Zizi

Zizi
142. Hutan Di Dekat Danau


"Jadi kau masih tetap ingin pergi ke kastil Rosalia Ruthven?"


Tanya Katerina.


Shane tentu saja mengangguk.


Katerina terlihat sedang mengobati luka Shane yang terkena cakaran Lycan dengan obat semacam tumbukan bunga berwarna merah seperti darah dan teksturnya kental.


"Membangunkannya sama seperti kau membangunkan Ruthven lagi, dan bisa jadi kau bukannya menjadi manusia, namun malah mati konyol di kastilnya."


Ujar Katerina setelah selesai mengobati luka Shane.


Shane mengancingkan bajunya lagi, dan kemudian mengganti posisi duduknya.


Katerina tampak berjalan menuju seperti sebuah lemari besar di ruangan kastil itu. Ruangan yang seperti kamar, namun Shane yakin Katerina sebetulnya tak pernah tidur di sana.


"Aku harus melakukannya, apapun risikonya. Lebih baik gagal karena sudah mencoba, daripada gagal karena tidak melakukan apapun."


Tandas Shane.


Katerina menoleh, ia tampak menyeringai mendengat kalimat yang diucapkan Shane.


Gadis vampire itu menutup lemarinya, dan kemudian mendekati Shane lagi.


"Kau begitu mencintai gadis itu?"


Tanya Katerina kemudian sambil duduk di sebelah Shane.


Shane mengangguk.


"Mungkin jika bukan dia, tak ada gadis yang mau bersamaku bukan?"


Katerina tertawa mendengarnya.


"Apa kau lupa jika vampire juga banyak yang cantik?"


Shane terlihat tersenyum tipis saja menanggapi kalimat yang diucapkan Katerina.


"Itu berbeda."


Lirih Shane.


"Apanya yang berbeda, justeru akan lebih mudah jika kita bersama dengan sesama kita, kenapa malah kau pilih yang susah-susah?"


Shane terdiam.


Ia menerawang langit-langit kastil yang tinggi.


"Aku mau jadi kekasihmu jika kamu mau."


Kata Katerina lagi, tanpa basa basi.


Shane demi mendengar itu jelas saja terkejut, ia memandang ke arah Katerina yang tampak tersenyum ke arahnya.


Ya, dia memang cantik, sangat cantik malah. Tapi cinta itu bukan tentang dia cantik, atau dia tampan, tapi lebih dari itu.


NYAMAN.


Shane bagaimanapun absurdnya Zizi, nyatanya hanya bersama gadis itulah Shane merasa nyaman.


Ia merasa tetap seperti manusia jika bersamanya, pun juga sekaligus tetap bisa menunjukkan bahwa ia sebetulnya Vampire tanpa khawatir Zizi akan ketakutan.


Katerina yang merasa Shane tak merespon apapun akhirnya menyerah.


"Yah, baiklah, sepertinya memang hatimu sudah sepenuhnya milik gadis itu. Siapa namanya?"


Tanya Katerina.


"Zizi..."


Jawab Shane cepat.


Mendengar Shane menyebut nama Zizi, terlihat Katerina seperti terkejut.


"Zizi?"


Tanya Katerina memastikan lagi.


Shane menganggukkan kepalanya.


"Pewaris Victorious Sword?"


Katerina menatap Shane yang kembali mengangguk.


"Gadis itu, bukankah sejatinya dia juga setengah monster, kenapa kau repot-repot tetap ingin jadi manusia?"


Tanya Katerina akhirnya.


"Dia tetap bisa menua dan mati, sementara kita..."


Shane menghentikkan kalimatnya sejenak.


Lalu...


"Sementara kita akan abadi. Saat Zizi menua lalu meninggal, aku akan hidup dalam kesedihan puluhan tahun, ratusan tahun, bahkan mungkin ribuan tahun."


Lanjut Shane.


"Kau bisa jatuh cinta lagi saat itu tiba."


Kata Katerina gampang saja.


Shane menggeleng.


"Justeru itu yang tidak aku inginkan. Aku tak mau ada perempuan lain selain Zizi dalam hidupku, maka dari itu, aku ingin jadi manusia, aku ingin merasakan menua bersama Zizi saja, lalu aku akan mati juga bersamanya."


Katerina menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau Vampire bucin."


Kata Katerina.


Shane menyeringai mendengar ejekan Katerina.


Tak jadi soal ia diejek bucin, toh nyatanya memang iya.


Shane tidak bisa membayangkan hidup tetap seperti semuda sekarang, sementara Zizi di sampingnya menjadi tua dan mati mendahului Shane.


Katerina kemudian tampak berbalik, ia menatap jauh di luar sana.


Bulan sabit menggantung di sudut langit tanpa ditemani satupun bintang.


"Dulu konon ada juga vampire sepertimu, yang jatuh cinta dengan seorang gadis manusia. Ia juga mencari obat penawar yang kau cari juga."


Katerina bercerita.


"Dia Vampire yang berhasil?"


Tanya Shane.


Katerina mengangguk.


Shane tersenyum.


"Tapi sayangnya begitu vampire itu jadi manusia, gadisnya justeru menjadi Vampire."


Tutur Katerina.


"Rosalia Ruthven, begitu ia memberikan obat pada vampire itu, ia malamnya memburu sang gadis."


Shane membelalakkan mata.


Rasanya ia begitu takut untuk membayangkan jika sampai Zizi juga mengalami hal seberbahaya itu.


"Apa terjadi setelah itu?"


Tanya Shane pada Katerina.


"Laki-laki yang tadinya vampire itu akhirnya menikahi perempuan lain."


"Dan vampire perempuan itu?"


Tanya Shane.


Katerina menatap bulan lagi.


Matanya yang menerawang jauh terlihat berkilat-kilat.


"Apa itu kau?"


Tanya Shane akhirnya.


Suara Shane dibuat serendah mungkin.


Katerina tersenyum, lalu menoleh pada Shane sebelum akhirnya ia mengangguk mengiyakan.


**--------------**


Zizi keluar dari kamar di mana ia tidur di rumah Paman Ziyan.


Bersamaan dengan itu, kebetulan Eva juga keluar dan terlihat akan pergi.


"Kak Zizi, saya kira masih istirahat "


Ujar Eva.


Zizi menggeleng.


"Aku terbangun semalam, dan tidak bisa tidur lagi. Kau mau ke mana Eva?"


Tanya Zizi.


"Ooh, aku mau naik sepeda keliling rumah saja, lalu akan ke danau dekat hutan di belakang rumah Kakek."


Ujar Eva.


Ah yeah benar...


Rumah Paman Ziyan sekeluarga memang satu lahan dengan rumah Kakek dan Nenek Eva.


Dan di lahan yang luasnya seperti Kebun Raya Bogor itu hanya berdiri dua bangunan rumah bak istana yaitu rumah Paman dan satu lagi adalah rumah orangtua Bibik Aisyah, yang juga berarti kakek dan nenek Eva serta Ali.


"Kak Zizi ikut ya."


Pinta Zizi.


Mendengarnya tentu saja Eva malah langsung menyambut dengan senang.


"Ayok Kak Zizi."


Kata Eva semangat.


Gadis cantik yang wajahnya mirip sekali dengan Ibunya itu lantas memanggil pengawal untuk menyiapkan satu sepeda lagi untuk Zizi.


Keduanya lantas berjalan beriringan keluar rumah.


Pengawal menyiapkan sepeda baru lagi sesuai perintah sang Nona.


Eva dan Zizi kemudian naik ke atas sepeda mereka masing-masing, lalu membawa sepeda mereka menuju jalanan yang menghubungkan dengan taman satu dengan taman yang lain, menghubungkan rumah Induk dan rumah Paman Ziyan sekeluarga.


"Kamu di depan Va."


Kata Zizi pada Eva.


Eva pun menurut mengayuh sepedanya lebih dulu.


"Kita ke danau yah Kak."


Kata Eva lagi sambil menengok pada Zizi.


"Ya bebas saja, ke danau, ke hutan, tak masalah."


Kata Zizi.


Eva tertawa.


"Sejak Ali hilang di hutan, aku tidak pernah dekat hutan lagi Kak, takut."


Zizi mengerutkan kening, lalu...


"Ali hilang di hutan?"


Tanya Zizi.


Eva memelankan laju sepedanya agar bisa kembali beriringan dengan Zizi.


"Sudah lama Kak, setelah kita liburan di Jepang,


saat Kak Zizi masih tinggal di Inggris."


Cerita Eva.


"Apa yang terjadi?"


Tanya Zizi.


"Ali mengajak beberapa temannya ke rumah, lalu mereka main di danau, begitu sore, Ali melihat salah satu temannya pergi masuk ke hutan, dan kemudian dia hilang."


"Siapa yang menemukan?"


Tanya Zizi.


Eva terdiam sebentar, lalu...


"Kepala pengawal kami. Mister Josh."


"Dia masih bekerja saat ini?"


Tanya Zizi lagi.


Eva menggeleng.


"Aku tak pernah melihatnya setelah itu."


Kata Eva.


Zizi lantas mempercepat kayuhan kakinya.


Eva juga tak mau kalah, ia cepat berusaha menyusul Zizi, lalu...


**---------------**