
Alex memuntahkan darah yang menghitam berkali-kali, kondisinya sudah benar-benar payah.
Natali membantunya berbaring di tempat peristirahatan miliknya, di ruang bawah tanah yang tersembunyi.
Sebuah pintu penghubung dengan tempat Attala bercahaya, seiring dengan suara berdebam yang sangat keras.
Tak lama pintu itu terbuka, dan Attala muncul dengan menggotong Nadia yang tak sadarkan diri.
Attala membawa Nadia ke tempat tidur di dekat Alex yang kini merintih kesakitan akibat luka yang dideritanya.
"Anak Zion kah yang melakukannya?"
Tanya Attala geram.
"Ya."
Sahut Natali.
"Aku sudah peringatkan kalian untuk jangan gegabah, inilah akibatnya jika kalian bertindak bodoh!"
Kata Attala.
Natali mendengus mendengarkan Kakak sepupunya itu mulai mengomel seperti Kakek. Kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak kecil, bos besar gemar mengatur dan marah-marah.
"Semua sudah terjadi, tak ada gunanya kau mengomel Kak."
Kata Natali yang berusaha membantu Alex mengobati lukanya dengan apapun yang ia miliki.
Obat-obatan tradisional yang diajarkan Nenek moyang mereka turun temurun, yang sampai saat ini mereka gunakan, termasuk untuk kecantikan, karena tentu saja mereka tak murni manusia, jadi saat terluka atau melakukan perawatan mereka tak bisa serta merta ke dokter biasa.
"Zizi menyerangmu?"
Tanya Natali lagi.
Attala mengangguk.
"Dia memiliki asisten hantu."
Ujar Attala.
"Ya, dia bukan hanya memiliki asisten hantu, dia juga akan menikah dengan vampir."
Kata Natali.
Hal yang paling tak pernah terbayang pada otak Attala.
"Zion tahu?"
Attala heran.
"Dia bahkan menikah dengan perempuan keturunan Naga, meski Zion juga memiliki Nenek moyang berjenis ular, tapi dia tak memiliki darah itu sama sekali."
Kata Natali.
"Kau sangat tahu soal Zion. Aku yakin kau masih menyukainya."
Sinis Attala.
"Aku masih sangat kecil saat melihatnya bersama Veronika, dia sangat tampan, sampai hari ini aku belum pernah melihat laki-laki setampan dia lagi."
"Haiiish..."
Attala mendesis, tentu saja ia kesal.
"Pantas kau seperti tak berniat menikah."
"Sama sepertimu."
Sahut Natali cepat.
Attala tersenyum sinis.
Ia lantas melirik Alex dan Nadia.
Pasangan kekasih itu, juga sekaligus calon pengantin.
"Kita harus tinggalkan Indonesia besok pagi."
Kata Attala.
"Kau gila?"
Natali melotot.
"Akan lebih gila jika kita tetap tinggal dan mereka dibunuh anak Zion."
Kata Attala.
"Nadia sedang mengandung, bukankah anak yang terlahir darinya adalah mahluk yang paling sempurna dari keturunan kita?"
Lirih Attala sambil menatap perut Nadia.
"Dia belum tahu apa yang dikandungnya."
Ujar Natali.
"Persetan dia tahu atau tidak, kita hanya membutuhkan dia melahirkan keturunan yang sempurna untuk melanjutkan misi kita."
Tandas Attala.
"Eyang Jaka Lengleng, sepertinya ia berhadapan dengan anak Bandapati."
Kata Natali.
"Kak Attala."
Natali tak percaya mendengar kakak sepupunya bicara demikian.
Ah yah, dia memang sangat arogan sejak kecil, tapi sampai meremehkan moyang mereka, tentu saja itu keterlaluan.
"Apa?"
Attala menatap Natali dengan malas.
"Berhentilah mau jadi budaknya, disuruh ini itu, tahu apa dia tentang kesulitan kita yang hidup sebagai manusia juga."
Kata Attala kesal.
Natali geleng-geleng kepala.
"Sial, padahal perusahaan sedang bagus, ini semua karena Alex yang bodoh, selalu saja mau diintimidasi oleh ular itu."
"Kak, berhentilah meremehkan Eyang Jaka Lengleng."
"Aku membencinya lalu kau mau apa? Dia itu hanya tahu enaknya saja, suruh ini itu tanpa memikirkan apa yang akan kita tanggung."
Kata Attala.
"Ah terserah kau lah."
"Coba diingat, apa yang dia lakukan saat Kakek kita ditendang keluar dari Alpha Centauri? Apa yang dia lakukan?"
Attala kesal bukan main.
Natali menghela nafas.
"Dia tak melakukan apapun untuk membantu Kakek."
"Dia yang memberikan banyak emas untuk Kakek mendirikan perusahaan lagi dan membeli SD delapan puluh persen Andromeda."
Kata Natali.
Attala terdiam, hal itu memang tak bisa ia pungkiri, tapi ia sungguh masih kesal karena semua yang ada di tangannya jadi terkena imbas saat ini.
"Apa yang akan kau lakukan dengan Andromeda?"
Tanya Natali.
"Entah, aku tak bisa berpikir."
Attala emosi.
"Kita akan pindah ke mana?"
Natali akhirnya selesai mengobati Alex yang kini bisa lebih tenang.
"China? India? Atau mungkin Hawai."
Ujar Attala.
"Pernikahan Alex dan Nadia bagaimana? Orangtua Nadia bagaimana?"
Natali pusing tujuh keliling, apalagi Attala yang akan rugi puluhan milyaran rupiah.
"Nadia bukan anak kandung, bjar saja kita bawa dia. Sudah kubilang, kita butuh anak yang lahir dari dia."
Attala terdiam sejenak, tatap matanya tajam ke arah Nadia.
"Setelah melahirkan, kita bunuh dia jika nantinya terlalu banyak tahu rahasia keluarga kita."
Mendengarnya Natali tercekat.
"Kak."
"Kenapa? Kau kasihan padanya?"
"Dia kekasih Alex."
"Aku tak peduli."
Attala duduk di salah satu sofa yang ada di ruang bawah tanah.
"Aku tak akan ikut campur jika kelak kalian akan saling bunuh."
Attala tertawa.
Natali menatap Alex yang tampak memejamkan matanya sama seperti Nadia tak sadarkan diri.
"Jika ada yang harus mati antara aku dan Alex, kau pasti sudah tahu siapa yang paling kuat di antar kita. Bahkan Eyang Jaka Lengleng yang terluka sejak berhadapan dengan Bandapati, ia sudah kalah jauh denganku. Itu sebabnya ku katakan, tidak usah mau diintimidasi olehnya, jika melakukan kekerasan sekalipun pada kalian, aku mampu menghadapinya."
Attala lantas matanya menyala.
Energi sangat jahat terpancar darinya.
Tentu saja, manusia saat telah benar-benar jahat akan melebihi jahatnya mahluk apapun.
Dan dialah... Attala. Musuh Zizi dan Shane yang sesungguhnya.
**-------------**