Zizi

Zizi
42. Dua Korban Pembunuhan


Boneka di atas pangkuan mayat itu berhenti menangis, semua orang tampak mundur beberapa langkah sambil kasak-kusuk.


Zizi menatap tajam boneka itu.


"Keluar kau! Aku tahu kau bukan yang si mayat!"


Bentak Zizi.


Bentakan Zizi membuat orang-orang makin terheran-heran.


"Dia indigo atau apa?"


"Dia melihat hantu?"


"Ah dia pasti bukan sekedar bisa melihat hantu."


Maria yang mendengar mereka berisik kasak kusuk jadi kesal.


"Haiiish..."


Maria mendesis, melayang ke arah mereka, dan menjitak kepala mereka satu persatu.


"Aduh, apa tadi."


Mereka kompak mengaduh sambil mengusap kepala.


Bersamaan dengan itu orang dari pos jaga datang bersama dua orang pendaki yang melaporkan penemuan mayat tersebut.


Zizi sendiri masih menatap tajam ke arah boneka di mana di sana ada hantu bersembunyi.


Zizi sebetulnya ingin menyambar boneka itu dan mencekiknya supaya hantu yang kini bersembunyi di sana mau keluar, tapi Zizi tahu jika apapun yang ada di TKP tak boleh disentuh, dipindahkan, apalagi dirusak.


Semua harus tetap dijaga hingga pihak kepolisian datang.


"Aku saja Zi yang memaksanya keluar."


Kata Maria setelah menjitak orang satu persatu.


Zizi menatap Maria lalu mengangguk.


Maria melayang ke arah boneka di atas pangkuan mayat, sementara petugas pos jaga menelfon kepolisian dan juga aparat desa setempat.


Maria masuk ke dalam boneka dan tak butuh waktu lama, hantu none Belanda itupun menyeret paksa hantu anak gadis yang sepertinya masih berusia tujuh belas tahun.


Hantu gadis itu memakai seragam olahraga dengan bagian atasnya yang penuh darah seperti luka-luka tusuk.


Zizi mengurut kening.


Maria menjambak hantu anak SMA itu mendekat ke arah Zizi.


"Pasti kau akan tanya kenapa aku bersembunyi dalam boneka."


Kata hantu gadis itu.


Zizi menatapnya.


"Aku juga ingin pulang. Setidaknya aku pulang meski tak bersama ragaku lagi."


Hantu gadis SMA itu menangis.


Zizi mengajaknya menjauh dari kerumunan sebentar.


"Kau juga dibunuh di sini?"


Tanya Zizi.


"Ya, dan aku dibuang di sini, mayatku di dalam kantong tidur di dasar jurang."


Kata si gadis hantu.


"Di mana?"


"Dekat jatuhnya pesawat Sukhoi."


Jawab si gadis.


Zizi berpandangan dengan Maria.


"Bagaimana bisa kamu dibuang di sini? Mereka akan bertemu orang yang berjaga."


"Tidak kalau kita datang dalam posisi masih hidup."


"Perempuan itu? Dia juga dibunuh di sini?"


Tanya Zizi.


"Ya."


"Siapa?"


"Sesama temannya, satu perempuan dan satu laki-laki, mereka ribut besar lalu akhirnya dia mati dan ditinggalkan di situ."


Kata si gadis hantu.


"Aku akan telfon Kak Arya, nanti urusanmu aman dengannya."


"Siapa kak Arya?"


Tanya si gadis hantu.


"Polisi, kakak Zizi."


Kata Maria menjawabkan pertanyaan si gadis hantu.


Mendengar Maria menyebut nama Zizi, tampak si gadis hantu terkejut.


"Zizi? Dia Zizi?"


Si gadis hantu menunjuk Zizi yang kini mulai mencoba menghubungi Arya.


"Kenapa?"


Tanya Maria.


"Saat aku pertama jatuh di jurang, ada seorang perempuan cantik menarik aku ke atas, dia bilang tunggu saja di jalur pendakian, beberapa hari lagi akan ada manusia bernama Zizi yang bisa menolongku."


"Perempuan cantik?"


Tanya Maria.


"Ya, dia cantik, sama sekali tak menyeramkan. Dia satu-satunya hantu yang tak menyeramkan di sini."


"Kau pikir kau tidak menyeramkan?"


Sinis Maria, gadis hantu itu melihat seragam olahraganya yang penuh darah.


Gadis hantu itu nyengir...


"Hehehe... Lumayanlah."


Katanya polos.


Terdengar Arya memberikan jawaban dari jauh.


"Ya Kak, oke. Tapi aku tak bisa lama menunggu, aku harus pergi lagi, jadi tolong lebih cepat."


Ujar Zizi.


"Ya Sa..."


Tuuuuut...


Zizi menutup telfonnya.


Ia tidak tahu Arya mau bicara apa sebetulnya, pokoknya sudah "Ya", itu yang penting.


Zizi kembali menghampiri gadis hantu dan Maria.


"Tunggu sebentar."


Kata Zizi sambil melihat jam sport mewah yang melingkar di tangannya.


"Waaaaw..."


Hantu gadis itu melongo melihat jam mewah di tangan Zizi.


Hantu gadis itu melihat Zizi dari atas hingga bawah yang memakai semua barang branded meskipun kelihatannya biasa saja.


Gadis hantu itu menoleh pada Maria dan berbisik,


"Dia tajir ya?"


Tanya si hantu gadis.


"Dia cucu pendiri Alpha Centauri Group."


Kata Maria.


"Hooo..."


Gadis hantu itu makin melongo.


"Tajir melintir, cantik, bisa lihat hantu."


Gadis hantu itu berdecak kagum, dan ia dibuat tambah melongo manakala seorang pemuda bule berambut gondrong yang diikat rapi berjalan mendekat ke arah Zizi.


"Polisi sudah mulai naik, anda ingin bicara dulu dengan mereka Nona? Sebelum kita melanjutkan perjalanan."


Zizi mengangguk.


Zizi menoleh pada gadis hantu yang memperhatikan Zizi dan Shane sambil menggelengkan kepalanya.


"Cepat ikut aku."


Kata Zizi memerintah.


Shane menatap si gadis hantu dengan matanya yang tajam, tampak si tampan itu tersenyum sambil sedikit menganggukkan kepalanya seolah memberi salam saja.


"Waaaaaaa... aku meleleh."


Kata gadis hantu.


Plakk!!


Maria menabok kepala si gadis hantu.


"Meleleh meleleh, cepat itu ikuti Nona Zizi, kamu katanya mau pulang, biar polisi sekalian membawa mayatmu juga."


Ujar Maria.


Hantu gadis itupun melayang mengikuti Zizi mendekati kerumunan yang melihat mayat memangku boneka.


"Ke mana hantu si mayat?"


Gumam Zizi sambil celingak-celinguk.


"Dia ikut pulang dengan pembunuhnya."


Kata si hantu gadis yang sudah di sebelah Zizi.


"Sepertinya kalau tidak salah, si pembunuh ketinggalan ID cardnya, aku lihat kok."


Kata si gadis hantu.


"Di mana?"


Tanya Zizi.


"Tadinya di sekitar sini, mungkin tertutup daun kering yang berjatuhan, cari saja."


Kata si gadis hantu.


"Kamu baca tidak?"


"Hanya sekilas, tapi aku lihat namanya Dewi."


Jawab si hantu gadis.


Tak lama berselang, tampak rombongan aparat desa setempat dan juga kepolisian datang, di sana termasuk juga ada kak Arya.


"Aku akan bicara pada Kak Arya, cepat ikut aku."


Kata zizi pada hantu gadis sma.


Shane yang melihat kedatangan Arya sekilas tampak tak nyaman, namun ia tetap berusaha tenang, ia diam saja dan lebih memilih berada di tempatnya bersama Maria dan mbak Pocong yang baru saja dari gerbang gaib.


"Gerbang gaib sebentar lagi dibuka, Nona Zizi harusnya jangan lama-lama."


Kata Mbak Pocong.


"Sudah biar saja, dia tahu apa yang harus dilakukan."


Kata Maria.


Shane menatap Zizi yang kini terlihat bertemu Arya dan bicara serius dengan hantu gadis di sebelah Zizi.


Ada yang terasa sedikit mengganggu di sudut hati Shane, sakit, marah tapi juga sedih.


Ya Shane sekali lagi merasa terintimidasi dengan kenyataan jika dia bukan manusia, sungguh jika bisa ia ingin jadi manusia lagi.


Andai darah Naga bisa membuatnya kembali manusia tanpa harus berefek ia akan mati...


Shane tertunduk.


Maria yang tahu Shane terlihat tak nyaman melihat Zizi bersama Arya tampak menepuk bahu Shane.


"Aku ada di pihakmu, tenang saja, siapapun yang lebih tulus pada Zizi, pasti akan mendapat dukungan dari semesta."


Ujar Maria membuat Shane menatapnya.


**------------**