
Zizi berjalan menyusuri jalan sesuai petunjuk si Dodo karyawan minimarket.
Begitu sampai di pertigaan, arah yang akan Zizi lewati terlihat lampunya berkedip-kedip.
"Hmm... Lampu cacingan nih pasti."
Gumam Zizi.
Zizi kemudian mengayunkan langkahnya seraya celingak-celinguk mencari keberadaan Maria.
Kemana sih dia, sudah isengin orang, sekarang entah ngumpet di mana.
"Aunty... Aunty... Ayolah, nanti kita kelamaan, tadi Mama kan sudah pesan dua hari lagi harus sudah pulang, ada hal aneh di hotel."
Kata Zizi sambil terus melangkah.
Sampai nyaris di ujung jalan, Zizi kemudian melihat sekelebat bayangan putih.
Seperti perempuan mengenakan gaun yang melayang lalu menembus tembok pembatas jalan kanan dan kiri.
Zizi mempercepat langkahnya.
"Aunty, kau kah itu?"
Tanya Zizi, meskipun entah kenapa ia mulai ragu jika itu Maria.
"Aunty..."
Zizi memanggil Maria lagi.
Sampai kemudian Zizi akhirnya sampai di dekat ujung jalan, terdengar suara pekikan kecil dari arah pohon beringin besar yang benar kata Dodo ada didekat sana.
Zizi berjalan sambil memperhatikan pohon beringin besar itu, dan...
Haiiish... Zizi mendesis.
"Aunty, kamu sedang apa?"
Zizi terheran-heran melihat Maria yang sedang memiting seonggok hantu none Belanda juga.
"Aduh sakit tahu!!"
Hantu None Belanda itu terus meronta mencoba melepaskan diri dari Maria, tapi Maria tetap berusaha memiting hantu itu.
"Aunty, kenapa sih dia?"
Tanya Zizi heran.
"Dia merusak citra None Belanda, penampakan seenak jidatnya, tadi itu ada anak muda lari terbirit-birit."
Kata Maria.
Zizi nyengir.
Aaah ternyata, yang dilihat Dodo bukan Maria, tapi hantu bule lain.
Zizi akhirnya memilih duduk di salah satu bangku dekat pohon.
"Bawa sini Aunty."
Ujar Zizi.
Maria menarik bagian belakang gaun hantu None Belanda itu.
"Aduh kasar amat sih..."
Hantu itu protes.
"Kamu yang katanya dipindahin sama Aki sapa tadi yang hantu kepalanya hampir putus."
Zizi lupa.
"Mantra. Ki Mantra."
Sahut Maria.
"Haiiish... Ki Marta dodol."
Plak!!
Maria menabok kepala hantu itu.
"Aw..."
Hantu itu mengusap kepalanya yang kena tabok.
"Tadinya kamu di mana? Pasti gangguin orang juga kan?"
Tanya Zizi.
"Enggak, dari dulu aku emang rumahnya di sana, rumahku bersama Bang Damar."
Kata si hantu dengan mata berbinar-binar macam hologram.
"Damar siapa juga kagak penting.
Ujar Maria.
"Dia penting bagiku!!"
Tiba-tiba mata hantu itu mendelik dan berubah jadi putih semua, wajahnya marah.
Plak!!
Maria menaboknya.
"Aduh."
Si hantu mengusap kepalanya lagi.
"Aku musti beli helm ini."
Kata si hantu.
"Ya beli helm trus ikut pulang Othor ke Saturnus."
Kata Zizi.
"Hah jauh amat, nanti Bang Damar bingung mencariku."
Kata si hantu.
"Damar, Damar, Damar... dari tadi yang diomongin Damar terus, bosen banget."
Kata Maria.
Zizi menatap di hantu.
"Kamu mati ditembak Nippon juga kayak Aunty?"
Tanya Zizi.
Hantu itu menggeleng.
"Aku tidak ingat kematianku, yang aku ingat hanyalah aku diminta menunggu Bang Damar kembali."
Kata si hantu none Belanda.
Zizi menghela nafas.
Kadang heran dengan hantu, ada yang beberapa dari mereka ingat kenapa mereka dulu mati, dan ada juga yang tidak.
(Papa kamu koma juga jadi hantu lupa semuanya Zi, wkwkwk...
Othor lewat sambil naik vespa)
Maria dan Zizi berpandangan.
"Udah yuk Aunty kita balik ke alam lelembut, Raja Dalu pasti nunggu lama."
Kata Zizi.
Maria mengangguk.
"Kamu jangan sembarangan ganggu orang lagi, nanti None Belanda yang lain juga jadi sasaran dikira kayak kamu semua."
Kata Maria.
"Orang tadi aku juga nggak niat nakutin, aku lagi mau nanya ini di mana, kalau mau pulang ke tempatku harus lewat mana."
Ujar si hantu.
Zizi berdiri dari duduknya.
"Kamu sampai dibuang ke sini pasti karena bikin salah, kalau enggak mana mungkin dibuang ke sini, cari sendiri sono jalan pulangnya, Zizi mah ogah nolong lah."
Kata Zizi.
Tak lama Mintul datang melayang sambil muter-muter.
"Ngapa lagi ni hantu satu, kayak baling-baling bambu Doraemon."
Zizi menatap Mintul yang baru datang.
Maria dan hantu None Belanda juga memandangi Mintul.
"Mana hantu penunggu kios tadi?"
Tanya Zizi.
"Sudah aku antar ke tempat yang aman, nyaman, tentram dan penuh keberkahan yang melimpah ruah."
Kata Mintul.
Si hantu None Belanda jadi sirik.
"Lah itu kalian mau nolongin hantu yang dulu di sini kan? Kenapa aku enggak?"
Hantu si none Belanda protes keras.
Ia merasa menjadi korban diskriminasi perhantuan.
Mintul memandangi hantu None Belanda dari ujung kepala hingga ujung gaunnya yang berenda-renda.
"Apa lihat-lihat..."
Hantu bule tidak nyaman dipandangi sebegitunya oleh Mintul.
"Enggak apa, bener kata si sengleh, hantu None Belanda cantik banget."
Kata Mintul.
Mendengarnya tentu saja si hantu None Belanda itu senyum-senyum dikulum.
"Ya pastinya, siapa yang bisa ngalahin kecantikan Lestari sih? Dari masih hidup hingga sekarang, aku masih terlalu sulit dikalahkan kecantikannya."
Sombong hantu bernama Lestari.
Dan jelas saja, Zizi dan Maria langsung tertawa terpingkal-pingkal.
Haiiish... Hantu Lestari mendesis.
Tampak ia kesal karena merasa tersinggung.
"Udahlah, yuk kita buang waktu banget di sini, yuk Aunty, yuk Mintul, kita lanjutin misi kita."
Kata Zizi akhirnya.
"Misi apa sih? Kalian lagi ada misi apa?"
Hantu Lestari kepo.
"Yang jelas misi yang lebih berguna dari sekedar menunggu Damar. Lagian ini udah tahun 2021, kamu nunggu Damar itu dia juga pasti udah mati."
Kata Zizi.
Hantu Lestari menggeleng.
"Tapi nyatanya dia ada di rumahku, dia sudah kembali, titisan Damar sudah kembali untukku."
Zizi geleng-geleng kepala.
Hantu bucin susah nih. Batin Zizi.
Maria akhirnya merangkul hantu Lestari dan menyentil kening Lestari.
"Kayaknya memang ada yang belum kamu pahami betul sebelum kematianmu, makanya kamu gentayangan."
Kata Maria.
"Lah kamu juga gentayangan."
Ujar hantu Lestari.
"Aku gentayangan karena aku betah di alam ini, lebih-lebih begitu ketemu Nona Zizi."
Kata Maria.
"Ha aneh banget."
Batin hantu Lestari.
"Kau sebaiknya cari tahu, kenapa kau bisa tak tenang, cari tahu juga penyebab kematianmu, pastikan kamu tidak menunggu orang yang salah."
Kata Maria sambil melepas rangkulannya.
Hantu Lestari memandang Maria, lalu memandang Mintul, baru kemudian memandang Zizi yang mantuk-mantuk sependapat dengan Maria.
"Aku lihat kamu punya masalah dengan masa lalu yang rumit."
Kata Maria lagi.
Hantu Lestari terdiam, tiba-tiba ia ingat hari di mana pemuda bernama Damar kembali, tapi ingatannya terpotong hanya sampai di sana.
Ya, hanya saat pemuda itu berdiri di depan pintu dan menatap Lestari, menatap dengan tatapan sedih dan wajah yang pucat pasi.
Ada apa?
Ada apa sebetulnya dengan Damarku?
Lestari matanya meremang.
"Jiaaah dia malah mau nangis, udah ah, ayuk Aunty...
Zizi yang sudah ingin segera pulang tampak beranjak dari sana. Mintul pun melayang mengikuti Zizi, dan Maria kemudian menyusul.
"Kau harus selesaikan secepatnya, jika tidak, kau akan berakhir menjadi lelembut jahat."
Kata Maria sebelum benar-benar pergi meninggalkan hantu Lestari yang membisu menatap Maria, Zizi dan Mintul yang menjauh.
**-------------**