
Zizi berjalan diiringi Nyi Wulansari dan juga para asistennya, pun juga dengan paman Dimas yang masih sulit percaya jika yang kini disanggul anggun itu adalah anak atasannya, yang juga ia selalu anggap sebagai keponakannya sendiri.
Tampak Zizi berjalan dengan kain jarik yang begitu sulit membuatnya bergerak bebas.
Rasanya Zizi sebetulnya ingin sekali lari atau melompat seperti biasa untuk sampai ke tempat acara, karena berjalan lambat macam siput begitu membuatnya lama-lama jadi mules.
Suara tembang dan gending khas jawa terdengar mulai sayup-sayup, begitu Zizi akhirnya sampai di dekat tempat acara.
Maria dan Zanuba yang sedari tadi asik menikmati acara sakral Shane mengucap janji kini perhatian mereka tertuju ke arah seorang putri cantik dengan kebaya putih mutiara yang disanggul dengan hiasan melati dan mawar.
"Sapa tuh?"
Tanya Zanuba pada Maria.
"Entah."
Sahut Maria.
Keduanya lalu melihat ke arah Shane lagi.
"Aku baru tahu gedung ini ada dua pengantin yang akan resepsi."
Kata Zanuba.
"Iya juga, kok aneh yah, Tuan Zion bukannya menggunakan seluruh lantai gedung ini?"
Gumam Maria.
Sejenak mereka diam, otak Pentium mereka bekerja keras, hingga...
Keduanya tiba-tiba saling pandang, lalu melongok ke arah sang pengantin putri yang kini mulai mendekati pintu menuju tempat acara Shane yang masih duduk menunggu Zizi untuk menandatangani surat nikah mereka.
"Lah, itu Zizi kah?"
Zanuba kaget, apalagi Maria.
Keduanya lantas melayang menghampiri Zizi, tapi lebih dulu ditangkap pengiring Zizi dari bangsa lelembut yang membantu perias Nyi Wulansari.
"Heh, aku teman Nona Zizi."
Teriak Zanuba.
"Lepaskan! Atau aku akan memukulmu sampai kepalamu copot!"
Kata Maria.
Tapi para lelembut asisten Nyi Wulansari tentu saja tak bergeming.
Ancaman remeh temeh itu tak membuat mereka takut.
Mereka jelas bukan lelembut sembarangan, karena sudah terpilih menjadi pengiring seorang Nyi Wulansari yang telah melalui tapa geni selama empat puluh hari sejak akhirnya memutuskan untuk merias di dua alam.
Lelembut itu membawa Maria dan Zanuba yang berisik terus.
Mereka sangat penasaran, bagaimana bisa Zizi bisa seberbeda itu.
Benarkah itu Zizi? Atau jangan-jangan itu pengantin lain yang nyasar ke tempat acaranya Shane.
Sementara itu di tempat acara, semua begitu melihat Zizi muncul langsung berwajah syok.
Tak ada yang menyangka jika pengantin putri mereka hari ini akan secantik itu.
Zia dan Zion bahkan langsung berlinang air mata, karena ini jelas seperti mimpi yang bahkan rasanya selama dua puluh tahun pun Zia membayangkan saja sulit.
Zizi begitu melihat Mamanya dan Papanya menangis terlihat tersenyum.
Mata Zizi yang dari dulu memang bulat menatap setiap penjuru ruangan, yang kini diisi kolega Papanya, dan terutama yang di depan adalah Keluarga paman Ziyan, serta...
Kak Arya, yang duduk bersama Bibi Kanaya, Uminya Paman Dimas, dan anak-anak Paman Dimas serta Mbak Ning.
Mereka duduk di baris kedua di belakang keluarga paman Ziyan.
Zizi lantas mengangguk pada mereka semua, lalu berjalan ke arah kursi di samping Shane yang duduk menatapnya tak berkedip.
Yah, di saat semua syok melihat Zizi, di tempatnya Shane bahkan nyaris pingsan.
Ia takut perempuan itu bukan Zizi dan ia nanti salah orang.
Wkwkwk...
Hiyah kon Shane...
Marthinus yang berdiri setia mengawal Shane tampak menarik kursi sebelah Shane untuk duduk Nonanya.
Zizi lantas duduk di sana, di samping Shane yang kini menjadi suaminya.
Ah suami?
Kenapa harus disebut suami?
Kenapa bukan kue balok? Atau kebab? Atau martabak.
Entahlah, Zizi jelas tidak tahu, sama seperti Othor juga tidak tahu.
Acara penandatanganan surat nikah kemudian dilakukan, Shane yang pertama, baru kemudian Zizi.
Zizi mendatangani dengan sangat cepat, saking cepatnya, pulpennya mental dan pletaaak!!
Kena muka petugas yang menyaksikan penandatangan surat nikah Zizi.
"Oh maaf... maaf..."
Zia dan Zion tentu saja langsung sibuk minta maaf.
Nancy yang mertua Zizi dan duduk di kursi dekat Zia tersenyum melihat kelakuan menantunya.
Tapi...
Petugas itu tersenyum.
"Tidak apa Tuan, ini menandakan Nona Zizi memang semangat dan bahagia."
Kata si petugas yang wajahnya sebetulnya sakit kena lemparan pulpen.
Ya bagaimana lagi, andai Tuan Zion tak memberinya amplop sebesar tiga puluh juta rupiah, pasti ia sudah nangis kejer pulpennya hampir nyolok mata.
(Sabar Pak, kali aja dapat souvenir juga)
**--------------**
Sementara itu di perjalanan menuju acara, Raja Dalu dengan rakyatnya bertemu dengan para tamu undangan lain.
Tak terkecuali dengan banyak tokoh viral yang mulai terkenal karena banyak yang memakai mereka untuk judul layar lebar.
Semua mendapat undangan istimewa karena kelakuan Maria dan Zanuba yang menulis nama-nama mereka.
Terutama Maria, yang sejak dulu ingin sekali bertemu dengan sosok si manis jembatan ancol.
Oh oh... nama mereka kan mirip, maka dari itu Maria rasanya ingin bertemu.
Aslinya dia itu seperti apa?
Apa bule juga seperti Maria?
Apa justeru Pak Le?
Wkwkwk
**-------------**