
Zizi mengepalkan tinjunya, bersiap jika dari gumpalan asap itu ada mahluk muncul, maka zizi akan langsung meninjunya.
Dan benar saja, manakala gumpalan asap itu kian mendekat, muncul wajah Kakek dengan mahkota.
Zizi yang tak mau kecolongan akhirnya melompat ke arah gumpalan asap itu dan langsung menonjok muka Kakek dengan mahkota itu hingga gigi palsunya lepas.
Haaaaa?
Semua tentu saja langsung membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dilakukan Zizi.
"Rasakan kakek tua banyak tingkah."
kata Zizi.
Kakek pemimpin kera putih itupun tampak menatap Zizi dengan tajam, begitu juga seluruh anggota kera putih, mereka tentu saja menganggap apa yang dilakukan Zizi sangat kurang ajar, tidak tahu aturan, tidak menghormati tanah hutan kemenyan yang mereka agungkan dan juga sang pemimpin kera putih yang selama ini terkenal sangat digdaya.
Mereka baru akan bersiap menyerang Zizi, saat kemudian terdengar gelak tawa bocah kecil yang seolah tak mengerti situasi dan kondisi yang saat ini sangat genting.
Suara gelak tawa itu berasal dari siapa lagi kalau bukan Baru Lutung.
Baru Lutung yang kini duduk di atas tanah lepas dari gandengan Ibunya, terlihat memegangi gigi kakeknya, ia tertawa seperti mendapat mainan baru.
(Ngenes men ngga ada yang beliin mainan)
Semua jadi menatap ke arahnya, suasana yang semula hampir saja memanas tiba-tiba saja berubah.
Kakek sang pemimpin kera putih terkekeh melihat cucu kesayangan yang merupakan calon pewarisnya itu terlihat senang, lama nian tak pernah melihat di Baru Lutung tertawa, dan akhirnya kini Kakek pemimpin kera putih bisa kembali melihat sang cucunya tertawa.
Melihat pemimpin kera putih tertawa, maka semuanya jadi ikut tertawa, tak jadi marah pada Zizi, dan tentu saja itu melegakan Shane dan Maria yang semula sudah ketar-ketir akan ada pertempuran besar karena ulah Zizi.
Berkat itu pula, akhirnya Kakek pemimpin kera putih mengijinkan Zizi dan Shane serta Maria menyeberangi danau wening.
"Ketahuilah, jika nanti telah melewati hutan ke lima, kalian berarti sudah semakin dekat dengan tujuan. Hutan ke lima dijaga para dayang perempuan, asal kalian tak membuat ulah, mereka tak akan mencelakai kalian. Selepas dari sana kalian akan masuk ke hutan ke enam yang di sana penguasanya adalah para Gendruwo, mereka adalah pengikut setia Grandong di Merapi."
Kata Kakek pemimpin kera putih saat menunggu dua kera putih suruhannya mengambil rakit untuk digunakan Zizi dan Shane menyebrang.
"Hutan ke tujuh, berada di tengah dua sungai pecahan kali bening, kali bening di dunia kami bercabang begitu masuk hutan ke enam, satu ke arah timur, dan satu lagi ke arah barat, mereka kemudian akan bertemu kembali pada satu muara di segara kidul."
"Jika di dunia kalian, kali itu adalah kali opak dan kali progo. Di mana dahulu ada seorang dari Mataram bernama Sutawijaya yang mampu menaklukan derasnya kali itu dan bahkan menggoncang segara kidul."
"Laku batin dan tingkat kepasrahan pada sang pencipta, membuatnya mampu mengguncang seluruh alam lelembut, bahkan sekelas istana Kanjeng ratu kidul."
"Sutawijaya?"
Zizi matanya berbinar-binar mendengar kisah Sutawijaya yang begitu hebat.
Bersamaan dengan itu, munculah dua kera putih yang membawakan rakit untuk digunakan Zizi dan Shane.
"Kalian akan diantar mereka hingga sampai hutan ke lima, selama perjalanan, kalian dijamin keselamatannya, dan dengan itu kupatahkan seluruh amarahku atas Bandapati, kelak jika kau bertemu dengannya, katakan kau telah menebus kesalahan Moyangmu yang petakilan itu."
Kata Kakek pemimpin kera putih.
Zizi menepuk punggung Kakek pemimpin kera putih.
"Oke doke Kakek, don wori wori."
Kata Zizi sambil memamerkan sebaris giginya yang putih.
Kakek pemimpin kera putih tampak menggeleng-gelengkan kepala. Bagaimana bisa ada anak manusia seperti itu, bertemu siluman macam bertemu dakocan saja, jangankan takut dan lari, dia malah terkesan mengintimidasi.
"Kami sudah siap."
Kata dua kera putih di atas rakit, Zizi tanpa aba-aba langsung melompat ke atas rakit hingga rakitnya goyang-goyang.
Eh... eh... eh...
Dua kera takut kecebur.
"Kamu yakin pacaran sama dia Shane, kayaknya Nyonya Zia lahirin Zizi otaknya ketinggalan di perut."
Kata Maria pada Shane sambil kemudian melayang menuju rakit.
Sikap Shane yang begitu sopan dan tenang, membuat Kakek pemimpin kera putih semakin ikhlas melepas dendamnya pada Bandapati.
Mungkin memang sudah saatnya dendam itu dilepaskan, karena memang semua selalu ada masanya, termasuk amarah dan kebencian.
Shane pamit dan kemudian melangkah dengan tenang menuju tepian danau.
Kakek pemimpin kera putih menatap Shane dengan kagum.
"Dia bukan manusia dan juga bukan dari jenis kita, dia sangat tahu membawa diri, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung tinggi, dia harus masuk ke dalam lingkaran keluarga Bandapati, agar kelak lahir keturunan yang kuat, pemberani namun pandai membawa diri, tidak seperti ..."
"Haaai kek... Dadaaa... lope lope for yuuuuuu..."
Zizi berdadah dadah ria pada sang kakek.
Haiiish... Kakek pemimpin kera putih itupun jadi mengurut kening.
Tak ia sangka, cicit dari Bandapati yang sangat garang malah lebih mirip pelawak.
"Benarkah dia memiliki darah Naga?"
Tanya Ibunya Baru Lutung pada sang Ayah.
Mereka masih melihat rakit yang dinaiki Zizi dan Shane menjauh ke tengah danau.
"Ya, harusnya sih."
Sahut Kakek pemimpin kera putih yang malah jadi ragu sendiri.
Angin bertiup dari arah barisan bukit-bukit, membawa kabut yang seolah melingkupi seluruh danau wening.
Zizi dan Shane yang berdiri di tengah rakit jadi kecewa karena tak bisa menikmati pemandangan.
"Kenapa harus ada kabut sih, biar apa coba."
Zizi menggerutu, rasanya ia ingin guyur si Othor.
(Beraninya, tek tendang dari novel)
"Kabut ini adalah untuk menutupi pandangan kalian dari pemandangan yang mengerikan di sepanjang danau, jika kalian melihat pasti kalian akan ngeri dan tak sanggup untuk mengabaikan."
Kata salah satu kera putih yang mengantar mereka.
Maria yang memilih duduk di atas rakit sambil main air hanya geleng-geleng kepala melihat Zizi yang apa-apa selalu protes.
"Aunty, nanti dicaplok Piranha baru nyaho."
Kata Zizi melihat Maria yang memasukkan tangannya ke air danau yang sejuk.
"Tidak ada piranha di alam ini, memangnya kita lagi di Amazon apa."
Kesal Maria.
"Ya nanti ditarik Spongebob."
Kata Zizi.
Dua kera putih menatap Zizi.
"Siluman apa itu Nona?"
Tanya mereka merasa asing dengan nama yang disebut Zizi.
"Siluman tahu kuning."
Kata Zizi.
**-----------**