
Pelayan dengan tatto ular tersebut cepat melangkah menjauhi ruang VVIP lalu meraih hp di tangannya.
Ia meminta seorang temannya menggantikan posisinya bilamana manajer toko membutuhkan model lain untuk diperlihatkan kepada pelanggan istimewa mereka hari ini.
"Memang kau mau kemana Andreas?"
Tanya temannya menatap heran pemuda berambut plontos dengan tatto ular di tengkuknya itu.
"Aku mulas."
Kata Andreas beralasan, ia bergerak cepat menuju toilet.
Temannya menghela nafas saja melihat Andreas yang benar-benar tampak terburu-buru, mungkin dia semalam habis makan rujak, wkwkwk...
(Inggris sekarang ada rujak impor dari sini)
Sementara temannya pergi ke ruang VVIP untuk menggantikan posisinya bertugas, Andreas masuk toilet yang ruangannya paling ujung.
Tentu setelah ia memastikan semua ruangan toilet kosong tak ada orang yang akan bisa menguping pembicaraannya.
"Bos."
Andreas terdengar memanggil seseorang yang ia telfon dengan panggilan boss.
"Ya, apakah ada sesuatu yang mencurigakan?"
Tanya si bos.
"Ya boss, Tuan Zion, hari ini tangan kanannya datang ke tempat kami sesuai prediksi, ia datang dengan seorang pemuda yang sepertinya akan menjadi menantu Tuan Zion."
Andreas melaporkan.
"Siapa?"
Tanya si boss.
"Sebelumnya saya belum pernah melihatnya selama bekerja di sini, tampaknya ia bukan dari kalangan orang penting. Bukan pengusaha atau pun orang penting lainnya. Penampilannya biasa saja, tapi ia sangat tampan, dan..."
Andreas membuka pintu toiletnya, melongokkan kepalanya untuk kemudian celingak-celinguk memastikan lagi jika di sana tak ada siapa-siapa.
"Dan apa? Kenapa berhenti? Apa kau boker?"
Tanya si boss curiga.
"Eh tidak seromantis itu boss, saya tak akan menelfon sambil boker."
Andreas benar-benar merasa tidak keren dianggap telfon sambil boker.
'Baiklah. Kalau sampai begitu, kudoakan hp mu jatuh ke toilet."
Si boss mengucap sumpah sarapah.
Hadeeeh boss tak ada akhlak, belum juga kasih bonus sudah menyumpahi hp masuk toilet. Batin Andreas.
"Begini Boss."
Andreas kembali ke topik pembicaraan.
"Pemuda itu ada pengawalnya, dan aku rasa dia bukan manusia."
"Pengawal amnesia? Kenapa orang amnesia bisa jadi pengawal?"
Oh Tuhan, aku jauh lebih heran kau Bolot bisa jadi boss. Batin Andreas kesal.
"Bukan orang amnesia jadi pengawal bos, tapi pengawalnya bukan manusia, BE U KA A EN EM A EN U ES I A."
Andreas jadi mengeja kalimatnya.
"Oooh ngomong dong yang jelas."
Ujar si bos dari jauh.
Kupingmu bae sing budek. Gerutu Andreas.
Sleding sisan. Kesal Andreas pula.
"Pengawal bukan dari jenis manusia."
Gumaman si bos terdengar.
"Ya bos, bukan manusia, jelas sekali, matanya, seringainya, baunya, dia jelas bukan manusia."
Kata Andreas yakin sambil mengingat tentang sosok Marthinus yang tadi sempat bersitatap dengannya.
"Baiklah Andreas, pastikan pengawal itu dari jenis apa? Binatang? Tumbuhan? Atau lelembut."
Kata si Boss.
"Baik Bos."
"Aku akan meneruskan laporannya pada Tuan Andromeda."
Ujar bos.
"Kau kembalilah bertugas, dan laporkan jika ada gerakan mereka yang mencurigakan."
Titah bos lagi.
"Siap."
Panggilan terputus.
Andreas menghela nafas.
Ia lalu cepat memasukkan hp nya ke saku celananya lagi.
Lalu keluar dari toilet dan berpura-pura bersikap biasa lagi.
"Apa pelanggan istimewa kita sudah pergi?"
Tanya Andreas pada salah satu temannya yang berjaga di etalase.
Temannya itu menggeleng.
"Mereka baru saja meminta diambilkan jam termewah edisi khusus yang kita miliki."
"Apaaa?"
Andreas melongo.
Sekaya itukah orang bernama Zion itu?
**---------------**
Zizi berjalan mondar-mandir di kamarnya, Maria yang melihat Zizi terus mondar-mandir sampai pusing melihatnya.
"Kamu ini mondar-mandir sembelit apa bagaimana sih Zi?"
Tanya Maria mulai kesal.
Maria yang duduk di atas lemari seperti biasa rasanya matanya sampai mau juling karena Zizi terus bergerak ke sana kemari tak jelas.
"Aunty, apa kau benar-benar tak merasakan ada aroma mencurigakan?"
Tanya Zizi dengan wajah yang tumben serius.
"Mencurigakan apa? Yang ada sekarang ini aroma masakan Nancy membuatku ingin segera makan."
Ujar Maria.
Haiiish... Zizi mendesis.
"Aunty ini selalu saja makanan yang dipikirkan, ckckck..."
Zizi geleng kepala, ini antara dia ngatain Maria apa ngatain diri sendiri sebetulnya. Wkwkk...
Maria mendengus...
Tentu saja, karena mereka jelas sebelas dua belas.
"Mama pasti sudah tahu sebetulnya siapa yang akan Zizi hadapi kan? Dia pasti sudah tahu atau sudah bisa mengira-ngira siapa musuh kita nantinya, dan dia tidak bilang ke Zizi."
Ujar Zizi seperti bisa berpikir saja.
Maria mengurut kening.
"Ya baiklah, anggap saja memang Mama mu tahu, lalu kamu mau apa?"
Tanya Maria.
"Ya harusnya Zizi dikasih tahu dong Aunty, kan nantinya Zizi yang akan berhadapan dengan mereka."
Maria geleng-geleng kepala.
"Mamamu tahu tabiatmu itu tidak sabaran, sementara kalau semua belum terbukti lalu kamu yang semprul bikin ulah, bisa tamat semuanya. Biar saja Mamamu dan Papamu yang mengatur semuanya, kamu tinggal eksekusi."
Kata Maria.
Zizi menatap Maria.
"Kau mending dengerin tuh nasehat Mamamu, belajar jangan terlalu petakilan, yang anggun sedikit biar Shane jangan sampai kecantol vampire lain, kamu kan tidak tahu kalau di perjalanan kemarin Shane bertemu dengan Vampire cantik."
Kata Maria yang malah tanpa sadar menyulut sumbu gunung berapi.
Zizi yang begitu mendengar kata-kata Maria, tentu saja langsung heboh.
"Apa Aunty bilang? Apa tadi?"
Zizi kelimpungan luar biasa.
Maria yang begitu sadar sudah membeberkan rahasia yang sebetulnya itu harus ia jaga sampai nanti Zizi mati akhirnya ngacir keluar kamar menembus pintu.
Zizi pun mengejar Maria, saking semangatnya mengejar ia jadi ikut menabrak pintu.
Jedoor!!
Benjut dah pala.
Zizi mengusap jidatnya yang sakit luar biasa.
Maria di luar kamar terpingkal-pingkal.
Zizi keluar dari kamar dengan wajah merah menahan sakit, ia lalu mengejar Maria seperti mengejar layangan putus, wkwkwk...
Maria melayang terus untuk menuju lantai satu, dan begitu di ujung anak tangga, Maria berpapasan dengan Vero, pengawal wanita Alpha Centauri yang sepertinya akan menuju ruang depan.
Tapi...
Vero refleks menghindari Maria, dan itu tentu saja membuat Maria jadi curiga.
"Daniel."
Vero tiba-tiba memanggil Daniel dan bergegas berjalan cepat ke arah pengawal bernama Daniel.
Maria yang masih menatap curiga Vero jadi tak sadar Zizi sedang berlari ke arahnya dan...
Ciaaaaat...
Zizi melompat ke arah Maria dan langsung berguling menangkap Maria.
"Katakan lagi yang soal tadi Kak Seng apaaaaaa....!!
Zizi berdiri lalu menarik Maria yang tertawa terbahak-bahak.
"Auntyyyy jahaaaat..."
Zizi kesal bukan main karena Maria seperti sengaja mempermainkannya.
"Apa sih, Aunty lupa...Sungguh."
Kata Maria.
"Aaah enggak, Aunty bohong, udah jelas mukanya begitu."
Zizi menaboki Maria.
Maria tambah terpingkal-pingkal.
**--------------**