Zizi

Zizi
139. Galaunya Zizi


Zizi dan Ali begitu sampai di Kuala Lumpur langsung mendapat jemputan dari Ziyan.


Berbeda dengan Zion yang ke mana-mana selalu mengandalkan pengawalnya, atau menjemput juga mengandalkan pengawalnya, Ziyan jauh lebih senang ke mana-mana bawa mobil sendiri.


"Kamu terlihat lebih baik daripada saat berangkat ke Indonesia Ali."


Kata Ziyan pada putranya begitu mereka berjumpa di airport.


Setelah Ali bersalaman dengan sang Ayah, tampak Zizi juga menyusul menyalami Pamannya.


"Semua berkat Kak Zizi, Yah. Karena Kak Zizi menjaga Ali, mahluk yang mengikuti Ali tak berani ganggu."


Tutur Ali.


Ziyan mantuk-mantuk sambil tersenyum.


"Kalau begitu, kira harus ucapkan banyak terimakasih untuk Kak Zizi bukan?"


Ziyan tampak mengering pada Ali dan Zizi.


"Tentu saja Ayah."


Sahut Ali.


Ziyan tersenyum, lalu...


"Ayo kita makan di resto paling mewah di Kuala Lumpur malam ini."


Ajak Ziyan.


"Hmm ide bagus Yah."


Ali terlihat sangat antusias.


Tapi Zizi yang akan ditraktir sama sekali tak antusias, berbeda dengan Zizi biasanya yang tak pernah menolak soal makanan, kali ini Zizi tampaknya sedang tak begitu berselera.


"Makan di rumah saja Paman, Zizi ingin bertemu Bibi dan Eva."


Kata Zizi.


Untungnya Ziyan yang sebelumnya sudah diberitahu oleh Zion tentang Zizi yang sedang badmood parah akhirnya jadi tidak terlalu kaget.


Ziyan pun tanpa bertanya apapun lagi akhirnya mengajak Zizi dan Ali menuju mobil agar bisa segera menuju rumahnya.


Zizi dan Ali mengikuti langkah Ziyan keluar dari aiport, sementara barang bawaan Zizi dan Ali dibawa oleh pengawal.


Gerimis tipis turun di Kuala Lumpur hari ini, Ziyan melajukan mobilnya cukup cepat, dua mobil pengawal yang ada di belakangnya sampai sedikit kewalahan menyusul.


Zizi menatap keluar jendela mobil, menatap rinai hujan gerimis yang turun.


Saat pulang dari Merapi, harapan Zizi, ia akan pergi liburan bersama Shane dan Maria.


Bertiga menikmati suasana malam di Kuala Lumpur, setelah sekian lama tak melakukannya.


Tapi, ternyata sekarang semua tak sesuai yang diharapkan dan dibayangkan Zizi.


Shane tak ada di sampingnya, pun juga Maria.


Ah ya, tak terasa waktu berlalu begitu cepat, rupanya Maria dan Shane telah mendampingi Zizi puluhan tahun.


Sekian waktu yang berlalu itu, Zizi tanpa sengaja seperti jadi ketergantungan Dengan kehadiran mereka.


Tidak adanya Shane dan Maria membuat Zizi langsung merasa timpang.


Mobil yang dikemudikan Ziyan terlihat mulai mendekati gerbang tinggi sebuah rumah yang bagai istana.


Dua orang penjaga membukakan pintu gerbang rumah itu saat mobil Ziyan terlihat mendekat.


Ziyan membawa mobilnya meluncur melewati gerbang, masuk ke jalan di tengah hamparan taman yang sangat luas.


Mobil Ziyan terus melaju menyusuri jalan yang terbentang dari pintu gerbang dan bangunan utama rumahnya yang berjarak lebih dari tiga ratus meter.


Sampai akhirnya mobil itu masuk di pelataran depan rumah persis dan berhenti.


Dua orang laki-laki yang bertugas berjaga di depan pintu utama terlihat bergegas menyambut kedatangan mobil Ziyan.


Mereka yang mengenakan pakaian khas melayu tampak membukakan pintu untuk Zizi, Ali dan juga Ziyan. Mereka membungkuk santun memberi salam.


Sementara itu, dari dalam rumah tampak seorang gadis cantik setengah berlari keluar.


Senyumnya langsung merekah manakala melihat Zizi yang telah turun dari mobil.


Gadis yang tak lain adalah Eva kakak Ali itu memeluk Zizi dengan erat.


"I miss you so much."


Kata Eva.


Zizi membalas pelukan Eva.


"Ya, aku juga."


Kata Zizi.


Setelah pelukan mereka terlepas, Eva langsung menggamit lengan Zizi untuk bersama berjalan masuk ke dalam rumah.


"Tinggallah yang lama di Kuala Lumpur Kak, semua akan terasa menyenangkan setiap kali ada Kak Zizi."


Ujar Eva.


Zizi jadi nyengir mendengar perkataan Eva.


Ziyan yang berjalan menyusul kedua gadis itupun terdengar ikut bersuara,


Zizi tersenyum pada Pamannya.


Ya tentu saja, ia memang ingin tinggal sedikit lebih lama kali ini. Selain karena ingin membantu Ali menguak rahasia dalam dirinya dan juga mencaritahu mahluk apa sebetulnya yang mengikuti Ali, juga karena Zizi ingin tak merasa terlalu kesepian jika pulang ke Indonesia sementara Shane dan Maria sama-sama tak ada di rumah.


Mereka kemudian masuk ke ruangan utama rumah yang begitu luas dan mewah, bersamaan dengan Aisyah yang baru turun dari lantai atas untuk ikut menyambut kedatangan Zizi.


"Zizi..."


Panggil Aisyah dengan suaranya yang lembut.


Senyumnya terkembang ke arah sang keponakan.


Zizi menyalami Aisyah begitu wanita cantik itu telah berada di depannya.


"Kamu sehat?"


Tanya Aisyah pada Zizi.


Zizi mengangguk.


"Sehat Bibi."


Jawab Zizi.


Aisyah tersenyum.


"Zizi tak mau diajak makan di luar honey."


Kata Ziyan.


Aisyah menatap Zizi.


"Benarkah?"


Tanya Aisyah.


Zizi nyengir karena tatapan Bibinya seolah tak percaya Zizi menolak diajak makan.


"Zizi ingin makan di rumah saja Bi."


Kata Zizi.


"Aaah, mau Bibi yang masak? Bibi sudah belajar banyak masakan dari chef handal."


Ujar Aisyah.


Zizi mengangguk.


"Dengan senang hati Bi kalau Zizi boleh jadi jurinya."


Kata Zizi.


"Asal nanti jangan ketagihan saja ya."


Ujar Aisyah membuat semua jadi tertawa.


**----------**


Shane sudah sampai di hutan Bradley Woods Lincolnshire.


Salju menutupi hampir seluruh bagian hutan tersebut.


Shane melompat dari satu pohon ke pohon lain, matanya tajam mengawasi sekitar hutan bilamana ada gerakan mahluk lain yang tiba-tiba muncul atau bahkan menyerang.


Bradley Woods Lincolnshire, sudah sejak lama dikuasai para Lycan.


Tak banyak mahluk dan monster lain yang berani tinggal di sana karena tak mau berurusan dengan para Lycan.


Shane terus bergerak semakin masuk ke dalam hutan.


Hingga...


Tiba-tiba dari arah depan terlihat sesuatu berkelebat cepat.


Gerakannya seperti menuju ke arah Shane.


Vampire tampan itu baru saja akan siaga, saat tiba-tiba terlihat sesosok Lycan melompat ke arahnya.


Shane yang dalam posisi belum siap limbung jatuh ke bawah.


Tubuhnya terjerembab di atas gundukan salju.


Shane menyeringai sakit karena dadanya terkena cakaran Lycan yang menyerangnya itu.


Shane mengeluarkan kuku tajamnya, saat kemudian Lycan itu tiba-tiba melolong panjang.


Suaranya begitu keras seolah memenuhi setiap sudut Bradley Woods Lincolnshire.


Shane yang sedikit banyaknya tahu jika lolongan Lycan kali ini adalah lolongan memanggil kawanannya karena menemukan mangsa akhirnya lekas berdiri dan segera kembali melompat ke atas pohon.


Lycan itu menatap Shane seraya membuka mulutnya, memperlihatkan seluruh giginya yang tajam seolah siap mengoyak setiap inci tubuh Shane.


Shane matanya menatap tajam lawannya, ia jelas tak akan menyerah begitu saja.


"Kau santapan kami hari ini, hahahaha..."


Lycan itu tertawa, namun...


**----------**