Zizi

Zizi
164. Takdir Yang Sama


Marthinus masuk ke dalam ruangan di mana Shane harusnya istirahat, ia tampak membawakan segelas darah untuk Shane.


Namun betapa kagetnya Marthinus manakala ia tak mendapati Shane di ruangan itu.


Ia tampak celingak-celinguk.


Ke mana vagaman?


Marthinus meletakkan gelas berisi darah segar itu di atas meja dekat tempat tidur, lalu setelah jongkok melongok ke bawah kolong, siapa tahu Shane ingin ngadem di sana.


Tapi, kosong.


Hanya ada kecoak yang sedang mojok di bawah kolong.


Marthinus akhirnya kembali berdiri, lalu menatap dinding-dinding kastil yang membisu, mereka melihat tapi pastinya tak akan mau ikut campur.


Marthinus kemudian melihat ke arah jendela kastil yang terbuka sebagaimana hatinya yang selalu terbuka namun tak pernah ada yang mau masuk.


Marthinus melesat ke arah jendela, ia melongok dan...


Jiaaah...


Kaget dia melihat Shane nangkring di atas pohon bersama sebuah hantu hutan.


Keduanya terlihat bicara begitu serius, seperti membicarakan masalah nilai tukar mata uang atau naik turunnya harga emas.


"Hey Shane!"


Marthinus akhirnya memanggil Shane yang nangkring di atas pohon macam burung hantu.


Shane yang merasa dipanggil tampak menengok ke arah jendela kastil di mana Marthinus berada.


"Pulanglah anak muda, itu Bapakmu khawatir."


Kata hantu hutan.


"Dia bukan Bapakku, dia Pamanku."


"Oh dia adik dari orangtuamu?"


"Bukan juga."


"Dia suami Bibimu."


"Itu apalagi, dia masih jomblo."


Kata Shane.


"Wah kasihan."


Hantu hutan geleng-geleng kepala.


"Aku sering melihatnya di sini beberapa tahun belakangan, dia seperti vampire, tapi dia bersama para Lycan."


Ujar hantu hutan.


"Ya, Ibunya Vampire dan Bapaknya Lycan."


Kata Shane.


Hantu hutan mantuk-mantuk.


"Begitu rupa-rupanya."


Sahut si hantu.


"Rupanya saja Bu, tidak usah diulang."


Shane meralat sambil kemudian berdiri.


"Baiklah Bu Hantu, aku pamit, terimakasih untuk semua kisah yang anda ceritakan, dan terimakasih sudah mendengarkan ceritaku juga."


Kata Shane yang sepertinya sudah bercerita tentang kegundahan hatinya akan hubungannya dengan Zizi.


Hantu hutan mengangguk.


"Ya anak muda, pergilah, dan kembalilah pada kekasihmu, jangan terlalu resah gelisah gundah gulana."


Kata si hantu hutan.


"Tak perlu menjadi manusia, karena hatimu sudah lebih tulus dari manusia. Banyak manusia yang hanya wujudnya saja manusia, tapi mereka sesungguhnya bersifat binatang buas, dan kadang hidup menyesatkan orang lain seperti setan, sementara kau..."


Hantu hutan menatap Shane.


"Kau baik, tulus dan juga hangat. Tak usah berkecil hati, semua akan baik-baik saja selama kau mempercayai semuanya akan berjalan baik."


Kata hantu hutan.


Shane menganggukkan kepalanya.


Tenang hatinya mendengar setiap ucapan hantu hutan.


Shane membungkuk dengan santun, lalu melesat ke arah Marthinus yang bersandar pada jendela menunggu Shane.


"Paman."


Shane tersenyum manakala sudah ada di depan Marthinus.


"Kenapa kau bicara dengan hantu hutan?"


Tanya Marthinus heran.


"Memangnya kenapa Paman? Dia baik, aku menyukainya."


Ujar Shane.


Marthinus tersenyum lalu menepuk-nepuk punggung Shane.


"Tidak apa, biasanya ia sangat jahat pada mahluk lain, tapi ia bisa duduk bersamamu."


Kata Marthinus.


"Dia jahat?"


Shane menoleh ke arah hantu hutan yang masih duduk di atas pohon.


"Tidak apa, dia memang penunggu hutan ini."


Kata Marthinus.


Shane mengangguk.


"Kau sepertinya sudah lebih baik hari ini? Kau merasa sudah cukup pulih?"


Shane tersenyum.


"Ya Paman, mungkin besok aku akan keluar dari kastil ini."


Ujar Shane.


Martinus berjalan menjauhi jendela dan Shane mengikutinya.


"Aku akan mengantarmu pulang."


"Aku bisa pulang sendiri Paman, tidak apa."


Kata Shane tak enak jika harus merepotkan Marthinus terus menerus.


"Kau pikir perjalanan pulangmu akan lebih mudah? Setelah diburu para Lycan di Bradley Woods Lincolnshire, pulang nanti mereka pasti menunggumu lagi."


Kata Marthinus.


Shane terdiam.


Tampak Shane duduk di tepi tempat tidur kastil milik Marthinus.


"Jika terjadi apa-apa padamu, bisa-bisa aku yang akan diburu Nona Zizi, kau mau aku di musnahkan?"


Marthinus menatap Shane yang jadi tersenyum.


"Baiklah Paman, mungkin Nona Zizi juga ingin bertemu dengan mu, bukankah sudah cukup lama juga Paman dan Nona Zizi tak bertemu."


Marthinus mengangguk.


"Ya gadis itu, gadis paling petakilan yang pernah aku lihat, seperti campuran bal kenul dengan petasan banting."


Marthinus tersenyum teringat tentang Zizi.


Saat pertama ia dulu melihatnya, di mana Zizi masih kecil dan akhirnya tumbuh menjadi gadis cantik.


Gadis cantik yang tetap sama sebagaimana saat ia masih kecil, ia masih sangat pemberani, ngeyelan, dan juga tak berperikehantuan.


"Besok kita keluar dari kastil saat matahari baru naik, agar saat nanti kita sampai di Bradley Woods Lincolnshire, hari masih siang."


Ujar Marthinus.


"Mereka tak keluar saat siang hari?"


Tanya Shane


"Jika pada cuaca seperti ini, mereka bisa saja keluar karena matahari tak terlalu terik, tapi semoga saja besok cerah, yang penting siapkan saja dirimu."


Marthinus menepuk bahu Shane beberapa kali.


Shane mengangguk.


"Aku membawakanmu darah Babi Hutan, minumlah."


Kata Marthinus sambil menunjuk segelas darah di atas meja.


Shane mengambil gelas itu.


"Paman berburu hari ini?"


Tanya Shane.


Marthinus menggeleng.


"Katerina yang membaginya denganmu, ia mendapatkan babi hutan yang cukup besar, ia mengambil darahnya, lalu dagingnya ia berikan pada para Lycan."


Kata Marthinus.


"Katerina."


Shane menggumamkan nama gadis Vampire itu.


"Dia juga seperti kau Shane, buatku kalian sudah seperti keponakan ku sendiri."


Shane terdiam menatap gelas berisi darah di tangannya.


"Kisahnya sangat tragis, dia korban Rosalia Ruthven."


Lirih Shane.


Marthinus mengangguk mengiyakan.


"Kau tak tahu jika putri Ruthven yang satu itu sangat jahat sebagaimana Ruthven."


"Bukankah Rosalia berarti juga Bibimu, Paman?"


Tanya Shane.


Marthinus mengangguk.


"Ya, dia adik dari Ibuku, tapi tentu saja ia tak akan mengakui ku, aku adalah aib untuk keluarga Ruthven karena Ayahku dari jenis Lycan yang mereka anggap mahluk kelas bawah dan bahkan pernah mereka perbudak dalam waktu yang lama."


"Kau pernah bertemu dengannya?"


Tanya Shane.


Marthinus menggeleng.


"Aku belum sempat bertemu dengannya, tapi Ibuku selalu menceritakan kisahnya, adiknya yang sangat disayangi Ayahnya karena selalu mendukung apapun yang dilakukan sang Ayah."


Shane menatap Marthinus yang kini berdiri di hadapan Shane.


"Kau sejatinya sama seperti Nona Zizi, lahir di tengah dua kekuatan yang berhadapan selama ratusan tahun."


Martinus mengiyakan kata-kata Shane.


Memang benar, ada garis takdir yang sama antara Marthinus dan Zizi, takdir di mana mereka terlahir di tengah dua kekuatan yang saling bermusuhan, yang juga kapan saja waktunya tiba, mereka bisa benar-benar harus saling bunuh dengan keluarganya sendiri.


Andai...


Andai suatu hari Rosalia Ruthven kembali dibangunkan lalu akhirnya harus dihadapi Marthinus, maka jelas pilihan Marthinus adalah hanya membunuhnya.


Sebagaimana Zizi yang kapan saja pasti akan bertemu Paman jaka Lengleng lagi, pasti pilihan Zizi adalah memusnahkannya hingga tak akan lagi ia membuat kerusakan.


Shane meneguk darah dari gelas yang ada di tangannya.


"Istirahat lah Shane, besok kita pulang ke rumah."


Kata Marthinus.


**---------------**