
Setelah acara makan yang lumayan rusuh, akhirnya Zizi dan Kak Arya duduk di balkon lantai dua.
"Jadi ternyata sebanyak itu siluman di dunia ini?"
Arya cukup terkejut mendapati kenyataan dari cerita Zizi tentang perjalanannya yang begitu berliku dan juga berhadapan dengan banyak bahaya.
Untungnya...
Ah Arya dadanya tiba-tiba terasa sesak, tak ikhlas mengakui jika Shane telah menjaga dan melindungi Zizi dengan begitu baik.
"Itu pastinya hanya sebagian saja, masih banyak yang lain, yang belum Zizi temui, dan bisa jadi suatu hari Zizi akan bertemu dan berurusan dengan mereka, apalagi Paman Jaka Lengleng juga melarikan diri, dia masih bisa mengancam Zizi karena mengincar Jayapada."
Ujar Zizi.
Glek...
Arya tercekat.
Jaka Lengleng?
Maksudnya siluman Ular raksasa penunggu telaga sunyi di dekat hotel wisata milik keluarga Zizi kah?
"Pedang Jayapada masih akan ada pada Zizi, dia pasti akan memburu Zizi kapan saja ia merasa sudah siap."
Kata Zizi lagi.
Arya tiba-tiba jadi merinding disko.
Membayangkan suatu hari mereka menikah lalu yang harus Arya hadapi untuk melindungi isterinya adalah siluman ular raksasa belum apa-apa Arya sudah takut.
Zizi menyandarkan tubuhnya, tatapannya menerawang jauh ke langit lepas yang biru.
Hari ini sangat cerah, bahkan tak ada satupun awan mendung terlihat.
Zizi kemudian ingat lagi apa yang tadi ingin ia tanyakan pada Arya.
"Kak."
Panggil Zizi membuat Arya yang pikirannya sedang membayangkan soal sosok Jaka Lengleng tampak terkejut.
"Ya Zi."
Jawab Arya.
"Kasus tempo hari, kuntilania, hantu gadis SMA dan juga perempuan yang meninggal memangku boneka, bagaimana akhirnya? Sudah ditemukan siapa pembunuh mereka?"
Tanya Zizi.
Arya menghela nafas.
"Hantu gadis SMA itu sudah selesai Zi, dia dibunuh pacarnya sendiri. Masalah sepele, cemburu saja karena si Nia itu sepertinya terlalu dekat dengan ketua grup pecinta alam di sekolahnya."
Tutur Arya.
Zizi geleng-geleng kepala.
Kasus yang sangat tidak penting.
Lalu...
"Sementara kasus perempuan yang memangku boneka, itu sampai saat ini masih misteri."
Zizi mengangkat kedua alisnya.
"Kenapa?"
"Petunjuk yang ada tak cukup untuk melihat siapa yang membunuh, id card yang sempat kamu bilang sudah dicari tapi tidak ada."
Kata Arya.
Zizi mengerutkan kening.
"Kak Arya tidak tanya pada Nia waktu dia masih ngikutin Kak Arya?"
Tanya Zizi.
"Sudah, Kakak sudah tanya dan pastikan ciri-ciri orang yang membunuh perempuan itu, tapi dari semua kenalan dekat perempuan itu tak ada satupun yang sama dengan ciri-ciri si pembunuh, keluarga si perempuan juga merasa tak ada yang tahu."
Kata Arya.
Zizi menghela nafas.
"Jadi sampai sekarang kasusnya menggantung?"
Tanya Zizi.
Arya mengangguk.
"Kasihan kalau dia tidak tenang."
Kata Zizi.
Arya mantuk-mantuk.
"Ya, tapi mau bagaimana, kita pihak kepolisian juga masih terus berusaha mengungkap, hanya saja masih buntu."
Ujar Arya.
"Ah ini Kak Arya pulang juga karena nanti sore diminta ke hotel Papa Zizi."
Lanjut Arya.
"Ada apa di hotel?"
Tanya Zizi.
"Ada resepsionis hotel yang sudah empat hari tidak ada kabar, dicari di kos nya tidak ada, keluarganya dihubungi juga tak ada yang tahu."
Ujar Arya.
"Oh ya? Kok Mama nggak cerita ya?"
"Kan Zizi baru pulang, lagipula memang harusnya Kak Arya juga jangan cerita, kamu butuh istirahat."
Ujar Arya.
"Resepsionis yang namanya siapa sih yang hilang?"
Tanya Zizi.
Jawab Arya.
**--------------**
Zombie hotel,
Kamar 36.
"Mas, cepat gantian mandi, aku sudah selesai."
Seorang perempuan membangunkan suaminya yang masih tertidur malas di atas kasur.
Keduanya adalah pasangan yang cek in kemarin sore, dan pagi ini rencananya akan menghadiri acara pernikahan salah satu kerabat mereka di gedung tak jauh dari Zombie hotel.
"Masih lama kan acaranya?"
Tanya Suaminya sambil malas membuka mata.
"Tapi kan kita harus siap-siap dulu, satu jam itu tidak lama."
Si Isteri tetap memaksakan kehendaknya.
Ia menyeret kaki suaminya agar turun dari kasur dan segera pergi ke kamar mandi.
Sang suami akhirnya mengalah, daripada nanti akan ada perdebatan lintas alam, maka ia pun turun dari kasur dan segera menuju kamar mandi.
Sepeninggal suaminya, sang isteri mulai siap-siap memoles wajahnya agar berwarna-warni.
Hingga tiba-tiba terdengar suara ketukan di luar pintu kamar ia menginap.
Siapa ya? Apa suaminya pesan layanan kamar? Batin si isteri.
Perempuan yang sudah mulai mengeluarkan alat-alat untuk memoles wajahnya itupun akhirnya dengan malas menyeret langkahnya menuju pintu.
Tok Tok Tok...
Suara ketukan itu terdengar lagi.
"Iyaa sebentar. Nggak sabaran amat sih."
Perempuan itu menggerutu.
Ia lalu membuka kunci pintu bagian dalam, dan membuka pintu kamar hotelnya.
Sepi.
Kosong.
Tak ada siapa-siapa.
Perempuan itu keluar dari kamar, menatap sekeliling, namun dari ujung ke ujung koridor, tak ada satupun manusia yang terlihat.
Perempuan itu mengerutkan kening.
Jelas sekali tadi ada yang mengetuk pintu, apa hanya perasaanku?
Ia malah jadi meragukan pendengarannya sendiri.
Ah jangan-jangan aslinya telinganya yang penuh air jadi seperti ada yang ketuk-ketuk.
Perempuan itupun akhirnya kembali masuk ke dalam kamar.
Perempuan itu baru akan menutup pintu kamar hotelnya, saat kemudian tiba-tiba sebuah tangan menahan pintu itu agar tidak menutup.
Tangan yang menahan pintu itu terlihat pucat, perempuan itu melonjak kaget.
Ia terlihat mundur beberapa langkah, menatap pintu di depannya kini didorong pelan dari luar.
Begitu pintu itu terbuka, terlihat kini seorang gadis berpakaian seragam hotel Zombie membungkuk memberi salam.
"Hah kamu ini, ada apa Mbak, ngagetin saja."
Perempuan itu mengelus dadanya yang degdegan setengah mati.
"Maaf jika mengagetkan Bu."
Gadis itu mengangkat wajahnya yang pucat, ia terlihat tersenyum ke arah tamu hotel tersebut.
"Apa pagi ini ada yang anda butuhkan Bu?"
Tanya gadis berseragam hotel itu lagi.
Ia terlihat sangat santun.
"Oh tidak, terimakasih, kami mau pergi sebentar lagi."
Kata perempuan itu.
"Baik Bu kalau begitu, jika anda butuh apa-apa, silahkan hubungi saya. Saya Dewi."
Si gadis karyawan hotel itu memperkenalkan diri sambil kemudian membungkuk lagi.
"Ya... Baiklah... Baik."
Perempuan itu mantuk-mantuk.
Aneh sekali hotel ini, kenapa ada acara pihak hotel ketuk pintu nawarin layanan. Batin si perempuan yang kemudian mendekati pintu untuk kembali menutup pintu lagi.
Tanpa kata-kata lagi gadis itupun berbalik untuk meninggalkan si tamu hotel yang masih bingung.
Dan...
Begitu gadis itu berbalik, terlihat bagian belakang tubuh gadis berseragam hotel zombie yang mengaku bernama Dewi itu dipenuhi darah yang menetes dari bagian belakang kepalanya.
Melihatnya si perempuan itupun menjerit...
"Aaaaaaaaaa..."
Dan...
**-----------------**
Aaaaaaaa... othor kabuuuuuuur ajaaaaaa