
"Hihihi... Hihihiiiii..."
Hantu-hantu gadis dan emak-emak serta nenek-nenek memenuhi dapur Resto di mana chef Rasya sedang bergelut dengan pesanan sang Nona muda sekaligus juga sahabatnya.
Steak dari daging berkualitas terbaik dan juga Iga Bakar madu, tak lupa pastinya kentang goreng dan es lemon tea kesukaan Zizi sebentar lagi siap.
Hantu-hantu yang memenuhi dapur terlihat berebut mencium aroma masakan chef Rasya yang harum mewangi, sekaligus juga memandangi wajah chef muda itu yang tampan rupawan penuh pesona cetar ulala.
"Rey, kentang goreng sudah siap kah?"
Tanya Chef Rasya pada asistennya yang ia beri tugas menggoreng kentang.
"Sudah Chef."
Kata si asisten.
Chef Rasya mengangguk.
"Hmm... Harum sekali Iga Bakarnya Cheeef..."
Seuntai hantu berambut panjang sampai menyentuh lantai tampak bergelayut di punggung Chef Rasya.
Chef Rasya terlihat mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding dan juga merasakan punggungnya seperti berat.
"Chef."
Tiba-tiba asisten Chef Rasya memanggil, membuat Chef Rasya menoleh ke arahnya.
Sang asisten tampak sudah mengangkat kentang gorengnya.
"Apa hanya perasaanku, jika dapur malam ini sangat dingin."
Kata si asisten.
Chef Rasya mengangguk.
"Ya, aku juga sama, mungkin AC nya bermasalah."
Kata Chef Rasya berusaha menghibur diri dan juga membuat asistennya tak berpikir macam-macam.
"Hihihihi... Hihihi..."
Puluhan hantu gadis dan emak-emak sampai Nenek-nenek cekikikan, melihat dua orang laki-laki itu mulai merasa terganggu energi mereka.
Hingga...
Tiba-tiba selembar hantu perempuan melayang cepat ke arah dapur dari resto.
"Whooiiii ada Ziziiiiiii, kabuuuuur..."
Kata hantu itu, membuat para hantu langsung menoleh ke arah pintu dapur di mana kini Maria sang ajudan Zizi sudah sampai lebih dulu menembus pintu.
Hantu-hantu yang memenuhi dapur langsung panik.
Mereka mengangkat rok mereka tinggi-tinggi dan ngacir ngalor ngidul sampai tabrak-tabrakan karena takut kena tabok.
"Enyah kaliaaaaan!!"
Maria melesat cepat menuju ke arah mereka yang acara ngacirnya kacau balau.
Maria menyambar satu serokan yang digantung di depan asisten Chef Rasya untuk kemudian ia gunakan untuk memukuli hantu-hantu yang memenuhi dapur.
Asisten Chef Rasya dan juga Chef Rasya yang melihat serokan melayang-layang sendiri ke sana ke mari tentu saja juga jadi ikut takut.
"Ha... Ha... Hantu cheeeeef."
Asisten Chef Rasya yang sudah selesai menggoreng kentang langsung lari tunggang langgang, sementara Chef Rasya yang masih dalam posisi menyelesaikan pesanan Zizi jelas bingung tidak ketulungan.
Ia memasak tapi sambil melihat serokan melayang ke sana ke mari.
"Aduuuh biyuuung... Ampuun... Ampuuun, aku cuma lagi kerja, jangan ganggu... kasihani aku yang tampan iniiiii... kasihani aku yang tampan iniiiii..."
Chef Rasya tangannya gemeteran memegangi alat yang untuk membakar iga.
Asisten Chef Rasya yang lari keluar dari dapur di pintu nyaris bertabrakan dengan Zizi.
"No... Nona... Ad... Ada hantu, cepaaat lar... lariiii..."
Asisten Chef Rasya meraih tangan Zizi dan menariknya untuk diajak lari bersama.
Zizi yang ditarik untuk diajak selamat bersama tentu saja tidak mau.
Zizi menabok asisten Chef Rasya itu dengan tangan satunya.
Plak!!
"Aduh."
Asisten Chef Rasya mengaduh sambil menoleh ke arah Zizi yang kemudian menariknya dan menguncinya di meja.
"Aku tidak takut hantu, mereka yang takut padaku, berhentilah lari!"
Kesal Zizi.
"A... Aaa... pa?"
Asisten Chef Rasya bingung binti keder, bagaimana bisa ada gadis tidak takut hantu dan malah hantu-hantu yang takut padanya.
Zizi melepaskan tangan asisten Chef Rasya yang malah ganti ia kunci di meja.
"Cowok takut hantu, gimana sih."
Kata Zizi lagi, lalu bergegas menuju dapur menyusul Maria yang Zizi tahu pasti ia bikin ulah.
Chef Rasya meskipun sudah lama berteman dengan Zizi, tapi ia juga tetap takut hantu, jika Maria melajukan hal aneh-aneh, pasti chef Rasya akan takut.
Zizi membuka pintu dapur dan nyata serokan melayang ke sana ke mari, diayun-ayunkan ke arah para hantu yang berterbangan.
Chef Rasya memasak dengan wajah pucat pasi, antara ingin pingsan tapi tak mau meninggalkan tanggungjawab menyelesaikan tugasnya membuat pesanan Zizi.
"Chef."
Zizi mendekati Chef Rasya, yang begitu melihat Zizi datang rasanya ia ingin melompat dan bersorak saking senangnya.
Zizi pura-pura tidak tahu apa-apa, ia menghampiri kentang goreng yang masih dalam posisi di tiriskan dan belum dipindahkan ke piring saji.
Zizi mendekati kentang sambil memberikan isyarat pada Maria agar meletakkan senjatanya.
Para hantu yang kabur sudah benar-benar tak tersisa sekarang, Zizi mencomot kentang goreng dan memakannya.
"Gimana resto Chef? Rame?"
Tanya Zizi.
Chef Rasya mengangguk.
"Rame Nona, sudah satu Minggu ini pengunjung mulai ramai lagi, sayangnya banyak pegawai hotel yang resign dan belum ada pengganti. Sepertinya lumayan keteteran para pegawai yang masih bertahan."
Ujar Chef Rasya.
Zizi mengangguk.
"Hotel sedang tahap penyeleksian pegawai baru, nanti Zizi yang langsung tangani."
Kata Zizi.
"Nona bukankah akan menikah bulan depan?"
Tanya Chef Rasya.
Zizi nyengir lalu mencomot kentang lagi.
Maria sendiri sudah melayang dekat Chef Rasya dan mulai asik menghirup aroma iga bakar yang sebentar lagi matang sempurna.
"Semoga semuanya lancar Nona."
Kata Chef Rasya tulus.
Zizi mengangguk sambil tersenyum.
"Terimakasih."
Kata Zizi pula.
Chef Rasya lalu melanjutkan memasak steak untuk Zizi.
Mereka kemudian berbincang tentang banyak hal.
Asisten Chef Rasya kembali ke dapur dan membuatkan minuman untuk Zizi sekaligus membantu plating.
Setelah semua siap, asisten Chef Rasya membawakan pesanan Zizi ke meja di restoran hotel.
Zizi keluar dari dapur diikuti Chef Rasya yang tampak membuka Appron nya.
Resto memang sudah tutup harusnya, ini Chef memasak karena sang Nona yang meminta.
Chef Rasya menarik satu kursi di meja yang makanan Zizi sudah tersaji, kursi itu dipersilahkan untuk Zizi duduk.
Sekilas mungkin orang akan melihat mereka seperti pasangan, padahal tak begitu, di antara keduanya sama sekali tak ada hubungan apapun selain saling mengagumi satu sama lain dan akhirnya bersahabat baik.
"Nona sungguh-sungguh tak menginginkan desert?"
Tanya Chef Rasya.
Zizi menggeleng.
"Tidak perlu chef, aku tidak terlalu suka makan campur aduk."
Kata Zizi.
Chef Rasya tertawa kecil.
"Kalau mau tadinya saya ingin buatkan, karena ini menu baru dan cukup spesial. Harganya agak mahal karena beberapa bahannya saya langsung import dari Eropa."
Kata Chef Rasya.
"Laris?"
Tanya Zizi yang kemudian menyambar gelas berisi es lemon tea miliknya.
"Karena harganya memang cukup mahal, jadi hanya beberapa tamu yang sanggup memesan. Tapi ada satu pelanggan yang hampir setiap datang selalu memesan desert tersebut."
Kata Chef Rasya.
Zizi mengangkat kedua alisnya.
"Oh ya? Pasti dia berkantong tebal, atau jangan-jangan pengagum sejatimu Chef."
Seloroh Zizi.
Chef Rasya kembali tertawa kecil.
"Dia tidak pernah menginap di hotel, tapi dia sering berkunjung ke resto untuk makan malam dengan kekasihnya. Ah, kabarnya sang kekasih adalah salah satu ahli waris Andromeda Putra Corporations."
Ujar Chef Rasya.
Mendengarnya Zizi yang semula sedang mengiris daging steak nya berhenti, ia menatap Chef Rasya.
"Alex?"
Tebak Zizi.
Chef Rasya menjentikan jarinya.
"Yup. Gadis yang bersamanya itu adalah pemain biola terkenal, saya beberapa kali melihatnya tampil di TV luar negeri."
"Oh ya? Pemain biola?"
Tanya Zizi.
Chef Rasya mengangguk.
"Ngg... Namanya Nadia Velia."
**--------------**