Zizi

Zizi
95. Zizi Juga Punya Hati


Zizi menatap langit yang kini mulai memperlihatkan semburat senja. Mereka harus kembali ke hutan ke lima, yang itu berarti akan ada perjalanan yang melelahkan lagi.


"Apa tidak ada jalan pintas untuk langsung ke hutan di sekitar Ceremai itu?"


Tanya Zizi pada Mintul yang sudah macam peta berjalan tapi sebetulnya juga tak bisa banyak membantu.


"Kamu tu kerja sedikit kek, ikut tim ngga jelas kerjaannya apa."


tapi


Kesal Zizi lagi pada Mintul yang jadi merengut.


"Lha siapa sangka Eyang Sapujagad sampai bela-belain datang menjemput Jayapada langsung."


Kata Mintul.


"Trus kan aku juga yang nunjukin jalan ke sini."


Kata Mintul lagi.


"Iya iya... biasa saja, ngga usah muncrat."


Omel Maria.


"Iya, sampe ada ulat yang ikut lompat dari mulutnya."


Ujar Zizi sambil melanjutkan jalannya.


"Enak aja, mana ada ulat keluar dari mulutku."


Mintul emosi.


Zizi cekikikan.


"Apaan sih dia jadi hantu berisik banget, kayak kaset rusak."


Gumam Zizi tanpa peduli aksi protes Mintul.


Raja Dalu sendiri berjalan tak jauh dari posisi Zizi berjalan.


Hingga kemudian, terlihat ada gerakan mencurigakan dari rerimbunan semak di dalam hutan yang belum terlalu jauh dari wilayah kekuasaan Grandong.


Shane langsung siaga melindungi Zizi dan Raja Dalu, terutama begitu kemudian seekor harimau loreng besar tiba-tiba melompat dari arah rerimbunan semak tersebut.


Seekor harimau yang sangat besar itu mengaum.


Raja Dalu tersenyum.


"Loreng, kau masih mengenaliku."


Lirih Raja Dalu.


Harimau besar itu kemudian menunduk, seperti ia memberikan salam kepada sang Raja.


"Nona Zizi, perkenalkan, dia adalah Loreng, dia adalah harimau yang kuajak mencari Ratu Bunga Petak. Kami terpisah hingga aku tertangkap."


Kata Raja Dalu.


Zizi menatap harimau besar di depannya itu.


Zizi mendekati harimau loreng tersebut, lalu mengelus kepalanya.


"Hai oyen."


Sapa Zizi.


"Zi, dia harimau, bukan koceng."


Kata Maria.


Zizi cekikikan.


Raja Dalu juga mendekati loreng, mereka seolah berkomunikasi lewat tatapan mata saja.


"Nona, Loreng membawa pasukan harimau untuk mengantar kita."


Ujar Raja Dalu.


Zizi menoleh ke arah Raja Dalu dengan antusias.


"Benarkah?"


Zizi senang bukan main.


Raja Dalu mengangguk.


Harimau loreng besar itu kemudian menggeram, suaranya begitu mengerikan.


Dan tak perlu menunggu lama, beberapa ekor harimau yang tak kalah besar dengan loreng berdatangan.


Mereka terlihat memberikan salam pada Raja Dalu dan Zizi.


"Sebagai bentuk penghormatan, silahkan anda naik Loreng, Nona."


Kata Raja Dalu.


Zizi tentu saja bersemangat.


Alih-alih takut, ia malah sangat senang.


Jika saat baru berangkat mereka naik kuda-kuda tanah Dalu yang sangat gagah, kini begitu pulang Zizi justeru dikawal serombongan harimau.


Zizi dengan gerakan cepat langsung melompat ke atas Harimau Loreng.


Raja Dalu kemudian menyusul melompat ke harimau lainnya, baru setelah itu Shane.


Harimau lainnya menatap Maria dan Mintul yang malah ngacir duduk di dahan pohon.


"Aunty, Mintul, ayo cepat."


Kata Zizi.


"Aduh, nggak ah Zi, kalau naik kupu-kupu raksasa milih Lori mah ngga apa, ini naik harimau."


Maria bergidik.


"Ikh udah jadi hantu aja cemen."


Kesal Zizi.


"Udahlah biarin, Zizi tinggalin."


Kata Zizi.


"Ya udah sono pergi, kita nunggu burung Unta saja."


Kata Mintul.


"Emang ada siluman burung unta?"


Tanya Maria.


"Lha jangankan siluman burung unta, siluman kelapa aja ada."


Maria menabok kepala Mintul.


"Itu mah bukan siluman, itu hantu kluntung."


Kesal Maria.


"Ah iya, bener juga."


Mintul mantuk-mantuk.


Loreng bersama dua puluh harimau loreng lain berukuran besar-besar bergerak meninggalkan tempat itu membawa Zizi, Shane dan Raja Dalu.


Maria dan Mintul akhirnya mau tak mau melayang di belakang mereka dengan tetap menjaga jarak seperti naik motor di belakang truk gandeng.


Mereka terus bergerak, hingga hari berganti malam, mereka baru memasuki hutan ke enam yang masih porak poranda karena Zizi mengamuk di sana.


Para Gendruwo penunggu hutan ke enam sendiri entah pergi ke mana, mereka sepertinya berlarian masuk ke dalam gua-gua yang gelap yang banyak di gunung.


"Sebentar lagi harus nyebrang telaga lagi."


Kata Zizi dari atas Loreng.


"Kita akan lewat jembatan manusia."


Ujar si loreng.


"Ho jembatan manusia?"


"Ya, jembatan yang dibuat dari manusia."


Kata Loreng.


Zizi mengerutkan kening, apa maksudnya dengan jembatan dari manusia? Apa maksudnya jembatan yang dibuat manusia? Memangnya manusia siapa yang kurang kerjaan bangun jembatan di alam lelembut?


Aaaah, jangan bilang itu Othor lagi. Batin Zizi.


(Heeeh!!)


Tak lama setelah Loreng mengatakan sebuah jembatan manusia, tiba-tiba saja Loreng berkata...


"Nona, pegangan!"


Zizi seketika celingak-celinguk apa yang harus dipegang dari harimau, tali saja tidak ada.


Ah, kuping saja.


Zizi pun langsung memegang kuping Loreng dengan kencang.


"Nona, dari semua anggota tubuh, kenapa kau pilih kuping!!"


Loreng benar-benar tidak memahami Zizi.


Ya memang benar perempuan sulit dipahami, tapi Zizi ini dua kali lipat sulitnya.


"Lha bagaimana lagi, masa Zizi pegangin kaki, nanti kamu ngga bisa lari."


Kata Zizi.


"Yang lain Nona!!"


Zizi celingukan lagi, apa iya masa ekor.


Dan belum sempat Zizi memindahkan pegangan tangannya, Loreng tiba-tiba melompat ke depan, seolah akan terbang.


Zizi langsung menambah kencang pegangannya pada kuping Loreng, walhasil Loreng berasa seperti dijewer emaknya.


"Aduh aduh."


Loreng mengaduh karena kupingnya lebih panas daripada digosipin tetangga.


Jleg!


Loreng mendaratkan kakinya dengan sempurna di tepi telaga.


Namun, berbeda dengan telaga yang sebelumnya Zizi lewati mirip dengan telaga sunyi dekat hotel Papa di kaki Gunung Slamet, Zizi kali ini melihat telaga itu memiliki energi hitam yang sangat kuat.


"Ini adalah jalan pintas tercepat menuju tempat Ratu Bunga Petak berada."


Kata Harimau Loreng.


Di depan mereka kini bukan hanya telaga yang diselimuti kabut, namun juga...


Zizi terperangah, saat begitu kabut yang menyelimuti telaga itu pelahan menipis.


Benar kata harimau loreng, di sana ada jembatan manusia. Benar-benar manusia yang jumlahnya sangat banyak.


Mereka dibaringkan di atas telaga sebagaimana bambu, diikat, dikaitkan satu sama lain menjadi jembatan.


Suara jeritan mereka terdengar begitu menyayat hati.


Suara minta tolong, suara minta ampun, suara kesakitan, suara kelelahan, suara putus asa ingin menyerah.


"Kenapa mereka begitu?"


Tanya Zizi.


"Mereka menjadi perantara pesugihan."


Ujar Harimau loreng yang kemudian berjalan menuju jembatan manusia untuk melewati.


Tapi Zizi tiba-tiba meminta berhenti.


"Ada apa Nona?"


Zizi melompat turun.


"Zizi tak mau lewat sini."


Kata Zizi.


"Ada apa?"


Semua bingung dengan Zizi yang kini berjalan berbalik arah.


"Kita cari jalan lain saja, sudah cukup mereka disiksa bangsa lelembut, Zizi tak mau menambah."


Ujar Zizi.


Maria yang mendengar Zizi mengatakannya tersenyum bangga.


"Dia kalau lagi baik mirip aku kan?"


Kata Maria pada Mintul.


"Justeru sebaliknya, kau itu pengasuh gagal."


Mintul melet pada Maria yang jelas langsung kena pukulan maut di ubun-ubunnya.


**------------**