Zizi

Zizi
82. Hutan Ke Enam Aku Datang


Hantu Mintul melayang memimpin di depan. Dia melayang sambil maju mundur maju mundur cantik cantik cantik.


Zizi tepok jidat.


"Ni hantu berasa kayak inces kali, padahal dia mah ngeces iya."


Kesal Zizi.


Hingga kemudian, sampailah mereka di depan sebuah hotel mega bintang yang cetar ulala.


"Waaaaaw... Tuan Zion kalah."


Kata Maria.


Haiiish... Zizi mendesis.


"Yuk cus, kita kemon."


Kata Mintul dengan gaya anak kekinian.


Semua mengikuti mintul yang kini menuju pintu utama hotel yang tingkatnya hampir sampai ke awan.


Masuk ke dalam hotel, mereka makin dibuat takjub karena lantai hotel itu pakai gambar tiga dimensi, dibuat seperti di atas lautan.


"Ternyata semaju ini dunia hantu."


Kata Zizi.


Mereka menuju meja resepsionis yang tampak dua hantu dengan rambut menutupi wajah.


Haiish... Zizi mendesis.


"Whoooiii... Gimana mau kerja, rambut nutupin muka!"


Zizi malah marah-marah.


Dia berasa jadi owner hotel.


Dua hantu kembar itu membuka rambut di wajahnya.


Ternyata tidak ada apa-apa di sana.


Tidak ada mata, hidung dan mulut. Rata saja.


"Ah ya sudah, tidak usah dibuka, Zizi nanti jadi pengin cimol."


Kata Zizi.


Dua hantu itu manggut-manggut.


"Zizi mau pesan kamar, dua kamar."


Kata Zizi.


Dua hantu itu manggut-manggut lagi.


Lalu, dua hantu itu kemudian menekan tombol di meja resepsionis, dan muncul semacam layar tipis.


"Waaaaw... emejing."


Kata Zizi.


"Silahkan pilih sendiri, kamar lantai berapa, lantai satu atau lantai dua puluh ribu tiga ratus enam puluh tujuh."


Kata salah satu resepsionis.


"Buset, tinggi amat hotelnya."


Kata Zizi lagi.


Zizi kemudian melihat layar, mencet sembarangan saja.


"Nah kamar ini aja, mode Hawai."


Kata Zizi.


"Kalo Kak Seng pasti kangen London, jadi Zizi pilihkan mode kota London aja."


Ujar Zizi.


Shane mantuk-mantuk setuju.


"Bayarnya pake apa? Daun? Tadi lupa metik, ngutang aja ya."


Kata Zizi.


"Enak saja ngutang, tidak boleh, harus bayar pake uang asli."


"Jiaaaah, ternyata banyak hantu madut."


Kata Zizi.


Maria cekikikan.


"Cash nya nggak ada nih, tadi lupa ke ATM."


Kata Zizi.


Mereka lalu mengambilkan mesin EDC.


Zizi langsung terpingkal.


"Gila lu Ndro... Bisa gini banget, niat meras Zizi ini mah."


Kata Zizi.


"Berapa totalnya dua kamar?"


Tanya Zizi.


"Sepuluh juta lima ratus dua puluh ribu rupiah."


Jawab resepsionis.


"Hmm murah segitu mah, sandal jepit Zizi ini kelasnya."


Sombong Zizi.


Hantu Mintul yang mendengar Zizi berkata sepuluh juta sekelas sandal jepitnya jadi penasaran.


"Emang kamu tajir ya Naga?"


Tanya mintul.


"Hmm dia belum tahu Aunty, jelasin Aunty."


Kata Zizi sambil mulai gesek kartu ATM miliknya.


"Zizi adalah cucu dari Tuan Ardi Subrata pendiri perusahaan Alpha Centauri yang kemudian berkembang menjadi Alpha Centauri Group. Bisnisnya meliputi banyak sekali bidang, media elektronik, Rumah Sakit, Mall, Apartement, Perumahan Elite, Sewa jet pribadi, Resto mewah berbagai negara, Hotel diberbagai negara dan masih banyak lainnya."


Aunty menjelaskan seperti Bang Dimas.


Sekarang ganti hantu mintul melongo.


Hantu mintul melayang mendekati Zizi.


Tanya hantu mintul kepo.


Zizi menghela nafas.


"Nanti kamu mati dua kali bahaya."


Kata Zizi.


Haiish... Hantu mintul geleng-geleng kepala.


"Yang jelas, kalau ada tuyul ambil uang di ATM Zizi semuanya, dia ngga akan kerja lagi selama 50 tahun ikut majikannya."


Kata Zizi sambil menonyor kepala hantu Mintul.


"Buset, kaya banget ya dia, apa aku ikut kamu aja Nona Naga, aku ingin ke dunia manusia."


Kata hantu mintul.


"Hmm tak usah, kamu pasti nanti banyak bikin ulah."


Kata Zizi.


"Ikh sadis."


Resepsionis kemudian memberikan kunci pada Zizi dan Shane.


"Selamat istirahat."


Kata kedua resepsionis tanpa muka itu.


Zizi dan Shane serta Maria dan Mintul akhirnya menuju kamar mereka.


Mereka cukup naik lift lalu menyebutkan kamar yang akan mereka tempati, maka lift akan mengantar sendiri.


Lagi-lagi lebih canggih dari dunia manusia.


Dan malam itu, Zizi dan Shane serta Maria akhirnya bisa istirahat dengan tenang dan nyaman.


Shane yang masuk kamar lalu langsung terlihat seperti berada di rumah London, langsung masuk kamarnya dan tidur di sana.


Sedangkan Zizi tidur di tepi pantai yang mataharinya bersinar hangat, dan di dekatnya banyak penari hula-hula.


Tidur sambil menikmati hangatnya matahari Hawai, sepoi angin pantai dan mendengarkan deburan ombak yang menentramkan hati sanubari.


Entah berapa lama Zizi dan Maria serta Shane tertidur, yang jelas tahu-tahu mereka bangun sudah berada di atas pohon dekat telaga.


Zizi yang tidak siap akhirnya merosot nyaris jatuh jika saja Shane tak segera melesat meraih tubuhnya.


"Thanks Kak Seng."


Shane dan Zizi yang kini begitu saling berdekatan wajahnya tampak bertatapan.


"Pagiii..."


Hantu mintul tiba-tiba menabrak keduanya, menembus Zizi dan Shane membuat mereka langsung melepaskan diri satu sama lain.


"Kenapa tiba-tiba di pohon sih?"


Maria mengomel melayang turun.


"Lah kan memang begitu harusnya. Ini namanya layanan tambahan dari hotel, langsung mengantar pulang."


Kata Mintul.


"Mengantar pulang kok disangkutin di pohon."


Zizi menggerutu.


"Aku sudah pinjamkan sampan tuh buat nyebrang telaga, ini Naga sama Vampire ngga bisa melayang jadi naik sampan aja."


Ujar Mintul.


"Aku juga ogah melayang, mending naik sampan, hemat energi."


Kata Maria.


"Ah iyalah, kamu kan produk jaman penjajahan, kalau TV aja pasti yang masih hitam putih, hahahaha..."


Mintul tertawa, Maria langsung menabok kepalanya.


"Ngga usah gitu banget ketawanya, aku masukin botol baru tahu."


Omel Maria.


"Itu hotel siapa yang punya?"


Tanya Zizi sambil mendekati telaga untuk cuci muka.


Gila bayar sepuluh juta nggak ngerasain mandi sama sekali, sialan tuh hotel.


"Punya Othor dong."


Kata Mintul.


"Ooh Othor."


Zizi dan Maria mantuk-mantuk.


"Ya kendaraannya saja UFO, pantas hotelnya begitu."


"Hihihi..."


Mintul cekikikan.


Shane kemudian menyiapkan sampan yang nanti untuk mereka menyebrang.


Semalaman tidur di rumah London, ia jadi rindu dengan Nancy Ibunya.


Apa aku harus pulang setelah misi ini selesai? Batin Shane.


Zizi setelah cuci muka lalu berdiri dan memandang jauh ke depan, di mana di sana tampak hutan ke enam yang dari tempat zizi berdiri saat ini saja sudah terlihat keangkeran dan keganasannya.


Pasukan Gendruwo itu juga pasti sudah tahu Zizi akan segera sampai. Batin Zizi.


"Sekarang?"


Tiba-tiba Shane bertanya.


Zizi menatap Shane lalu tampak mengangguk.


"Ayuk."


Sahut Zizi tanpa ragu.


"Hutan ke enam dan ke tujuh tak ada batasnya, jadi setelah masuk hutan keenam, kalian baru bisa keluar hutan lagi setelah melewati hutan ke tujuh juga."


Kata Mintul memberikan informasi.


"Ya baiklah, Zizi sudah siap. Ayuklah."


Kata Zizi yang kemudian melompat naik ke atas sampan.


**-----------**