Zizi

Zizi
197. Mata-mata Ditemukan


"Aku tak mau tahu Lex, aku harap kau jangan lagi membuat ulah, katakan pada Natalia juga."


Kata Attala.


"Tapi..."


Alex kesal bukan main.


Kakaknya, sejak dulu selalu memaksakan keinginannya sendiri tanpa mau mendengarkan masukan apapun darinya.


Seolah ia yang tahu semuanya. Semua urusan dia yang kendalikan, bahkan urusan perusahaan, semua ia yang handle.


Alex hanya diberi wewenang yang remeh temeh, bahkan duduk menjadi direktur keuangan saja tak boleh.


Attala bahkan lebih mengatur daripada mendiang Kakek dan juga kedua orangtua mereka.


"Tarik semua mata-mata bodohmu, jangan sampai Andromeda terseret dengan semuanya."


"Kak."


"Lex, fokus saja kau menikah, tidak usah mengurus sesuatu yang tak akan becus kamu urus."


"Aku menjalankan apa yang seharusnya kita jalankan untuk moyang kita, dia dalam masa pemulihannya terluka lagi di Hutan Ke Tujuh, dia butuh kekuatan lebih!"


Alex mulai emosi.


Tapi...


Brakk!!


Attala berdiri lalu menggebrak mejanya.


Matanya menyala merah.


"Aku bilang nanti!! Setelah semuanya aku kuasai!!!"


Suara Attala kini benar-benar akan meledak.


Sama seperti dada Alex yang juga tak kalah sesak ingin meledak pula karena mulai kesal dengan tingkah Attala yang selalu saja tak mau peduli dengan orang lain.


Jelas ia tak peduli jika selama ini Moyang mereka hanya akan mendatangi Alex dan Natalia.


Alex akhirnya berdiri juga.


"Aku pergi."


Kata Alex akhirnya, demi menghindari mereka sama-sama tak bisa menahan diri lalu malah saling bunuh.


"Ingat pesanku Lex!!"


Kata Attala mengiring kepergian Alex dari hadapannya.


"Dasar sinting! Harusnya kalau hasilnya tetap hanya marah-marah katakan saja di telfon, aku tak perlu menunda bertemu Nadia."


Sungut Alex begitu menjauhi ruangan sang Kakak.


Alex menuju anak tangga lagi, dan kemudian kembali mendapati hantu anak SMP yang duduk di sana.


Alex berjalan menuruni anak tangga, melirik si hantu yang tampak bengong di sana.


Kenapa Attala membawa hantu ini ke rumah? Biasanya ia sangat benci dengan hantu. Batin Alex.


Alex yang sudah malas bicara karena Attala akhirnya hanya berjalan menjauh saja tanpa menyapa si hantu.


Si hantu itu juga sama sekali tidak merespon Alex yang lewat di depannya.


Ia hanya duduk bengong seperti monitor nge heng.


Beberapa penjaga di dekat pintu tampak kembali membungkuk melihat Alex berjalan menuju pintu.


Alex keluar dari rumah dan langsung ke mobilnya.


Gerimis telah reda, namun udara Jakarta mulai sedikit dingin.


Alex melirik jam tangan mewahnya di pergelangan di tangan.


Masih bisa mampir ke apartemen Nadia, Alex akan ke sana saja dan akan tidur di sana pula.


Malas pulang karena hatinya masih kesal dengan semua yang dilakukan dan dikatakan Attala.


Ya tentu saja, bersama Nadia, pasti Alex bisa bercerita tentang semuanya, dan Nadia seperti biasa akan mampu membuat Alex lebih tenang.


Ah Nadia...


Gadis itu, yang semula ia dekati karena energinya yang telah bercampur dengan siluman Kelabang begitu kuat, nyatanya justeru akhirnya benar-benar telah mencuri seluruh bagian hati Alex.


**---------------**


London,


Sebuah bayangan berkelebat cepat dari atap rumah Zion menuju hutan kota yang tak seberapa jauh dari sana.


Melompat dari satu atap rumah ke rumah yang lain, lalu ke atas gedung ke gedung yang lain, hingga akhirnya sampai di hutan kota.


Shane masuk ke dalam hutan kota, mencari binatang kesukaannya.


Ular.


Ya, ular...


Sebetulnya, saat di Indonesia, Shane selalu memiliki persediaan darah ular begitu dekat dengan bulan purnama.


Tapi hari ini, saat semua orang disibukkan oleh mata-mata yang dicurigai dari pihak Andromeda, membuat persediaan untuk Shane tak ada.


Maka, enggan merepotkan, Shane malam ini berburu sendiri, dan tentu berharap akan menemukannya.


Sementara itu, di atas langit kota, kini Purnama terlihat menggantung.


Shane terus bergerak untuk berburu, hingga tiba-tiba ia ingat mendengar seperti pekikan seorang manusia.


Suaranya berasal dari tengah hutan kota.


"Aaaaa... Tooo... Loooong..."


Terdengar suara yang menyayat itu di tengah keheningan malam di dalam hutan.


Shane mempercepat lompatannya, hingga...


Vampire tampan itu tercekat, matanya terbelalak melihat apa yang kini ada di hadapannya.


Berjarak hanya sekitar sepuluh meter saja, dengan jelas Shane melihat seekor ular raksasa membelit seorang perempuan dengan pakaian yang koyak di sana sini.


Perempuan dalam belitan sang ular masih sempat menatap Shane dengan tatapan berharap diselamatkan.


Shane tentu saja tak bisa diam saja melihat itu.


Dengan cepat Shane melompat ke arah ular besar yang bahkan tak pernah terpikir oleh Shane atau bahkan orang lain ada ular sebesar itu di kota.


Dengan satu gerakan cepat, Shane yang melihat sang ular bersiap membuka mulutnya untuk melahap perempuan di dalam belitannya itu langsung melayangkan tinjunya ke arah mulut ular.


Ular yang kena tinju saat sedang mangap itu langsung tersedak.


Uhuk uhuk uhuk...


Set dah, kurangajar! Si ular marah.


Ia menatap Shane yang datang tiba-tiba langsung melakukan tindak kekerasan pada dirinya.


Shane menyeringai sambil balas menatap sang ular.


Perempuan di dalam belitan tubuh ular itu terlihat mulai terkulai lemah.


Tak ingin membuang waktu, Shane kembali melompat ke arah ular besar itu.


Kali ini, Shane memakai kuku-kukunya yang tajam.


Sang ular seketika melepaskan belitannya pada tubuh perempuan yang nyaris menjadi mangsanya tersebut.


Perempuan itu jatuh ke atas tanah hutan kota, terkulai di sana tak sadarkan diri.


Shane yang merasa harus segera menyelamatkan nyawa perempuan itu pun segera mendekati perempuan tersebut, namun si ular besar itu tiba-tiba menyabetkan ekornya ke arah Shane.


Shane yang tak menyadari akan mendapat serangan dari belakang secepat itu terpentao cukup jauh.


Shane menggeram, ia berubah menjadi monster seutuhnya


Kuku tangannya, gigi taringnya, dan sorot matanya yang kini jauh lebih tajam dari baisanya.


Shane melesat ke arah sang ular.


Shane begitu terpancing untuk bisa segera membunuh ular tersebut..


"Enyah kau!!"


Teriak Shane seraya melompat ke arah ular tersebut, Shane menangkap kepala ular dan kemudian membantingnya ke atas tanah.


Tangan Shane yang telah siap dengan kuku-kukunya yang tajam segera ia gunakan untuk mencabik-cabik perut sang ular.


Ular itu mengerang sangat keras.


Suaranya seolah menggema di seluruh sudut hutan kota.


Sekian menit ular raksasa yang kini bersimbah darah itu menggelepar, dan...


Pelahan dari dalam ular itu muncul seperti sesuatu yang pekat.


Terlihat seperti asap atau semacamnya.


Seiring dengan itu, saat tubuh sang ular berhenti bergerak, tiba-tiba tubuh ular itu berubah menjadi seorang manusia.


Shane yang melihatnya langsung terhuyung lemas, manakala yang dilihatnya adalah salah satu pengawal yang ada di rumah Zion di mana ia tinggal.


**----------------**