Zizi

Zizi
220. Menuju Pembersihan Untuk Hari H


Hingga kemudian tampak asisten Chef Rasya bergidik saat kembali ingat masuk ke kamar pelayan bernama Erna itu sore tadi saat meminta layanan antar salad buah.


Memang sejak banyak pegawai hotel yang resign setelah kasus bunuh diri model tempo hari, setiap ada layanan antar ke kamar, terpaksa beberapa asisten di dapur mau tak mau jadi ikut andil mengantar pesanan.


Sebetulnya ini jelas jauh dari tugas utama mereka, yang harusnya hanya bekerja di Seputar dapur Resto dan juga di restorannya saja.


Untungnya, karena memang posisinya sedang sangat mendesak, pihak Zombie hotel sendiri membuat kebijakan untuk memberikan tambahan gaji bulanan sampai 80% gaji, jadi bisa dibilang sangat lumayan untuk dianggap bonus.


"Cepeeet, apa yang kamu lihat, lama nih."


Maria ngomel, meskipun jelas saja si asisten Chef Rasya tak dengar Omelan Aunty.


Sebetulnya Aunty bisa saja melakukan kekerasan dengan menempong asisten Chef Rasya dengan serokan, tapi pasti Zizi akan ganti menempongnya nanti.


"Kamu tahu tidak sayang?"


Asisten Chef Rasya kembali angkat besi, eh angkat suara.


"Aku melihat tangan pelayan Erna saat menerima wadah salad buah yang aku antar itu seperti bersisik, seperti sisik apa ya..."


Asisten Chef Rasya berpikir.


"Sisik apa?Sisik apaaa?"


Maria tidak sabar.


"Sisiknya seperti Ikan Bandeng, tapi lebih kasar."


Kata Asisten Chef Rasya lagi pada pacarnya masih via telfon.


"Aaaah iya sayang, benar, sisik ular... Ya, sisik ular, tangannya seperti sisik ular."


Kata Asisten Chef Rasya.


Maria langsung mantuk-mantuk.


"Jadi dia orangnya."


Gumam Maria dengan tersenyum miring.


"Ah nanti kita teruskan bicaranya, kamar dia kan persis di atas resto, di lantai dua, jangan-jangan dia nguping."


Mana ada orang bisa dengar pembicaraan di luar kamar beda lantai di hotel berbintang.


Tapi...


Ah tentu saja itu akan mungkin jika yang tinggal di kamar itu bukan manusia utuh, tapi mahluk jadi-jadian.


Maria mendongakkan wajahnya melihat ke atas.


Pantas ada aroma aneh yang tercium di sekitar sana, Maria yakin ia sedang mengeluarkan energinya sebagai ular.


Atau jangan-jangan dia terluka?


Maria kemudian melayang ke arah resto lagi, di mana Zizi sedang mulai menikmati steaknya.


Merasa kasihan jika harus menggangu acara maka Zizi yang terus tertunda sejak siang tadi, maka Maria memutuskan sidak sendiri lebih dulu.


Maria melayang keluar restoran tanpa disadari oleh Zizi yang terlihat sangat lahap makan steak dan kentang goreng ditemani Chef Rasya yang bicara soal Nadia yang selama ini ternyata sudah cukup sering tampil di acara musik.


Maria melesat menembus plafon menuju lantai dua, tapi tak Maria sangka, ia terpental dan jatuh tersungkur yang langsung disambut cekikak cekikik para hantu yang bersembunyi di kegelapan.


Haiiish... Maria mendesis.


Maria tampak menatap plafon hotel, jelas sudah siluman itu memagari semuanya agar tak ada hantu yang bisa masuk lantai dua.


"Sial!!"


Maria kesal bukan main karena baru tahu jika salah satu pelayan di rumah Kakek Ardi Subrata adalah silumannya.


Maria yang tak mau menyerah kembali mencoba menuju lantai dua lewat jalan manusia.


Ia memutar ke arah anak tangga, tapi begitu sampai di pintu yang menuju lantai dua, sebuah pagar gaib terlihat jelas tak bisa ia tembus.


Yah, ini jelas percuma. Batin Maria.


Tak ada pilihan, memang Zizi yang harus mengurusnya.


**---------------**