
"Ziziiii... Ziziiii... Kalian ini sedang apa?"
Zia mengetuk pintu perpustakaan dari luar.
Nancy yang tahu Shane bersama Zizi di ruangan perpustakaan berdua saja juga jadi terpaksa ikut naik ke lantai atas untuk menyuruh Shane keluar.
"Shane, keluar, kalian belum menikah!"
Nancy, Lycan yang menjunjung norma terdengar lebih tegas meminta Shane keluar dari dalam ruangan.
Maria melihat dua emak-emak itu heboh tertawa tak henti-hentinya, ia yakin dua anak muda itu di dalam sana bukan sedang melakukan hal tak pantas, tapi pasti sedang ribut karena masalah Katerina.
"Maria, kenapa kamu malah tertawa tak jelas, cepat kamu masuk ruangan! Kamu kan bisa menembus pintu."
Kesal Zia.
Maria yang masih tetap cekikikan akhirnya masuk ke dalam ruangan, di mana ternyata Zizi dan Shane sedang keduprukan mencari kunci di kolong-kolong tak buku.
Haiiish... Maria mendesis.
"Kalian ini sedang main tikus dan kucing apa bagaimana? Itu emak-emak dua sudah heboh, malah tidak ada yang menyahut."
Omel Maria.
Zizi garuk-garuk kepalanya.
Pusing.
"Kalau nyahut udah jelas Mama akan semakin berisik, ini kuncinya tadi Zizi lempar tidak tahu kemana perginya."
Kesal Zizi.
Shane tampak masih sibuk gradak gruduk mencari kunci, saat kemudian dari luar pintu perpustakaan terdengar seperti benturan keras.
Dan...
Brakk!!
Pintu jebol.
Terlihat Paman Marthinus berdiri di tengah pintu.
Zia dan Nancy melongok di kanan kiri Marthinus.
Mereka antara penasaran dan juga takut melihat kenyataan anak mereka melakukan hal tak pantas.
Maria tertawa lagi.
"Zizi ngilangin kunci Nyonya, jangan khawatir, mereka cuma heboh cari kunci tak bisa keluar."
Kata Maria di sela tawanya atas kelakuan Zizi dan Shane.
Zizi nyengir ke arah Mamanya yang mendengus seraya menggelengkan kepalanya.
Ia antara kesal pada Zizi dan juga malu pada besannya.
Walhasil jadilah kepalanya sakit.
"Aduh, kepalaku."
Zia memegangi bagian belakang kepalanya yang serasa munyeng-munyeng.
Zizi akhirnya keluar dari ruang perpustakaan, begitupun dengan Shane yang keluar membawa beberapa tas belanjanya yang baru saja dibelikan Tuan Zion.
Nancy juga terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Shane yang tampak keluar sedikit tertunduk karena harus terperangkap di dalam ruangan bersama Zizi dan membuat heboh kedua emak mereka.
Shane berjalan menuju lantai satu bersama Marthinus, sementara Nancy memapah Zia ke kamar Zia.
"Ibunya Shane, tolong ambilkan obatku, sepertinya tadi sudah aku keluarkan dari koper dan aku letakan di atas meja rias."
Ujar Zia yang kini duduk di atas tempat tidur sambil menyandarkan tubuhnya.
Kepalanya terasa sangat berat dan pusing.
Nancy mengangguk.
Dengan sigap, Nancy langsung mencari obat darah tinggi Zia di meja rias di mana Zia meletakkan wadah berisi obat yang ia bawa.
Begitu kemudian Nancy mendapatkannya, Nancy pun lantas membawakannya pada Zia.
Tak lupa diambilkannya pula botol air mineral yang selalu Nancy siapkan di meja kamar Zia saat Zia dan Zion ada di rumah.
Zia menerimanya dengan tersenyum.
"Terimakasih Nancy."
Kata Zia.
Nancy mengangguk, ia duduk di tepi tempat tidur seraya memijat kaki Zia dengan lembut.
Zia meminum obatnya, lalu setelah itu meletakkan botol air mineralnya di atas meja kecil dekat tempat tidurnya.
Ditatapnya calon besannya.
Nancy tersenyum ke arah Zia.
Zia pun sama.
Sejenak rasanya suasana terasa jadi canggung karena Zia tak juga bicara.
Nancy ingin memulai tapi tentu saja ia tak berani.
Hingga akhirnya, terlihat Zia menghela nafas, lalu...
"Ibunya Shane."
Zia memanggil Nancy.
Nancy mengangguk.
"Ya Nyonya."
Jawab Nancy.
"Aku minta maaf untuk semua kelakuan Zizi yang sejak dulu tak pernah berubah, yang selalu petakilan dan tak sama seperti gadis lain."
Ujar Zia akhirnya.
Nancy tersenyum sambil menggeleng.
"Nona Zizi gadis yang polos, tak ada yang salah dengan kepolosannya Nyonya. Hatinya baik, tulus, hangat dan dia sangat manis."
Kata Nancy.
Zia tertawa kecil.
"Meskipun kadang ia membuat kita harus mengelus dada, geleng-geleng kepala dan tekanan darah tinggi naik."
Ujar Zia menambahkan, membuat Nancy ikut tertawa kecil mendengarnya.
"Ibunya Shane."
Panggil Zia lagi.
Nancy mengangguk.
"Maaf juga karena kami memilih Shane menjadi pendamping Zizi."
Ujar Zia.
Nancy tertawa kecil lagi.
"Kenapa Nyonya harus minta maaf? Justeru sayalah yang harusnya minta maaf Nyonya, karena Shane seperti tidak tahu diri, tidak berkaca siapa dirinya, sampai berani mencintai Nona Zizi yang sudah jelas anak majikan Ibunya."
Kata Nancy.
"Seharusnya Shane sudah cukup bersyukur Tuan Zion dan Nona Zia tetap menerimanya di rumah ini meskipun ia kembali dalam keadaan sudah bukan manusia, seharusnya ia juga sudah cukup dengan disekolahkan dan numpang hidup."
Ujar Nancy pula.
"Ibunya Shane, jangan bicara begitu, kau tak pernah tahu betapa banyak yang telah Shane lakukan untuk Zizi, dan lagi..."
Zia menghentikan kalimatnya sejenak, ada sedikit ragu dalam dirinya untuk melanjutkan kalimatnya.
Nancy memandang Zia untuk menunggu Zia bicara lagi, meneruskan kalimatnya yang terputus.
Lalu...
"Terus terang, ini berat untuk aku katakan, karena mungkin kau sebagai Ibu bisa jadi akan sedikit terluka."
Kata Zia akhirnya melanjutkan kalimatnya yang terjeda.
Nancy tak berani bersuara lebih dulu, ia lebih memilih untuk menunggu Zia mengatakan semuanya lagi hingga selesai.
Zia menghela nafas, hatinya sebetulnya merasa tak enak, tapi ini harus ia sampaikan, karena ini pastinya jauh lebih adil untuk Nancy dan Shane.
"Ibunya Shane, ketahuilah bahwa sejatinya Zizi mungkin kelak harus berhadapan dengan kekuatan dari keturunan musuh keluargaku. Sosok itu akan berusaha menguasai dua alam sekaligus, alam kita dari manusia dan juga alam lelembut. Tujuannya untuk menjadi penguasa dua alam itu dulu sempat digagalkan karena ia tak bisa menguasai tiga pusaka milik Nenek moyangku, dan kini ia cepat atau lambat pasti akan memburu Zizi untuk mendapatkan pusaka terakhir yang sempat dimiliki Ayahnya."
Kata Zia.
Nancy menatap Zia.
"Pusaka terakhir? Apa itu Victorious Sword?"
Tanya Nancy pada Zia yang tampak langsung menganggukkan kepalanya.
"Karena itulah Nancy, salah satu alasan kami memilih Shane karena menurut kami, Shane yang paling mampu mendampingi Zizi mengatasi serangan dari dua sisi. Selain Shane mampu mendampingi Zion di perusahaan, Shane juga bisa mendampingi Zizi menghadapi dari sisi mahluk lain."
Kata Zia.
Nancy mengangguk mengerti.
"Ya Nyonya, saya faham apa yang Nyonya dan Tuan Zion inginkan, dan tentu saja saya tidak masalah. Sudah jadi kewajiban Shane melakukan apapun yang terbaik untuk keluarga Tuan Zion dan Nyonya Zia, lagipula direstuinya hubungannya dengan Nona Zizi tentu itu adalah hal yang paling membahagiakan Shane."
Kata Nancy tulus.
"Kami bukan manusia lagi Nyonya, tak ada yang kami inginkan lebih dari apa yang sudah kami dapatkan. Kami bisa hidup seperti manusia tanpa diganggu sesama mahluk seperti kami saja itu sudah sangat kami syukuri."
Lirih Nancy.
Zia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Nancy.
"Nyonya Zia dan Tuan Zion tak perlu khawatir, saya yakin Shane pasti tak akan merasa keberatan dipilih karena alasan apa saja. Buatnya bisa bersama Nona Zizi saja, itu sudah membuatnya sangat bahagia."
Nancy tampak berkaca-kaca.
"Saya melihat kebahagiaan itu sangat besar sejak ia pulang dari Indonesia dan menceritakan bahwa Tuan Zion memberikannya restu. Keinginan Shane untuk berusaha jadi manusia lagi sejatinya juga karena ingin menua bersama Nona Zizi saja."
Nancy akhirnya tak kuasa menitikkan air mata.
"Tapi, kenyataan memang berkata lain, dan ini pasti sudah ditakdirkan untuk Shane karena Nyonya Zia dan Tuan Zion membutuhkan Shane yang bukan seutuhnya manusia."
Mendengar itu Zia akhirnya memeluk Nancy.
"Ibunya Shane, apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kebaikan mu."
Ujar Zia.
Nancy menggeleng.
"Sayalah yang banyak sekali menerima kebaikan Nyonya. Anda memiliki hati yang sangat hangat Nyonya. Tak banyak manusia memiliki hati setulus anda saat ini."
Lirih Nancy.
Zia berlinang air mata.
"Aku tak sebaik itu Ibunya Shane, aku tak sebaik itu."
Kata Zia.
Hingga Zia tiba-tiba teringat soal calon cucu mereka.
Zia pun melepaskan pelukannya pada Nancy pelahan, lalu berkata pada Nancy.
"Ah yah Ibunya Shane, aku juga punya kabar."
Kata Zia.
"Kabar? Kabar apa Nyonya?"
Tanya Nancy memandang Zia.
"Cucu kita, anak Zizi dan Shane."
Lirih Zia.
"A... Anak?"
Nancy belum apa-apa sudah terlihat matanya membulat.
Ia langsung berpikir bahwa Zizi sebetulnya sedang mengandung anak Shane.
Ah jadi ini juga salah satu alasan kenapa Zizi dan Shane buru-buru harus dinikahkan? Batin Nancy lemas.
Zia yang melihat ekspresi Nancy seperti memikirkan hal-hal yang tak benar langsung seketika meralat.
"Tidak Ibunya Shane, ini tidak seperti yang kamu bayangkan."
Kata Zia.
"Lalu... Itu cucu apa maksudnya Nyonya..."
Zia yang melihat Nancy gemetaran jadi tertawa.
**----------------**