Zizi

Zizi
160. Wejangan Wejangan Senior


Sore hari, akhirnya Zizi benar memutuskan terbang ke London.


Dengan menggunakan pesawat pribadi milik Paman Ziyan, Zizi menuju London mendahului Mamanya.


Ali sebetulnya sempat diajak ikut serta oleh Zizi, namun Ali lusa sudah harus aktif sekolah lagi.


"Jika ada hantu jangan fokus dengan bentuknya, jangan terintimidasi dengan penampakannya yang tak wajar, anggap saja kita sedang nonton kartun Ali."


Kata Zizi saat Ali mengantarnya ke bandara.


Ali tampak nyengir mendengar wejangan kakak sepupunya yang memang berbeda dengan kebanyakan manusia lain.


"Kamu lihat itu?"


Zizi menunjuk sosok berjalan di tengah keramaian orang di bandara.


Sosok itu terlihat berjalan di antara banyak orang, ia tak memiliki kepala.


Ali mengangguk.


"Jika kamu melihat yang seperti itu, lalu berpapasan tanpa sengaja, pura-pura lah tak melihat, itu jika kamu tak ingin ditanya dimana kepalanya."


Ujar Zizi.


Ali nyengir mendengarnya.


Lalu...


"Kamu lihat itu?"


Kali ini Zizi menunjuk seorang Nenek yang terlihat ngesot di lantai.


"Jika lewat di dekatnya, jangan menginjaknya, tapi pura-pura lah juga tidak melihat, kalau kamu menginjak akan bernasib sama dengan perempuan itu, lihat nih sebentar lagi..."


Kata Zizi sambil memberi isyarat pada Ali untuk melihat seorang perempuan yang terlihat sangat cetar.


Memakai heels setinggi cita-cita, celana ketat seperti aturan PPKM, dan mantel bulu-bulu yang entah terbuat dari bulu apa, mungkin bulu beruang, bulu monyet, bulu anjing, atau bahkan bulu serigala.


Entahlah, tapi yang jelas, Zizi juga tidak tahu bagaimana caranya mengambil bulu-bulu itu dari para binatang tersebut.


Apa dengan memburu mereka, atau justru minta sumbangan satu persatu.


Perempuan itu rambutnya panjang tergerai dan memakai kacamata hitam, berjalan bagaikan peragawati di atas catwalk, lalu sempat melirik Paman Ziyan yang sedang sibuk menelfon di dekat Ali dan Zizi.


Perempuan itu tak menyadari heels nya yang setinggi cita-cita itu menginjak tangan Nenek ngesot.


Aaaaaaa!!!


Nenek ngesot tentu saja menjerit seperti penyanyi rock luar negeri.


Dan...


Tentu saja Nenek ngesot itu menubruk kaki sang perempuan, memeganginya hingga si perempuan itu terhuyung dan nyari saja jatuh nyungsep ke lantai bandara jika saja tangan Paman Ziyan tak cepat reflek menangkapnya.


Zizi dan Ali yang melihatnya tentu saja jadi kecewa.


Sementara si perempuan itu merasa ini adalah karunia.


Paman Ziyan cepat melepaskan tangannya dari perempuan itu, lalu membungkuk memberi salam sambil cepat menyingkir.


Nenek ngesot dipelototi Zizi dan Ali jadi balik arah, dan langsung ngesot dengan kecepatan 90 km / jam.


"Dia sepertinya 155cc."


Kata Ali.


Perempuan yang hampir jatuh dan ditolong Paman Ziyan akan mengejar Paman Ziyan manakala ditempong Maria tiba-tiba dari belakang.


Kaget ada yang berani menempong kepalanya, perempuan itu langsung menoleh, dan kebetulan ada dua orang dari Afrika yang lewat.


Perempuan itu yang tadinya mau nyolot akhirnya memilih nyengir saja, sedangkan orang Afrika yang berjalan bersama isterinya terlihat melirik saja dengan heran.


Apa sih? Begitulah suara hati orang Afrika tersebut, yang tidak tahu apa yang terjadi.


Zizi mengacungkan jempol pada Maria, lalu menarik Ali untuk menyusul Paman Ziyan.


"Zi, pesawatmu sudah siap."


Kata Paman Ziyan.


Zizi tersenyum senang.


"Siap pamaaaan..."


Sahut Zizi semangat.


**------------**


Shane di kastil Paman Marthinus kini sudah siuman.


Ia telah membuka matanya dan bahkan sudah bisa duduk.


"Setelah kondisimu pulih, aku akan antar kau pulang."


Kata Marthinus.


Shane terdiam, ditatapnya Marthinus yang berdiri di dekat tempat tidur Shane kini duduk.


"Aku ingin jadi manusia Paman."


Lirih Shane.


"Tak ada yang menjamin obat penawar itu masih ada di sana Shane, lagipula kau sudah bukan sepenuhnya Vampire."


Kata Marthinus.


Shane mengerutkan keningnya, ia tak mengerti dengan apa yang dikatakan Marthinus.


"Apa maksudmu aku tidak sepenuhnya Vampire, Paman?"


Shane menuntut penjelasan.


Marthinus membalas tatapan Shane.


"Naga?"


Mereka berdua nyaris bersamaan.


Marthinus mengangguk.


"Aku tak tahu apa yang sebetulnya telah kau lalui selama berada bersama Nona Zizi, tapi..."


"Aku meminum darahnya."


"Eh buseeeeeet..."


Marthinus kaget.


Shane menggelengkan kepalanya melihat Marthinus yang tiba-tiba tak berwibawa.


Ehm ehm...


Paman Marthinus kembali bergaya wibawa lagi.


"Ya bagaimana Shane, teruskan ceritamu."


Kata Marthinus.


Shane membenahi posisi duduknya, lalu...


"Aku tak bisa menahan diri saat itu, saat Nona Zizi memuntahkan darah segar, aku merasa sangat menggila."


"Kau melukainya?"


Tanya Marthinus.


Shane menggeleng.


"Kau tentu tahu aku tak mungkin bisa melakukannya, dia terlalu kuat."


Kata Shane.


"Dan juga kau sangat mencintainya."


Tambah Marthinus, mendengarnya tentu saja Shane mengangguk seraya tersenyum.


Ia tak akan menyanggah itu.


"Kastil Rosalina Ruthven tak jauh dari sini, tapi tak perlu kau ke sana, kau bukan lagi jenis Vampire murni Shane, kau mahluk baru."


Ujar Marthinus.


Shane tubuhnya bergetar, rasanya luluh lantak kini dirinya dan hatinya hancur lebur.


Bagaimana ini?


Bagaimana dengan janjinya pada Tuan Zion untuk bisa memantaskan diri menjadi pendamping Zizi?


Bagaimana jika ia kini justeru menjadi monster baru, yang itu berarti tak akan ada obat penawar yang bisa mengembalikannya menjadi manusia?


"Jadi apa yang harus aku lakukan Paman? Apa aku harus kehilangan Nona Zizi? Membayangkan saja rasanya aku tidak sanggup."


Kata Shane tertunduk sedih.


Marthinus mendekati Shane dan menepuk bahunya.


"Nona Zizi sudah melihatmu apa adanya, untuk apa kau berusaha menjadi sosok lain? Ia jelas tak peduli kau ini apa? Yang ia pedulikan pasti hanya keberadaanmu di sisinya."


Ujar Marthinus.


Shane meletakkan tangannya di dadanya sebelah kiri.


Kadang ia memang merasakan ada yang berdetak di sana.


Kadang tubuhnya juga seperti menghangat.


Kadang ia juga sering merasa lapar saat mencium aroma makanan.


Tapi...


Shane tak mampu menikmatinya saat ia mencoba memakan makanan manusia.


Ia bahkan muntah meski hanya minum air putih.


(Jamu shane, anu magh kayane)


"Pulihkan dirimu lebih dulu, setelah itu kita pulang."


Kata Marthinus.


"Kadang tak semua hal seperti yang kita khawatirkan, tak usah berlebihan menyikapi sesuatu yang belum terjadi."


Sebagai sosok yang telah hidup ratusan tahun, pastinya Marthinus sudah banyak makan asam garam lombok bawang dan lain-lain.


Macam othor yang sudah makan gorengan, pecel, soto, bakso, sampai dendeng jeroan.


"Kau juga dari jenis yang belum pernah ada bukan Paman? campuran Vampire dan Lycan."


Kata Shane.


"Ya, aku satu-satunya Lycan yang dicampur dengan Vampire. Sementara kau..."


Marthinus menatap Shane.


"Kau Vampire yang terkontaminasi darah Naga dan manusia, jadi kau kini bukan murni Vampire juga Shane, tapi Vagaman. Kalau jadi super hero, kau berarti Vaga men."


Paman Marthinus mantuk-mantuk merasa telah menemukan jenis mahluk baru.


Ah sebentar lagi, dia akan jadi profesor Marthinus.


**--------------**