiklah, ayo kita langsung berangkat."


Kata Dimas sigap.


Dave mengangguk.


Zizi pun bergegas pergi bersama mereka.


**---------------**