Zizi

Zizi
67. Sabar Zizi


Zizi dan Maria mendekati Shane dan bocah itu, saat kemudian beberapa kera putih tiba-tiba muncul di sana.


Kera-kera putih itu seketika berubah menjadi perempuan cantik dan juga beberapa laki-laki gagah perkasa.


"Ibuuuu..."


Panggil bocah itu pada perempuan jelmaan si kera putih.


Zizi, Maria dan Shane tampak terkejut.


Tampak gerombolan jelmaan kera putih tersebut mendekat, dan bocah kecil yang baru ditolong Zizi serta Shane itupun melompat ke arah perempuan cantik jelmaan kera putih.


"Ibu, aku ditolong mereka dari Miyangga."


Bocah itu melapor, perempuan cantik yang merupakan Ibu si bocah itupun membungkuk pada Zizi dan Shane, yang kemudian diikuti oleh para laki-laki bertubuh kekar dan gagah di belakangnya.


"Kalian manusia kenapa berada di sini?"


Tanya perempuan tersebut.


Zizi menghela nafas, yang manusia kan cuma Zizi, mata dia pasti katarak. Batin Zizi.


"Kami sedang menuju hutan ke empat, kami dalam misi ke arah Merapi untuk bertemu Eyang Sapujagad, seseorang menyuruh kami melewati sisi hutan dengan mengikuti liukan sungai bening untuk sampai ke hutan ke empat dan ke lima."


Ujar Maria mewakili Zizi sebelum bocah itu menjawab aneh-aneh.


Tampak perempuan jelmaan kera putih tersebut mengangguk pelahan.


"Eyang sapujagad, sesepuh Merapi yang bersemayam di dekat kawah terbesar Merapi, kenapa kalian ingin menemuinya?"


Tanya perempuan jelmaan kera putih lagi.


"Duh jangan kepo."


Kata Zizi cepat, membuat semua menoleh ke arahnya, terutama Maria yang langsung ingin ngacir sejauh mungkin.


"Kamu itu kayak emak-emak lagi ngantri belo rujak, pake nanya ini itu, udah itu anaknya bawa pulang sana, jangan ditinggalin sendirian, tadi kalau dia dimakan Miyangga gimana? Kamu bisa bikin lagi tapi kan tetap aja beda sama dia. Tuh lihat mukanya kan lucu kayak Onet."


Kata Zizi panjang lebar malahan.


Oh tidak...


Oh tidak...


Oh tidaaaaaaaaaak...


Maria yang sudah merem-merem mendengarkan ocehan Zizi akhirnya memilih melayang ke atas pohon dan duduk saja di sana.


Ia sungguh tak mau terlibat dengan kekacauan yang diakibatkan mulut tanpa rem Zizi.


Buseeet ... buseeeet... Itu anak beda amat sama Emaknya. Batin Maria.


"Apakah anda Nona Zizi?"


Tiba-tiba perempuan jelmaan kera putih itu bertanya pada Zizi membuat Zizi dan Shane terkejut, begitu juga Maria.


"Kok tahu nama Zizi?"


Tanya Zizi penasaran.


"Bandapati, Retnoasih, Zia dan Zizi, empat generasi yang tertulis di istana kami, selanjutnya ada tiga yang lain, itu pasti anakmu, cucumu, dan cicitmu Nona Zizi."


Zizi yang mendengarnya jadi tertawa terpingkal-pingkal.


"Zizi aja belum nikah, gosip banget sih. Udah kepoan, bigos pula."


Ujar Zizi julid.


Maria tepuk-tepuk jidat.


Gerombolan kera putih itu tampak tersenyum tenang.


"Tentu saja kami tahu, karena Bandapati dan seketurunannya dilarang masuk ke dalam hutan kami."


Ujar perempuan kera itu.


"Tapi, sungguh tak disangka, Nona Zizi justeru menyelamatkan Baru Lutung, cucu termuda dari pemimpin kera putih."


Bocah kecil yang tadi diselamatkan Zizi tiba-tiba berubah menjadi mahluk seperti kera dengan ekor panjang dan dia berwarna hitam.


Berbeda dengan gerombolan perempuan cantik itu, yang semuanya dalam wujud kera putih, zi bocah yang bernama Baru Lutung itu berwarna hitam legam.


"Kenapa dia beda? Kamu kecebur kolam cumi-cumi ya?"


Tanya Zizi menunjuk si Baru Lutung.


Perempuan cantik itu tampak mencoba menahan emosi, bagaimanapun Zizi sudah menyelamatkan anaknya.


"Suami saya adalah siluman lutung di hutan ke empat, demi meluaskan daerah kekuasaan kami, aku menikah dengan putra raja siluman lutung di sana."


Zizi melongo.


"Alam lelembut juga ada koalisi ternyata."


Kata Zizi.


"Tentu saja, kalian manusia juga sering meminta kami berkoalisi bukan? Terutama kalian yang butuh kekuasaan."


Ujar perempuan jelmaan kera putih.


"Mungkin, tapi yang jelas, banyak yang ingin kekuasaan juga minta sponsor ke Papa Zizi."


Ujar Zizi lalu cekikikan.


"Baiklah Nona, ikuti kami, sebagai ucapan terimakasih saya, akan saya tunjukkan jalan yang lebih singkat untuk sampai ke dalam hutan ke lima."


Kata si perempuan kera.


'Ke empatlah."


Zizi meralat.


Perempuan itu menggeleng.


"Jika bersama saya, anda tak perlu repot-repot masuk ke dalam wilayah kekuasaan keluarga suami saya, akan saya tunjukkan jalannya."


Zizi menoleh pada Shane, seolah meminta pendapat apakah Zizi harus mengikuti saran itu atau tidak.


Shane belum menjawab manakala Maria melayang turun dan mewakili Shane menjawab.


"Kita coba ikuti, tapi tetap waspada."


Kata Maria.


Zizi mengangguk setuju.


Lalu Zizi akhirnya ke arah perempuan jelmaan kera, si Ibunya Baru Lutung.


"Baiklah, tapi jika ada apa-apa pada salah satu dari kami, pastikan hutan ini akan dihancurkan untuk kali kedua."


Ujar Zizi.


Ibunya Baru Lutung mengangguk menyanggupi.


Ibunya Baru Lutung dan para pengawalnya berubah menjadi kera-kera putih besar kembali.


Mereka membawa Baru Lutung masuk ke dalam hutan kemenyan dan diikuti Zizi, Shane dan Maria.


Kera-kera putih itu melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, Maria melayang tepat di belakang mereka, sedangkan Zizi sedikit berlari di bawah ditemani Shane.


Mereka pun semakin masuk ke dalam hutan, hingga akhirnya mereka sampailah pada sebuah tempat yang luar biasa.


Zizi, Shane dan Maria terperangah menatap apa yang kini terhampar di hadapan mereka.



"Di sinilah kami semua berkumpul."


Kera putih si ibu Baru Lutung kembali menjadi perempuan cantik, ia lalu bersuara semacam memanggil kawanannya, dan seketika tampaklah muncul puluhan kera putih dari balik pepohonan yang begitu rimbun memenuhi bukit.


Mereka melompat cepat ke arah si ibu Baru Lutung, dan begitu sudah dekat semua dari mereka berubah layaknya manusia biasa.


Mereka semua menatap Zizi dan Shane serta hantu Maria.


"Siapa mereka Nyai?"


Tanya salah satu laki-laki yang ada di antara gerombolan jelmaan kera putih.


"Mereka penyelamat Baru Lutung."


Kata Ibu Baru Lutung.


"Mereka hendak menuju Merapi untuk menemui Eyang Sapujagad, aku hanya ingin membalas budi pada mereka, membiarkan mereka menyebrangi danau wening hutan kita agar langsung sampai ke ujung hutan ke lima agar mereka bisa mempersingkat waktu."


Ujar Ibu Baru Lutung.


Namun, belum lagi semua mengiyakan untuk menyetujui membantu Ibu Baru Lutung membalas budi, tiba-tiba...


Sebuah cahaya kemerahan melesat cepat menuju ke arah Zizi yang dengan sigap melompat menghindar.


"Hmm... hahahahahaha... cicit Bandapati rupanya lebih berguna daripada moyangnya..."


Terdengar suara Kakek terkekeh-kekeh, seiring dengan munculnya seperti gumpalan asap yang menuju ke arah mereka.


Zizi menaikan kedua alisnya, menatap kemunculan gumpalan asap yang kini meluncur mendekatinya.


Zizi mengepalkan tinjunya, bersiap jika dari gumpalan asap itu ada mahluk muncul, maka zizi akan langsung meninjunya.


Dan benar saja, manakala gumpalan asap itu kian mendekat, muncul wajah Kakek dengan mahkota.


Zizi yang tak mau kecolongan akhirnya melompat ke arah gumpalan asap itu dan langsung menonjok muka Kakek dengan mahkota itu hingga gigi palsunya lepas.


Haaaaa?


Semua tentu saja langsung membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dilakukan Zizi.


"Rasakan kakek tua banyak tingkah."


kata Zizi.


**-------------**


Hai hai... udah terbit ya... yuk mampir