
Zizi karena mumpung ada di dunia manusia, langsung minta hp ke Shane yang ada di dalam ransel.
"Mau chat Mama."
Kata Zizi.
"Kamu punya Mama?"
Tanya Mintul.
"Lha, dikira Zizi buah Naga apa."
Omel Zizi.
Mintul cekikikan.
Shane memberikan hp Zizi pada gadis itu, lalu meletakkan ransel di dekat meja lesehan di mana Zizi duduk.
Maria dan Mintul duduk di dekat Zizi karena kepo ingin tahu apa yang akan Zizi tulis, terutama Mintul yang baru lihat ada talenan bisa nyala.
Sementara itu, Shane memilih duduk di kursi plastik dekat gerobak di mana penjual nasi ayam sedang mulai menggoreng ayam.
"Mang nasinya empat aja, ayamnya yang dibanyakin."
Kata Zizi mengulang pesanan sambil sibuk mengetik pesan.
"I... Iya... Non."
Kata penjual nasi ayam yang antara lagi senang katanya bakal dibayar dua juta, tapi juga takut melihat Zizi dari tadi bicara sendirian dan takut ternyata nanti di php saja.
Apalagi...
Penjual nasi ayam bergidik lagi.
Di dunia manusia kini hari sudah mendekati jam delapan malam. Jantung kota Cirebon masih berdenyut dengan baik. Hilir mudik kendaraan di jalanan depan penjual nasi ayam itu terlihat cukup ramai.
"Setiap hari jalanan seramai ini Pak?"
Tanya Shane.
"I... Iya mister."
Kata Penjual nasi ayam jadi kebiasaan gagap.
"Sudah lama Pak jualan di sini?"
Tanya Shane lagi.
Shane sengaja lebih banyak bicara kali ini dengan si penjual karena kelihatan sekali dia orang baik, tapi dibuat takut setengah mati oleh Zizi dan Maria serta Mintul.
Shane kasihan jika nantinya penjual nasi ayam itu lama-lama pingsan dan nyungsep ke penggorengan.
"Sudah sepuluh tahunan Mister."
Jawab si penjual nasi ayam.
Shane tersenyum.
Tampak penjual nasi ayam mematikan kompornya, setelah sebelumnya mengangkat ayam gorengnya, dan meniriskannya.
"Kalau hujan bagaimana Pak? Ini kan jualannya tidak ada tenda dan semacamnya."
Shane begitu iba.
"Kalau hujan ya saya terpaksa tutup Mister, ini juga jam sembilan saya mau tutup."
Si penjual nasi ayam akhirnya mulai bisa melupakan rasa takutnya sedikit demi sedikit karena Shane mengajaknya bicara sebagaimana manusia.
"Jadi jualannya cuma sampai jam sembilan saja?"
Pak penjual nasi ayam menggeleng seraya mulai menata piring.
"Sebetulnya tadinya sampai jam dua belas masih ramai Mister."
"Lalu..."
"Lalu sudah hampir setengah bulan ini ada banyak yang melihat penampakan, katanya di loteng kios sebelah itu ada yang nunggu."
Kata Pak penjual nasi ayam.
Shane pun seketika melihat ke arah loteng kios yang ada di sebelah pak penjual nasi ayam.
"Saya takut mau cerita, sudahlah jangan cerita lagi."
Kata pak penjual tangannya gemeteran.
"Tidak apa Pak, jangan takut, kalau dia nongol malah bagus, nanti kita yang hajar."
Tiba-tiba Maria yang mendengar pembicaraan penjual nasi ayam dengan Shane ikut nimbrung.
Pak penjual ayam jelas saja langsung menengok ke arah asal suara di belakangnya, tapi tak ada orangnya.
Si nona penyihir bahkan sedang sibuk main hp dan ketawa-ketiwi sendiri.
Shane mengurut kening.
"Tidak apa Pak, itu teman kami, anggap saja peri. Bapak tahu kan, kalau ada penyihir pasti ada peri."
Ujar Shane menenangkan pak penjual nasi ayam.
"Oh... Iya... Iya Mister."
Pak penjual nasi ayam pun mantuk-mantuk.
Duh mimpi apa sebetulnya aku semalam, apa jangan-jangan ini juga sedang mimpi. Batin penjual nasi ayam galau.
Pak penjual nasi ayam akhirnya selesai menyiapkan sambal dan lalapan, serta lima porsi ayam goreng. Ia antarkan ke meja Zizi.
"Bakarnya mana?"
"Sebentar Non, saya tidak ada yang bantu, ini yang digoreng dulu."
Kata si pak penjual.
"Minuman Zizi, wedang jeruk anget, ngga usah diselimutin tapi."
Kata Zizi sambil nyomot ayam goreng yang masih panas.
Pak penjual nasi geleng-geleng kepala.
Memangnya ada wedang jeruk dikasih selimut? Pak penjual nasi ayam terlalu polos.
"Harusnya bawa asisten Pak, ini kalau lagi rame gimana melayaninya kan keder."
Maria nimbrung lagi.
Pak penjual nasi ayam yang tak tahu Maria melayang ke sana ke mari mengikuti di belakangnya terlihat celingak-celinguk.
Shane jadi nyengir tak enak.
Pak penjual kemudian menatap Shane, seolah bertanya itu peri bahaya apa tidak? Hihihi...
Shane kembali nyengir saja, bingung harus menjawab apa.
Pak penjual membuat minuman pesanan Zizi, setelah selesai mengantarkan minuman, baru ia mulai bersiap membuat ayam bakarnya.
Bakaran ayam nya letaknya lebih ke dekat jalan, dan lebih dekat dengan posisi Shane duduk.
"Tapi benar juga pak, kenapa tidak pakai asisten, kalau lagi ramai kan tidak repot misal ada yang bantuin."
Ujar pak penjual.
"Sebetulnya isteri saya biasanya membantu di sini, tapi sejak lihat penunggu kios sebelah, aduh saya takut beneran ini."
Si pak penjual terlihat kembali bergidik.
"Ada apa sih di kios itu?"
Gumam Maria jadi kepo.
Maria menoleh ke arah Zizi yang sudah mulai makan dengan lahap, sementara Mintul asik menikmati menikmati aroma ayam bakar nasi hangat kebul-kebul traktiran Zizi.
Setelah memperhatikan Zizi dan Mintul, tampak Maria kemudian melihat ke arah kios yang dikata pak penjual nasi ayam ada penunggunya.
Pak penjual kini sudah sibuk kipas-kipas ayam bakarnya.
Dari kejauhan terlihat beberapa hantu berdatangan ingin ikut menikmati aroma yang berasal dari bakaran ayam di atas arang.
Namun mereka kemudian melarikan diri secepat kilat begitu melihat Shane duduk di dekat pak penjual.
Maria melayang menuju kios berbentuk ruko yang terlihat gelap dan sepertinya lama tak dihuni.
Maria mendekati loteng ruko itu.
Maria melayang ke sana, dan masuk ke dalam ruko.
Shane hanya memperhatikan apa yang dilakukan Maria dari tempatnya.
Jika benar ada penunggu di loteng itu, palingan hanya hantu biasa saja dan pasti akan dengan mudah diurus Maria seorang diri.
Maria di loteng ruko itu kini melayang sambil mencari sosok yang katanya belakangan sering mengganggu pak penjual nasi ayam.
"Hey cecunguk, keluar sini! Jangan sembunyi kau!!"
Bentak Maria begitu ia mulai merasakan memang ada energi hantu di sana.
Dari energinya bisa dipastikan ia perempuan dan tak terlalu kuat.
Maria akhirnya duduk di atas rak.
"Keluar atau aku paksa keluar dengan kekerasan."
Kata Maria lagi.
Hening.
Maria mendengus.
"Dasar kupret."
Kata Maria ngomel sendirian.
Ia kemudian menangkap sesuatu keluar dari lobang plafon di lantai atas ruko itu.
Sesuatu itu adalah kepala perempuan yang rambutnya panjang menjuntai kebawah.
Ia seolah merayap di plafon, lalu kini turun dari kepalanya dulu.
Namun...
"Eh eh..."
Bluk!
Hantu itu lupa merangkaknya kelebihan, walhasil ia terjun bebas ke bawah.
Maria geleng-geleng kepala melihat hantu itu kini nyungsep di lantai ruko.
"Sudah tahu aku ngga akan takut, pake gaya merayap segala, sekarang malah nyungsep, bikin pengen nabok otaknya saja."
Maria jadi ngedumel tak jelas.
Hantu perempuan itu nyengir tengsin.
**-------------**