Zizi

Zizi
239. Melanggar Perintah


Zizi sudah selesai mandi dan kini berganti baju kebangsaannya, kaos oblong warna biru dan celana panjang sedikit komprang warna putih.


Mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, lalu mengikatnya ala ekor kuda, tak ada bedak, tak ada lipstik, apalagi maskara dan lain-lain.


Zizi tetap apa adanya, sekalipun Shane hari ini pulang.


Maria dan Zanuba duduk di sofa menatap Zizi yang kini duduk sila di atas tempat tidur sibuk dengan hp nya, menghubungi Paman Dimas dan Paman Dave, menanyakan Shane dan Ali jam berapa akan sampai di Indonesia.


"Bukannya hari ini akan ada perawatan Zi?"


Tanya Maria.


Zizi menoleh ke arah Maria sebentar,


"Perawatan apa?"


Zizi malah bingung.


"Lha kamu mau jadi pengantin, ya harus dapat perawatan ini itu, luluran, apalah apalah."


Kata Maria.


"Ooh, Zizi tidak tahu malah, Mama kali yang perawatan."


"Wong kamu yang mau jadi pengantin kok, haduh ni anak lama-lama kita masukin karung aja Ba."


Maria ke arah Zanuba yang dengan teganya angkat tangan.


"Aku tidak ikutan, aku tidak tahu apa-apa, aku masih bayi, polos."


Plak!!


"Bayi gosip."


Kata Maria menabok Zanuba.


"Wah Kak Seng udah nyampe kata Paman Dimas."


Zizi yang seolah tak peduli perang saudara Zanuba dan Maria tampak melompat turun dari tempat tidur.


"Jiiaah, lihat dia udah kayak menang lotre."


Kata Maria geleng-geleng kepala melihat Zizi yang buru-buru memakai sandal jepit delapan jutanya.


"Lesti masak apa ya hari ini?"


Zizi tiba-tiba kruyuk-kruyuk.


"Eh kamu tidak boleh makan sampai hari H."


Kata Maria buru-buru melayang.


"Lah kok gitu."


Zizi tidak terima, mana boleh Zizi dilarang makan.


"Makan nasi aja sama putih telor rebus."


Kata Maria.


"Jiaaaaah, apaan, tidak mau!"


"Hiiih Mama kamu tadi mau pergi pesen begitu, kamu hanya boleh makan itu."


"Kenapa?"


Zizi protes.


"Ya kamu mau jadi pengantin, ngasrep Ziiii... Ngasrep..."


Kata Maria.


"Ah Zizi mau makan."


Zizi tak peduli, ia keluar dari kamar.


Maria mendengus.


"Sana cepet kejar, halangi dia makan, nanti kena marah Nyonya Zia lho Aunty."


Kata Zanuba.


"Ini nanti kalau Zizi bersikeras tidak mau ngasrep bakal marah tidak, itu jauh lebih jadi masalahnya."


Kata Maria.


"Lha tinggal tabok saja kepalanya."


Zanuba mengompori.


"Kalau dia malah jadi keluarin Jayapada bagaimana? Bisa habis karirku jadi hantu."


Kata Maria.


"Aah iya juga."


Zanuba mantuk-mantuk.


"Tapi coba dulu Aunty, daripada nanti Nyonya Zia juga marah, trus kambuh darah tinggi."


Zanuba mendorong Maria melayang menembus pintu untuk menyusul Zizi.


Zizi sudah turun ke lantai satu dan sedang ke dapur di mana Lesti sedang memasak untuk para pengawal.


"Mbak, kok di atas meja cuma ada telur rebus?"


Tanya Zizi.


"Mana putihnya doang..."


Kesal Zizi lagi.


Lesti yang tidak dimarahi Zizi saja takut sekali pada Zizi, sekarang ditambah-tambah Zizi bertanya dengan nada suara yang sedikit tinggi dari biasanya.


"Itu masak apa?"


Tanya Zizi.


"Ooh ini Ayam woku Nona, para pengawal minta dimasakkan ayam woku pedas sama bikin gorengan tempe."


Kata Lesti.


"Hmm curang."


Zizi kesal.


Zizi lantas mengambil piring dari rak, lalu mengambil nasi sendiri.


"Eh Nona, sini saya siapkan, Nona tunggu di ruang makan saja."


Kata Lesti gugup.


"Tidak ah, Zizi mau makan lauk ayam woku."


Kata Zizi menjauhkan piring nasinya dari Lesti.


"Waduuh Non, jangan Non, nanti saya dipecat."


Kata Lesti takut,


"Kalau kamu dipecat Zizi pekerjakan lagi, jangan khawatir."


Kata Zizi enteng.


"Duuh gimana ini Maak, Mbaaah..."


Lesti mondar-mandir dengan wajah polosnya yang bingung.


Maria dan Zanuba mengintip dari pintu dapur.


"Tuh kan, sana Aunty cepat gerakan penyelamatan."


Kata Zanuba mendorong Maria agar masuk ke dapur.


Zizi sedang memilih daging ayam, Lesti menatapnya sambil menahan diri agar tidak menangis karena saking takutnya membayangkan dimarahi Zia.


"Non... Aduh... Kasihani aku Non."


Lesti menghiba.


"Kalau Zizi kasihan sama kamu, trus yang kasihan sama Zizi siapa? Pokoknya Zizi mau makan."


Zizi mengambil dua daging ayam bagian paha, lalu menyiramkan sedikit kuah di atas nasi yang Kebul-kebul hangat.


"Buatkan jus jeruk dong Mbak."


Zizi pada Lesti yang wajahnya pucat.


"Hihihi biasa aja sih, udah urusan Mama nanti Zizi yang bilang."


Ujar Zizi, lalu membawa piring nasi ayamnya untuk keluar dapur, saat kemudian Zizi melihat Maria dan Zanuba berdiri mengintip di pintu.


"Hmm dasar hantu dan anak jin akhlakles,"


Kesal Zizi pada mereka.


"Aunty nih Zi, ngajarin aku."


Kata Zanuba yang jelas saja langsung kena jitak.


"Kamu yang dorong Aunty sampai sini."


Marah Maria.


Zizi berjalan keluar dari dapur, dan menuju ruang makan.


Diletakkannya piring nasi ayam wokunya di atas meja makan.


"Sungguh kamu nekat banget Zi, malah makan ayam."


Maria geleng kepala.


"Ya Zizi lapar Auntyyy."


"Ya itu makan lauk putih telor."


"Buat apa? Lemes yang ada."


Kesal Zizi.


"Biar tidak hujan pas hari resepsi, trus kamunya juga tidak gampang keringetan."


Zizi mengambil sendok.


"Ah kan hujan juga Zizi di dalam gedung, dan mana mungkin keringetan kan AC nya dingin, kalau hujan malah tambah dingin kan jadinya tidak keringetan."


Sahut Zizi.


Maria dan Zanuba saling pandang.


"Ooh iya juga ya."


Maria malah keder sendiri.


Zizi nyengir dan tentu saja langsung menyantap makanannya dengan lahap.


Bukankah bertemu Kak Seng juga butuh energi? Batin Zizi.


**-------------**