Zizi

Zizi
64. Kemarahan Bandapati


Bandapati melesat memasuki hutan kemenyan tersebut, mengamuk luar biasa karena para kawanan pencuri itu tak berani menampakkan diri.


Bandapati menghantam beberapa pohon yang tumbuh di sana hingga roboh, suara-suara mahluk memekik ketakutan mulai ramai terdengar.


Segerombolan kera putih melompat lalu menghilang, membuat Bandapati semakin murka luar biasa.


Bandapati muda melesat terbang dan kembali merobohkan beberapa pohon-pohon besar di tengah hutan kemenyan itu dan membakarnya.


Dan tiba-tiba dari depan Bandapati, melesat sebuah cahaya kemerahan melesat cepat, menghantam tubuh Bandapati hingga terpental.


Bandapati menabrak sebuah pohon beringin tua, membuat pohon itu terbelah.


Bandapati menyeringai, antara menahan sakit di dadanya dan juga marah yang luar biasa.


Matanya tajam mencari sosok yang menyerangnya, namun ia tak bisa menangkapnya.


Belum lagi Bandapati tahu siapa yang sebetulnya kini menjadi lawannya, tiba-tiba sebuah cahaya kemerahan itu muncul kembali, melesat cepat menuju Bandapati.


Cepat Bandapati menghindar, melompat ke arah pohon lain dan melihat dengan mata kepalanya cahaya itu menghantam pohon Beringin yang terbelah tersebut dan membuat pohon itu menghitam.


Bandapati mengepalkan tinjunya.


Ia kembali melesat menuju ke arah di mana serangan itu datang.


Cahaya-cahaya merah yang seperti sengaja memburu Bandapati pun kini mengarah padanya, seolah mencoba menghadang Bandapati agar tak bisa menjangkau tempat persembunyian sang musuh.


Tapi Bandapati tak semudah itu ditaklukkan, meskipun ia hanya Naga muda yang usianya masih ratusan tahun, tapi kesaktian dan daya tarungnya sudah sangat mumpuni.


Segala siluman, demit, lelembut bahkan peri prakayangan memilih tidak berurusan dengan Bandapati karena saat ia marah maka semua bisa dibumihanguskan.


"Keluar kau pengecuuuuuuut!!"


Teriak Bandapati.


Ia sangat marah kali ini, benar-benar marah.


Bandapati menghantam semua pohon yang ia lewati di hutan tersebut, tak peduli lagi ia dengan kehidupan para lelembut yang tinggal di sana.


Prinsipnya, ia tak akan mengganggu siapapun lebih dulu, namun jika ia diganggu tentu saja Bandapati tak akan bisa diam saja.


Bandapati tak mau ada pemakluman, bagaimanapun caranya.


Bandapati mengawasi setiap sudut di hutan tersebut, cahaya kemerahan yang sedari tadi dilancarkan untuk menyerangnya kini berhenti.


Suasana hutan kemenyan tiba-tiba jadi hening, hanya suara Bandapati yang terus menggema meminta musuhnya menunjukkan diri.


Hingga kemudian Bandapati melihat kera putih melompat dari dahan pohon tak jauh dari tempatnya.


Kera putih itu adalah kera putih betina yang tengah hamil.


Rupanya ia tertinggal dari kawanannya, ia berusaha melarikan diri dari Bandapati seorang diri.


Bandapati menyeringai, seolah menemukan sasaran empuk.


Bandapati melesat cepat, kera putih itu melompat secepat yang ia mampu, dan saat ia akan menghilang, tangan Bandapati sudah lebih dulu menangkap nya.


Bandapati menariknya dan memukulnya dengan keras.


Kera putih itu memekik, tubuhnya limbung jatuh tersungkur ke tanah hutan kemenyan.


Bandapati turun sambil mengeluarkan cakarnya. Matanya menyala-nyala menatap kera putih yang sedang hamil itu dan tak berdaya di atas tanah.


"Kau akan kuhancurkan sekarang, biar mereka tahu siapa yang mereka ajak main-main."


Bandapati siap merobek perut kera putih yang kini menangis memohon pengampunan, saat kemudian dari arah kiri Bandapati melompat kera putih yang sangat besar ke arahnya, menendang Bandapati hingga tersungkur.


Kera putih besar itu mengangkat kera betina yang tengah hamil itu, dan kemudian menyuruhnya melarikan diri.


Kera besar itu mengenakan mahkota, ia menatap Bandapati dengan marah.


"Lancang! Baru menjadi Naga pemilik Batu Sukmaning Ulo saja sudah berani mengacak hutanku!!"


Kakek tua yang merupakan pemimpin para kera putih itu marah.


Bandapati yang masih di atas tanah sambil memegangi dadanya menatap kesal kakek tua.


"Kalianlah yang membuatku marah, siapa suruh mencuri batu sukmaning ulo milikku dan juga dua gelang berbatu merah delima milikku!!"


Kesal Bandapati.


Kakek tua itu kemudian bersuara aneh, seperti memanggil atau memerintah, tapi yang jelas tiba-tiba dua kera putih yang juga berukuran cukup besar membawa dua laki-laki.


Laki-laki yang jelas bukan manusia dan merupakan jelmaan siluman itupun dipaksa berlutut di tanah.


"Mereka lah yang mengintip kau mandi dan mencuri dua batu itu."


Kata si kakek tua.


Dua kera putih yang merupakan pengawal sang kakek tua melemparkan gelang, mahkota dan selendang kuning ke arah Bandapati yang kini berusaha bangun.


"Kau Naga kecil yang selalu mengandalkan emosi lebih dulu, tak berusaha mencari tahu dan asal mengamuk saja. Kau merusak hutan kemenyan yang harus kami pulihkan ratusan tahun lagi."


Marah kakek luar biasa.


Bandapati menatap kesal pada dua laki-laki yang membuatnya harus salah berurusan dengan Siluman kera.


"Kau ingatlah ini Bandapati!! Anak keturunanmu kularang menginjakkan kaki mereka di tanah hutan kemenyan, jika mereka sampai membutuhkan bantuan ku pun, aku tak akan sudi membantunya, camkan ini Bandapati!!"


Tegas kakek tua.


Bandapati kemudian melihat dua kera putih pengawal kakek tua mengangkat dua laki-laki jelmaan kepiting dari kali bening, dilemparkannya kemudian ke arah kali dan mereka menghilang di sana.


"Harusnya kalian biarkan aku membunuh mereka!!"


Kata Bandapati.


Kakek tua pimpinan kera putih menggelengkan kepalanya.


"Kau sungguh keras kepala, tak semua masalah bisa selesai dengan kau membunuhnya, kau pergilah ke Merapi, kau harus belajar banyak di sana."


Kata si kakek.


"Dan teruslah ingat, kau dan anak keturunanmu, ku haramkan menginjak di tanah hutan kemenyan."


Ya begitulah kemarahan sang pemimpin kera putih atas perilaku Bandapati yang nyaris menghancurkan hutan kemenyan.


**-------------**


"Jadi semua karena Nenek Bandapati ngegas ngegas duluan?"


Tanya zizi sambil berdecak dan menggelengkan kepalanya begitu cerita nyai sirih berakhir.


"Nenek Bandapati harus belajar sabar kayak Zizi."


kata Zizi lagi.


Dan...


Maria yang pertama terjengkang ke belakang.


Zizi sabar.


Oh noooooooo... jelas itu hoax.


**------------**