
"Jadi kapan pulang?"
Tanya Zion pada Zia via telfon saat dirinya dalam perjalanan pulang ke rumahnya di Bogor.
"Mungkin lusa Pa."
Jawab Zia jauh di sana.
Zion mantuk-mantuk.
Tubuhnya bersandar pada kursi mobil, sementara matanya menatap keluar jendela.
Malam diguyur hujan deras malam ini, beberapa titik jalan tampak macet.
Di depan Zion, Dave membawa mobilnya dengan tak seberapa cepat.
"Bagaimana pembicaraan dengan Nancy? Apa semua berjalan dengan baik?"
Tanya Zion.
"Ya tentu, kami saling memahami satu sama lain."
Ujar Zia.
Zion tersenyum.
Ia sudah menduganya, Zia dan Nancy memang pasti akan bisa saling mengerti.
"Ah, aku meminta data informasi Vero, kenapa belum dikirimkan?"
Tanya Zia.
"Vero? Oh pengawal baru itu, sebentar."
Zion kemudian memanggil Dave.
"Dave, data Vero apa benar belum dikirimkan kepada Nyonya Zia?"
Tanya Zion pada Dave.
Dave yang ditanya oleh Zion tentang Vero terlihat terkesiap.
"Maaf Tuan Zion, saya tadi sebetulnya mau melapor tapi saya sampai lupa karena pergantian sif mendadak dengan Joni."
Kata Dave.
Zion mengangguk.
"Ya Dave tak masalah."
Sahut Zion.
"Nanti akan saya sampaikan begitu kita sampai."
Ujar Dave.
"Baiklah."
Zion menyetujui.
Mengingat hujan sangat deras, tentu Dave butuh konsentrasi lebih dalam mengemudi.
"Nanti aku akan menelfonmu lagi sayang."
Zion berganti pada Zia lagi.
"Baiklah, hati-hati Pa."
Kata Zia.
"Ya, kau dan semuanya juga. Lusa pulang dengan Zizi bukan?"
Tanya Zion.
"Ya tentu saja."
Kata Zia.
Zion menghela nafas.
"Andromeda juga akan mengadakan pesta untuk salah satu pewarisnya dalam waktu dekat."
Lirih Zion.
"Ya aku tahu."
Zion tampak kaget.
"Kau tahu? Darimana?"
Tanya Zion.
"Tempat kami pesan gaun untuk Zizi, orang dari Andromeda juga memesannya di sana juga."
Tutur Zia.
"Benarkah?"
"Ya, Alexander Sapta Wijaya, kalau tidak salah itu nama yang tadi disebutkan pemilik butik."
"Ya, dia adik sepupu Veronika."
Kata Zion.
"Dulu saat Heri Sapta masih berada di Alpha Centauri, kadang Alex yang masih balita diajak."
"Jadi kau mengenal baik sosoknya."
Gumam Zia.
"Tidak juga, hanya beberapa kali saja aku melihatnya, lalu mereka pindah ke Inggris."
"Yah."
Zia mengiyakan.
"Ah, bagaimana dengan Natalia, apa kau mengenalnya juga?"
Tanya Zia pula.
"Natalia?"
Zion menggumamkan nama Natalia.
"Sepertinya aku baru dengar, mungkin dia lahir setelah keluarga mereka semua pindah ke Inggris."
"Ah yah, bisa jadi."
Zia kembali sependapat.
"Kau bertemu dengannya? Atau ada sesuatu yang aneh tentangnya?"
Tanya Zion.
"Entahlah, belum bisa dipastikan, ini hanya baru perkiraan saja."
"Kenapa?"
Zion penasaran.
"Perempuan keturunan ular, Zizi cerita saat menemani Maria berbelanja di butik memilih gaun barunya, ia mendengar hantu pelayan butik itu bercerita tentang perempuan keturunan ular, dan ia menyebutkan Andromeda."
"Andromeda? Kau yakin?"
Zion tentu saja begitu terkejut.
"Zizi yang mendengarnya dari hantu pelayan, apa perlu aku panggilkan Zizi? Dia sedang berada di kamar."
"Tidak perlu, nanti saja, sebentar lagi masuk Bogor, nanti aku hubungi lagi, hujan deras sekali."
Ujar Zion.
Zia akhirnya.
Sambungan telfon mereka pun terputus.
Zion memasukkan hp nya ke dalam saku jas nya kembali.
"Natalia, apa kau pernah mendengar nama itu dari keluarga Hary Sapta, Dave?"
Tanya Zion pada Dave.
"Natalia?"
Dave mencoba mengingat.
Lalu...
"Ya, sepertinya aku pernah mendengar atau melihatnya di berita online."
Kata Dave.
"Hary Sapta mengambil alih Andromeda Putra Corporations dalam waktu lima belas tahun ini berkembang sangat pesat, salah satu yang paling sukses adalah bisnis mode mereka, dan sepertinya keluarga dari Nona Natalia inilah kesuksesan Andromeda dimulai."
Ujar Dave melanjutkan.
Zion mendengarkan dengan seksama.
Ya, bisnis mode, bisnis yang memang tidak pernah di sentuh oleh Alpha Centaury selama ini.
Karena tentu saja, sejak Kakek Zion mendirikan perusahaan Alpha, belum pernah ada perempuan yang terlahir di dalam keluarga mereka kecuali Zizi, dan...
Ah, Zion mengurut kening...
Zizi jelas sekali tidak tertarik dengan mode.
Ia hanya tertarik dengan hantu, lelembut, siluman, jin, dan lain sebagainya.
**----------------**
Maria terlihat sibuk mematut diri di depan cermin besar di kamar Zizi, meskipun ia tahu bahwa tak ada satupun pantulan bayangannya di cermin itu, tapi tetap saja ia berlagak macam sedang bercermin.
Zizi yang sedang main hp di atas tempat tidur akhirnya tak bisa menahan diri untuk julid.
"Aunty, mau sampai kapan muter-muter di depan cermin begitu? Lama-lama cerminnya retak."
Kata Zizi.
Haiiish... Maria mendesis.
"Pantulan bayanganku saja tidak ada, mana mungkin cerminnya retak."
Kesal Maria.
Zizi cekikikan, lalu main hp lagi.
Maria yang kemudian ingat ingin membahas soal Natalia jadi melayang ke atas tempat tidur Zizi.
"Perempuan keturunan ular itu, aku yakin Natalia itu orangnya Zi."
Kata Maria.
Zizi mantuk-mantuk.
"Sepertinya mereka akan mengancam kita dari berbagai sisi Zi."
Ujar Maria lagi.
Zizi menganggukkan kepalanya.
"Karena yang diincar Paman Jaka Lengleng bukan hanya kekuasaan di tanah lelembut, tapi juga tanah manusia."
Sahut Zizi.
"Ah kenapa mereka sudah mulai mencurigakan yah?"
Gumam Maria.
"Lah, kan siapa cepat dia dapat."
Kata Zizi.
"Lah, padahal aku yakin yang akan menghadapi mereka itu anak-anakmu dengan Shane, tapi mereka malah sudah bermunculan dari sekarang."
Zizi yang mendengarnya jadi melempar bantal ke arah Maria.
"Sebelum anak-anak Zizi lahir, mereka sudah Zizi bumi hanguskan."
Kata Zizi.
"Jangan sombong dulu, kita belum tahu kekuatan musuh. Apalagi..."
Maria melayang lebih dekat pada Zizi.
"Apalagi, banyak orang mencurigakan di sekitar kita sekarang ini, terutama Vero."
Ujar Maria.
Zizi menghela nafas.
"Apa perlu kita bereskan Vero sekarang?"
Tanya Zizi antusias.
Maria terdiam sejenak, lalu, ia menggeleng pelan sambil menatap Zizi.
Zizi yang ditatap oleh Maria jadi bingung.
"Kenapa lihatin Zizi seperti donat kentang kebanyakan keju?"
Tanya Zizi pada Maria.
Maria mengulum senyum.
"Sudahlah, Aunty rasa kamu harusnya fokus siapin diri untuk pernikahan nanti."
Ujar Maria akhirnya.
Zizi nyengir kuda.
"Acara akan digelar secara kekeluargaan dulu di Indonesia, lalu akan diadakan resepsi satu bulan setelahnya di tiga negara, begitu kan?"
Tanya Maria.
Zizi menghela nafas.
"Sebetulnya Zizi tak terlalu suka pesta, nanti Zizi akan minta pesta cukup di Indonesia saja."
Ujar Zizi.
"Jika melihat pesaing Alpha Centauri sekarang adalah perusahaan sekelas Andromeda yang pastinya akan didukung kekuatan tak kasat mata juga dari Paman Jaka Lengleng, maka sudah jelas Papa saat ini harusnya mulai lebih hemat."
Maria yang mendengar Zizi tumben bicaranya bener sampai terkejut.
Salah makan apa ini anak?
Batin Maria.
"Zizi juga tahu tadi Mama pesan gaun semahal itu karena terprovokasi, aslinya dia bukan tipe orang yang suka foya-foya dengan uang hanya untuk satu gaun."
Kata Zizi.
Maria mengangguk.
"Ya Zi, sepertinya Mama mu mulai stres menghadapi semuanya, hanya saja ia berusaha kuat."
Kata Maria.
Zizi mengangguk.
**---------------**