Zizi

Zizi
113. Benarkah Dia Dewi?


Eeeeeeiiits...


Tiba-tiba sesosok hantu mengerem mendadak saat menembus dinding dapur resto dan melihat Maria ada di sana.


Hantu dengan seragam hotel itu langsung berbalik dan cap cus menghindari Maria.


Maria yang kadung melihat, tentu saja langsung cincing-cincing gaunnya yang masih robek-robek.


Ah Maria lupa minta pada Zia ganti gaun.


"Whoooiii hantu karyawaaan..."


Maria manggil-manggil si hantu yang ngibrit kocrat-kacrit.


Dengan melesat melebihi kecepatan ngebutnya Valentino Rossi, Maria mengejar si hantu karyawan yang menembus setiap kamar.


Maria yang sebetulnya menghormati privasi manusia walhasil jadi ikutan sableng seperti hantu karyawan.


Mereka kejar-kejaran menembus dari satu kamar ke kamar lain.


Ada kamar yang orangnya sedang bersolek, ditabrak saja oleh hantu karyawan sampai lipstiknya mencong.


Ada kamar yang dihuni orang sedang sarapan di dalam kamar jadi keselek karena ketabrak hantu karyawan dan Maria.


Ada lagi yang sedang saling bertatapan untuk memulai sesuatu akhirnya gagal karena yang satu terjungkal ke belakang, satunya lagi jatuh ke samping.


"Apa tadi?"


"Apa itu?"


"Ada apa?"


Begitulah mereka bereaksi.


Seolah ada sesuatu yang menabrak tapi tidak kelihatan, jadilah mereka penasaran.


"Heeeeiiii, karyawan, capeek bodoh, berhenti!!!"


Maria yang setengah bulan ini sudah melalui perjalanan menuju Merapi bersama Zizi, tentu saja energi nya banyak terkuras dan jadi tak sekuat sebelumnya untuk mengejar hantu karyawan.


Maria ngos-ngosan, pinggangnya juga encok.


Ia mengurut pinggangnya sebentar sambil berhenti.


Tanpa terasa, ia sudah berada di lantai lima zombie hotel.


Di lantai satu, Zion baru saja sampai, ia celingak-celinguk mencari sosok Maria yang katanya sudah menuju hotel Zombie lebih dulu, tapi...


Ke mana si None Belanda? Kenapa tidak terlihat?


Alih-alih Maria yang terlihat, kini malah Dimas yang tampak berjalan ke arah Zion.


"Tuan."


Dimas membungkuk memberi salam.


Zion mengangguk.


"Beberapa tamu yang ketakutan cek out tadi, ada sekitar delapan orang, tapi semua tak sampai ada masalah lebih dari itu."


Dimas melapor.


Zion mantuk-mantuk.


"Tamu lainnya bagaimana?"


Tanya Zion.


"Mereka malah ada yang merasa hal itu justeru semakin menambah seru, karena beberapa dari mereka memang ingin menginap di Zombie hotel seperti ajang uji nyali juga."


Kata Dimas.


Ya, nyatanya memang hotel zombie mengusung konsep horor, hanya saja selama ini hantu dan monster di zombie hotel harusnya hanya sekedar ornamen saja.


Bahkan Zion juga sengaja membangun hotelnya tak semua lantainya berisi kamar dengan tema horor.


Zombie hotel memiliki banyak pilihan tema kamar agar bisa tetap dinikmati orang yang tak terlalu berani dengan hantu tapi tetap ingin gaya berani.


Tapi, kenyataannya, hantu-hantu asli justeru senang mengganggu para tamu yang bukan di kamar tema hantu.


Seperti mereka tahu memilih target.


Zion kemudian memandang ke arah meja resepsionis.


Dewi, karyawannya yang sudah empat hari tak ada kabar berita dan baru saja Zion ingin Arya menyelidiki keberadaannya, kini tiba-tiba muncul di depan tamu hotel sebagai hantu.


Bagaimana bisa?


Kenapa dia tiba-tiba saja jadi hantu?


"Jadi dari keterangan para tamu hotel yang cek out, gangguan hantu dengan seragam hotel dan juga telfon menawarkan layanan kamar sudah ada sejak dua hari lalu Tuan."


Bang Dimas menambah laporannya.


Zion memandang Dimas.


"Namanya juga Dewi?"


Tanya Zion.


Dimas mengangguk.


Zion menghela nafas.


"Lantai mana saja yang dapat gangguan?"


Tanya Zion.


"Semua lantai yang tidak ada kamar tema horor Tuan."


Ujar Dimas.


Zion akhirnya meminta Dimas dan semua pengawalnya mengawal Zion menuju beberapa kamar yang mendapat gangguan.


Sekalian ia juga akan mencari si hantu None Belanda.


Saat lift terbuka, Zion masuk ke dalam lift dengan Dimas, Joni dan dua pengawal lainnya.


Empat pengawal sisanya bertahan dan berjaga di lantai satu.


Masuk di lift, aslinya Zion harusnya berdiri di belakang, tapi ia melihat hantu Nenek yang matanya bolong cengar-cengir di berdiri di belakang juga, tapi dengan posisi terbalik.


Kaki nempel di atas langit-langit lift, sementara kepalanya andul-andul di bawah.


Haiish... Udah tua saja gaya pake kebalik-balik begitu, dikira mirip Shane kali. Batin Zion sambil meminta pindah tempat berdiri di depan saja.


Plak!!


Hantu Nenek menabok belakang kepala Zion sambil mendekatinya dengan posisi tetap terbalik.


Zion melirik hantu nenek dengan perasaan campur aduk.


Ingin rasanya Zion membaca mantera pahit... Pahit... Pahit...


Tapi...


Manalah bisa Zion baca mantera di depan para pengawalnya yang badannya saja sudah macam hulk diet dua minggu.


"Kamu pasti mau cari hantu penakut itu kan Tuan."


Kata Hantu nenek.


Apa sih, dia nyindir aku atau bagaimana. Batin Zion.


"Gadis itu, baru datang dua hari lalu, dia karyawan di sini, tapi tiap aku sapa, dia lari ketakutan."


Kata hantu nenek.


Yaiyalah takut, mata lu bolong. Batin Zion.


Ting.


Lift berhenti.


Zion menghela nafas lega.


Sradak sruduk Zion langsung lompat keluar dari lift mendahului pengawalnya yang jadi pada bingung Tuannya main lompat saja.


Dimas dan Joni yang paham Zion pasti melihat sesuatu hanya senyum-senyum dengan kelakuan Tuannya.


"Cepetan... Cepetan..."


Zion memberi isyarat pada para pengawalnya.


Semua mengikuti Zion.


"Kamar 36 dulu Tuan, Dewi terakhir penampakan di sana."


Ujar Dimas.


Zion menganggukkan kepalanya.


Ada sepasang kekasih keluar dari kamar nomor 32 yang satu baris dengan kamar di mana Zion dan para pengawal akan ke sana.


Sepasang kekasih itu membungkuk pada Zion, tampak Zion mantuk-mantuk saja.


Zion terus berjalan menuju kamar dengan nomor 36 saat tiba-tiba, dari kamar 35, sebuah bayangan melayang keluar dari pintu kamar.


Zion sampai hampir melompat ke belakang, jika saja ia tak langsung menyadari siapa sosok yang baru muncul itu.


"Eh Tuan."


Maria dadah-dadah sambil nyengir.


"Mana hantunya?"


Tanya Zion pada Maria.


Maria menggeleng.


"Tadi ketemu di dapur resto, tapi dia ngacir cepet banget."


Kata Maria.


"Jadi, belum tertangkap?"


Tanya Zion.


Maria menggeleng.


Zion menepuk jidatnya.


Maria cengar-cengir.


Para pengawal yang tidak begitu tahu Zion bisa melihat hantu jadi celingak-celinguk, ni Tuan ngomong sendiri jangan-jangan konslet.


Casing doang yang ganteng, tapi software nya sudah kena.


Dimas dan Joni untungnya adalah pengawal yang cekatan dan loyal sekali pada zion dan keluarga.


Maka mereka sigap mengajak pengawal junior untuk mendatangi kamar 36 lebih dulu yang merupakan target pantau mereka.


Zion yang sekarang merasa sudah lebih aman karena ada Maria jadi bergaya tak takut ditinggal para pengawal.


"Sepertinya hantu itu bersembunyi, nanti saya cari lagi Tuan."


Kata Maria.


"Ya Mar, cari dan tangkap saja, saya tidak tenang jika dia masih berkeliaran. Pastikan itu memang Dewi, atau jangan-jangan dia hanya hantu yang menyamar jadi Dewi."


Kata Zion.


Maria mengangguk.


Lalu...


**------------**