Zizi

Zizi
74. Si Trouble Maker


Jayapada, pedang pusaka sakti yang selama ini dicari begitu banyak lelembut untuk dimiliki ternyata telah memilih pemilik yang baru.


Dan pemilik yang baru yang dipilihnya sungguh tak disangka oleh Nyi Linggi.


Nyi Linggi terkekeh melihat cicit Naga Bandapati yang kini berada di hadapannya.


Pasti tak akan ada yang mengira jika anak gadis petakilan ini adalah pemilik Jayapada.


Zizi yang melihat Nyi Linggi terkekeh sendirian jadi geleng-geleng kepala.


Dibilang kesambet dia lelembut, dibilang tidak cekikikan sendiri.


"Jadi bagaimana sebaiknya Nyi?"


Maria bertanya kali ini berusaha serius.


None Belanda itu benar-benar menghawatirkan Zizi jika nanti tetap nekat menyelamatkan Bunga Petak lebih dulu.


Apalagi nanti setelah menyelamatkannya, lalu bagaimana?


Tidak mungkin mereka harus berbalik arah lagi untuk mengantarkan Bunga Petak ke tanah Dalu, sementara perjalanan menuju tempat Eyang Sapujagad sudah tinggal sebentar lagi.


Setelah sekian lama semuanya terdiam, akhirnya Nyi Linggi memberikan pendapat.


"Ya jika memang pedang itu terlalu berbahaya jika digunakan saat ini, lebih baik selesaikan dulu saja urusannya."


Kata Nyi Linggi.


"Urusan siapa Nyi?"


Tanya Zizi.


"Urusanmu lah."


Tung!


Nyi Linggi memukulkan tongkatnya lagi ke kepala Zizi.


"Lha gimana, katanya urusannya, sekarang urusanmu."


Zizi geleng-geleng kepala.


Maria tepok jidat, kumat bolot anak asuhnya.


"Setidaknya kau kini sudah tahu harus ke mana untuk menemukan Bunga Petak."


Kata Nyi Linggi.


Ah ya benar, gelang yang diberikan Putri Arum Dalu berarti memang yang menuntunnya hingga ke sini. Batin Zizi.


"Baiklah, aku mau ada urusan, pergilah kalian lanjutkan perjalanan."


Ujar Nyi Linggi.


Zizi mengacungkan dua ibu jarinya pada Nyi Linggi.


"Apa itu, ngeledek ya."


Nyi Linggi mengomeli Zizi sambil berdiri dari duduknya.


"Ini artinya oke Nek, karena dua ibu jari, berarti oke oke."


Zizi menjelaskan.


"Oke oke, kamu itu Naga bukan Toke."


Nyi Linggi mengomeli Zizi lagi.


Haiiish... Zizi mendesis sambil geleng kepala.


"Udah ah, susah ngomong sama temennya Pitekantropus."


Ujar Zizi.


Tung!! Tung!!


Zizi langsung kena pentung lagi.


Zizi terpingkal-pingkal karena Nyi Linggi jadi kesal dikatai.


"Bocah tengik, cepat selesaikan urusanmu."


"Zizi mau cuci muka dulu."


Kata Zizi.


"Muka kok dicuci, jemurnya bagaimana, dasar cicit sama moyangnya sama tidak jelas."


Nyi Linggi kemudian memanggil dua ajudannya yang berbentuk duo macan tutul.


(untung bukan trio, nanti konser)


Dua macan tutul itu mendekati majikannya, setelah itu mereka menghilang.


Zizi berdiri dari duduknya.


"Jadi Ratu Bunga Petak ada di Gunung Ceremai menjadi tawanan agar dari Merapi tak menyerang."


Kata Zizi.


Maria mengangguk.


"Sepertinya pihak Ceremai ingin melakukan segodinasi."


"Kok segodinasi sih Aunty."


Zizi merasa bukan itu kata-katanya.


"Negosiasi Aunty."


Kata Shane yang akhirnya meralat.


"Nah itu Shane paham, kamu kok ngga paham sih Zi."


"Lah Aunty saja yang melencengnya makanan, Zizi jadi lapar."


Kesal Zizi.


"Makanya cepat keluar dari hutan, makan dah kamu sekalian mandi, kita akan perang besar dengan Gendruwo, nanti lagi perang malah kamu ngeluh kena magh."


Kata Maria.


"Nah itu yang Zizi takutkan, pas mau nonjok, perutnya melilit."


Kata Zizi.


Akhirnya demi mencapai niatnya untuk memberikan asupan energi yang benar, Zizi pun mengikuti saran Maria untuk lebih memilih cepat keluar dari hutan ke lima itu.


"Ini kita ada di sekitar Gunung Ceremai, berarti nanti kita keluar di mana ya Aunty?"


"Ya tidak tahu, kan dunia lelembut berbeda petanya dengan peta dunia manusia."


"Iya juga, apalagi peta Dora."


Kata Zizi.


Maria pada Shane sambil menggelengkan kepalanya.


Shane tersenyum saja, buat Shane mau seperti apapun absurdnya Zizi, ia tetap cinta.


Ihiiir...


**--------------**


Sementara itu di Jakarta,


"Nyonya... Nyonya..."


Mbak Ning tergopoh-gopoh menemui Zia yang sedang berada di lantai dua rumahnya.


Ia baru saja menerima telfon dari Ka Aisyah yang menceritakan soal Ali setelah pulang dari Jepang dan mengalami petualangan aneh bersama Zizi.


Ali yang sekarang bisa melihat hantu seperti Zizi, dan masih sedikit takut ketika bertemu yang seram.


Berbeda saat dulu ia begitu berani karena hanya merasakan energinya saja, sekarang karena Ali bisa melihat rupanya, maka Ali jadi merasa ketakutan.


"Nyonya, lihat, ada Nona Zizi."


Mbak Ning datang-datang langsung memberikan hp nya pada Zia.


"Ada apa sih Mbak?"


Tanya Zia.


"Nona Zizi, Nyonya, dia viral di media sosial membuat rusuh acara di salah satu daerah."


Zia yang mendengar anaknya membuat rusuh jelas saja langsung melihat apa sebetulnya yang dilakukan anak itu.


Dan...


"Ya ampuuun Zizi."


Zia begitu melihat video Zizi menendang kurungan di pagelaran sintren jelas saja langsung naik darah.


"Anak ini, disuruh moyangnya membersihkan pusaka malah bikin onar."


Zia mengurut tengkuknya yang langsung tegang.


"Sudah pergi tidak pamit, malah kasih Arya hantu, sekarang membuat onar di daerah orang. Ya ampuun."


Zia darah tingginya langsung naik.


"Aduh ambilkan obatku Mbak, telfonkan Bang Dave juga yang hari ini bertugas mengawal Papanya Zizi untuk mengurus pergantian direktur."


Kata Zia.


Mbak Ning mengangguk, lalu sigap meluncur ke kamar sang Nyonya untuk mengambilkan obat untuk darah tinggi Zia.


Sambil mengambilkan obat, Mbak Ning menghubungi Bang Dave untuk menanyakan apakah urusan Tuan Zion sudah selesai, karena Nyonya Zia terkena serangan darah tinggi.


Duh Mbak Ning jadi menyesal memperlihatkan video viral Nona Zizi.


Pikir Mbak Ning, melihat video anaknya sang Nyonya akan bahagia, ternyata malah darah tingginya kambuh.


Zia menatap keluar kaca jendela, di mana hari ini langit senja terlihat begitu indah.


Sudah lebih dari sepuluh hari Zizi pergi, ternyata dia masih di sekitar Cirebon. Lama sekali, entah akan sampai kapan.


Zia sebetulnya bersyukur Zizi tidak kenapa-kenapa, karena bagaimanapun ia tak tahu kabar Zizi selama anaknya itu pergi.


Bagus jika pergi ke luar negeri, bisa Zia telfon atau chat. Ini Zizi pergi ke luar alam manusia, untuk tahu posisinya di mana Zia jelas tidak bisa.


Tapi...


Selain merasa lega dan bersyukur Zizi masih baik-baik saja, Zia juga tentu saja tak habis pikir dengan Zizi yang masih saja petakilan sejak kecil.


Zia menghela nafas, pandangan matanya kemudian beralih mengitari lantai dua rumahnya.


Sudah empat hari juga hantu gadis SMA itu tak ada, sepertinya ia ikut Arya lagi ketika Arya pulang kemarin.


Ah dasar anak jaman sekarang, datang tiba-tiba, pulang juga tidak permisi.


Boro-boro bilang terimakasih.


Zia benar-benar tidak habis pikir.


Mbak Ning kembali ke tempat Zia, untuk kemudian memberikan obat darah tinggi sekaligus air minum yang juga diambilkan Mbak Ning dari kamar Zia.


"Mbak, Bang Dimas sudah ada kabar dengan perkembangan kasus di zombie hotel?"


Tanya Zia.


Mbak Ning mengerutkan kening.


"Kasus apa ya Nyonya?"


Tanya Mbak Ning tidak paham.


Zia meneguk air dari gelas yang diberikan Mbak Ning padanya.


"Resepsionis hotel yang diteror."


Kata Zia.


"Ooh, iya Bang Dimas belum cerita apa-apa lagi, mungkin sudah aman Nyonya."


Kata Mbak Ning.


"Ah begitu ya, syukurlah."


Ujar Zia.


"Barusan saya telfon Bang Dave, katanya Tuan Zion masih ada rapat untuk penggantian direktur Nyonya."


Mbak Ning melaporkan hasil ia menghubungi pengawal Zion.


Zia mantuk-mantuk.


"Ya sudah Mbak, biarlah, mungkin rapatnya akan sampai malam."


Kata Zia.


"Saya buatkan makan saja Nya, mau makan apa?"


Tanya Mbak Ning.


Zia yang kepalanya sedang nyut-nyutan rasanya kehilangan selera makan.


"Buatkan sayur bening dan tahu kuning di kukus saja Mbak, nanti saya gado."


Ujar Zia.


**-------------**