
Zizi menghela nafas, ia menatap Ali.
"Kau pasti bisa melewati semuanya Ali, yakinlah, mulailah menguatkan mental mu dulu, jangan lagi takut hantu."
Kata Zizi akhirnya.
Paman Josh mengangguk setuju.
"Perjanjian itu akan berakhir dengan sendirinya jika sekali lagi Tuan Muda Ali mampu melewatinya, ia hanya muncul saat akan menagih janji saja, jangan khawatir."
Ujar Paman Josh.
Zizi kemudian menatap dua mayat ular yang tergeletak di depan mereka.
Ular-ular berukuran besar itu adalah penjaga tempat Paman Josh dipenjara.
"Paman, apa kau akan dalam masalah?"
Tanya Zizi pada Paman Josh.
"Paman Jaka Lengleng, ia ada di sekitar sini bukan?"
Tanya Zizi.
Paman Josh menggelengkan kepalanya.
"Ia hanya sesekali saja singgah di tempat ini, tempat tinggal utamanya tentu saja di pusat kerajaannya yang terletak dalam wilayah bekas Galuh purba."
Ujar Paman Josh.
Zizi kini menatap Maria.
"Aunty, Zizi rasa masalah Ali kita sudah anggap selesai untuk saat ini, Zizi akan hubungi Mama besok Zizi perlu pulang ke Indonesia, atau boleh langsung ke London."
Kata Zizi.
Maria mantuk-mantuk saja.
"Baiklah, Ali, kita pamit pada Paman Josh saja sekarang. Kau mungkin ingin mengucapkan terimakasih padanya, Kak Zizi akan beri kalian waktu untuk bicara."
Kata Zizi.
Ali mengangguk.
Zizi kemudian mengajak Maria untuk menjauhi Ali dan Paman Josh agar mereka berdua bisa bicara tanpa Zizi.
"Kau yakin Ali sudah aman?"
Tanya Maria saat melayang mengiringi Zizi menjauh dari tempat Ali dan Paman Josh bicara.
"Semua bersumber pada Paman Jaka Lengleng, jangan khawatir Aunty, mahluk dari lembah Narawitri itu juga pasti tak mau tertangkap oleh Paman Jaka Lengleng, dia tak bisa terlalu lama meninggalkan Lembah Narawitri."
Ujar Zizi.
Maria pun mengangguk, setelah itu keduanya terlihat menoleh pada Ali dan Paman Josh yang terlihat bicara cukup serius.
"Maafkan saya baru mengingat semuanya Paman."
Kata Ali pada Paman Josh, yang merasa begitu bersalah karena selama ini telah melupakan jasa Paman Josh yang menyelamatkannya saat dulu pertama kali masuk ke hutan gaib itu.
Ya, andai hari itu Paman Josh tak menyelamatkannya, tentu saja mahluk aneh itu telah membawa Ali ke lembah Narawitri, dan mengambil raga Ali untuk hidup di atas bumi.
Entah apa yang hendak mahluk itu lakukan, jika waktu itu ia bisa mengambil alih raga Ali.
Ah rasanya Ali tak bisa membayangkan jika raganya akan digunakan untuk melakukan banyak hal jahat.
"Sudah menjadi kewajiban saya Tuan Muda, janji adalah janji, saya sudah berjanji untuk menjaga anak keturunan Sekar Ayu, saya pernah lengah, saya akan berusaha kali ini untuk tidak melakukan kesalahan lagi."
Paman Josh tampak tersenyum sejenak.
Ali menatap laki-laki di hadapannya itu.
Laki-laki jelmaan harimau loreng yang sangat gagah.
Ia pasti sangat mencintai perempuan bernama Sekar Ayu tersebut, hingga ia bahkan masih menjaga janjinya hingga saat ini.
"Tuan Muda Ali, pergilah, sekarang di dunia manusia pasti sudah mulai gelap."
Kata Paman Josh.
Ali mengangguk.
Remaja berwajah tampan itupun menghampiri Paman Josh untuk kemudian memeluknya.
"Terimakasih Paman, jaga diri Paman baik-baik, kuharap suatu hari Paman bisa kembali menjadi pengawal di keluarga kami."
Kata Ali.
Paman Josh menepuk-nepuk punggung Tuan Mudanya.
"Tentu, suatu saat Paman akan kembali."
Ali tanpa terasa menitikkan air mata, hanya sekali, tapi itu jelas air mata haru yang berasal dari lubuk hati Ali yang paling dalam.
"Ali pulang dulu Paman."
Pamit Ali seraya melepaskan pelukannya.
Ali kemudian berjalan diiringi Paman Josh menghampiri Zizi dan Maria.
Tanya Zizi pada Ali yang tampak mengangguk.
"Sudah siap hidup seperti Kak Zizi mulai sekarang?"
Tanya Zizi.
Ali tampak nyengir.
Sungguh pertanyaan yang terlalu berat untuk diiyakan buat Ali.
Tapi...
Ya tentu saja, ini sudah jadi takdirnya juga, Ali harus berusaha untuk menjalaninya.
Jika kak Zizi saja mampu, maka Ali juga harus mampu.
Zizi mengulurkan tangannya pada Paman Josh untuk mengajaknya berjabat tangan, laki-laki jelmaan harimau loreng itupun menyambut tangan Zizi dan menggenggamnya dengan erat.
"Suatu hari kita harus ketemu lagi Paman."
Ujar Zizi.
Paman Josh mengangguk.
"Satu kehormatan jika bisa bertemu lagi dengan Nona Zizi, pewaris Naga Bandapati, Naga tanpa tanding."
Kata Paman Josh.
Zizi tertawa mendengarnya.
Tentu saja Bandapati adalah Naga tanpa tanding, salah paham sedikit saja hutan kemenyan di bakar habis.
Zizi pun akhirnya pamit bersama Ali dan Maria. Mereka diantar ke gerbang oleh Paman Josh.
Gerbang terbuka pelahan, menampakkan alam manusia yang kini sudah memasuki malam hari.
Zizi dan Ali melangkah keluar.
Maria mengikuti di belakang mereka.
Paman Josh tersenyum, saat mereka semua melihat ke arah belakang mereka, di mana kini pintu gerbang masuk ke hutan gaib kembali menutup.
Tak lama setelah Zizi dan Ali berada di luar gerbang masuk hutan gaib, hp keduanya langsung berisik.
Ah ya, tentu saja, orang-orang pasti mengkhawatirkan mereka.
Belum lagi mereka mengangkat panggilan yang masuk, para pengawal keluarga Ali yang ternyata menyisir danau berdatangan.
"Tuan Muda Ali, Nona Zizi..."
Mereka terlihat panik berlarian ke arah Zizi dan Ali yang hanya bisa nyengir saja.
Apalagi begitu akhirnya Paman Ziyan juga turut datang dan menatap keduanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Zizi dan Ali kembali nyengir sambil pasang wajah polos.
Maria tampak melayang ke arah danau yang kini terlihat banyak kunang-kunang.
Lama sekali ia tak melihat mahluk-mahluk kecil itu, tak disangka ia kini bisa melihatnya lagi.
Tapi...
Kunang-kunang itu berterbangan menghindari Maria ketika hantu itu mendekat, sempat terdengar oleh Maria mereka bersuara seperti manusia.
"Cepat pergi, ada hantu."
Haiiish...
Kenapa kunang-kunang takut hantu? Batin Maria.
Paman Ziyan kemudian mengajak Zizi dan Ali masuk mobil untuk segera pulang ke rumah karena Bibik Aisyah sudah panik luar biasa.
Untungnya Kakek dan Nenek Ali sedang berada di Thailand juga hari ini, dan baru akan pulang lusa.
Berangkat pagi tadi bersama Paman Ziyan, mereka memilih menetap hingga lusa karena ingin liburan sekalian.
Tak bisa dibayangkan jika mereka ada di rumah dan tahu cucu laki-laki mereka dan cucu kesayangan Tuan Ardi Subrata hilang, bisa-bisa mereka saking paniknya akan merepotkan kepolisian Kuala Lumpur hanya untuk mencari Zizi dan Ali.
"Apa yang kalian temui di sana?"
Tanya Paman Ziyan.
Zizi dan Ali saling berpandangan, seolah saling memberi isyarat jika rahasia Paman Josh akan mereka simpan sendiri.
"Hanya ingin melihat hutan saja Paman, Zizi penasaran karena hutan dan danau itu mirip dengan hotel wisata."
Paman Ziyan mantuk-mantuk.
"Ya kau benar Zizi, hutan danau itu semakin lama entah kenapa jadi semakin mirip dengan hutan dan danau di dekat hotel wisata, dan Paman juga sering bermimpi aneh tentang danau itu."
Ujar Paman Ziyan.
"Mimpi aneh? Mimpi apa Paman?"
Tanya Zizi.
Paman Ziyan terdiam sejenak, lalu...
**-----------**