Zizi

Zizi
126. Restu


Maria sedang rumpi di atas atap rumah Zia dengan Zanuba saat rombongan mobil yang membawa Zia, Zizi dan Ali pulang.


Saat mobil berhenti dan semua keluar dari mobil, tampak Maria dan zanuba melayang turun.


Mereka mendekati Zizi yang berjalan bersama Ali di belakang Mamanya.


"Gimana Kak Arya, Zi?"


Tanya Zanuba.


"Shane mana? Kok ngga pulang?"


Tanya Maria.


Zizi menghela nafas.


Dua mahluk itu menanyakan orang yang berbeda, Zizi jadi kesal.


Ali melihat kedua hantu teman kakak sepupunya itu tampak mesem.


Gaya Ali yang mirip sekali dengan Ziyan memang selalu terlihat tenang.


"Kak Shane di Rumah Sakit menjaga Kak Arya."


Ali akhirnya menggantikan Zizi menjawab pertanyaan kedua teman baiknya.


Zizi nyengir, begitu juga Zanuba.


Tapi tidak dengan Maria.


Ia entah kenapa tak suka mendapat kabar Shane kini bersama Arya.


Vampire itu akan merasa terintimidasi lagi, bisa-bisa ia akan pergi nanti.


Dan, belum lagi Maria bicara, tiba-tiba Zia di depan sana menghentikan langkahnya.


Zia menoleh ke arah belakang dan meminta Maria ikut ke kamarnya.


Maria melayang menghampiri sang nyonya.


"Ada apa Nya?"


Tanya si None Belanda.


"Ada yang harus aku bicarakan, penting."


Ujar Zia.


Maria pun mengangguk.


Zizi mengerutkan kening sambil menatap curiga Mamanya dan Aunty Maria yang kasak-kusuk berdua.


Lalu...


"Kak, Ali mau mandi, gerah, Ali duluan ya."


Kata Ali.


Zizi mengangguk pada Ali.


"Ya mandilah, aku akan minta tolong Zanuba, mahluk itu juga sepertinya tidak mengikuti, tapi buat jaga-jaga barangkali ia datang nanti."


Kata Zizi.


Ali mengangguk.


Ali berjalan bergegas mendahului Zizi.


Zia dan Maria juga sudah mulai naik ke lantai atas.


Zizi yang ingin minum air putih dingin dulu memilih ke arah dapur, diikuti Zanuba yang masih ingin ngerumpi.


"Katanya Kak Arya diserang hantu karyawan Papa kamu ya?"


Tanya Zanuba kepo.


Zizi menggeleng.


"Kata siapa? Kabar hoax."


Sahut Zizi.


"Ikh tadi Aunty Maria tadi cerita denger Mbak Ning ditelfon Paman Dimas. Lagian, di depan para pengawal juga pada cerita."


Kata Zanuba.


Zizi mendekati kulkas, mengambil satu botol air dingin dan kemudian mengambil gelas pula.


"Bukan hantu karyawan Papa yang nyerang Kak Arya, tapi hantu yang bunuh karyawan Papa."


Ujar Zizi.


"Ini nih, kalau orang denger berita belum jelas langsung heboh sana sini."


Tambah Zizi lagi.


Zanuba yang mendengar jadi cekikikan.


Zizi mulai menuang air dingin dari dalam botol ke dalam gelas.


"Ba, nanti bilangin ke Kakak kamu ya, tolong jagain kamar Ali."


Kata Zizi lalu bersiap minum air dingin dari gelas.


"Jagain Tuan Muda Ali mah Zanuba saja, hihihi..."


Kata Zanuba ngarep.


Mendengar Zanuba genit, membuat Zizi jadi keselek.


Zizi seketika terbatuk karena membayangkan bocil sudah mulai kegenitan lihat cowok tampan.


"Kamu masih TK banyak tingkah."


Kata Zizi.


"Enak aja, aku kalau di dunia manusia udah 25 tahun Zi."


Zizi lalu menarik kuncir Zanuba.


"Yang jelas kamu bocil sekarang."


Zizi tertawa.


Haiiish... Zanuba mendesis kesal.


**--------------**


"Berarti benar Zizi dengan Shane ada hubungan spesial?"


Zia menatap Maria.


Keduanya sudah duduk di kamar Zia.


"Iya Nya, kelihatan kan mereka sekarang?"


Zia mengangguk.


Lalu...


Tanya Maria.


Zia terdiam.


Sisi lain hatinya ia menyukai sosok Shane, tapi sisi lain hatinya lagi mulai khawatir jika nanti Zizi akan semakin larut dalam kehidupannya yang tak biasa.


Dan...


Anak laki-laki lima itu, yang Zia mendapatkan kabar lewat mimpi, yang ternyata juga memang Eyang Sapujagad dan Nenek Bandapati juga telah mengetahuinya, apakah mereka anak-anak Zizi dan Shane?


Jika benar, maka anak-anak itu pasti juga bukan lagi anak biasa.


Zia menatap Maria lagi.


"Maria, kapan kamu berencana ke Inggris?"


Tanya Zia.


"Kamu katanya ingin ganti gaun."


Lanjut Zia pula.


Maria sejenak menimbang, lalu...


"Kalau Nyonya bicara dengan Zizi lebih cepat, aku juga akan ke sana lebih cepat."


Kata Maria.


"Aku akan pergi bersama kamu."


Ujar Zia.


Maria melongo menatap Zia.


"Nyonya? ke Inggris?"


Tanya Maria.


Zia mengangguk.


"Aku ingin bicara dengan Nancy soal Zizi dan Shane."


Kata Zia.


"Ah begitu rupanya."


Maria mantuk-mantuk.


"Aku memikirkan Shane dan Zizi lebih serius dari yang kamu bayangkan Maria, meskipun Nenek moyangku dulu juga merupakan pasangan mahluk berbeda, tapi hari ini kita tinggal di dunia modern, aku juga memikirkan Zion, nanti aku akan bicara juga dengan Zion."


"Tapi Nyonya bukan sedang berniat memisahkan Zizi dan Shane kan?"


Maria khawatir.


Zia menggeleng.


"Sebaliknya, jika mereka harus bersama, aku ingin mereka bisa seperti pasangan normal lainnya Maria, dan juga tak sampai membuat Zion khawatir."


Kata Zia.


Maria mengangguk mengerti apa yang dimaksud Zia.


Ya Zion, dengan seluruh pencapaian bisnisnya, tentu butuh penerus nantinya.


Berbeda dengan kakak kembarnya yang memiliki dua anak, dan meskipun Ali memiliki kekuatan yang mulai mirip dengan Zizi, tapi Ali masih fokus belajar dan juga ada ketertarikan dengan usaha keluarganya.


Sementara Zizi...


Ah dia dari kecil sekolah lebih banyak gangguin teman dan hantu penghuni sekolah.


Sudah kuliah juga tak jauh berbeda.


Rasanya hampir mustahil menarik Zizi masuk ke dalam lingkaran bisnis keluarganya yang semakin besar.


Dan Zion semakin hari tentu akan semakin tua, jika tak ada yang meneruskan, maka itu akan berbahaya bagi perusahaannya.


Saham akan banyak jatuh ke tangan orang lain, dan pelan tapi pasti, perusahaan bisa-bisa akan menjadi milik orang lain pula.


"Baiklah Nyonya, nanti saat Nyonya akan ke Inggris, beritahu saya."


Kata Maria.


Zia mengangguk.


"Mungkin kita juga akan ajak Shane."


Ujar Zia.


"Tanpa Zizi?"


Tanya Maria.


Zia mengangguk.


"Shane harus menyiapkan semuanya lebih dari aku Maria, dia laki-laki. Nanti aku akan bicarakan dengan Papanya Zizi. Untuk sementara kamu jangan katakan pada Zizi maupun juga pada siapapun, sekalipun pada Othor."


Kata Zia.


(Heh...!!)


"Tentu saja, lagipula Othor sibuk nyari uang buat bayar kredit UFO nya."


Kata Maria.


Zia mantuk-mantuk.


Maria menerawang jauh.


Inggris, apa yang akan terjadi saat mereka kembali ke sana?


Dan Zizi, apakah ia akan benar-benar menikahi Vampire Shane suatu hari?.


Ah yah, tentu saja, melihat bagaimana seriusnya Zia memikirkan semuanya, pasti karena sang Nyonya yang baik hati ini memang sejatinya merestui Shane.


Bagaimana lagi, Shane sudah banyak berkorban untuk anaknya, dan juga...


Bukankah Shane menjadi vampire juga bukan atas keinginannya?


Selama ini ia berusaha bertahan agar tak sampai minum darah manusia karena ia tak ingin seutuhnya menjadi monster, buat Maria itu pasti berat aslinya untuk Shane.


Maria kemudian pamit pada Zia untuk keluar, karena sayup-sayup, ia mendengar mobil masuk halaman rumah, yang bisa dipastikan itu adalah rombongan Zion.


Zia mengangguk...


"Aku akan usahakan yang terbaik Maria, dan aku membutuhkanmu."


Ujar Zia.


Maria tentu saja mengangguk.


Sejak awal, ia memutuskan ikut dengan keluarga Zia, karena ia begitu menyukai Zia dan juga karena ia merasa satu energi dengan Zizi.


**------------**