Zizi

Zizi
143. Hantu Gembul


Zizi menatap danau dan hutan di depannya. Danau dan hutan yang ada di sekitar komplek rumah Paman Ziyan tersebut persis sama dengan apa yang dulu Zizi lihat di hutan ke lima.


Aneh. Batin Zizi.


Zizi yang telah menghentikan laju sepedanya lantas turun dari sepeda dan berjalan menuju danau.


Saat Zizi semakin mendekat, tampak di bawah permukaan air danau itu ada sesuatu yang bergerak.


Melihatnya, bukannya lari menjauh, Zizi justeru melompat ke arah danau dan mengejarnya.


Zizi mengerutkan keningnya.


Apa itu? Batin Zizi lagi.


Eva yang juga mengikuti Zizi hingga tepi danau terdengar memanggil Zizi.


Zizi yang sadar jika kali ini ia hanya bersama Eva akhirnya memilih berbalik menjauhi danau dan menarik tangan Eva menjauh.


"Jangan pernah ke sini sendirian."


Kata Zizi.


Eva menatap Zizi yang menariknya kembali ke arah sepeda mereka berdua.


"Ada apa Kak?"


Tanya Eva.


Saat kemudian sampai di dekat sepeda, Zizi berbalik menoleh pada Eva.


"Ada sesuatu di danau itu, Kak Zizi belum tahu itu apa, tapi entah kenapa Kak Zizi merasa hutan dan danau ini terhubung dengan danau dan hutan ke lima."


"Hutan ke lima? Hutan apa Kak?"


Eva tak paham.


Zizi menatap Eva.


"Hutan yang Kak Zizi sempat lewati saat menuju ke Merapi beberapa waktu lalu."


Zizi lalu melihat ke arah hutan dekat danau, dan ia tercekat melihat dua batu besar yang ada di sana.


"Eva, tunggu di sini saja, jangan ikuti Kak Zizi."


Kata Zizi.


"Tapi Kak, mau ke mana Kak Zizi?"


Eva tak mengerti.


Tapi Zizi tak ingin banyak bicara dulu, ia ingin memastikan dulu apa yang ia lihat ini apa hanya perasaannya saja yang merasa semuanya seperti sama persis, atau memang benar sama dan semuanya saling terhubung.


Zizi berjalan menuju hutan dekat danau, tujuannya bukan masuk ke dalam hutannya, melainkan dua batu besar yang ada di depannya.


Jika apa yang Zizi pikirkan benar, kemungkinan Ali waktu kecil sebetulnya bukan masuk ke dalam hutan, tapi masuk ke hutan gaib di mana dia melewatinya melalui pintu di dua batu besar itu.


Pertanyaannya, kenapa Ali tak pernah menceritakan pengalaman itu pada Zizi?


Apa dia lupa?


Atau memang dia tidak pernah sadar pernah terseret ke alam siluman jauh sebelum dia masuk dunia peri.


Dan jika memang Ali bisa masuk ke sana, berarti Ali memang memiliki garis takdir yang tak jauh berbeda dengan Zizi, dan...


Zizi mendekati dua bongkahan batu besar tersebut.


Zizi meletakkan tangannya di salah satu batu besar yang seperti sengaja ada di sana. Zizi memejamkan matanya, mencoba merasakan energi yang ada di sana, mencoba mengenali energinya, dan...


Saat mata Zizi terpejam, Zizi melihat di sana tampak pintu gaib yang diselimuti kabut tipis. Pintu itu berukir seekor harimau loreng besar.


Zizi membuka matanya.


Harimau loreng, Zizi tiba-tiba jadi ingat pasukan harimau loreng milik kerajaan Dalu.


Mungkinkah mereka juga saling berhubungan?


Zizi menatap danau lagi, lalu hutan lagi.


Apa sebetulnya yang terjadi pada Ali. Nenek moyang yang berjanji itu, apa jangan-jangan bukan dari pihak Bibik Aisyah? Tapi justeru dari Paman Ziyan?


Jika benar sebetulnya Nenek moyang yang dimaksud adalah dari Paman Ziyan, itu berarti juga dari Papa Zion juga.


Zizi melepaskan tangannya dari batu besar itu.


Zizi jadi ingat di Jepang, Neneklah yang didatangi dua peri penjaga cermin menuju dunia Lori.


Apa mungkin Nenek sebetulnya bukan orang biasa juga?


Apa dia seperti Zizi?


"Kak Ziziiii... Kak Ziziiiii."


Zizi tiba-tiba mendengar suara Eva memanggil lagi.


Membuyarkan seluruh pikiran Zizi.


Cepat Zizi menoleh, melihat Eva yang masih ada di dekat sepeda mereka.


Namun...


Zizi seketika matanya melebar, manakala melihat sendulit hantu laki-laki Om gendut bewokan di dekat Eva senyum-senyum memandangi Eva begitu dekat.


"Dasar hantu mesum."


Zizi tentu saja langsung kembali ke tempat Eva, tak sudi melihat sepupunya diganggu Om-om hantu.


Ini gara-gara musimnya Sugar Daddy, makanya hantu Om-Om pun seleranya jadi ganggu gadis muda.


Zizi kesal bukan main.


Perusak generasi muda adalah laki-laki tua yang harusnya jadi Bapak dan pengayom malah jadi perayu.


"Heh hantu mesum!!"


Zizi berlari menuju Eva yang kini di sebelahnya ada hantu Om-om.


Hantu Om-om begitu melihat Zizi tentu saja langsung ketakutan, di mata hantu Zizi terlihat seperti dewi perang.


Hantu itu lari lalu menghilang di dekat pohon sekitar danau.


"Sialan."


Umpat Zizi begitu telah sampai di dekat Eva.


"Kak, ada apa?"


Eva makin dibuat bingung.


Sebetulnya ia tahu jika Zizi biasa berurusan dengan mahluk astral, tapi karena Eva sama sekali tak bisa merasakan apalagi melihat mereka, maka setiap kali melihat Zizi berperilaku aneh, membuat Eva antara kepo ingin tahu, tapi juga sekaligus takut.


Zizi menatap pohon di mana hantu Om-om tadi menghilang.


Zizi menatapnya tajam, ia yakin hantu itu memperhatikannya di tempat ia bersembunyi di pohon itu.


"Berani kau mengganggu saudaraku, kuhancurkan kau sampai kau menyesal jadi hantu."


Zizi mengancam.


Mendengar Zizi mengancam pohon, Eva jadi makin bingung.


Apa sepupunya ini bukan hanya bisa bicara dengan hantu? Tapi juga dengan pohon?


Zizi setelah mengatakannya, akhirnya mengajak Eva meninggalkan tempat itu.


"Kita keliling ke bagian lain saja, setelah itu kita pulang."


Kata Zizi.


Eva mengangguk menurut.


Zizi akan membicarakan keanehan danau dan hutan ini dengan Ali, jika Ali ingat sesuatu mungkin itu akan jadi celah untuk bisa memecahkan misteri pada diri Ali juga.


Zizi dan Eva akhirnya melanjutkan acara bersepeda mereka kembali, memutari taman yang bagaikan kebun raya Bogor yang bukan hanya luas, namun juga sangat asri dan penuh dengan tanaman dan bunga indah.


"Kau ingin tahu, kenapa aku tadi mengancam ke arah pohon Va?"


Tanya Zizi saat keduanya mengayuh sepeda mereka beriringan menyusuri jalan taman.


Eva mengangguk, meski wajahnya mengisyaratkan sebetulnya ia takut.


"Tadi Kak Zizi lihat hantu Om-om di dekat kamu."


Kata Zizi.


Haiiish... Eva mendesis.


"Jika Kak Zizi tak ancam, dia akan nekat mengikutimu, jika nanti ia mulai jatuh cinta, dia akan bucin dan menghalangimu mendapatkan jodoh."


Ujar Zizi.


Eva jelas saja bergidik ngeri.


"Kak Zizi menakuti Eva."


Kata Eva.


Zizi mendengarnya jadi tertawa.


"Bukan menakuti Eva, ini Kak Zizi katakan supaya kamu bisa lebih hati-hati."


"Eva kan tidak tahu jika tadi ada hantu begitu modelnya."


Ujar Eva.


Zizi mantuk-mantuk.


"Benar kau belum merasakannya, karena ia baru saja mendekat. Kalau tadi tak ada Kak Zizi, tiga hari saja dia mengikutimu, maka ia akan masuk mimpi."


Ujar Zizi.


"Aah yang benar saja Kak, mimpi pun Eva tak sudi jika dengan Om-om, apalagi gendut."


Kata Eva.


Zizi tertawa lagi.


"Mereka tak akan memperlihatkan bentuk yang jelek dong Va, saat masuk mimpimu, dia akan menjelma jadi laki-laki tampan yang belum pernah kamu kenal sebelumnya."


"Lalu?"


Eva ingin tahu lebih banyak...


Zizi nyengir, dan...


**-------------**